
"Ahk, nggak Bi. Aya sudah, aku ke kamar dulu ya Bi!" Sukma meninggalkan lokasi tersebut.
Bunyi derap langkah terdengar dari langkah Sukma yang berjalan menuju kamarnya.
Dia melangkah beserta hati yang menjadi was-was, sebab tidak ada kabar dari sang suami yang katanya mau pulang sore ini.
Wajah Sukma menjadi gelisah. "Kemana ya dia? kok gak ada kabar sih?" gumamnya dalam hati.
Sukma berjalan mondar-mandir dengan tangan di dada dan satunya menyentuh rahang.
"Ya Allah ... kok aku jadi gelisah ya? takut dia kenapa-napa, ya Allah ... lindungi suami ku! jaga dia untuk ku dan keluarganya? Aamiin!" gumamnya Sukma lalu mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
Maghrib pun dah tiba dan Sukma bersimpuh di atas sajadah setelah menyuruh anak-anak untuk salat Maghrib.
Rung ....
Rung ....
Rung ....
Suara mobil Alfandi di depan rumahnya Sukma. Dia pulang ke situ langsung karena dia tau kalau kedua putranya berada di sana.
Dia berencana, nanti sepulang dari liburan akan membereskan barang-barang dan dipindahkan ke rumah nya Sukma.
Kepulangan Alfandi di sambut oleh Fikri yang heboh. Dan Firza dengan gaya jaim nya.
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam ..." jawab nya Fikri dan Firza.
"Papa-papa! sekarang mommy belajar lho, dan hampir menabrak badan jalan namun untung saja gak jadi," ucap Fikri setelah mencium tangan sang ayah.
"Oya? tapi gak papa kan?" Alfandi menoleh pada Sukma yang baru turun dan menapakkan kakinya di lantai dasar.
"Nggak, mommy baik-baik saja kan tidak jadi nabrak nya juga." Jawabnya Fikri.
Sukma mendekati dan mencium tangan Alfandi. Lanjut Alfandi pun mencium kening Sukma dengan mesra, memeluk singkat sang istri untuk sedikit mengobati rindunya.
Alfandi sebentar bercengkrama dengan anak-anak termasuk Marwan dan Jihan.
Sementara Sukma menyediakan minuman buat Alfandi sebagai penghilang dahaga. "Ini diminum dulu?"
Alfandi melihat ke arah sang istri yang menyuguhkan secangkir minum untuknya. Hati yang resah dan semua yang membebani pikirannya sedikit berkurang juga merasa tenang.
"Terima kasih sayang?" ucap Alfandi sembari mengambil cangkir tersebut.
Kemudian Alfandi meneguknya, sehingga rasa dahaga yang dia rasakan berubah menjadi segar.
"Sama-sama." Sukma mengangguk pelan lalu duduk di sampingnya Fikri yang duduk bersama Alfandi.
"Oke, papa mau mandi dulu nih, gerah?" beranjak dari duduknya sambil membuka kancing kemejanya.
"Papa-papa, besok jadikan? liburan nya." Fikri menatap lekat ke arah sang ayah.
"Insya Allah jadi sayang. Sekarang papa mau mandi dulu, oke?" Alfandi berjalan di ikuti oleh sang istri, sementara tas dan kopernya sudah bibi bawakan ke atas.
Ditengah tangga, Alfandi menoleh ke belakang lalu meraih tangan Sukma agar berjalan berbarengan.
"Gimana sudah bisa menyetirnya?" tanya Alfandi sambil berjalan.
"Masih kaku sih belum lancar," sahutnya Sukma seraya membuka pintu kamar.
"Yang rajin saja belajarnya." Alfandi melucuti pakaiannya bersiap untuk mandi dan menyisakan celana pendek saja.
Sukma mengambil pakaian Alfandi dari lemari. "Belum salat kan? cepetan! nanti keburu isya lho."
"Iya, tapi kangen nih!" Alfandi mendekati sang istri lalu. Lalu memeluknya dengan erat.
"Mandi dulu sana? nanti keburu lewat." Sukma mendorong dada Alfandi setelah beberapa saat memeluk dirinya.
"Iya sayang iya!" cuph! Alfandi mendaratkan kecupan di pipinya Sukma kanan dan kiri.
"Buruan?" pinta Sukma.
"Apa yang buruan sayang? ini?" Alfandi menempelkan telunjuk ke bibirnya.
"Iih ... bukan, mandi sana?" lagi-lagi tangan Sukma mendorong dada Alfandi dan kali ini sampai ke ambang pintu.
"Jahat, awas nanti aku mogok!" ucap Alfandi sambil melipat tangan di dada gaya anak kecil merajuk.
"Al ... keburu malam!" Sukma tanpa sadar menyebut nama Alfandi dengan sebutan Al.
"Apa sayang ... iya ... Nyonya." Alfandi mundur dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sukma memungut pakaian kotor Alfandi di masukannya ke keranjang. Kemudian dia bergegas turun ke dapur untuk menyiapkan buat makan malam. Dan menambahkan menu kesukaan sang suami.
"Bi, masih ada sayuran dan ayam!" aku mau buat nasi goreng buat suami ku!" tanya Sukma sambil berdiri dan membuka lemari pendingin.
"Ada, Non masih ada di lemari." Jawabnya bi Lasmi sembari menuangkan air ke mangkuk.
"Iya, Bi. Ada," Sukma langsung mengambil bahan-bahan untuk memasak.
Di ruang tengah terdengar ribut dan Sukma langsung menoleh ke arah mereka.
"Mommy-Mommy? tapi saya juga!" suara Fikri yang diarahkan kepada Sukma.
"Ada apa sih sayang? Jangan ribut dong, jangan berisik juga. Kasihan Papa, kan baru datang. Capek," lirihnya Sukma sembari tetap memasak.
"Wan, Firza ... jangan gangguin adiknya dong?" pinta Sukma kepada Firza dan Marwan.
"Dia yang bandel nih! si anak manja nya bandel." Timpal Marwan.
"Sini duduknya? sama kak Jihan aja sini? duduknya!" Jihan mengulurkan tangan kepada Fikri, agar anak itu duduk bersamanya dan tidak kena usil dari Marwan dan Firza.
"Nah iya, duduknya sama Kak jahat aja biar aman tambahnya Sukma.
"Biarin saja, Non ... namanya juga anak-anak! lagian kalau mereka ada jadi rame ya rumah ini? sebab kalau cuman ada Marwan dan Jihan, kan nggak ... nggak rame kayak gini ya?" kata bi Lasmi sambil melirik ke arah Sukma.
"Tapi kalau kayak gini banget. Aku pusing lho, dengernya! Maklum, dulu ketika Marwan dan Jihan masih agak kecil pun aku nggak setiap hari bersama mereka! jauh. Dan ketika total bersama aku, mereka nggak pernah ribut," ungkapnya Sukma.
"Oh ... gitu ya, Non?" ucap bibi sambil mengangguk pelan.
"Ta-tapi. Bukan berarti aku nggak suka anak kecil, aku suka! cuma mungkin belum terbiasa aja." sambung Sukma sembari menunjukkan senyumnya pada bi Lasmi.
"Iya, Non. Wajar! nanti juga kalau sudah terbiasa ya ... akan terbiasa he he he," kata Bu Lasmi kembali.
Alfandi yang sudah tampak segar, berdiri dekat nakas, melihat dompetnya Sukma yang tergeletak dan ada rasa penasaran untuk membukanya. Setelah dia buka ternyata dalamnya kosong, cuma ada uang recehan saja.
Kemudian Alfandi mengecek rekening yang dipegang oleh Sukma dan saldonya emang sudah menipis juga.
"Biasanya mereka suka irit ya? apa makan di luar? nggak mungkin juga kalau setiap makan di luar juga? nggak ada uang sama sekali di dompet?" gumamnya Alfandi.
Sehingga Alfandi dengan cepat mentransfer uang ke rekening nya Sukma. "Biasanya kalau ada pengeluaran mendadak pun dia suka bilang! apa uang bulanan nya masih kurang?" batin Alfandi bermonolog.
Lanjut Alfandi membawa langkahnya keluar dari kamar, dengan pikiran yang kembali mengenang kejadian tadi pagi.
"Tadi uangnya ada sisanya nggak ngantuk apa gak waktu ke alfa?" tanya Sukma pada sang adik.
"Em ... sisa rp10.000 Kak. tadi Fikri habis rp100.000 lebih melawan juga dan sisa dari meja kamu berapa tadi ngasih uang sama aku?"Jihan melirik ke arah Firza dan bertanya.
"Tadi aku ngasih rp20.000 sama kamu!" jawabnya Firza dengan nada ketus.
"Iya Kak, yang sisa aku pegang rp10.000 dan sisa dari Virzha rp20.000 jadi semua belanjaannya berempat itu nyampe 4 70.000." sambung Jihan.
"Belanja apa aja itu teh, Nang?'' tanya Bi Lasmi pada Jihan.
"Yah ... Bibi malah nanya! emang nggak lihat tadi orang tiga ini belanjanya apa saja! makanan doang dan besok pagi pasti sudah habis tuh makanan," Jihan sambil menggelengkan kepalanya.
"Terus. Emangnya, Neng belanja apa aja tuh?" tanya kembali bi Lasmi.
"aku cuman beli es krim doang yang harganya rp30.000 masih ada!" jawabnya Jihan sambil melirik ke arah lemari pendingin.
"Kak Jihan-Jihan? mau dong aku es krim? boleh ya, boleh ya? please?" rengek nya Fikri kepada Jihan.
"Aah ... jangan dong ... nggak boleh dong, kan itu punya Kakak. Lagian belum dimakan! besok siang aja ya kita makan sama-sama aja ya?" jawabnya Jihan kepada Fikri.
"Iih pelit!" Fikri melipat tangan di dada persis kaya bapaknya.
Sukma tersenyum melihatnya. "Iya Fikri ... besok saja makannya bareng-bareng sama kakak Jihan ya? sekarang kan malam! dingin, lagian mau makan malam juga. Atau besok beli aja ya?" bujuknya Sukma.
"Besok beli es krim! yang gede ya?" Fikri melihat ke arah Sukma.
"Insya Allah ... besok beli." Sukma menjawab sembari menyudahi masaknya.
"Hore ... besok mau beli es krim yang gede, yang lain nggak bakal aku kasih. Buat sendiri aja biar kenyang." Anak itu berjingkrak kegirangan.
"Ah bodo a ... mat. Kalau kita mau beli aja ya, kan Za? kita beli saja sendiri. Bila perlu jangan satu belinya, dua. Tiga, empat! bias puas ya, kan Za?" tanya Marwan kepada Firza yang langsung memberi anggukan sebagai responnya.
Alfandi yang mendengarkan dari atas tangga, menghela nafas panjang, seraya bergumam dalam hati.
"Ya Allah ... mungkin aku sudah berpikir yang tidak-tidak kepada istriku, ternyata pengeluaran jajan anak-anak padahal. Huuh ..." mengembuskan napas melalui mulut.
"Firza, Fikri? dari rumah, kalian membawa apa saja nih?" tanya Alfandi sembari penampakan kakinya di lantai dasar.
Fikri dan Faiza menoleh ke arah sang ayah yang menghampiri mereka.
"Nggak, gak membawa apa-apa, kami dari sekolah langsung ikut Mommy ke sini, baju ganti pun beli dulu sebelum nyampe rumah. Iya kan mommy?" jawabnya Fikri lalu bertanya dan melihat ke arah Sukma.
Dan Sukma pun mengangguk dan mengiyakan. Pertanyaan dari Fikri.
"Oh gitu," Alfandi mengangguk-angguk kepalanya lalu melihat ke arah Sukma yang kebetulan melihat ke arah dirinya lantas detik kemudian menunduk.
"Oya, mana sekarang rapot kalian berempat kumpulkan? saya mau cek satu persatu." Pintanya Alfandi.
Kemudian Jihan mengambilkan raport milik mereka berempat dan diberikannya pada Alfandi.
Kini Sukma mendekati mereka yang sedang berkumpul. Lantas duduk di dekat Alfandi. "Makan dulu yo! nanti keburu dingin masakannya."
"Iya, sayang sebentar! sayang aku mau mengecek raport anak-anak dulu!" Alfandi menoleh sesaat, lalu melepaskan pandangannya kembali ke semua raport yang di tangan.
"Ya sudah, kalau begitu. Aku mau salat dulu," Sukma beranjak dan mengayunkan langkahnya mendekati anak tangga berjalan menaikinya.
Pasang netra Alfandi menetap punggung sang istri sembari berpikir. "Kalau mau salat? berarti dia sudah selesai nih!" gumamnya dalam hati.
Firza melihat ke arah sang ayah yang memperhatikan ibu sambungnya itu. Dalam hati dia bergumam. "Apakah papa kini sudah melupakan mama? dan gak perduli lagi sama mama?"
Entah kenapa hatinya terasa sakit dan perih bila mengingat tentang ibunya yang bermesraan dengan pria lain, dia juga tidak bisa membayangkan kalau sang ayah tahu yang sebenarnya ....
.
...Bersambung!...
Jangan lupa like dan komen nya ya? agar aku tambah semangat.