Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Papa jahat



Alfandi mendekati tempatnya barang-barang milik Vaula. Dia mencari sesuatu yang mencurigakan, namun setelah mencari-cari. Tetapi tidak tampak satu pun yang dapat dicurigai.


Alfandi menghela nafas panjang ... dan meninggalkan tempat tersebut. Namun netra nya mendapati sebuah album foto yang membuat hatinya terdorong untuk membukanya.


"Baru ku lihat album ini?" gumamnya Alfandi sambil memegang barang tersebut.


Satu persatu, Affandi membukanya melihat-lihat isinya. Di mana gambar-gambar tersebut adalah khusus foto-foto dari Vaula dan teman-teman nya termasuk laki-laki itu.


Bikin dada Alfandi dag-dig-dug tak karuan. Apalagi melihat foto-foto Paula yang begitu mesra dengan fotografernya tersebut.


"Mungkin di sini tertera waktu dan tahunnya!" Alfandi mencabut foto-foto tersebut dan dia menajamkan penglihatannya waktu yang ada tertera di bawah sudut foto-foto itu.


"Ini ... dua tahun yang lalu, Berarti ... ini sudah bertahun-tahun. Astagfirullah ... ternyata istriku berbuat dosa di luaran sana, ya Allah berikan dia kesadaran!" Gumamnya Alfandi sambil mendongak ke langit-langit.


Semua foto yang berada di album tersebut tak luput dari perhatian Alfandi, satu persatu dia cek waktu dan tanggalnya lalu kemudian dia rapikan kembali seperti semula.


"Huuh ..." lagi-lagi Alfandi membuang nafasnya dari mulut sembari menyimpan album tersebut dengan rapi di tempatnya tadi.


Kemudian Alfandi membawa langkahnya keluar dari kamar tersebut, dan menuju ruang kerjanya dia menjatuhkan bokongnya di kursi. Sungguh dia merasa shock tidak percaya ternyata sudah selama itu hubungan terlarang mereka terjalin, walaupun belum pasti.


Setidaknya semakin lama semakin terbongkar kebusukan sang istri kepadanya. "Tinggal mengumpulkan bukti-bukti yang lebih banyak lagi dan kau tidak akan bisa berkutik Vaula."


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Pah-Papa! di sini kan?" suara Fikri memanggil sang ayah sambil mengetuk pintu ruangan kerja Alfandi yang memang terbuka sedikit itu.


Alfandi menggerakkan kepalanya menoleh ke arah sumber suara Fikri berasal. "Iya Fikri ada apa hem?"


"Papa dari mana kok nggak ada tadi?" tanya Fikri sambil menatap curiga.


"Papa, nggak kemana-mana! ada kok." akunya Alfandi sambil mengusap hidungnya.


''Masa sih? aku cari papa tidak ada,'' Fikri masih menatap curiga pada sang ayah.


"Ada kok, mungkin Papa lagi mandi!" elaknya Alfandi lagi.


"Jangan-jangan, Papa dari rumah mommy ya? kenapa nggak ajak Fikri sih Pah? aku kan ingin ke sana juga, ih papa jahat nggak ngajak-ngajak!" anak itu cemberut sembari melipatkan tangan di dada.


"Beneran, Papa ada di sini. Lagian kan besok ketemu sama mommy. Mommy yang mau ngambil raport kalian karena Papa nanti sore juga mau berangkat ke luar kota," kata Alfandi sembari mengusap rambut Fikri.


"Tapi kan? Papa juga ke sana--"


"Nggak, Papa nggak ke sana. Percaya deh," Alfandi terus sebelum bohong.


"Ya sudah deh, kalau begitu!" nada anak itu lesu.


"Kenapa nggak pakai seragam nih? nggak sekolah?" tanya Alfandi pada putra bungsunya itu.


"Nggak, libur kan besok mau ambil rapot. Jadi mama nggak bisa ya, Pa? nggak bisa ngambil raport kita?" anak itu menatap ke arah sang ayah.


"Katanya sih nggak bisa, ya biarlah kalau mama nggak bisa juga! masih ada mommy kan?" lagi lagi Alfandi mengusap rambutnya Fikri dengan lembut.


"Iya sih, asik mommy mau ke sekolah Fikri, tapi. Pah, kira-kira beneran mama nggak akan datang? gimana kalau kedua-duanya datang?" Fikri me atap penasaran pada sang ayah untuk meyakinkan.


"Sekarang, Papa tanya sama Fikri! Fikri maunya yang datang itu ... mama atau mommy hem, jawab coba dengan jujur?" selidik Alfandi ingin tahu siapa yang lebih diharapkan oleh putranya ini untuk datang ke sekolahnya.


"Fikri sih ... maunya mama, tapi kalau mama nggak bisa, mommy lebih baik, aku seneng deh kalau mommy mau datang ke sekolahan Fikri. Mau dikenalin--"


"Em ... Fikri mau ... mau kenalin sebagai siapa ya, Pah?" anak itu seakan berpikir. "Oh ya, sebagai mommy Fikri lah masa sebagai tante?"


"Terus, kalau orang-orang bertanya mommy dari mana? kan istri papa, mama?" selidik lagi Alfandi.


"Em ... dari mana ya?" anak itu nggak menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Dia bingung kalau ada yang bertanya gimana. "Terus harus jawab apa dong Pa? terus perkenalkan mommy sebagai apa? maminya Fikri juga kan?"


Alfandi tertawa lepas lalu berkata. "Fikri nggak usah ngomong apa-apa, biar mommy saja yang ngomongnya, Fikri sama kakak nggak usah ngomong apa-apa ya? oke gak?"


"Oke Papa, ya udah! sarapan yu? Fikri lapar." Ajak anak itu sembari menarik tangan sang ayah.


"Ayo, Papa juga audah lapar nih." Keduanya berjalan menuju anak tangga dan di sana bertemu dengan Vaula yang sepertinya baru datang.


Alfandi hanya menatap ke arah sang istri tanpa berkata apapun, begitupun dengan Vaula tak sepatah kata pun yang dikeluarkan sebagai sapaan.


Membuat Fikri bengong dan melihat ke arah mereka berdua bergantian.


Setelah beberapa saat Fikri pun menyapa sama mama nya. "Mama dari mana? semalam ... mama nggak pulang ya?"


Vaula menoleh ke arah sang anak. "I-iya. Mama kemalaman, jadinya menginap di tempat teman!"


"Kemalaman? kan Mama bawa mobil sendiri kok bisa kemalaman? kalau Mama nggak mau nyetir sendiri, kenapa nggak ajak sopir agar Mama nggak capek nyetir sendiri," dengan tidak disangka Fikri mengintrogasi bundanya begitu saja.


"Fikri, kamu kok bilang gitu sama mama? mama habis bekerja lho. Mama kecapean jadi Mama malas pulang, nginep di rumah temen Mama," akunya Vaula dengan nada yang agak tinggi sama Fikri.


"Emangnya Fikri ngomong apa sih mah? kan Fikri cuma bilang kalau seandainya Mama kecapean! kenapa Mama nggak menyuruh supir untuk membawa mobil Mama setiap hari, bukannya nyetir sendiri, kan?" ucap Fikri dengan lantang.


Mendengar yang agak ribut-ribut, Firza pun menghampiri. "Mama baru pulang bukan? emang semalam Mama ke mana? lagian ada urusan apa? Mama tidak keluar kota, bukan?" rentetan pertanyaan yang Firza ajukan kepada sang mama.


"Em ... Mama menginap di rumah teman, karena semalam Mama kemalaman dan capek! malas untuk pulang membawa mobil sendiri." Akunya Vaula kepada Firza.


"Kalau mama capek? kenapa Mama nggak nyuruh orang saja, agar mengantarkan mama pulang? masa temen-temen mama ataupun karyawan Mama nggak mau nganterin Mama pulang ke rumah ini? lagian bila perlu, telepon sopir di rumah Ini, kan ada. Papa juga kalau ditelepon suruh jemput mama, gak mungkin juga Papa nggak mau," ujar Firza sembari menatap dengan tajam ke arah mama nya.


"Ini kenapa sih? kok kalian marah-marah, marah sama mama? bukannya disambut dengan hangat? mama hanya tidak ingin merepotkan papa, itu saja." Sergah nya Vaula kepada kedua putranya tersebut.


Melihat kejadian ini, Alfandi langsung bertindak agar tidak berkepanjangan. "Sudah-sudah, Fikri. Firza, yu kita makan? kita sarapan dul, biarkan Mama istirahat!"


Alfandi menggiring kedua putranya ke meja makan, kedua pasang mata Fikri dan Firza walaupun sambil jalan menoleh ke arah sang mama yang sikapnya begitu dingin, seakan tidak peduli dengan mereka berdua.


"Sudah, jangan dipikirin ya?mendingan kita sarapan!" Alfandi mencoba untuk menenangkan kedua putranya.


Lalu kemudian, mereka bertiga menyantap sarapan yang sudah tersedia di meja makan tersebut.


"Nanti siang, aku mau main. Bosan terus di rumah, lagian sekolah libur!" ucapnya Firza di sela-sela makannya.


"Boleh, tapi diantara sama sopir ya? Papa pesan jangan macam-macam!" Alfandi menatap tajam ke arah Firza, namun tetap dengan kata-kata yang lirih.


"Iya." Jawabnya singkat.


Fikri hanya melihat ke arah sang kakak dan papanya bergantian sambil menikmati makannya beserta segala susu putih ....


.


.


...Bersambung!...


.


Mohon dukungan nya ya?