
"Sayang, kenalkan. Mereka ibu dan bapak." Alfandi mengenalkan Sukma kepada kedua orang tuanya.
Sukma menoleh ke arah mertuanya di awali dengan senyuman. Sukma pun maju beberapa langkah menghampiri.
"Assalamu'alaikum? Ibu, Bapak. Apa kabar?" Sukma mengangguk hormat serta meraih tangan keduanya bergantian.
Bu puji menoleh pada Alfandi sembari berkata. "Ini istri mu?" di tatapnya dengan sangat intens.
Penampilannya Sukma saat ini memang sederhana. Pakaian yang terbilang sopan, rambut yang bergelombang nya diikat di atas, wajahnya bulat kulit kuning Langsat. Rautnya sangat cantik, di hiasi dengan bulu mata yang lentik alami.
Bibir merah merona natural. Tubuh nya tidak tinggi tinggi alias mungil dan dan manis, tidak gemuk tapi berisi.
"Iya, Bu ..." Alfandi mengangguk sambil membuka jas nya.
"Masya Allah ... cantik nya? ya Allah kau dapat bidadari dari mana atuh? meuni geulis kie?" Bu puji menyentuhkan kedua tangannya pada wajah Sukma lalu ke bahu sesuai pergerakan manik matanya.
Sukma hanya tersipu malu di hadapan sang mertua. Padahal dia sudah mengira akan di sidang oleh kedua mertuanya itu.
"Ya Allah ... kau sudah mengirimkan bidadari pada putra ku. Terima kasih ya? kau sudah menjauhkan putra ku dari zina atau apalah." Bu Puji memeluk Sukma dengan erat dan mengusap punggung sang mantu.
Kemudian Bu Puji memudarkan rangkulannya dan memegangi kedua bahu Sukma. "Saya tidak bisa membayangkan kalau putra saya jatuh ke dalam lembah hina atau suka jajan di luaran--"
"Sudahlah, Bu ... yang penting sekarang Alfandi sudah terselamatkan dari kejahatan syahwatnya sendiri dan sekarang sudah punya tempat untuk menumpahkannya. Siapa nama mu, Neng?" timpal pak Sardi.
Sukma mengalihkan pandangannya ke arah bapak mertua. "Sukma, Pak!"
"Oh, iya Sukma ... bapak. Bagus mamanya dan secantik orang nya ya, Pak?" Bu Puji melirik suaminya dengan wajah yang sumringah.
"Sekali lagi, terima kasih sudah mau menerima putra saya, bahkan beserta kedua putranya? makasih ya Neng?" ucap pak Sardi dengan tulus.
Sukma mengangguk beserta senyuman yang terus mengembang.
Kepala Bu Puji menoleh ke arah Fikri dan Firza yang kini duduk di sofa. "Kalian betah tinggal di sini sama mama baru?"
"Siapa mama baru? itu mommy. Bukan mama baru. Oma ... mommy." Jelas Fikri.
"Ooh ... iya. Mommy." Bu Puji melirik ke arah Sukma. Kemudian kembali ke Fikri. "Fikri betah?"
"Betah, dong Oma ... aku betah sekali di sini. Mommy kan baik." Puji nya Fikri.
"Oya?" Bu Puji melirik ke arah sang suami yang ikut tersenyum ke arah Fikri. "Fikri sayang gak sama mommy?"
"Sayang banget dong Oma ... kan mommy nya juga sayang sama papa, sama kita berdua!" jawabnya dengan ekspresi yang lucu.
"Gitu ya? Oma juga mau ah di sayang sama mommy." Bu Puji sambil menarik bibirnya ke samping.
"Eh, Oma? Oma? kasihan deh mommy--"
"Lho, kenapa?" potong Bu Puji.
"Mommy di gigit serangga, waktu di tempat liburan kemarin Oma. Padahal yang lain gak satupun kena gigitan nya tuh, Oma. Cuma mommy seorang saja yang di gigit serangga jahat! sehingga banyak luka memar di lehernya mommy Oma. Kasihan deh," ungkap Fikri tampak polos.
Sukma menoleh ke arah sang suami yang duduk di sampingnya dan merangkul pinggang. Wajah Sukma tampak malu dan mencubit paha Alfandi.
"Apaan sih sayang? sakit." Suaranya pelan sambil mencium bahunya sang istri.
Bu Puji dan suami saling pandang, mencoba mencerna maksud dari Fikri. Lalu melihat ke arah Sukma dan punya yang tampak tersipu malu terutama Sukma.
Lama-lama keduanya mengerti yang Fikri maksudkan dan akhirnya mereka berdua tertawa lepas. "Ha ha ha ...."
Ternyata yang di maksud Fikri serangga itu bukalah serangga biasa. Tetapi serangga yang luar biasa dan sukanya menggigit Sukma saja. Dasar anak itu mau saja di bohongi orang dewasa.
Saking nikmatnya tertawa. Sehingga kedua manik mata Bu Puji berkaca-kaca dan pak Sardi, bahunya terus bergoyang.
"Serangganya, ya Allah ... serangga nya hi hi hi mungkin cuma suka sama wanita cantik. hi hi hi ... serangganya paling gak betah melihat mommy bersantai ria." Bu Puji terus tertawa sambil mengusap sudut matanya yang basah.
Firza terutama Fikri merasa heran. kenapa Oma, opa nya malah tertawa terbahak begitu? ngetawain serangga.
"Kenapa kalian malah ketawa sih? aku aja kasihan. Pasti sakit," ucap Fikri dengan nada heran menatap ke arah Oma dan opa nya.
"Em ... tidak, Oma hanya merasa lucu saja kalau ada serangga yang pulih-pilih begitu ya?" Bu Puji menghentikan tawa nya.
Begitupun dengan pak Sardi yang juga berhenti tertawa. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Jihan dan Marwan yang baru muncul di tempat tersebut.
Jihan juga Marwan baru hadir di sana karena habis pengajian. sementara Firza dan Fikri yang tadinya mau ikut, gak jadi. Karena ingin menyambut kedatangan Oma dan opa nya.
"Jihan Wawan! sini salam sama Oma dan opa nya Fikri." Pinta Sukma ke arah kedua adiknya itu.
Marwan dan Jihan pun menuruti perintahnya Sukma untuk bersalaman dengan kedua orang tua itu.
Bu Puji dan pak Sardi melongo dan merasa heran. Masa iya? Sukma yang semuda itu sudah mempunyai anak yang sudah besar-besar seperti mereka.
"Kalian, ini siapanya mantu saya?" Bu Puji menatap heran ke arah Jihan dan Marwan.
"Mereka berdua ini adik ipar saya, Bu. Pasti kalian berpikir ... kalau mereka ini. Masa anaknya Sukma? secara dia masih muda begini." Alfandi menjelaskan yang menjadi pertanyaan orang tua nya.
"Nah. Itu yang menjadi pertanyaan Bapak juga Al. Masa Sukma mempunyai putra dan putri sebesar ini! ooh adiknya ya?" kata pak Sardi sambil tersenyum.
"Ya Allah ... kalian anak-anak yang Sholeh, insyaallah ..." ucap Bu Puji yang di tujukan kepada Marwan dan Jihan.
Selanjutnya mereka makan malam bersama. Yang mulanya Sukma merasa was-was dengan masakan nya itu, tidak di makan oleh mertua nya. Namun kini merasa lega karena apa yang dia masak dan di hidangkan di makan atau di cicipi semuanya.
Namun tidak dengan anak dan Mimy yang sedang membakar ikan di luar. Di depan teras.
"Jujur, tadi aku merasa was-was. Gak tau kesukaan ibu dan bapak apa? dan aku belum sempat bertanya juga." Sukma menatap ke arah kedua orang tua nya Alfandi.
"Ibu suka, semua yang ada di sini. Cuma yang di kurangi itu ... sambal yang terlalu pedas. Kalau lain-lainnya ibu dan bapak suka." Timpal Bu Puji sembari mengedarkan pandangannya ke arah hidangan di meja.
"Hem, sayang. Kalau ibu dan bapak ini ... soal makanan apa aja. Beda dengan ku yang kadang pilih-pilih." Kata Alfandi sambil melirik ke arah Sukma yang menoleh juga.
"Iya, kalau kami berdua. Nggak pilih-pilih emang, semua suka saja. Biarpun bapak sering sakit-sakitan, tapi Alhamdulillah gak ada yang di larang kalau soal makanan." Tambah Bu Puji kembali.
Di luar terdengar ramai dengan suara anak-anak yang sedang membakar ikan bersama Mimy dan binlasmi juga.
Selesai makan. Sukma langsung membereskan piring kotor lalu ia cuci sendiri.
"Lho. Kan ada asisten, kenapa di cuci sendiri?" tanya Bu Puji heran.
"Em maaf, Ibu. Di sini aku menerapkan pada anak-anak juga apa yang bisa di kerjakan sendiri, ya kerjakan lah. tidak perlu menunggu orang lain yang kerjakan." Timpal Sukma. "Kecuali kalau memang gak sempat."
"Ooh, begitu? terus. Anak-anak seperti Fikri dan Firza mau mengerjakannya juga?"
"Terkadang mood nya, Bu." Kata Suma kembali dari dekat wastafel.
Rettt ....
Rettt ....
Rettt ....
Ponsel Alfandi berbunyi. Dia yang sudah membuka pakaian berniat mandi pun ia urung melihat ke arah ponsel yang terus bergetar ....
.
.
...Bersambung!...
Terima kasih reader ku yang sudah membaca dan menunggu update karya ku🙏