
Di tengah Alfandi sedang melamun. Tiba-tiba terdengar suara riuh yang datangnya dari tempat permainan.
Dan ketika Alfandi menoleh, rupanya putranya sedang berkelahi dengan seorang anak laki-laki yang lebih tinggi darinya. Jelas Alfandi Buru-buru berlari mendekati mereka berdua, tak ada satupun yang memisahkannya padahal di sana terdapat banyak orang.
"Hai, ada apa ini? sudah, hentikan? berhenti ..." pinta Alfandi sambil meraih tangan dari putranya, Firza. "Sudah-sudah, sudah-sudah, ada apa ini?" teriak Alfandi menatap keduanya.
Firza mundur seiring ditariknya oleh sang papa, namun lawan berkelahinya itu terus pengen menghantam tubuh Firza dibarengi dengan kata-kata yang sangat kasar.
Sampai datanglah, scurity yang memegang anak tersebut dan akan membawanya menjauh dari tempat tersebut.
Alfandi terus menarik Firza sambil memanggil Fikri. "Fikri, ikut Papa ayo?"
Setelah agak menjauh, Alfandi berusaha menenangkan putranya, Firza seraya bertanya. "Ada apa ini? kenapa kau berkelahi?
"Dia yang duluan Pa, dia yang terus menyenggol-menyenggol aku." Jawabnya Firza.
"Ya ... nggak usah dilawan dong, biarkan saja," ucap Alfandi sambil merangkul bahu putranya.
"Gimana mau dibiarkan saja Pa? dia terus memulai, aku sudah mencoba membiarkannya. Tapi dia terus saja membuat aku marah," belanya Firza dengan suara yang menggebu-gebu.
Alfandi menatap lekat ke arah putranya. "Ya, sudah. Sudah tenang ya?"
Alfandi menghela nafas dengan panjang.
Lalu Alfandi menyuruh kedua anaknya untuk menunggu di suatu tempat. "Tunggu di sini? jangan ke mana-mana, Papa mau mengurus masalah barusan. Ok? dengar Papa, jangan kemana-mana," pinta Alfandi sambil menggerakkan tangannya meminta anak-anak itu menunggu di situ.
Wajah Firza tampak merah, kedua rahangnya mengeras. Kedua tangannya pun mengepal dia sepertinya dia masih menahan amarah, dia pengen menghajar anak itu habis-habisan.
"Sudah Kak, tenang Kak. Jangan bikin papa marah kak? papa dah sayang kita Kak," celoteh Fikri sambil menatap ke arah kakaknya itu.
"Kau diam! jangan banyak bicara, aku sedang kesal. Lagi marah," bentak Firza.
"Tapi, apa yang Kakak dapatkan dari berkelahi Kak?" anak itu malah bertanya.
"Aku bilang diam? gak usah banyak bertanya!" bentuk kembali Firza pada sang adik.
Sontak adiknya itu menunduk dalam, merasa takut dengan bentakan sang kakak.
Hening!
Suasana terasa hening, Fikri tak lagi bertanya ataupun bicara tentang hal lainnya. Setelah sekitar 30 menit kemudian Alfandi kembali dengan membawa dua botol air mineral, ia berikan pada kedua putranya tersebut.
"Gimana? mau main lagi? atau mau pulang saja?" tanya Alfandi melihat kedua putranya bergantian.
"Aku mau main lagi Pah, boleh kan?" harap Fikri yang masih mau bermain.
Namun lain lagi dengan Firza. "Aku ingin pulang," ketus anak itu sambil berdiri dan menyedot minumnya.
Papanya menatap pada Firza yang terlihat sudah nggak ada mood untuk bermain kembali, kemudian mengalihkan pandangannya pada putra bungsunya yang berubah lesu.
"Kakak maunya pulang, gimana dong? apa besok saja kita kembali main ke sini ya, mau?" tanya Alfandi sambil mengusap kepala anak tersebut.
"Ya ..." Fikri lesu.
"Besok papa ajak lagi ke sini, oke?" Alfandi kembali mengusap pucuk kepala Fikri.
Kemudian Alfandi mengajak kedua putranya untuk pulang. Keduanya mengikuti langkah sang ayah menuju mobilnya di parkiran.
Setelah keduanya sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil, Alfandi pun segera menyalakan mesin mobil tersebut. Diuuus ... mobil tersebut melaju dengan kecepatan lumayan rendah, menyeruak kegelapan malam.
Alfandi melirik ke arah jam tangan yang ada di tangan kanannya tersebut, jarumnya sudah menunjukkan pukul 23.40 wib.
"Hampir pukul 00.00," jawabnya sang ayah seraya melirik sekilas.
"Ooh ... sudah malam ya?" anak itu mengangguk sambil mengedarkan pandangannya keluar jendela, yang terlihat hanya sinar lampu yang menerangi jalan, berdiri dengan tegak di pinggir-pinggir jalan raya.
"Mama nggak ditelepon kan?nanyain kita berdua," Fikri kembali membuka obrolan di sela-sela perjalanan.
Alfandi cuma menggeleng, melirik sebentar lalu memfokuskan kembali pandangan matanya ke depan.
"Tuh ... iya kan? mama itu nggak pernah peduli sama kita? mama cuma peduli sama dirinya sendiri," timpal anak itu kembali.
"Sudahlah, Fikri. Yang penting kan masih ada Papa, Papa janji akan selalu ada buat kalian berdua. Oke? sudah! jangan pikirkan yang macam-macam ya?" ucapnya Alfandi sambil mengacak rambut Fikri.
Lalu netra nya Alfandi melirik ke arah Firza yang hanya terdiam sembari melipatkan kedua tangan, pandangannya kosong.
"Sebenarnya mama itu ... sayang gak sih sama kita Pah?" tanya kembali Fikri kini pertanyaannya makin tampak serius.
Alfandi lagi-lagi menghela napas panjang. "Mana ada, Fikri? orang tua yang gak sayang sama anaknya, tentu Mama juga sayang sama anak-anaknya! yaitu pada kalian berdua," ucap Alfandi melirik putra bungsunya itu.
"Mama itu sayang kok, cuma mungkin ... caranya yang berbeda. Mama sama aja dengan ibu-ibu lainnya, menyayangi putra-putranya seperti kalian berdua, dan mama juga kan bangga bila kalian membuat prestasi membanggakan buat kami berdua," ujar Alfandi panjang lebar.
"Mungkin kami nggak akan ada artinya kok. Buat mama," celetuk Firza dari belakang. "Apapun yang kami lakukan takkan berarti apa-apa buat mama."
Alfandi kembali terdiam, tidak mampu berkata-kata lagi untuk meyakinkan kedua putranya. Bahwa sang bunda menyayangi mereka berdua. Hanya bisa menahan nafas panjang lalu dihembuskan dengan kasar.
Tidak lama kemudian, mobil pun sudah memasuki garasi rumah mewah milik Alfandi Demian.
Alfandi menoleh pada kedua putranya itu. "Baiklah, sekarang kalian istirahat ya? sudah malam!selamat bobo putra Papa yang ganteng-ganteng." Pesan Alfandi sambil mengusap kedua kepala mereka bergantian.
Firza dan Fikri. Bergegas turun dan memasuki pintu utama yang sudah dibukakan sama Bibi, mereka langsung ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat, merehatkan semua organ tubuh yang terasa lelah dari aktivitas seharian.
Dengan gontai, Alfandi berjalan membawa langkahnya. Melintasi Bibi yang masih berdiri di depan pintu. "Pulang jam berapa Nyonya?" tanya Alfandi seraya melirik ke arah mobil sang istri yang berada di garasi itu.
"Belum lama ini, Tuan," jawabnya bibi.
"Belum lama ini? berarti baru saja dia pulang?" tanya kembali Alfandi sambil menatap tajam ke arah bibi.
"Iya, Tuan. Masih baru," sahut bibi sambil nutup pintu utama.
"Apa Nyonya menanyakan anak-anak?" selidik kembali Alfandi.
Bibi menggeleng. "Tidak, Tuan. Tidak menanyakannya!"
"Oo! ya sudah, istirahatlah Bi. sudah malam," kata terakhir dari Alfandi.
"Baik, Tuan." Bibi mengundur diri dan berjalan ke belakang.
Alfandi juga mengayunkan langkah lebarnya menaiki anak tangga, untuk mencapai tujuan itu, tempat peraduannya tubuh dan otaknya sudah terlalu lelah.
Setelah berada di depan pintu, tangan Alfandi mengarah pada handle lalu mendorongnya. Kedua netra nya mendapati sang istri yang sedang berbaring di atas tempat tidur yang luas, empuk. Dan tampak lelap.
Langkah Alfandi mendekati tempat tidur disebut, sambil membuka bajunya dan ia simpan di atas sofa.
Ketika mau naik ke atas tempat tidur, tiba-tiba pengen buang air kecil dan akhirnya dia memutar badan berjalan ke kamar mandi.
"Dari mana dia? pulang sampai larut begitu." Gumamnya Alfandi sambil berjalan memasuki kamar mandi ....
.
...Bersambung!...