Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Rias pengantin



"Kayaknya sudah malam nih, apa aku dibolehkan untuk masuk?" Sukma melirik ke arah Alfandi yang kebetulan sedang melihatnya dengan bibir menyunggingkan senyuman.


Membuat dada Sukma berdebar-debar hebat, serba salah dibuatnya, ketik kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah bintang-bintang yang seakan berkedip mengajaknya bercanda.


"Apakah sudah bosan menemaniku?" Alfandi balik bertanya.


"Sudah malam!" sahutnya Sukma sambil memandangi langit.


"Hem ... hari memang sudah malam beristirahatlah, besok pagi kita ketemu lagi dan besok malam tentunya kita akan bersama! menghabiskan waktu berdua," ucap Alfandi seraya mengangkat dua jarinya.


Sukma menggoyangkan bahunya seraya berdiri, beranjak dari duduknya tersebut. Meninggalkan Alfandi yang masih betah di sana.


Kedua netra nya Alfandi menatap kepergian Sukma seraya mengulas senyumannya yang merekah, kemudian menggelengkan kepalanya. Betapa tidak sabar menantikan hari esok yang insya Allah membahagiakan, dan awal yang baik untuk kehidupannya.


Kemudian tangan Alfandi menutup laptopnya dan beranjak dari tempat tersebut, langsung memasuki ruang kerjanya. Namun karena ingat kepada kedua putranya Alfandi balik lagi dan mendatangi kamar Firza dan Fikri.


Ternyata mereka berdua sudah berada di kamarnya dan tampak masing-masing sudah terlelap. Alfandi berdiri diambang pintu tersebut, memandangi ke arah Firza dan Fikri bergantian.


Bibirnya tertarik ke samping, membentuk sebuah senyuman dan dalam hati penuh harap. Semoga putranya bisa dekat dengan istri barunya nanti.


"Semoga Sukma pun dapat menyayangi kedua putra ku seperti dia menyayangi kedua adiknya!" gumamnya alfandi dalam hati.


Setelah puas memandangi kedua putranya itu, barulah Alfandi kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya tersebut. Lalu mengambil selimut dari tasnya, berbaring di atas sofa panjang yang berada di sana.


Semalaman Sukma gak bisa terpejam, dia tetap terjaga sampai subuh pun tiba, membuat sorot matanya begitu sayu. Ngantuk? tetapi tidak bisa tidur walau sejenak. Entah apa yang dia pikirkan? yang jelas gelisah tidak menentu.


"Kamu kenapa, Ma. Wajahmu pucat begitu? kurang tidur ya?" tanya Mimy menatap wajah Sukma yang tampak pucat.


"Iya nih, semalam aku nggak bisa tidur. Sekejap pun aku nggak bisa," sahutnya sambil menggerakkan kepalanya yang sedikit terasa pusing memang.


"Aduh yang sindrom pengantin ... sampai gak bisa tidur semalaman segala? kasihan-kasihan!" godanya Mimy pada Sukma.


"Sudah ahk, jangan goda gue." tambah pusing juga sama lu," kata Sukma pada Mimy sambil berjalan menuruni tangga.


"Eeh ... lu mau kemana?" katanya Mimy sambil mengikuti langkahnya Sukma.


"Gue mau ke dapur! bikin sarapan bantuin gue lah," jawabnya Sukma sekalian minta bantuan.


"Masak? ogah, gue mau nyapu saja, ngepel. Masak bagian lu saja, gue taunya sarapan aja, oke? sahutnya Mimy sambil membelokkan jalannya mengambil sapu.


Sukma hanya menunjukkan senyumnya, kalau terus berjalan ke arah dapur yang memang terbuka. Sukma langsung membuka lemari pendingin dan mengambil semua bahan yang akan dia masak, pagi ini termasuk ayam yang sudah di marinasi dari semalam.


Rupanya Alfandi pun sudah bangun dan tampak segar, turun menghampiri Sukma yang sedang berkutat di dapur. "Pagi sayang ... mau masak apa?"


"Malam?" sahutnya Sukma sembari melirik sekilas ke arah Alfandi.


"Lho, kok malam sih? ini kan sudah pagi, buktinya kamu bikin sarapan. Emang ada sarapan malam? perasaan nggak ada! yang ada makan malam, makan sahur. Dan ... makan kamu!" timpal Alfandi sambil tertawa.


Tak elak Sukma pun menarik bibirnya ke samping, menunjukkan senyumnya yang manis sembari memasak. Dia kembali menoleh ke arah Alfandi. "Apakah mau dibikinkan kopi? teh hangat? atau susu? ups nggak ada susu! aku nggak belanja. Tapi kalau mau? aku suruh Jihan untuk membelinya! ke depan."


"Aku maunya asli aja--"


"Ha? yang asli? maksudnya?" tanya Sukma seraya mengerutkan keningnya. "Yang asli kan banyak di Alfamart, susu UHT kan?"


"Nggak. Bukan," sahutnya Alfandi.


"Terus yang merk apa?" tanya kembali Sukma namun kali ini dia tidak menoleh, melainkan sibuk dengan wajan dan sodet di tangan. "Apa mau langsung dari sapi nya he he he ...."


"Nggak ahk, untuk saat ini aku pengennya ... asi saja--" suara Alfandi pelan, khawatir di dengar orang.


Sukma memutarkan kedua bola matanya. "Argh ... minta aja sama istrinya repot amat, ngapain diomongin kayak gitu? gak punya malu."


"Iya, kan sebentar lagi kamu menjadi istriku," gumamnya Alfandi, sesaat kemudian dia menyibukkan dirinya dengan benda pintar yang berbentuk pipih tersebut.


"Ooh ya, sayang. Beli saja susu, buat anak-anak di warung yang terdekat saja." Kemudian dia berjalan menjauhi Sukma.


Sukma pun segera memanggil Jihan, yang baru selesai membuka-buka gorden semua jendela. "Tolong Kakak ya? belikan susu buat minum anak-anak, belinya di warung terdekat saja, yang kemarin ya? dan uangnya ngambil di laci, di kamar."


"Baik, Kak." Jihan mengangguk dan langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamar sang kakak, untuk mengambil uang buat belanja susu.


"Susunya apa Kak?" tanya Jihan setelah berada di lantai dasar kembali.


"Apa ya? putih apa coklat?" Sukma malah bertanya.


"Waktu itu Fikri minumnya susu coklat, karena katanya ... suka susu coklat." Kenang Jihan.


"Ooh, ya sudah beli aja susu coklat tapi sama putihnya juga, kali saja yang satu nggak suka coklat," Sukma mengingat Firza yang belum tentu suka dengan susu cokelat.


"Iya Kak, aku pergi dulu?" Jihan langsung pergi dengan tujuan ke warung depan.


"Mau kemana Jihan? pagi-pagi gini?" tanya Mimy yang sedang mengepel di depan, teras rumah.


"Ke warung beli susu," jawabnya sambil terus berjalan ke depan.


Dari pintu belakang masuk seorang wanita paruh baya. Menghampiri Sukma yang sedang menggoreng ayam. Dan membuat Alfandi bertanya-tanya siapakah wanita ini?


"Permisi, Non? saya Bibi yang suka bersih-bersih di sini, maksud Bibi merawat rumah ini." Wanita itu mengangguk hormat kepada Sukma.


"Ooh, Aku kira siapa?" Sukma pun mengangguk ramah kepada wanita tersebut.


"Panggil saja, saya Bibi Lasmi, saya biasa mengurus rumah ini dan sekarang pun tuan menyuruh Bibi untuk terus bekerja di sini membantu-bantu, Nona katanya." Sambung bibi Lasmi.


"Ooh, nggak pa-pa, Bi Lasmi. makasih ya sebelumnya? sebagian pekerjaan kayaknya sudah dikerjakan sama anak-anak, tapi pasti masih ada yang belum dikerjakan sih," balasnya Sukma.


"Ya sudah, sini biar bibi saja yang goreng kan ayamnya? mungkin, Enon mau mengurus yang lain." Bibi Lasmi mengambil alih pekerjaan yang sedang Sukma kerjakan.


Lantas Sukma beralih pada sayuran, yang belum dia masak. dan ketika Jihan datang membawa pesanannya, Sukma pun langsung menyeduh kan susu tersebut sebanyak 3 gelas. Buat Firza, Fikri dan Marwan.


"Kamu mau nggak?" tanya Sukma pada Jihan yang masih berdiri di sana memandangi bi Lasmi.


Jihan menggeleng seraya berkata. "Nggak mau ahk, lagian kalau mau. Aku bisa bikin sendiri kok. Oya Kak, dia siapa?" menunjuk bibi.


"Ooh ... dia namanya bi Lasmi yang disuruh sama Om Alfandi untuk membantu Kakak di sini, iya kan Bi Lasmi?" yang langsung mengangguk dengan ramah dan melihat ke arah Jihan.


"Oo! hebat ya sekarang Kakak punya asisten," ucap Jihan memuji kakaknya yang bukan cuma mendapat rumah, tetapi juga asistennya.


"Mandi? sudah dong ... sebelum salat subuh juga aku sudah mandi." Jawabnya Jihan semua yang mendudukkan dirinya di sana.


"Lantai atas, sudah disapu belum? dipel?" tanya Sukma kembali pada Jihan.


"Em ... belum. Kak, kalau kamar aku sih udah dibersihkan. Gorden pun sudah semuanya ku buka! kalau kamar Marwan di beresin sendiri lah, tapi kalau kamar yang di lantai atas semuanya. Aku nggak tahu." Jawabnya Jihan.


"Oh ya sudah, nanti biar bibi yang bereskan, ya di lantai atas." Kata Sukma sambil menuangkan sayur ke mangkuk.


"Sayang, satu jam lagi orang dari butik akan datang membawakan pakaian buat kita dan insya Allah pukul 11 nanti acaranya dimulai," ucap Alfandi sambil berjalan menghampiri tempat tersebut.


Sukma hanya menoleh tanpa berkata-kata, jantungnya yang mendadak berdegup kencang bagai bedug yang di tabuh.


Mimy melihat ke arah Sukma dan Alfandi bergantian. "Ma, lu oke?"


"Ha? oke." Sukma mengangguk.


Saat ini mereka semua sudah berada di meja makan menikmati sarapannya masing-masing, Fikri dan Marwan meneguk susunya. Namun Firza hanya lihatin gelas susu tersebut.


"Aku gak suka susu coklat," ucap Firza sambil mengedarkan pandangannya.


Mendengar ucapan Firza seperti itu, membuat Sukma yang sedang makan pun beranjak. "Oke, aku gantikan ya? sama susu putih."


Firza tidak menjawab, sikap dia begitu dingin kepada semua orang.


Tanpa menunggu jawaban pun Sukma langsung meraih gelas susu Firza dan di gantinya dengan susu putih.


"Tante, belum tahu kalau kau gak suka coklat." ucap Alfandi pada Firza yang berwajah datar.


"Non, biar Bibi yang buat kan?" pinta bi Lasmi. "Non, lanjutkan makan saja."


Sukma menoleh seraya tersenyum. "Biar aku saja, Bi ... gak pa-pa cuma menyeduh kok."


Kemudian Sukma menyuguhkannya pada Firza. "Diminum ya? mumpung masih hangat."


Sukma duduk kembali dan melanjutkan makannya. Melihat ke arah Fikri, dia malah lebih sibuk main games ketimbang makan.


"lho ... Fikri makan dong? kok malah main game?" ucap Sukma yang diarahkan kepada Fikri.


"Males ah, makannya juga kenyang!" sahutnya Fikri sambil melirik sekilas menyerahkan pandangan ke layar gadgetnya.


"Fikri itu kenyangnya, karena main game. Bukan kenyang makan! bisa nggak? ponselnya disimpan dulu, terus makan? kalau sudah makan! boleh deh main games lagi," lanjutnya Sukma.


"Main games mulu? nanti malas belajar," tambahnya Marwan kepada Fikri.


"Kan sedang nggak ada pelajaran, Kak Wawan ..." sahutnya Fikri menoleh pada Marwan.


Sukma merasa gemas melihat Fikri malah melanjutkan main gamenya.


"Iih ... sini? Tante suapi? Tante paling nggak suka kalau makanan itu dibuang-buang! masih banyak orang yang membutuhkan makanan, kelaparan. Contohnya saja ... kemarin-kemarin, Tante ... kak Jihan, kak Marwan. Mau makan saja susah, sebab nggak ada makanan! sekarang makanan tersedia di meja, jadi nggak boleh ada yang buang-buang makanan!" ujarnya Sukma sambil menyuapi Fikri dengan tulus.


Membuat semua yang berada di sana merasa mencelos, sedih dengan yang dikatakan Sukma barusan.


Apalagi Jihan dan Marwan yang jelas-jelas merasakannya, merasakan kelaparan dan kesusahan. Sehingga keduanya meneteskan air mata.


Firza hanya bengong mendengarnya, dan menatapi ke arah sang adik yang sedang disuapi makannya oleh Sukma. Hati teringat, andai saja yang menyuapi Fikri itu adalah mamanya. Ibu kandungnya namun ini bukan, Firza mengembuskan nafas kasar.


Alfandi memandangi ke arah Fikri dan Sukma bergantian, dia melihat ada ketulusan di mata Sukma. "Terima kasih, Sukma ... sudah hadir dan mau menjadi bagian dari hidup ku!" batinnya Alfandi.


Sekitar pukul 07.30 datanglah dari pihak butik membawa pakaian pengantin buat Affandi dan Sukma, juga pakaian buat yang lainnya, untuk acara nanti siang. Dan paket makanan pun sudah mulai berdatangan.


Walaupun tidak akan ada banyak tamu yang datang, tapi setidaknya banyak makanan dan minuman yang tersedia di sana, setidaknya tetangga-tetangga Alfandi undang untuk datang. Hitung-hitung perkenalan dengan tetangga baru.


"Makanannya banyak emang kan ada banyak kamu?" tanya Sukma sembari melihat paket makanan yang datang.


"Ya ... kalaupun nggak ada yang datang kita kan bisa bagi-bagikan pada tanggal-tanggal yang penting tidak mubazir!" jawabnya Alfandi.


Kemudian perias pun datang untuk mendandani kedua calon mempelai. Kini Sukma sudah mengenakan kebaya putih dan batik berwarna biru keemasan, dan kini Sukma mulai dirias pengantin. Riasan wajahnya secantik mungkin, walau dengan riasan natural karena memang dasarnya Sukma cantik dan natural.


Serta rambutnya disanggul bak pengantin umumnya, berhias rangkaian melati yang panjang. begitupun Mimy sebagai pendampingnya Sukma, tidak jauh beda dengan Sukma. Mimy pun disanggul cuma bedanya nggak pakai melati


"Ma, apa nggak ada yang diundang keluargamu ke sini seperti bibi dan pamanmu itu?" tanya Mimy sambil dirias di kamarnya Sukma.


Sukma menggeleng seraya berkata. "Nggak ada! gak ada satupun yang aku undang, begitupun dari keluarga Ibu almarhumah, apalagi mereka jauh-jauh."


"Kalau mengundang Bibi Lilian sekeluarga, Uuh ... terbakar matang nih telinga, gara-gara mendengar cibiran cemoohan dari paman dan anak-anaknya. Apalagi kalau tau kak Sukma nikah dengan pria beristri dan punya anak, jadi mendingan nggak usah aja deh!" tambahnya Jihan sembari menatap ke arah Sukma.


"Nggak, makanya Kakak nggak bilang siapapun, lagian mau bilang ke mana? pegang handphone juga nggak! dan gak tau juga nomor-nomor mereka semua!" timpalnya Sukma.


"Bener, nggak usah aja deh! nggak usah undang mereka," ucap Jihan sembari menaik-turunkan kepalanya.


"Tapi ... nanti kalau ada rezeki, Kakak pasti ke sana. Untuk mengembalikan apa yang pernah kita makan di sana, bagaimanapun kita nggak boleh lupa kebaikan mereka, yang sudah menampung kita bertiga," ucapnya Sukma kepada Jihan.


"Apalagi mulutnya Kak Fira tuh, kalau dia tahu suami Kakak beristri. Bisa hancur nih dunia!" tambah Jihan sambil membayangkan kalau mereka tahu atau datang ke tempat ini.


"Ya sudah ... jangan dibahas mulu, yang penting kita bahagia sekarang ini, oke? nanti kalau dibahas mulu bisa menimbulkan sakit hati juga sedih," celetuknya Mimy sambil menatap keduanya.


Sementara dua orang perias, cuma senyum dan mendengarkan obrolan mereka bertiga.


Di bawah, lantai dasar. Terdapat banyak orang yang sedang beres-beres di sana, yang di antaranya tetangga dekatnya Bu Lasmi yang diajaknya membantu-bantu di sana.


Kini di ruang tengah dan di ruang tamu, sofa-sofa sudah dikesampingkan. Menjadi ruangan itu terlihat lebih luas di tengah-tengahnya pun terpasang meja buat nanti acara ijab kabul.


Dan ada berapa anak buahnya Alfandi yang sekaligus sahabatnya, sudah datang di sana. Ikut mengatur acara tersebut, yang bernama Rijal dan Arman. Mereka berdua pun sudah masing-masing mempunyai keluarga dan alhamdulillah rumah tangganya mereka itu baik-baik semua, beda dengan Alfandi ....


.


.


...Bersambung!...


.


Mohon dukungan nya🙏