
Keesokan harinya, Sukma sedang belajar nyetir lagi dan di temani oleh si manja Fikri.
"Mom, awas nabrak lho ... nanti papa kehilangan Mommy, aku juga." Fikri berceloteh dalam mobil dan Luky hanya tersenyum saja mendengarnya.
"Iya ... Mommy juga hati-hati kok. Lagian siapa juga yang mau ninggalin papa dan kalian semua? gak ada sayang ..." balas Sukma sambil fokus melihat ke depan.
“Aku kan takut Mommy hilang, aku takut Mommy pergi dari papa.” Ungkap Fikri dengan nada merajuk.
Sukma menghentikan nyetirnya. Mendengar perkataan dari Fikri yang berkata demikian. Sejenak Sukma terdiam dengan pandangan kosong ke depan.
“Kok, kamu bicara seperti itu? kenapa bisa kepikiran begitu sih?” tanya Sukma mengerutkan kening nya.
“Aku tidak ingin papa dan Mommy berpisah. Bila pun mama nanti tau pernikahan Mommy dan papa, jangan sampai Mommy tinggalin papa ya Mom?” kata Fikri penuh harap.
Sukma menoleh ke arah
belakang dimana Fikri berada. ”Kenapa sih bilang begitu? lagi pula ... Mommy gak mungkin ninggalin papa kecuali ...” Sukma menggantungkan perkataan nya.
“Kecuali apa Mom?” selidik Fikri tampak sangat penasaran.
“Ya ... kecuali papa yang ninggalin Mommy. Mommy tidak akan ninggalin kalian kok,” ungkap Sukma. Sembari sembari menatap anak itu dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.
“Janji ya Mom? kalau Mommy tidak akan ninggalin kami semua?” anak itu tampak sumringah mendengar perkataan dari Sukma.
Sukma tersenyum manis dan melirik kembali pada Fikri. “Insya Allah.”
Kemudian Sukma kembali melanjutkan belajarnya tanpa di ganggu oleh celotehan dari si bungsu lagi, karna dia sedang sibuk mengunyah.
Beberapa jam kemudian, Sukma menyudahi belajar nyetirnya dan hari sudah mulai siang juga. matahari sudah tampak meninggi dan panasnya begitu menyengat, padahal masih pukul sepuluh lewat.
“Mommy-Mommy? Kak Firza sama kak Wawan sedang mandi di kolam ikan lho ... mati gak nanti ikannya, Mommy?” kata Fikri setelah melihat kakaknya di belakang rumah.
Sukma yang duduk santai di
sofa dengan Jihan yang sedang menonton televisi, sambil merasakan lelah dari habis belajar nyetir, dan di suguhi segelas air putih oleh bi Lasmi. “Makasih, Bi?”
“Sama-sama, Non!” balas bi Lasmi dan kemudian ngeloyor ke dalam lagi.
Kemudian Sukma menoleh pada Fikri yang masih berdiri, mungkin sedang menunggu jawaban darinya. “Emang buat apa mandi di kolam ikan sayang? kan bau anyir lho, mau nangkap ikan atau
apa emangnya?”
“Entah, aku gak tahu dan aku gak bertanya buat apa! aku boleh ikutan gak, Mom?” Fikri menatap mommy nya dengan tatapan yang penuh harap mendapat ijin.
“Mandi di kolam ikan? tidak, tidak boleh. Kecuali di kolam renang, itupun jangan sampai seperti semalam lagi. Mommy gak mau bila sampai seperti semalam lagi, yang bikin Mommy jantungan! mau? Mommy masuk rumah sakit?” Sukma menentang keras putra bungsunya bila harus mandi di kolam ikan.
“Yah ... Mommy, Mommy gak adil, kak Wawan dan kak Firza. Boleh mandi di kolam ikan. Aku gak boleh,” ucapnya dengan nada lesu.
“Lho sayang ... mereka gak meminta ijin dulu sama Mommy dulu, kan? Terus minta ijin sama
siapa coba? Sudah! biarin saja mereka, lagian sudah gede ini,” ucapnya Sukma sambil meneguk minumnya.
“Mendingan Fikri sama Kak Jihan saja yu? kita menyiram tanaman atau sayuran! mau gak?” ajaknya Jihan yang akhirnya bersuara juga setelah serius nonton televisi.
Dan Fikri pun mengangguk setuju. “Ayo, Kak. Kita ke kebun? kita siram-siram.” Sambutnya Fikri.
Lalu Jihan dan Fikri berdua ke belakang rumah dengan tujuan ke kebun. Sementara Sukma beranjak dari duduknya membawa gelas ke dapur, lanjut ke kamarnya yang barada di lantai atas tersebut.
Marwan dan Firza begitu asik di kalam renang setelah puas bermain-main di kolam ikan.
Dengan bau anyir di tubuh, keduanya berenang di kolam renang sambil sekalian air kolamnya di kuras.
Biarpun sikapnya cuek atau dingin, namun Firza bisa juga di ajak kerja sama oleh Marwan. Contohnya dalam menguras kolam renang tersebut sampai bersih.
Dan Firza pun merasa happy berada di sana, tidak merasa sepi ataupun sendirian. Seperti yang
sering dia rasakan bila berada di rumah utama, intinya Fikri merasa betah di rumah kedua ini.
Jihan yang berada di kebun bersama Fikri, sesekali melihat ke arah Firza dan Marwan serta
menunjukan senyumnya, begitupun dengan Firza. Dia sering mencuri-curi pandang
kepada gadis yang usianya sama dengan dirinya itu.
Kini mereka sudah berkumpul di meja makan dan Sukma sedang menyiapkan makan siangnya,
sementara bibi sedang pergi ke warung.
Kedua manik mata indah Sukma melihat ke arah mereka, terutama kepada Firza dan Marwan yang
sudah tampak segar dan wangi itu. “Buat apa sih kalian mandi di kolam ikan segala
hem?”
kita menguras kolam renang, Kak yang sudah kotor itu.”
“Tapi sekarang sudah selesai?” selidik Sukma sambil menyimpan mangkuk sayur di maja makan.
“Sudah, sedang mengisi air nya.” Jawabnya Marwan kembali.
Kemudian mereka menyantap makan siang bersama, dan bibi pun ikut makan sama-sama.
“Mommy ... bolehkah Fikri meminta tolong?” anak itu mulai mau berulah dengan kata lembut.
Sukma menoleh sambil mengunyah makanan di mulutnya. “Iya, ada apa sayang?”
“Em ... Fikri mau makan, tapi tangan aku tadi habis main tanah jadinya ... jijik, kan? Boleh, bila aku minta di suapi sama Mommy?” Fikri agak sedikit ragu bicaranya.
“Alah ... si manja bereaksi lagi! Haduh ...” Marwan menggeleng kan kepalanya.
“Kamu ini, bukannya kau sudah cuci tangan yang bersih dan sudah mandi juga, ngapain merasa jijik segala? Jangan banyak alasan! mau makan di suapi segala? kau itu sudah
besar, malu dong.” Ucapnya Firza dengan nada ketus.
Bibi dan Jihan hanya melihat ke ke arah Sukma yang mendengarkan percakapan mereka sementara waktu.
“Kakak ... aku ini kan masih kecil dan masih ingin di manja oleh seorang mama. Kak Firza juga
kan masih mau di manja sama mama? Apalagi sebesar aku? dan apa salah nya bila aku mau di
manja sama mommy?” Fikri merajuk. Terlihat dari wajahnya yang mau menangis.
"Kata siapa aku masih ingin di manja? sembarangan saja kau bicara." Elaknya Firza.
Fikri tidak menjawab lagi melainkan menjulurkan lidah ke arah sang kakak.
Sukma meneguk minumnya setelah menyudahi makan. Kemudian mengambil piring milik Fikri dan bersiap untuk menyuapi anak sambungnya itu. “Maaf ya? barusan Mommy menyelesaikan makan, Mommy dulu biar fokus menyuapi Fikri nya. Oke, sekarang
Fikri membaca doa sebelum makan?” ucapnya Sukma dengan lembut dan tulus.
Fikri pun tersenyum bahagia sambil makan dari tangannya Sukma. “Makasih Mommy?”
Bibi Lasmi menunjukan senyumnya pada Sukma dan Fikri yang masih manja itu, dan Sukma
memaklumi itu dengan ikhlas.
“Tuan sangat beruntung mempunyai istri muda seperti Non Sukma.” Batinnya bibi Lasmi.
“Za. Kalau adik mu manja nya keterlaluan. Kita lempar saja ke kolam renang biar jadi pakan ikan, ha ha ha ...” ucapnya Marwan kepada Firza yang langsung mendapat anggukan.
“Ahk ... gak mau. Mommy, kak Marwan nah ... gak mau, gak mau jadi pakan ikan!” hik hik hik. Firza menangis.
“Eh, kampret. Berisik? malah nangis?” Firza bukannya menenangkan adiknya malah semakin menggodanya.
“Sudah ahk ... kasian adiknya, gimana sih ... aa ... lagi habiskan dulu makannya, sayang,” kata
Sukma sembari mendekatkan sendok ke mulutnya Fikri.
“Lah ... kita boyong yo? kita lempar ke kolam yo?” Marwan dan Firza sudah beranjak dan
mendekati Fikri.
Fikri yang membuka mulutnya untuk makan pun menjadi menjerit minta pertolongan pada Sukma. “Mommy-Mommy, gak mau aku di lempar. Gak mau ....”
Kemudian Sukma memeluk Fikri, sebagai perlindungan yang terus saja digodain oleh Marwan dan Firza.
“Aduh ... Mommy bisa migren nih kalau kalian kaya begini terus.” Sukma memegang kepalanya yang mendadak pusing.
“Kalian sudah dong ... main-main nya, bantuin bibi mencuci napa?” Jihan beranjak dari duduknya dan membereskan bekas makan mereka.
"Ogah gue!" Firza malah pergi setelah mencuci tangannya.
"Eeh, di sini bekas makan cuci masing-masing, atau ngerjain apa kek!" tambah Jihan.
"Malas, kau saja yang kerjakan?" jawab Firza lagi.
"Firza ... belajar untuk mandiri ya?" ucap Sukma dengan nada rendah yang ditujukan pada Firza.
Anak itu berbalik dan menatap tajam ke arah Sukma yang masih menyuapi sang adik ....
.
.
...Bersambung!...