Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Menyenagkan



Keduanya saling pandang namun dengan sangat lekat, dan tak sepatah katapun yang terucap dari bibirnya masing-masing, hanya suara nafas yang bersahutan dan memburu bagai orang yang habis lari marathon dengan jarak yang puluhan kilo.


Sukma beranjak di tempat semula dengan perasaan yang tidak menentu jantung yang terus berdegup sangat kencang. dadanya yang terus berdebar pantasnya duduk manis di atas sofa.


"Pah? Papa lagi apa? mau makan bareng nggak? suara itu jelas. Suara Fikri dari balik pintu kamar mereka berdua.


Alfandi menoleh pada Sukma yang masih tampak tegang dan gugup. Kemudian Alfandi beranjak dari duduknya, berjalan dengan teratur sembari mengusap bibirnya yang lembab itu yang baru saja meneguk madu asli yang belum tersentuh orang. "Ehem."


Sebelum menarik handle pintu, Alfandi merapikan Dulu pakaiannya. Jangan sampai ada yang mencurigakan dari dalam, nafas dulu dengan panjang. "Huuh ..."


Cklek!


"Iya, ada apa sayang?" tanya Alfandi setenang mungkin.


"Mau makan malam bareng nggak? tante mana tante?" kepala Fikri planga-plango ke dalam kamar mencari keberadaan Sukma yang tidak dilihatnya.


"Oh iya, Tante juga mau turun! mau nemenin kalian makan lho," tiba-tiba Sukma muncul dari balik tubuh Alfandi.


"Iya nih, Fikri tungguin Tante nggak turun-turun," sahutnya Fikri.


"Hem ... Tante juga mau turun nih, gimana sudah belum sholat magribnya?" tanya Sukma Sembari mendekati anak itu mendahului Alfandi.


"Sudah dong, Papa-Papa? aku tadi sholat Maghrib berjamaah dengan kak Marwan, kak Firza di ajak sholat gak mau. Papa sholat gak? kata Tante juga sholat itu wajib hukumnya!" Fikri melipat tangannya di dada melihat ke arah papanya.


"Wah hebat dong, putra Papa ini ya? Papa juga sudah dong ... nanti kalau Papa gak sholat! bisa di jewer mommy muda nih." Alfandi sembari melirik sang istri yang kini berdiri di sampingnya.


Sukma menarik bibirnya membentuk senyuman seraya menggeleng.


"Eh ... yu, kita turun?" ajak Fikri sembari berjalan mendekati tangga.


Sukma pun mengikuti langkahnya Fikri, namun tangannya di raih Alfandi sehingga langkah Sukma terhenti dan berbalik.


"Aku gimana nih?" suara Alfandi setengah berbisik.


"Gimana-gimana ... maksudnya?" tanya Sukma seraya sedikit mendorong dada Alfandi dengan. lengannya.


"Gimana dengan kita nih? masa mau digantung?" bisik Alfandi kembali dengan tatapan mata begitu lekat dan bibir tersenyum manis yang di arahkan pada Sukma.


"Itu, anak-anak nungguin!" Sukma menunjuk ke arah belakang. "Lepas? nanti Fikri lihat! malu."


Manik Sukma melihat ke arah tangga, dimana Fikri sedang turun.


"Baiklah, sayang ku! sekarang kau ku lepas. Tapi nanti tidak akan aku lepas sedikitpun." Alfandi memudarkan rangkulan nya.


Sukma berdiri dengan tegak sembari mengulas senyumnya yang tipis, hampir saja jantungnya terlepas dari tempat. Kemudian berjalan menuruni anak tangga dan tangan Alfandi pun kembali memegang tangan Sukma.


Sehingga kini mereka menuruni anak tangga tampak saling berpegangan. Walaupun Sukma menarik-narik agar dilepaskan.


Semuanya sudah berkumpul di meja makan tidak terkecuali dengan Firza pun sudah tampak berada di sana.


"Wah ... kalian sudah berkumpul rupanya," Alfandi mengedarkan pandangan kepada mereka semua.


"Tuan, Bibi nanti jam 08.00 akan pulang dan besok subuh-subuh kembali lagi ke sini untuk menyiapkan sarapan dan lainnya," kata bibi yang berdiri dekat kompor.


"Oke, mulai sekarang keuangan ataupun gaji bibi akan saya serahkan pada istri saya ini, jadi kalau Bibi perlu mendadak atau apa nanti? bicara saja sama istri saya ya?" ucapnya Affandi pada Bi Lasmi.


Sukma hanya melihat ke arah Alfandi yang mengatakan kalau soal keuangan akan diserahkan kepadanya.


Dan Bibi pun mengangguk. "Ya, Tuan." Sembari melirik ke arah Sukma yang bengong.


Sukma pikir berarti keuangan di rumah itu dia yang harus mengatur, emangnya bibi berapa 1 bulannya? Sukma duduk di dekat Alfandi seraya berbisik. "Emangnya gaji bibi 1 bulannya berapa?"


Alfandi menoleh pada sang istri. "Satu bulannya 3 juta, nanti kamu yang ngatur gajinya atau keperluan rumah ini," suaranya Alfandi tak kalah pelan dari sang istri.


Sukma tidak komentar lagi, selain mengambilkan piring dan beberapa menu buat sang suami. Lalu buat anak-anak juga terutama Fikri dan Virzha, karena kalau Marwan dan Jihan sudah terbiasa sendiri. Sementara dua anak itu mungkin masih merasa canggung atau gimana? terutama dengan Firza.


"Sebelum makan, membaca doa dulu? dan Marwan yang pimpin ya?" Alfandi meminta Marwan untuk membaca doa sebelum makan.


"Atau Fikri juga boleh, Fikri bisa nggak membacakan doa sebelum makan? bisa kan?" timpal Sukma yang menatap ke arah Fikri.


"Bisa sih, tapi kak Marwan saja lah," Fikri rupanya sedang malas untuk membaca doa.


"Ya sudah, kak Marwan saja yang baca doa," tambahnya Alfandi.


Dan setelah Marwan membaca doa, mereka pun langsung menyantap dan menikmati makan malamnya bersama.


Sukma menoleh pada bi Lasmi yang sedang berada di ruang televisi. "Bibi makan dulu, sini bareng-bareng?"


"He he he ... Bibi sudah makan barusan! maaf bibi dah duluan," bi Lasmi mengangguk dalam.


"Ooh ... Sudah makan? beneran sudah makan?" tanya Sukma kembali.


"Iya, Bibi sudah makan duluan, setelah salat magrib Bibi makannya, maaf? Bibi nggak minta izin dulu?" kata bi Lasmi menunduk merasa gak enak.


"Ya ampun ... Bi, gak apa-apa makan aja. Nggak usah minta maaf gitu ahk. Baguslah daripada telat," Sukma menunjukkan senyumnya pada bi Lasmi.


"Mungkin bibi Lasmi kecapean dan merasa lapar, jadi makan duluan." Ma ... celetuk Mimy.


Sukma menoleh pada Mimy. "Nggak apa-apa kok, daripada telat."


"Nggak perlu sungkan atau canggung, Bi. Anggap saja rumah sendiri, apa yang ada, mau? makan saja!" tambah Alfandi pada bi Lasmi.


Sukma kembali mengangguk setuju pada pria yang jadi suaminya tersebut.


Kemudian Alfandi menyudahi makannya dengan meneguk setengah gelas air putih. Menoleh kembali pada bi Lasmi.


"Bi, kemarin. Gaji bibi 2 juta, sebab cuma bersih-bersih debu doang. Sekarang kerjaan bibi bertambah dan setiap hari di sini, dari subuh sampai malam, tapi bila siang gak ada kerjaan bibi boleh pulang dulu, sore ke sini lagi--" Alfandi menjeda perkataannya.


"Sekarang gaji bibi menjadi 3 juta, belum bonusnya." Tambah Alfandi mengarahkan pandangan pada bibi Lasmi.


"Baik, Tuan. Bibi ngikut saja," Bi Lasmi mengangguk pada Alfandi.


Detik kemudian Alfandi beranjak dari duduknya dan pergi entah kemana?


Setelah makan. Sukma dan Mimy membereskan bekas makannya, sementara Jihan dan Marwan, Fikri dan Firza berpindah ke ruang televisi.


"Jihan, Marwan. Siapkan keperluan sekolah buat besok?" Sukma berucap lirih pada kedua adik nya.


"Iya Kak, nanti kami siapkan," jawabnya Marwan.


"Iih ... aku sih sudah di siapkan, Kak." Timpal Jihan.


Kemudian Sukma mengalihkan pandangannya pada Fikri dan Firza. "Kalian berdua, besok sekolah bukan? bawa peralatannya gak?"


"Kami bawa kok Mommy. Di tas, beserta seragamnya." Jawab Fikri menunjuk ke atas.


Semua kaget terutama Firza mendengar panggilan mommy pada Sukma.


"Seragamnya di tas? kusut dong ... ya sudah, My. Bantuin bibi ya? aku mau setrika seragam anak-anak dulu," ucap Sukma sembari berjalan ke atas.


"Oke!" Mimy langsung membantu bi Lasmi. Lagian memang sudah seharusnya dia mengerjakan pekerjaan rumah, sebagai terimakasih sudah di kasih tinggal dan makan gratis di rumah ini.


"Nggak pa-pa, Bi. Kita kerjakan sama-sama, lagian saya bukan nyonya di rumah ini, saya cuma sahabatnya Sukma. Bi," ungkap Mimy.


"Ooh, bukan saudara atau--" BI Lasmi menggantungkan perkataannya.


"Saya cuma teman, namun saya menganggap mereka seperti keluarga dan mereka pun begitu. kemarin mereka tinggal dekat kontrakan saya, Bi. Pas pindah aku juga di ajak sama pak Alfandi dan mereka pun senang, saya tinggal di sini. Aku masih punya keluarga, tetapi jauh dan mereka sudah tidak mempunyai keluarga," lanjut Mimy.


"Ooh ... begitu," gumamnya bibi sambil mencuci piring.


"Saya bersyukur kalau teman saya dapat suami yang baik seperti pak Al, sehingga saya pun merasakan kebaikannya! buktinya saya juga boleh tinggal di rumah ini dengan cuma-cuma. Baikkan, Bi?" sambung Mimy.


"Iya, tuan Al memang baik, Neng Mimy." Kata bi Lasmi membenarkan perkataan Mimy.


Sukma yang ke kamar Fikri dan Firza langsung mengesekusi tas keduanya dan mengambil seragamnya yang pas di buka pada kusut. "Ya ampun ... kusut benget."


Lanjut Sukma membawa seragam putih merah dan putih biru itu ke bawah lantas ia setrika.


"Jihan, Marwan? mana seragam kalian?" pekik Sukma pada kedua adiknya tanpa menoleh.


Jihan menoleh pada sang kakak. "Punya kami sudah di setrika, Kak. Sudah rapi."


"Oh, ya sudah. Kalau begitu!" Gumamnya Sukma.


"Mau di bantuin gak. Tante, eh Mommy?" Fikri menggerakkan kepalanya ke arah Sukma.


Sukma tersenyum dan melirik pada Fikri. "Nggak ah, gak perlu. Makasih atas tawarannya!"


Sukma kembali membawa seragam tersebut ke kamar Fikri untuk di simpan dan di gantungnya biar rapi.


Tidak lama kemudian, Sukma sudah kembali dan merapikan bekas menyetrikanya barusan.


"Oya, anak-anak. Jam delapan harus masuk kamarnya masing-masing, belajar dan segera tidur? biar tidak kesiangan." Pesan Sukma. "Dan jangan lupa salat isha dulu ya?"


"Baik, Kak!" sahut Jihan dan Marwan berbarengan.


"Sok ngatur!" gumamnya Firza.


Fikri melirik pada sang kakak. Lalu menoleh pada Sukma. "Mommy. Aku mau sholatnya dengan kak Marwan ya?"


"Iya, boleh." Sukma mengangguk.


"Non, Bibi pulang sekarang!" pamitan bi Lasmi.


"Oya. Rumah Bibi dimana? jauh gak? aku antar." Tanya Sukma.


"Iya, Bi. rumahnya dimana? biar aku saja yang antar? kalau Sukma kasian, dia itu pengantin baru," Mimy sambil menggoda Sukma.


"Hualah ... rumah Bibi dekat, cuma terhalang dia rumah dari sini. Gak perlu di antar, orang dekat kok," sahutnya BI Lasmi sembari menunjuk ke sebuah arah.


Kemudian Sukma naik ke lantai atas untuk ke kamarnya. Mau menunaikan salat isha terlebih dulu.


Setibanya di kamar, kepala Sukma planga-plongo mencari Alfandi yang tidak ada di sana. "Pasti di ruang kerjanya?"


Sukma melanjutkan langkahnya ke kamar mandi, tidak lupa mau membawa pakaian ganti. Yaitu setelan tidur, namun pakaian yang biasa dia pakai setelan panjang Doraemon gak ada!


"Lho, baju ku mana? perasaan bekas semalam sudah ku cuci dan tadi ku lihat ada di lemari lagi kok, kenapa sekarang gak ada? yang ada cuma ini!" Sukma bengong sambil memegang pakaian tidur dengan bahan yang menerawang.


"Lagian siapa yang menyimpan ini di sini? apakah punya mimy? Tapi, gak mungkin juga punya Mimy perasaan gak pernah melihat dia pakai ini, lagian mereknya masih ada nih," ucap Sukma bermonolog sendiri.


Lantas dia buru-buru ke kamar mandi, tidak ingin memikirkan soal baju tersebut nanti saja dia tanyakan pada Mimy, barang kali itu punya dia.


Kini Fikri dan Firza sedang berada di kamar mereka dan bersiap untuk tidur.


"Ngapain sih kamu itu manja-manja sama wanita itu?" tanya Firza pada sang adik.


"Wanita yang mana? itu Tante--"


"Iya, siapa lah dia!" Firza memotong perkataan sang adik.


"Emangnya kenap! bila aku manja-manja sama Tante atau Mommy, apa salahnya?" Fikri bangun dan menatap ke arah Firza.


"Dia bukan mama kita!" sahutnya Firza menunjukan rasa kurang sukanya.


"Emangnya kenapa kalau Mommy bukan mama kita? Fikri sayang kok sama tante eh Mommy, Mommy juga sayang sama Fikri, jadi apa salahnya jika Fikri ingin dimanja sama tante?" Fikri merasa heran.


"Dia sayang sama kamu, emang dia masih baru menikah sama papa, nanti juga kalau dia sudah bosan! sudah lama jadi istri papa. Mungkin akan jahat juga sama kita," ungkapnya Firza.


"Kakak nggak boleh suudzon, pamali! Kak Firza nggak boleh punya prasangka seperti itu, Mommy berusaha menunjukan perhatiannya sama kita berdua, Kak ... buktinya tuh seragam kita dia rapikan sendiri, bisa saja Mommy menyuruh kak Mimy atau bibi bukan? tapi ini nggak." Fikri menetap tidak suka dengan pemikiran sang kakak.


"Aah ..." Firza membaringkan tubuhnya dan sembunyi di bawah selimut.


"Mommy baik lho, Kak. Dia juga yang menolong aku ketika kabur! tanpa tau aku anaknya siapa!" tambah Fikri, lalu dia pun membaringkan dirinya di tempat tidur yang terpisah dari Firza.


Tak ada lagi suara dari Firza, dia hanya mematikan lampu saja.


Selepas Sukma salat. Alfandi masuk ke kamar tersebut dengan membawa sebuah laptop. Melihat Sukma masih mengenakan pakaian santai, Alfandi bertanya.


"Kita mau tidur, kenapa belum ganti baju?" tanya Alfandi sembari menyimpan laptopnya di ata balas dekat tempat tidur.


Sukma yang sedang melipat mukenanya, menoleh pada Alfandi. "baju tidurku yang semalam aku pakai nggak ada padahal tadi habis dicuci sudah berada di kamar ini kembali, tapi sekarang entah ke mana?"


Alfandi berjalan mendekati lemari dan mengambil gaun malam yang tadi Sukma pegang, yaitu gaun yang menerawang tersebut. Alfandi membawanya ke hadapan Sukma.


"Ini pakailah? bukankah kau akan mendapatkan pahala jika kau menyenangkan suamimu?" ucapnya Alfandi sembari menyerahkan gaun tersebut kepada Sukma.


Sukma memandangi gaun tersebut seraya menelan saliva nya berkali-kali. "Pakai baju itu? menerawang begitu?" Mata Sukma tidak berkedip dan bahunya sedikit bergoyang.


"Nggak menerawang juga, ini kan ada luarannya." Alfandi menunjukan luarannya yang persisi kimono. "Kalau mau keluar kamar dan takut ketemu orang? pakai luarannya. Kalau di dalam kamar dan hanya berdua dengan ku. Gak usah! pakai yang dalam saja."


"Emang itu punya siapa? dan baju ku yang biasa mana?" Sukma celingukan dengan dada yang terus berdebar. Masa dia harus memakai itu? malu.


"Ada, aku simpan. Lagian itu sudah lusuh. Besok ku belikan yang baru beberapa setel! yang biasa buang saja." Kata Alfandi sembari menyimpan gaun malam tersebut pada tangan Sukma.


"Tapi?" gumamnya Sukma.


"Nggak ada tapi-tapi, nurut saja pada suami. Pakailah, sesungguhnya kau ingin menyenangkan ku bukan? sebagai suami mu, hem?" Alfandi mengedipkan kedua matanya pada Sukma yang hanya bengong.


Sukma setengah bergidik, lalu ingin mengingatkan akan kewajibannya Alfandi kepada kepada sang maha pencipta.


"Em ... apa kau sudah salat? baiknya tunaikan itu dulu! biar tenang." Lirihnya Sukma kemudian mendudukkan dirinya di sofa.


"Belum, baiklah ... aku akan menunaikan yang satu dulu, setelahnya itu ... aku akan menunaikan kewajiban ku sebagia suami. Siap-siap saja ya?" Alfandi setengah berbisik lalu membawa langkahnya ke kamar mandi.


Sukma terbengong-bengong sendiri, pakai gak ya? kalau nggak! kan niat awal juga untuk menolong Alfandi agar terhindar dari kejahatan syahwatnya pada wanita yang bukan muhrimnya ....


.


.


...Bersambung!...