Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Mau menikah



"Hi, kanapa sedih? bukannya bahagia malah nangis?" sapa Jihan kepada sang kakak yang sedang menderai kan air mata, menatap ke arah uang dan kunci di meja.


"Ha, nggak nangis kok, cuma terharu! terharu berasa sudah menjadi istri, padahal bukan apa-apa. Sebelum pergi, dia meninggalkan uang buat belanja dan kunci rumah." Sukma menunjuk ke arah meja sambil mengusap pipinya yang basah.


"Em ... ikut terharu juga." Jihan peluk sang kakak. "Ya sudah, Kakak terima saja jadi istrinya di om Alfandi, yang penting kita hidup senang dan bahagia. Kita nggak ada niat sama sekali untuk merebut om Alfandi dari keluarganya! sebab kita hanya menerima kok, dia sendiri yang menawarkan kebaikannya kepada kita."


Sukma memudarkan rangkulan sang adik seraya menatap dengan lekat. "Kakak juga sudah pikirkan itu dan insya Allah ... Kakak siap apapun nanti pandangan orang terhadap Kakak, yang penting Om Alfandi nya sayang sama Kakak. Sama kalian berdua, dan terus bertanggung jawab akan kehidupan kita." Ujar Sukma dengan lirih.


"Kakak juga jangan lupa lho ... harus sayang sama Om Alfandi juga putra-putarnya, iya Kak apapun kata orang? kita harus tetap buktikan kalau kita tidak seburuk yang mereka pikirkan itu." Sambungnya Jihan.


Sukma menatap lekat pada Jihan. "Terima kasih ya? atas dukungan Jihan sama Kakak, dan doakan untuk bisa menerima kenyataan sepahit apapun nantinya."


"Iya Kak, aku akan selalu mendukung, Kakak kok. Dan aku yakin, Kakak juga akan bahagia bila hidup bersama dengan om Alfandi, aku yakin dia akan baik seterusnya dan tanggung jawab pada kita khususnya pada Kak Sukma." Jihan begitu yakin.


Sukma mengangguk. Lalu merangkul kembali kepala Jihan ke dadanya.


Sejenak mereka terdiam, hanya saling merangkul untuk saling menguatkan satu sama lain. Kemudian Sukma mengingat Mimy lalu bertanya keberadaannya pada Jihan.


"Kak Mimy, sudah berangkat?" tanya Sukma kepada Jihan.


"Sudahlah, tuh mobilnya udah hilang. Aku tidak menyangka kalau kak Mimy pun akan disuruh tinggal di sini bersama kita, Kak. Aku kira tidak akan seperti itu," ucapnya Jihan, mengagumi kebaikan Alfandi pada Mimy juga.


"Sama, Kakak juga nggak mengira kalau kak Mimy akan terus bersama kita. Bahkan Kakak sudah sedih mau berpisah sama kak Mimy, yang selama ini begitu baik sama kita menganggap kita saudaranya sendiri, tapi alhamdulillah. Akhirnya kami bisa berkumpul atas kebaikan om Affandi."


"Kakak ... Kakak itu jangan panggil Om, dan sebutan Om Alfandi nya yang lebih manis dong ... kan calon suaminya, Kakak." Goda Jihan sambil tersenyum.


"Iih ... kamu itu masih kecil atau apa sih?" Sukma menjempit hidung Jihan dengan gemas.


Kemudian Sukma melanjutkan niatnya yang ingin beres-beres, memasang kompor membereskan piring. Magic com.


"Emang kita mau masak apa, Kak. Siang ini?" tanya Jihan sambil membantu membereskan piring ke tempatnya.


"Masak apa ya? enaknya membeli lauk apa ya? kalau sayuran ... kita cari saja di belakang yuk?" ajak Sukma pada Jihan sambil mencuci tangannya.


"Ayo, Kak! di belakang tuh ada kangkung, ada sawi, Kak. Bayam juga ada, salam. Sereh ada. Kira-kira siapa yang merawatnya ya, Kak?" Jihan menatap penasaran kepada sang kakak.


"Entah, Kakak pun belum bertanya, mungkin ada tetangga di sini kali yang mau merawatnya," sahutnya sang kakak.


"Iya kali ya? orang yang deket kali ya?" Jihan mengangguk.


"Marwan mana? tidak kelihatan," tanya Sukma sampai celingukan mencari keberadaan Marwan.


"Tiduran dia, tadi sih membereskan buku, tas. Sepatu pada tempatnya! jadi kamarnya sudah beres dan rapi." Jawab Jihan.


"Ooh baguslah, kalau begitu kalau mau beres-beres sendiri." Sukma mengangguk setuju.


"Iyalah, Kak masa nggak mau! orang sudah dikasih hidup enak kok, kamar sendiri. Komplit lagi dengan barang-barangnya, lemari pakaian. Tempat sepatu, tempat buku dan tas! meja. Apalagi coba, Kak?"


"Makanya kita harus bersyukur dan jangan pernah mengecewakan pak Alfandi. Kalian harus rajin belajar dan juga harus panut atau hormat pada beliau." Pintanya Sukma dengan nada penuh harap.


"Ya, Kak. Aku akan Ingat terus pesan Kakak ini." Jihan mengangguk pelan.


"Ya sudah, kita belanja ke depan yu? pak Al bilang ada warung yang terdekat dari sini." Sukma mengajak Jihan belanja.


Jihan pun mengikuti langkah Sukma yang sudah menyambar uang dan kunci.


"Kalau Marwan nyari gimana Kak? dia bangun lalu nyari kita gimana?" tanya Jihan sambil hentikan langkahnya.


Sukma berbalik menatap ke arah sang adiknya itu. "Bilangin sana? biar gak nyari. Pintunya mau di kunci soalnya."


Jihan pun segera mengindahkan perkataan dari sang kakak. Dia berlari menuju kamar Marwan untuk bilang pesan kakaknya tadi.


"Wan? aku sama kak Sukma mau belanja ke depan. Jangan nyari ya? pintu mau di kunci." Jihan menggoyangkan lengan sang adik, Marwan.


"Hem ..." Marwan cuma bergumam tanpa menjawab ataupun membuka matanya sedikitpun.


Jihan lalu pergi kembali dari kamar Marwan dengan langkah yang sedikit cepat, menyusul kakaknya yang sudah berada di teras.


"Kak, tunggu? aku tungguin, Kak." Pekik Jihan.


Setelah Jihan berada di teras, Sukma mengunci pintu sebelum pergi ke warung.


Keduanya berjalan beriringan ke depan, dengan tujuan ke warung untuk belanja keperluan dapur.


"Permisi ... ke warung?" suara Sukma setelah berada di depan warung.


"Eeh ... silakan, mau belanja apa?" tanya si ibu warung dengan sangat ramah.


Sukma mengangguk lalu memilih dan menyebutkan belanjaan yang ingin dia beli. Seperti beras. Telor, minyak goreng, terigu. Kecap+saos juga mie dan perbumbuan lainnya.


"Kak beli ikan teri deh Kak, enak di balado." Pinta Jihan menunjuk ikan teri di tempatnya.


"Boleh, Oya Bu, ikan terinya satu perempat dan juga bahan sambal seperti cabe, tomat." tambah Sukma pada si ibu warung.


"Oya, baru lihat kalian. Emang kalian dari mana warga baru atau bertamu ke siapa gitu?" tanya ibu warung menatap penasaran ke arah Sukma dan Jihan.


"Oh, kami baru pindahan ke rumah yang sebelah sana." Sukma seakan menunjuk ke arah rumah yang baru ia singgahi.


"Oo! warga baru ya?" kata ibu tersebut sambil menghitung belanjaan Sukma.


"Kak, itu ada ayam?" Jihan menunjuk ke arah lemari pendingin yang ada ayam nya. Dan pasti buat si jual.


Sukma menoleh ke arah yang Jihan tunjukan. "Ayamnya di jual, Bu?"


"Ooh, iya. Di jual mau berapa?" tanya si ibu seraya membuka lemari pendingin tersebut.


"Satu aja, Bu. Satu kilo atau setengah itu?" selidik Sukma.


"Yang ini setengah kilo dan yang itu satu kilo? mau yang mana kira-kira?"


"Yang ... satu kilo saja," setelah merasa cukup dengan belanjaannya. Sukma kemudian membayar belanjaannya itu.


Selanjutnya mereka berdua pulang dengan membawa belanjaan yang lumayan banyak, tangan Sukma kanan kiri penuh dengan bawaan. Begitupun Jihan.


"Banyak banget beli telornya Kak? berat nih," gerutu Jihan sambil berjalan memeluk dus belanjaan.


"Nggak pa-pa buat stok, ada lemari pendingin ini. Daripada kita butuh harus lari dulu ke warung?" jawab sang kakak.


Jihan mengangguk sambil terus berjalan. Mengekor di belakang Sukma.


"Mendingan siang, atau ada barangnya di warung. Kalau gak ada? repot lah!" sambung Sukma kembali.


"Hem ... gitu ya Kak! si om kapan mau ke sini lagi Kak?" tanya Jihan mengalihkan pembicaraan.


"Kakak ... jangan sedih gitu ih, ngomongnya? bikin aku sedih deh ..." protes Jihan.


...---...


Sementara Alfandi, setelah pergi dari rumah yang kini Sukma tinggali. Dia begitu sibuk ke sana-sini, dari mulai rumahnya pak RT buat laporan pindahan warga baru. Sampai ke kantor KUA untuk pendaftaran pernikahan yang ingin di laksanakan secepatnya juga.


"Akhirnya ... Aku akan menikah juga dengan gadis itu," gumamnya Alfandi seraya menghela nafas dan melihat langit-langit.


"Ya Allah ... semoga kau meridhoi yang mau aku jalanin ini, daripada aku melakukan sesuatu yang berdosa, ataupun memaksakan kehendak kepada istri yang sudah tidak mengakui ku lagi Huuh ...."


Kemudian Alfandi melajukan mobilnya kembali, sekarang ini tujuannya adalah pulang ke rumah pribadinya dengan niat ingin mengajak Fikri dan Firza ke rumah baru yang kini dihuni oleh Sukma beserta adik-adiknya.


"Kamu harus bertanggung jawab Al, kepada kedua istrimu nantinya." Alfandi senyum-senyum sendiri sembari terus melarikan mobilnya itu melewati kendaraan lainya yang sama-sama berlalu lalang.


Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk segera menikahi Sukma, dan dia yakin kebahagiaan akan dia dapatkan dari gadis tersebut. Dan maklum lah suami berasa duda! sudah lama tak ada yang membelai dan yang memperhatikan dengan kasih sayang.


Kemudian terbesit dalam pikiran Alfandi saat ini. "Apa penyebabnya seorang istri berubah drastis seperti itu? dia bosan? capek? atau ada pria lain yang dia lihat yang dia suka? akh ... aku mikir apa sih?" Alfandi menggelengkan kepalannya kasar.


Jelang beberapa puluh menit kemudian, akhirnya mobil Alfandi tiba juga dihalaman rumahnya. Dia gegas keluar dari mobilnya itu lantas memasuki pintu utama.


"Met sore, Tuan?" sambut bibi sambil membuka pintu buat sang tuan rumah.


"Sore juga, anak-anak dimana Bi?" tanya Afandi yang menanyakan keberadaan putra-putranya.


"Mereka baru pulang bermain, sekarang berada di kamarnya masing-masing," jawabnya bibi sembari mau menunjuk arah kamar anak-anak majikannya itu.


"Baiklah saya masuk dulu," Alfandi langsung membawa langkahnya ke dalam, dan yang pertama dia datangi adalah kamar Fikri.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Fikri? Ini Papa, sedang apa?" sembari mendorong handle pintu tersebut. Kedua netra Alfandi mendapati Fikri sedang bermain gadgetnya di atas kasur.


Fikri menoleh. "Iya Pah? Dari mana?"


"Papa hari mengantar pindahan tante," jawabnya sambil duduk di sampingnya Fikri.


"Tante? Tante Sukma bukan?" respon Fikri begitu cepat dan menyimpan gadgetnya.


"Iya benar, Tante Sukma! mau main ke sana nggak--"


"Mau-mau! aku mau ke sana, Pah. Ajak aku ya?" sambut Fikri memotong perkataan dari sang ayah.


"Tentu, Papa akan mengajakmu ke sana, sekarang Papa mau istirahat dulu, capek. Dan mau bicara dulu sama Kak Firza." Alfandi berdiri sambil mengusap kepala Fikri.


Namun detik kemudian Alfandi kembali duduk. "Papa mau bicara!"


Mata anak itu kembali menatap dengan serius kepada Alfandi. "Ada apa Pah?"


"Seandainya Papa menikah lagi dan wanita itu adalah tante Sukma, apa Fikri menyetujuinya? Papa yakin kalau tante sangat baik, yang akan menyayangi Papa. Fikri dan juga Kak Firza." Alfandi menatap lekat pada putra bungsunya itu sambil mengusap kepalanya.


"Papa mau menikah sama tante Sukma?" Fikri malah bertanya dengan antusias.


Alfandi sambil merangkul bahu anak itu. "Papa mau menikahinya dan Papa berharap, Fikri bisa menerimanya. Mengingat hubungan Papa dan Mama semakin hari kian tidak harmonis."


Fikri terdiam sejenak, mengingat hubungan orang tuanya yang memang membuat suasana rumah tidak nyaman. "Terus bagaimana dengan Mama, Pah?" tanya anak itu mendongak.


"Nggak bagaimana-bagaimana, biasanya seperti ini," sahutnya Alfandi pelan.


"Aku sih setuju, Pah. Aku juga suka sama tante dan kedua adiknya mereka baik, ayo. Pah kita ke sana sekarang yu, Pah?" akhirnya Fikri mengajak Alfandi untuk mengantarnya ke sana.


"Iya nanti ... sekarang Papa mau menemui kak Firza dulu ya? untuk mengatakan hal ini. Sebab ... Papa ingin kalian berubah menjadi saksi pernikahan Papa sama tante, oke?" Alfandi beranjak dari tempat duduknya semula.


Sebelumnya mencium pucuk kepala anak itu, lalu dia pergi dengan niat ingin menemui putra sulungnya yaitu Firza.


"Oke Pah, semoga sukses ya?" anak itu membentuk oke dengan jarinya.


Alfandi beranjak meninggalkan Fikri kembali di kamarnya, langkah Alfandi semakin lebar menuju kamar Firza dan berharap dia menyetujui juga pernikahannya dengan Sukma, dan biarpun tidak setuju? dirinya akan tetap menikah dengan Sukma! sebab ini menyangkut janji dan tanggung jawab.


"Firza? Papa mau bicara?" suara Alfandi sedikit kencang memanggil Firza dari balik pintu.


Detik kemudian, Firza pun membukakan pintu untuk sang ayah. "Ada apa, Pah!" bertanya dengan suara datar.


"Boleh Papa masuk?" pinta Alfandi pada sang putra yang berdiri di hadapannya itu.


"Boleh, Pah." Firza berbalik masuk ke dalam dan dia duduk di tempat tidur.


Alfandi mengikutinya dari belakang, lanjut mendudukkan dirinya disamping sang putra sulung tersebut, sebelum meneruskan pembicaraan. Alfandi mengembuskan nafasnya yang sedikit berat.


"Sebenarnya ... Papa mau menikah lagi," ungkap Alfandi lirih.


Sontak Firza menoleh ke arah sang ayah. "Menikah? apa aku nggak salah dengar, Pah?"


"Tidak, itu benar! Papa mau menikah lagi dengan seorang wanita yang sudah tidak punya orang tua, dan dia mempunyai 2 adik, satu perempuan dan satu lagi laki-laki, mereka itu usianya tidak jauh dengan kamu Firza." Alfandi sedikit menjelaskan.


"Maksudnya? mereka anak yatim piatu? gak punya Ayah dan ibu?" selidiknya Firza.


"Itu benar sekali, mereka yatim piatu dan mereka orang yang susah, karena orang tuanya meninggal ... mereka terputus sekolah, pun hidup susah jauh dari kehidupan seperti kita," ungkap Alfandi sambil menautkan kedua tangannya yang berada di atas pangkuan.


"Kenapa Papa ingin menikahinya? Papa, kan bisa membantu mereka dengan cuma-cuma, memberi kehidupan yang layak pada mereka, menyekolahkan mereka. Nggak harus menikahinya?" protes Firza.


"Bener banget, bisa saja seperti itu! tapi Papa ingin menjaga mereka dengan sepenuhnya, dan untuk menghindari fitnah Papa harus menikahinya," jelasnya Alfandi kekeh.


"Papa itu punya istri, mama. Kenapa Papa harus menikah lagi dengan wanita yang sama sekali tidak aku kenal? mereka bisa saja hanya mengincar harta Papa saja, serta menyalah gunakan kebaikan yang Papa berikan saja." Firza semakin memprotes keinginan Alfandi untuk menikah lagi.


"Tidak, itu tidak benar, mereka tidak seperti itu! terutama calon istri Papa. Dia baik dan Fikri sudah mengenalnya. Makanya Papa ingin mengajak kalian berdua untuk ke sana, untuk menjadi saksi pernikahan Papa dengan tante itu, insya Allah calon istri Papa baik hati dan akan menyayangi kalian berdua juga," ujar Alfandi meyakinkan.


Firza tidak menjawab, dia menjadi terdiam seribu kata dan tatapannya kosong entah kemana?


"Firza, kan tahu! kalau Papa dan Mama sudah tidak sehat hubungannya, bagaimanapun Papa butuh perhatian dari sosok seorang wanita seperti mama dulu." Alfandi kembali menjelaskan.


Firza menunduk dan mengusap sudut matanya, entah apa yang dia pikirkan sehingga meneteskan buliran air bening ....


.


...Bersambung!...