Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



"Ji, tunggu?" pekik Firza sambil berlari setelah Jihan jauh dari dari mereka.


"Za, Firza?" panggil nya Puspa membuat orang-orang di sana menoleh.


Hati Puspa semakin hancur. Dikala Firza menyusul Jihan dan membiarkan dirinya begitu saja, tidak pedulikan dirinya.


Puspa jadi mematung di tempat dengan rasa lemas di tubuh, air mata pun berjatuhan membasahi pipi. Kenyataan ini semakin menguatkan ekspetasi nya, kalau Firza tidaklah mencintai dirinya. Melainkan lebih perhatian sama Jihan yang katanya saudara tapi berasa berlebihan! atau memang perasaannya saja? entahlah.


Jihan sudah sampai di jalan dan dia menunggu angkutan umum atau taksi yang lewat.


"Ji, ayo naik? ini sudah malam nanti kamu ke malaman pulang ke kosan!" Firza datang dengan mengendarai motornya.


Tetapi Jihan hanya menoleh saja tanpa berkata apapun dan terus melangkah berjalan menyusuri pinggiran jalan raya.


"Jihan. Kamu mendengar aku nggak sih? buruan naik! nanti keburu malam sudah jam berapa nih, nanti kamu telat pulang ke kosan!" Firza kembali mengeluarkan suaranya.


Gadis berkerudung hitam itu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Firza yang sedang merayap dengan motornya tersebut.


"Buat apa sih kamu membuntuti ku? urus saja cewek mu sana, kan aku sudah bilang. Gimana kalau dia marah? buktinya apa, dia marah kan ... dan aku rasa itu wajar dia marah. Dia cemburu itu wajar kok! karena mungkin dia merasa kamu tidak memperhatikannya!" Jihan dengan nada kesal.


"Ngapain aku harus urus dia? dia kan bukan balita! dia juga sudah besar--"


"Aku juga sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri dan aku bisa pulang sendiri kok!" Jihan memotong perkataan Firza.


"Dasar keras kepala, atau mau aku tinggalin?" Firza menatap tajam ke arah gadis tersebut.


"Ya tinggalin saja! aku bisa pulang sendiri kok, naik taksi atau angkutan umum atau juga ojek juga banyak, ojol. Aku nggak bingung!" Jihan dengan tetap pendiriannya tidak mau naik ke atas motornya Firza.


"Ck, dasar keras kepala." Firza berdecak kesal dan apa yang pemuda itu lakukan.


Dan yang dilakukan Firza adalah turun dari motornya, lalu menarik tangan Jihan yang ia paksa naik ke atas sepeda motor milik tersebut.


"Eeh, kamu apa-apaan sih? aku nggak mau pulang sama kamu. Aku mau naik taksi dan ojek, mana sih Puspa? urus dia kasihan!" ucap Jihan sambil duduk yang mau tidak mau harus duduk di atas motor Firza.


Lalu kemudian Firza langsung naik kembali dan melajukan motornya dengan cepat sebelum Jihan berusaha untuk turun kembali.


"Turunkan aku? aku nggak mau pulang sama kamu, nanti cewek kamu marah lagi sama aku! masih mending nggak ngamuk juga, kalau ngamuk gimana? susah aku!" suara Jihan dari belakang.


Namun Firza tidak peduli dengan ocehan Jihan di belakang, dia tetap aja fokus mengendarai motornya hingga tidak terasa lamanya sudah sampai juga di depan kosannya Jihan.


"Sudah sampai, turun lah? masuk sana. Sudah malam sampai ketemu lagi besok!" ucap Firza tanpa turun dari motornya.


"Ogah gue ketemu lu, dari tadi gue ngomong nggak dengerin!" kata Jihan sambil mengayunkan langkahnya mendekati teras kosannya tersebut dengan sedikit cepat.


"Gimana mau gue dengerin? orang suara motor aja dan kendaraan lain yang terdengar keras, suara lo timbul tenggelam kaya mood mu itu naik turun." Suara Firza yang di tujukan pada Jihan yang sudah berapa meter dari dirinya.


"Ach, malas aku!" jihan masuk ke dalam kosannya dan Firza langsung mengajukan motornya dengan kecepatan sangat tinggi untuk menuju kosan pribadinya.


Kini hatinya sudah tenang karena Jihan sudah berada di kosannya sendiri, dan Firza sendiri tidak mau memikirkan tentang Puspa! masa bodoh, mau putus-putus. Terserah.


...----------------...


Jihan sedang membuka bukunya, katanya tampak fokus menatap lembaran dengan lembaran buku yang berada di dalam genggaman tersebut.


"Aku sungguh tidak percaya! ternyata kamu itu adalah cinta monyetnya Firza dan mungkin sampai sekarang dia masih mencintai kamu, dan yang paling mencengangkan bagi hati aku bukankah kalian itu saudara? tetapi kenapa bisa jatuh cinta?" suara itu sangat mengagetkan Jihan.


Jihan mendongak memandangi ke arah Puspa yang tengah berdiri, melipat tangan di dada serta tatapan yang tajam ke arah dirinya.


"Puspa ada apa?" Jihan berdiri dengan perlahan dan tatapannya pun tak lepas dari Puspa.


"Aku tidak menyangka! ternyata kamu adalah cinta monyet nya Firza, dan bahkan sampai sekarang dia masih mencintai mu, makanya perhatiannya sangat-sangat tertumpah padamu! dan aku kemarin sebagai pacarnya hanya sebatas status saja untuk menutupi perasaannya kepada mu!" ujar Puspa dengan perasaan yang terasa sakit.


"Maksud kamu apa sih Puspa? aku tidak mengerti apa yang kau maksud cinta monyetnya Firza. Oh iya, aku minta maaf jika kamu ... merasa Firza selalu perhatian sama aku! karena dia merasa kakak ku menitipkan aku padanya! makanya dia perhatian dan ingin menjaga ku. Kuharap kau bisa mengerti," ucap Jihan dengan nada lirih.


"Jadi kamu merasa kalau Firza perhatian itu hanya karena kakak kamu yang menitipkan kamu sama dia? tapi yang kurasa bukan karena itu saja, dia sudah mengakuinya pada aku!" tatapan Puspa tertuju pada wajah Jihan.


"Maksud kamu apa sih Puspa? aku nggak ngerti!" Jihan menggelengkan kepalanya.


"Masa kamu enggak ngerti sih? Firza sudah bilang sama aku kalau kalian itu saudara ketemu udah gede, alias yang mulanya tidak ada pertalian darah sama sekali. Setelah papanya menikah sama kakak kamu! barulah kalian menjadi keluarga--"


"Iya itu benar! memang benar, papa dia menikah sama kakak aku. Jadinya ... mungkin kalau lebih pantas panggilan dia sama aku itu tante!" Jihan mengangguk seraya memotong perkataan dari Puspa.


"Pantas, kalau dia itu naksir berat sama kamu dan dia memiliki cinta monyet sama kamu--"


"Cinta monyet?" Jihan mengurutkan keningnya mencoba mencerna maksud dari Puspa.


"Rrrrggh ... dia itu cinta sama kamu dari zaman SMP dan sampai sekarang! dia pacaran sama aku hanya untuk menutupi perasaannya dia saja sama kamu gimana! kan sesungguhnya dia nggak pernah cinta sama aku, Jihan!" suara Puspa menggebu-gebu dan kalimatnya membuat Jihan tercengang.


"Firza cinta sama aku?" batinnya Jihan sambil terdiam. Dia terkenang ke masa lalu di mana awal-awal bertemu.


Dan Jihan pun memang harus mengakui gimana perasaannya terhadap Firza! kalau boleh dibilang ... mungkin perasaannya tidak jauh beda dengan Firza, sampai detik ini pun Jihan menyayangi dia lebih dari kadar saudara.


Jihan juga cinta sama Firza namun ia berusaha untuk menepis perasaan sebisanya. Itu karena tidak mungkin mereka berdua bisa saling mengungkapkan perasaannya masing-masing terus bisa bersama. Terhalang dengan ikatan persaudaraan.


Yang akhirnya Jihan pun hanya bisa memendam perasaan itu sendiri, pacaran dengan pria lain pun termasuk Excel bukan karena cinta tapi justru dia ingin berusaha untuk melupakan Firza.


Terkadang hatinya menangis, tersiksa dan perasaannya sendiri. Rasa cemburu dan rasa rindu sering bercampur menjadi satu dan sangat menyiksa perasaan Jihan.


Jihan hanya bisa menghela nafas dalam-dalam dan menelan Saliva nya saat ini, kemudian menatap ke arah Puspa dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.


Puspa sendiri pun tampaknya sangat kecewa dengan keadaan yang menimpanya, dia cinta dan sayang sama Firza tapi rupanya ... Firza tidak merasakan hal yang sama dan pacaran dengannya hanya sebagai hiasan saja.


"Aku minta maaf dan aku tidak tahu apa-apa soal itu, lagian kembali lagi ... bahwa aku itu adik dari mama sambungnya Firza. Dan kamu bisa menyimpulkan sendiri gimana hubungan kami berdua! huuh," ucap Jihan seraya membuang nafasnya yang sangat berat.


Yang sepersekian detik kemudian ... Jihan mengambil tasnya dan memeluk buku-bukunya berjalan gontai meninggalkan Puspa sendiri yang menatap dirinya penuh kecewa ....


.


Bersambung.