
"Surprise ... met ulang tahun sayang semoga panjang umur ..." tiba-tiba suara itu memenuhi ruangan kamar hotel Alfandi.
Biarpun cuma satu orang tapi suaranya cukup menggema di ruangan tersebut menyebutkan kata surprise ... sesuatu yang tidak Alfandi juga sebelumnya.
Sebab setahu dia, Sukma tidak bisa datang karena dia merasa repot dengan Putri kecilnya dan juga si Abang yang pengen ikut dan meninggalkan sekolahnya. Tapi tiba-tiba ternyata orangnya berada di hadapannya, benar-benar bikin Alfandi merasa tercengang.
Dengan mulut yang menganga, kedua netra mata yang mengarah tajam ke arah sang istri yang sedang berdiri memegangi sebuah kue ulang tahun dengan ukuran kecil. Dihiasi angka yang sesuai dengan usianya.
"Selamat ulang tahun sayang ... semoga panjang umur, sehat selalu dan mudah rezeki. Dilancarkan setiap urusan dan juga tambah sayang sama keluarga!" Sukma mendekat pada suaminya yang berdiri tidak jauh dari pintu.
Yang kemudian Alfandi menutup pintunya dengan rapat lalu berbalik pada sang istri yang sudah berada di hadapannya itu.
"Jujur aku tidak menyangka sama sekali, jika istriku ini sudah berada di sini, secara bilangnya nggak bisa datang karena alasan ini itu tapi--" kalimat yang keluar dari mulut Affandi menggantung dengan bibir yang tersenyum mengembang, serta tatapan terus mengarah pada sang istri yang menunjukkan senyum manis dan tulus.
"Iya kan surprise, kalau bilang-bilang bukan surprise dong ... aku sengaja! karena aku ingat hari ulang tahun mu. Tapi maaf, aku nggak punya hadiah yang berharga untuk mu."
"Aku nggak butuh hadiah apapun aku hanya butuh kehadiran mu di sini, terima kasih sayang karena kau sudah menyempatkan datang!" balasnya Alfandi seraya memegangi kedua sisi pinggang Sukma.
Sukma menyimpan kuenya di meja lalu merangkul pundaknya Alfandi memeluknya sangat erat. "Hanya doa yang bisa aku berikan, doa-doa yang terbaik tentunya untuk suami ku ini, aku sangat menyayangi mu dan juga berterima kasih! karena kamu sudah menyayangi keluargamu ini, aku dan juga adik-adik ku, sudah menjadi suami yang sangat bertanggung jawab, perhatian dan penyayang!"
"Apakah tidak berlebihan pujianmu itu hem? nanti hidungku terbang gimana, aku nggak punya hidung lagi!" Alfandi menggeratkan pelukannya di bagian pinggang dan punggung sang istri.
Kepala Sukma semakin menyusup di leher samping kanan sang suami dan berkata. "Nggak mungkinlah terbang. Emangnya burung!"
"Sayang tau aja, kalau burung ku pengen terbang! dia merasa bosan di dalam terus dan ... sepertinya dia ingin bermain-main di tempat luas serta mengepakkan sayapnya! berendam di air kehangatan." Alfandi sambil mengulum senyumnya serta menempel kan pipi nya di kepala sang istri.
"Ha?" gumamnya Sukma sembari seakan berpikir dan mencerna yang Alfandi maksud.
"Oya, sama siapa ke sini? Sya mana?" Alfandi menanyakan putra kecilnya yang ternyata ada di atas tempat tidur sedang terlelap.
"Syakila sudah tidur dari 30 menit yang lalu, dia tambah sangat kecapean di pesawat juga dia nggak tidur, berceloteh ... terus, sampai aku capek menjawabnya!" Sukma pun menoleh ke arah tempat tidur di mana sang buah hati tengah terlelap.
"Biar aja dia tidur, biar nggak mengganggu kita! Oh ya sekali lagi Makasih ya sudah bela-belain datang ke sini. Padahal aku sudah kesepian, merasa harus menahan rindu sampai aku pulang nanti!" Alfandi membelai rambutnya sang istri dengan lembut dan di ciumnya.
"Sama-sama dan sekali lagi aku nggak punya hadiah untuk mu selain surprise ini." Sukma membingkai wajah suaminya.
"Tidak pa-pa ... kan hadiahnya kamu sayang, dan kamu lebih dari segalanya." Alfandi kembali memeluk Sukma lalu di angkatnya tubuh Sukma ke sofa panjang.
"Eeh, mau ngapain?" Sukma langsung terperanjat sambil celingukan.
"Sebentar!" Alfandi mengambil selimut dari atas tempat tidur dengan bergegas. detik kemudian kembali lagi pada sang istri.
Sukma hanya melihat gerak gerik nya sang suami yang kini sudah membuka kemejanya hingga mengekspos dada dan perut nya yang sixpack.
"Kita akan sama-sama melepas burung ku yang sudah tidak sabar untuk di lepaskan. Dia sudah jenuh dan bosan di dalam sangkar terus, dia ingin merasakan bebasnya alam yang indah ini." Alfandi semakin bersiap dan mencumbu istrinya.
"Kalau Sya bangun gimana?" Sukma menolehkan kepalanya ke arah Syakila yang tampak sangat lelap itu.
"Nggak, gak mungkin bangun sayang. Lagian kita memakai selimut." Alfandi mengeluarkan peliharaannya yang berbulu lebat dan hidup minta di manja sebelum terbang bebas.
Sukma menggoyangkan bahunya dan bergidik geli tapi jiwanya langsung bergejolak serta dorongan yang ingin lebih dari sekedar sentuhan biasa dari suaminya tersebut.
Pagi-pagi Alfandi sudah tampak segar dan benar-benar merasa puas, hasrat yang terus meronta. Kini tersalurkan sudah.
"Makasih ya sayang atas servisnya semalaman," Alfandi mengecup kening Sukma yang baru keluar dari kamar mandi.
"Makasih, makasih ... badan aku berasa remuk nih, bermain di atas sofa juga di atas meja. Sakit ..." Sukma mengerucutkan bibirnya hingga beberapa senti ke depan.
tubuhnya yang terasa sakit dan pegal-pegal karena semalaman mereka berdua bermain di atas sofa juga di meja, dan mereka tetap waspada khawatir kalau Syakila terbangun. Namun untungnya sampai sekarang pun anak itu tampak pulas sekali tidurnya. Sehingga sama sekali tidak mengganggu kegiatan papa dan mamanya.
Olahraga malam mereka berjalan dengan sangat mulus tanpa gangguan sedikitpun, sehingga benar-benar merasakan puncaknya yang berulang-ulang
Setelah sarapan bersama, Alfandi pergi ke kantor dan Sukma berdiam diri di kamar hotel sambil mengasuh putri kecilnya yang bawel dan super aktif.
Namun ketika bermain di luar hotel. Kedua netra mata Sukma melihat sosok Vaula di area itu. Kening Sukma mengerut seraya berpikir.
"Apa mereka bertemu?" gumamnya Sukma sambil menatap langkah Vaula yang berjalan menjauhi dirinya, mungkin Vaula sendiri tidak melihat keberadaan nya di sana.
"Mommy-Mommy, kita main ke cana ya? kejar Za ya. Wah ... nunggi bagai di pecawat tadi, ninggi cekali." celotehnya Syakila sambil berdiri di dekat jendela kaca yang besar dan melihat ke arah luar.
Dan Sukma berusaha tidak jauh dari anak itu untuk menjaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Mainnya jangan jauh-jauh dari Mommy ya? takut lho ... ihh ... ngeri, takut ketinggian." Sukma menuju ke arah luar dan melihat ke bawah yang tampak kecil-kecil.
"Kalau jatuh tacut ya Mom! ih ... ngeri!" anak itu menggoyangkan bahunya kemudian berlari-lari jalan sana sini.
"Nah-nah, nah ... Mommy sudah bilang jangan jauh-jauh dari mami mami capek ngejarnya dan takutnya yang jatuh nanti lututnya terluka!" cegahnya Sukma pada si Putri kecil.
"Tak Mommy ... tak jatoh. Za kan jagoan!" belum juga kering itu mulut sudah brugh ... tubuhnya jatuh ke lantai dan langsung memegangi lututnya sambil meringis dan menangis kejer.
"Tuh ... kan, kata Mommy juga apa kan? jangan lari-lari jangan lari-lari, nggak mau nurut sih sama Mommy. Sekarang kerasa sendiri kan sakitnya!" Sukma langsung mengangkat Putri kecilnya itu.
"Cakit, Mommy ... cakit ... berdalah Mommy berdalah-dalah," anak itu memegangi lututnya sembil berderai air mata.
"Mana? nggak berdarah kok ... cuman ngajak dikit aja kita cari obatnya di kamar yuk!" Sukma kemudian membawa putih kecilnya ke kamar.
Kebetulan dia pun tidak pernah lupa menyediakan obat-obatan, jadinya tidak sulit untuk mengobati lutut kakinya Syakila yang sedikit lecet dan membiru. Tapi tidak berdarah seperti yang anak itu katakan.
"Sekarang bobok ya? makan udah, Mimi susu udah--"
"Cekolah, belum, Mommy. Za nggak cekolah ya!" anak itu menatap mommy nya.
"Tidaklah ... kan ini di luar kota, bukan di rumah! jadi sekolahnya libur aja dulu untuk beberapa hari. Sekarang mama dulu nanti sore kita jalan-jalan sama papa, mau?" bujuk Sukma sambil membaringkan tubuh anak itu di selimutnya.
"Mayu-mayu," Syakila memejamkan matanya sambil sesekali meringis dengan rasa sakit di lutut nya tersebut.
Kemudian Sukma merapikan kamar tersebut yang masih tampak berantakan dan ....
.
Bersambung