Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Mencuri hatiku



Saat ini mereka sudah berada di toko pakaian, dan Alfandi menyuruh Jihan dan marwan untuk membeli pakaian ganti untuk sehari-hari ataupun untuk bepergian.


Begitupun pada Sukma dan Mimy, Alfandi menyuruh mereka membeli pakaian juga.


Namun Sukma hanya bengong, dia malah bingung dalam otaknya berputar, semalam ini saja Alfandi sudah berapa uang yang dia keluarkan? untuk keperluan sekolah, makan enak. Sekarang nyuruh beli pakaian, belum mau beli tempat tidur, lemari pakaian dan perabotan dapur.


"Hello ... Nona cantik, ngapain bengong sih? bukannya milih-milih pakaian, kayak orang kesambet aja sih lu." Mimy menepuk pundak Sukma dan mengagetkannya.


"Aku malah bingung, My ... sudah berapa banyak coba yang sudah dikeluarkan oleh pak Alfandi buat kita? maksud aku buat aku dan adik adikku? sekarang juga mau di belanjakan ini itu! aku jadi malu, My. Aku nggak punya uang untuk kembalikan nya nanti," suara Sukma pelan.


"Tapi, kan. Kita nggak minta, Ma ... nggak minta dianya yang nawarin, dia yang ikhlas. Ya sudah syukuri saja terima dengan baik." Protes Mimy.


"Ya, sudah. Kamu aja yang pilih-pilih sana? aku nggak belanja," Sukma menyuruh Mimy belanja, sementara dia sendi tidak ingin belanja karena malu dan segan.


"Kakak? sini! pilihkan baju buat aku dong?" pinta Jihan.


"Iya, Kakak juga pilihkan buat aku! kan aku nggak tahu ukurannya, dan aku bingung bajunya bagus-bagus, kaos-kaosnya juga." Pekiknya Marwan kepada Sukma.


Sukma menghampiri kedua adiknya dan memilihkan semua pakaian untuk mereka berdua, yang pas dan cocok.


"Kakak beli pakaian yang mana?" tanya Jihan kepada sang kakak.


"Kakak nggak belanja ah, Kakak masih ada kok baju yang agak bagus! lagian kerja juga nggak harus pakai baju bagus, ada baju khusus kok kalau buat kerja di rumah sakit," jawabnya Sukma.


Alfandi yang tadi mendengar pembicaraan Sukma dengan Mimy, berinisiatif mendekati seorang pelayan toko yang lainnya.


"Tolong Mbak, pilihkan berapa pakaian buat gadis yang bersama kedua adiknya itu." Alfandi menunjuk pada Sukma.


"Ooh yang rambut bergelombang itu ya pak?" tanya sang pelayan toko dengan sangat ramah.


"Iya benar, itu. Tolong pilihkan ya? kira-kiranya pas di tubuh dia, beberapa pakaian termasuk ********** juga. Pokoknya yang komplit ya?" pinta Alfandi pada pelayan tersebut.


Sejenak si perempuan itu menatap intens ke arah Sukma, kemudian mengangguk. "Baik-baik, Pak."


Wanita tersebut langsung memilihkan beberapa pakaian, yang sekiranya pas di tubuhnya Sukma. Bahkan komplit dengan pakaian dalam yang sekiranya seukuran.


Langsung dia kemas dimasukkan ke beberapa paper bag dan diserahkan pada Alfandi. "Ini, Pak? sudah siap."


"Makasih? nanti catatannya dibarengkan dengan itu semua!" kata Alfandi sambil menunjuk pada Mimy dan adik-adiknya Sukma yang masih melihat-lihat.


"Baik, Pak," wanita itu pun mengangguk ramah.


Setelah dapat berapa setel pakaian buat Jihan dan Marwan, mereka pun langsung membawa ke kasir dan Alfandi sudah berada di sana.


bayar membayar pun selesai. Dan Alfandi mengajak Sukma dan yang lain ke toko furniture.


"Belilah tempat tidur untukmu dan Jihan, dan satu lagi buat adikmu Marwan, terus lemari baju, tempat sepatu juga. Untuk sementara itu saja, karena akhir bulan ini kalian akan pindah ke sebuah rumah yang tidak jauh dari sekolah adik-adik mu nanti." Alfandi menoleh pada Sukma yang menenteng jas miliknya.


Huuh ... Sukma menghela nafas panjang, kemudian mengangguk-angguk pelan, kemudian menghampiri kedua adiknya yang sedang melihat-lihat tempat tidur.


"Kamu mau beli tempat tidur juga?" tanya Alfandi pada Mimy.


Mimy melirik pada Alfandi sambil nyengir. "Ada sih di kontrakan juga, sudah tipis tapi. Aku nggak punya uang untuk membelinya," jawabnya Mimy.


"Kalau kamu mau, pilih saja? nanti saya yang bayar," sambung Alfandi serius.


"Wah ... beneran? mau dibayarin?" tanya Mimy pada Alfandi sangat antusias.


"Tentu! pasti saya bayarin, pilih pilih saja yang kamu mau." Alfandi mengangguk.


"Asik ... terima kasih ya Allah ... mimpi apa aku semalam? kamu juga mau beli tempat tidur baru," Mimy berjalan mendekati tempat tidur yang dia sukai.


Setelah mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan! Alfandi pun mulai bertransaksi dan meminta malam ini juga untuk dikirimkan ke alamat yang dia berikan.


Kemudian Alfandi mengajak ke toko peralatan dapur. Membeli magic com, kompor. Gelas, piring. Wajan dan panci. Setelah mendapat itu semua, Alfandi mengajak mereka untuk pulang.


Alfandi pun mengantar Sukma dan yang lainnya balik ke kontrakan.


Selama perjalanan yang terdengar hanya suara Mimy, Jihan dan Marwan yang berbagi cerita bahkan rasa senangnya karena malam ini mereka sudah diajak ke mall berbelanja dan makan enak.


Sementara Sukma hanya terdiam dan paling-paling ikut tersenyum mendengar obrolan mereka yang berada di belakang.


Begitupun Alfandi ikut tersenyum melihat bibir Sukma yang tertarik membentuk sebuah senyuman yang indah. Rasanya nyaman, berada di dekat gadis itu.


"Saya ada rumah tidak ada yang nempatin, jadi saya ingin kalian menempatinya. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari sekolahan Jihan dan Marwan." gumamnya Alfandi.


"Sebaiknya, Pak Alfandi nggak usah repot-repot mencarikan rumah, kami tinggal di kontrakan saja sudah Alhamdulillah kok, dengan cara anda menyekolahkan adik-adik saya, dan belanja semua ini. Sudah terlalu banyak kebaikan yang anda berikan, dan aku gak tahu harus membalasnya dengan apa? sebab sepertinya aku gak akan mampu membalas kebaikan mu itu," ungkap Sukma sambil melihat ke depan dengan tangan yang bertaut di atas pangkuannya.


Alfandi hanya sekilas melirik. Lalu memfokuskan kembali pandangannya ke depan.


"Saya tidak tahu harus berbuat apa? sebagai tanda terima kasih saya, atas kebaikan anda kepada kami semua," sambungnya Sukma dengan lirih.


"Kamu nggak perlu memikirkan apapun, oh ya. Panggil saja nama ku Al. Jangan panggil Bapak, berasa sudah tua banget, padahal sudah cukur jenggot nih!" ucap Alfandi sambil menunjukkan senyumnya yang lebar.


Sukma pun tersenyum yang diarahkan pada Alfandi.


"Terima kasih ya?" ucap Alfandi singkat.


"Ha? terima kasih buat apa?" tanya Sukma terheran-heran menatap Alfandi yang tidak berhenti tersenyum.


"Terima kasih karena kamu sudah memberikan ku sebuah senyuman yang manis itu," suara Alfandi nyaris tak terdengar saking pelannya.


Sukma menggeleng sembari menunjukkan gigi putihnya yang berbaris. "Ada-ada aja."


"Ooi ho ho ho ... jangan berduaan saja, nanti yang ketiganya setan!" kepala Mimy menyembul di antara kursi Sukma dan Affandi.


"Mimy ... kau ini apa-apaan sih? heran deh," lagi-lagi Sukma menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


Tidak terasa di perjalanan, mobil Alfandi pun tiba di depan kontrakan Sukma.


Mimy, Jihan dan Marwan sudah lebih duluan masuk ke kontrakan Sukma.


Dan Sukma sendiri masih berdiri dekat pintu mobil. "Sekali lagi, aku ucapkan makasih ya pak Al, makasih banyak atas kebaikannya?" ucap Sukma pada Alfandi yang masih duduk di belakang kemudi karena dia mau langsung pulang.


"Iya, sama-sama. Oh iya. Sebentar lagi barang-barangnya datang, terima saja dan nanti kasih uang insentif ini," Alfandi memberikan beberapa lembar uang kepada Sukma.


Sukma tidak secepatnya mengambil, melainkan menatap lembaran uang tersebut.


"Ambilah? sisanya buat pegangan dirimu, atau buat beli makan sehari-hari, Oya, sudah beli perabotan, jadi kamu bisa masak sendiri di rumah. Bisa kan masak?" Alfandi menatap lekat sambil menunjukan senyumnya.


"Oo ... bisa dong ... masak mah kecil, masa sih sebesar aku nggak bisa masak, anda meragukan saya ya? he he he ..." Sukma tertawa renyah.


"Nggak, aku percaya kok kamu pasti pintar dalam segala hal, termasuk mencuri hatiku!


"Apa?" tanya Sukma.


"Ooh, iya aku lupa." Alfandi mengambil sesuatu dari belakang jok.


Sukma heran. "Apaan tuh?


"Ini pakaian buat dirimu, tadi kamu nggak belanja apapun jadi ... saya berinisiatif membelinya untukmu, terimalah?" Alfandi menyerahkan beberapa paper bag kepada Sukma.


"Kenapa harus repot-repot sih?belanjaan buat adik-adik saja aku sudah merasa cukup kok," akunya Sukma lirih, sebelum mengambil paper bag tersebut.


"Sudah, ambil saja? kalau kamu nggak mau ambil, saya pasti sedih nih, atau saya akan buang saja" ancamnya Alfandi sembari tersenyum ....


.


...Bersambung!...