Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Bikin klepek-klepek



Setelah Sukma berpamitan pada tetangga yang lebih dekat, akhirnya Sukma memasuki mobil Alfandi. Dan yang lain sudah berada di sana. Mereka melakukan perjalanannya menuju perumahan elit yang Alfandi peruntukan buat Sukma.


Mobil Alfandi beriringan dengan mobil pembawa barang. Dan mobil tersebut berada di depan.


Mimy, Jihan dan Marwan duduk di belakang. Sementara Sukma duduk di samping Alfandi yang tengah sibuk menyetir.


"Jadi kalian sering melewati jalan ini ya?" tanya Mimy pada Jihan dan Marwan.


"Iya Kak. Mobil kantor Om Al selalu melewati jalan ini. Pergi maupun pulang sekolah." Jawabnya Marwan.


Sementara Jihan hanya merespon dengan anggukan saja serta melepas pandangan keluar jendela.


Sukma memilih hanya terdiam dengan pemikirannya sendiri yang terus berpikir, dari mana harus mulai pembicaraan ketika nanti dia mau memberikan jawaban pada Alfandi tentang lamarannya itu.


Dering ponsel milik Alfandi berbunyi, sehingga dia menepikan mobilnya sejenak. Untuk menerima sambungan telepon tersebut.


Setelah Alfandi sebentar bicara di telepon, Alfandi kembali melajukan mobilnya tersebut Namun setelah beberapa meter berhenti kembali tepat di depan sebuah restoran.


"Kalian juga pasti belum makan ya ?" Alfandi melirik pada Sukma yang duduk di sampingnya.


Sukma mengangguk. "Belum,"


"Gimana mau sarapan? orang Kak Sukma gak masak! barang-barang sudah dikemas juga." Timpal Marwan dari belakang.


"He'em ... perut ku sudah pada demo nih minta jatah, lapar tambah Jihan."


"Eh, jangankan kalian, Kak Mimy juga belum sarapan nih," Mimy pun nimbrung.


"Ya sudah, kita turun dan kita sarapan dulu di depan," kata Alfandi sambil membuka pintu mobilnya.


Dan semuanya pun turun, tak ayal sopir yang membawa barang-barang pun turun karena memang disuruh Alfandi untuk sarapan bersama.


Tidak lama di restoran, setelah selesai makan dan mereka sudah kekenyangan. Alfandi langsung mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanannya, biar cepat sampai tujuan katanya.


Dan selang berapa menit kemudian, mobil Alfandi memasuki sebuah halaman yang pagarnya yang tidak terlalu tinggi sudah terbuka, tampak sebuah rumah yang berlantai 2 dan menggambarkan rumah minimalis cat yang dominan warnanya putih tulang tidak mencolok dan bias abu-abu.


"Ini bukan rumahnya?" tanya Marwan Sebelum turun dari mobil matanya sudah mengawasi rumah tersebut yang tampak megah dan kokoh.


Semua mata pun memandangi bangunan rumah minimalis tersebut yang tampak indah, di luarnya pun terdapat taman bunga dan perkebunan kecil yang di tanami dengan aneka sayuran.


"Wan, lihat deh, tuh. Di sana kebun kecil yang di tanami sayuran, jadi kalau kita mau bikin sayur nggak usah beli ke pasar. Itu ada bawang daun, sawi. Kangkung, daun singkong, salam dan sereh pun ada." Ungkap Jihan sambil menunjuk ke belakang rumah tersebut pada Marwan.


"Eh iya, benar Kak. Ada kolam ikannya juga nggak ya? kayaknya asik deh kalau ada kolam ikannya juga, menanam ikan mas biar nanti kalau mau makan ikan, tinggal ngambil deh dari kolam. He he he ..." kata Marwan penuh harap.


"Itu gampang, bisa bikin. Asalkan Marwan mau mengurusnya ikannya nanti, itu harus dirawat juga dikasih makan--"


"Mau-mau, aku merawat kolam dan ikannya, Om. Tapi ikannya ikan mas dan ikan nila ya? buat makan, kalau mau makan ikan? gampang tinggal ngambil saja dari kolam," Marwan begitu antusias mendengar ucapan Alfandi yang bilang gampang kalau mau bikin kolam.


"Kayak yang mau ngurus ikan saja, sekolah, Mas. Sekolah," sambar Mimy sambil menepuk bahu Marwan.


"Asli. Aku mau! kan nggak seharian harus mengurus ikan? kalau ikan mah pulang sekolah saja kasih pakannya! bukan begitu ya Om?" Marwan menoleh kepada Alfandi yang masih duduk di depan.


"Benar, sepulang sekolah baru kasih makan ikannya, juga airnya diperhatikan!" ucapnya Alfandi sembari mengangguk.


"Ya, mau-mau dibikinkan kolam, bikin ya? kolam ikan ya, Om?" pintanya Marwan.


"Iya ... nanti, Om suruh orang untuk bikin kolam, tapi harus gak sekarang juga ya?" lagi lagi Alfandi mengangguk.


"Oke!" Marwan setuju.


"Terus, siapa yang mengurus kebun sayuran itu? Kak Sukma ya yang mau mengurus sayuran? kalau aku mau ngurus taman bunga saja," Jihan melirik pada sang kakak, Sukma.


Kini mereka sudah berdiri di luar mobil. "Kalian bisa mengerjakannya sama-sama, nggak harus yang ini-ini yang itu-itu, bareng-bareng saja," sambungnya Alfandi.


"Bener tuh kata, Om. Jadi kita bisa kerjakan sama-sama, masing-masing juga boleh. Tapi ketika belum selesai yang lainnya. kerjakan sama-sama, saling bantu gitu, bener kan, Om?" Marwan mendongak pada Alfandi.


"Hem ... ayo masuk?" ajak Alfandi sambil mengayunkan langkahnya menuju pintu, dia mengambil sebuah kunci dari sakunya.


Cklek!


Blak! pintu terbuka dan Alfandi langsung mendekati saklar untuk menyalakan lampu, sebab di dalam rumah tersebut tampak gelap! gimana nggak gelap?jendela semuanya tertutup.


Ketika yang lain sudah masuk, Sukma masih berdiri di ambang pintu netra nya menyisir keadaan ruangan tersebut, ruang tamu dan ruang keluarga berada di satu ruangan, yang cuma terhalang oleh lemari besar yang berisi barang-barang pajangan.


Sementara di sampingnya sebuah dapur yang juga terbuka dan hanya dibatasi dengan meja makan yang berisi 8 kursi


"Waah ... rumahnya bagus dan luas sih, terlihat sederhana tapi dalamnya lebih indah," gumamnya Jihan sambil melihat-lihat suasana setiap sudut rumah tersebut.


Sukma tidak banyak bicara, sambil berjalan melihat-lihat suasana rumah tersebut, yang sepertinya sudah komplit, dari mulai dua pasang sofa antara ruang tamu dan ruang keluarga. Dapur juga terlihat jelas banyak barang di sana kecuali kompor dan magic com yang tidak tampak.


Sementara Alfandi keluar menghampiri mobil barang-barang, mengajaknya berbicara kedua orang tersebut dan memberi instruksi untuk membereskan barang-barang ke dalam. Lantas kedua orang itu membawa masuk barang-barangnya satu persatu.


"Iya benar, bikin betah ini mah ... kak Mimy juga mau tinggal di sini dong ... bener nggak ya? ada kamar buat Kak Mimy," ucap Mimy pada Jihan.


"Terus kamar aku mana dong?" tanya Marwan sambil celingukan.


"Di rumah ini ada beberapa kamar, kamar utama di atas! terus dua kamar lainnya di atas juga, terus ... di bawah ada empat kamar," ucap Alfandi sambil menjinjing tas ransel pakaian Sukma.


"Ooh, banyak juga ya? kamarnya ada 7 kamar, padahal dari luar sepertinya kecil ini rumah." Mimy menganggukkan kepalanya dan terus mengamati rumah tersebut.


"Kak Mimy, namanya juga rumah minimalis, kelihatan kecil dari luar tapi besar di dalamnya, indah lagi," timpalnya Jihan sok tahu.


"Ya, memang kamarnya ada 7 semuanya, yang satu kamar buat Marwan. Sebelahnya buat Jihan dan Mimy juga kalau mau tinggal di sini, ada kamar sebelahnya kamar Jihan dan yang satu lagi sekiranya nanti ada asisten rumah tangga." jelasnya Affandi.


"Yey ... beneran aku boleh tinggal di sini?" Mimy langsung jingkrak namun akhirnya bertanya juga, takutnya itu cuman tawaran semata.


"Ya Tuhan ... harus berapa kali ya saya harus ngomong? dengar ya My? kalau memang kau mau ikut di sini? mau tinggal di sini? sekarang kau pulang ke kontrakan, bareng-bareng sama supir dan angkut tuh barang ke sini, sekalian tuh mobilnya ada," tegasnya Alfandi menunjuk mobil pengangkut barang.


"Ma, beneran ini, Ma? kita akan tinggal sama-sama?" Mimy menoleh pada Sukma yang hanya terdiam dan mengulas senyumannya yang tipis.


"Bilang dong sayang ... sama temennya itu, kalau saya mengatakan yang serius," Alfandi mengalihkan pandangan ke arah Sukma, yang langsung berekspresi geli mendengarkan kata sayang dari Affandi.


"Iih, apaan sih? sayang-sayang?" Sukma mendelik.


"Cie-cie-cie ... panggilannya itu lho, bikin klepek-klepek hati ku," Mimy memegang dadanya.


"Iya My ... sudah sana ke kontrakan? bareng-bareng sama Mas-Mas nya sekalian," tambahnya Sukma sembari menggerakkan matanya keluar.


"Ish-ish, ish ... gue di usir! hik-hik-hik." Mimy berjalan mendekati pintu, mengikuti langkah kedua orang yang baru saja memasukkan tempat tidur buat Marwan dan Jihan di kamarnya masing-masing.


Jihan dan Marwan pun mereka sibuk melihat-lihat kamarnya masing-masing, sambil saling menjerit-jerit kegirangan. Begitu tampak kebahagiaan di wajah-wajah mereka berdua.


Sukma bukannya nggak bahagia dia bahagia namun dia tidak bisa menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, dadanya begitu berdebar-debar jantungnya berdegup begitu kencang bahagia dan rasa haru bercampur aduk menjadi satu.


Alfandi mengajak Sukma dan adik-adiknya melihat-lihat lantai atas, tak ketinggalan Mimy pun melompat menyusul Sukma.


Dengan alasan ngambil barangnya nanti saja, biarkan si Abang istirahat dulu, kasihan capek.


"Ini kamar utamanya." Alfandi menunjukkan kamar utama yang tampak begitu luas, rapi. Tempat tidurnya besar, sebelahnya kamar mandi yang lumayan luas juga.


Jihan membuka-buka gordennya, agar sinar matahari masuk ke dalam kamar tersebut.


"Wah ... lihat pemandangan nya kota, dan ada balkonnya!" Jihan menunjuk ke arah luar, dirinya berdiri di dekat jendela besar yang terbuat dari kaca tebal.


"Mana-mana?" Mimy menghampiri Jihan. "Benar seperti ya kalau melihat di suasana malam akan sangat indah, Jihan."


Mimy membuka pintu balkon dan pun ikut melihat, berdiri di balkon. Marwan juga gak ketinggalan ikutan pada mereka berdua.


Sukma yang berdiri di dalam kamar melihat dengan melihat-lihat dalaman kamar mandi, menyukai dengan interior nya rumah tersebut.


"Kamar utama ini akan menjadi kamar kita berdua!" suara Alfandi pelan dan sedikit membungkukkan tubuhnya karena dia memang jauh lebih tinggi dari Sukma.


Kedua manik mata Sukma mendelik dan mengangkat bahunya. Lalu menjauhi kamar tempat tersebut.


"Silakan kau atur atau kau dekor kamar ini juga rumah ini, seperti yang kau mau, aku ngikut saja." Alfandi memberi Sukma kebebasan untuk dia mengatur keseluruhan rumah itu seperti yang di mau.


Alfandi keluar kamar dan diikuti oleh Sukma meninggalkan mereka yang sedang asik di balkon. Alfandi menunjukan kamar sebelahnya.


"Dan kamar ini saya jadikan ruang kerja, bila malas masuk kantor." ucap Alfandi sambil membuka kamar tersebut yang memang tidak terdapat tempat tidur, melainkan meja kerja dan lemari yang berisi buku-buku yang berjejer serta sofa panjang dan mini, satu.


Sukma membuka sebuah pintu yang ternyata kamar mandi juga. "Jadi setiap kamar ada kamar mandi dan toilet nya?" menoleh sekilas ke arah Alfandi.


"Iya, benar! apalagi di sini tempat saya pribadi, jadi kalau kita berdua bermain di sofa bisa langsung mandi berdua," Alfandi menyunggingkan bibirnya seraya menaik turunkan alisnya.


"Iiy ... apaan sih?" Sukma bergidik geli lalu keluar dari kamar tersebut.


Berjalan mendekati sebuah pintu yang dia pikir pasti kamar tamu.


Alfandi senyum-senyum sendiri, lalu gegas langkahnya yang lebar itu menyusul langkah Sukma.


"Kalau kamar ini saya peruntukan buat Fikri dan Firza, bila sekiranya mau menginap di sini," ungkap Alfandi menunjukan kamar itu yang luas dan terdapat dua tempat tidur dengan ukuran sedang. Dan interiornya pun khusus buat anak laki-laki.


"Ooh, jadi rumah ini akan terbangun dengan kebohongan ya?" gumamnya Sukma sambil mendekati gorden.


"Maksudnya?" Alfandi heran dengan gumaman Sukma.


"Tentunya kau akan banyak berbohong pada istri dan anak-anak mu bila kau sedang mau menginap di sini. Bukankah begitu?" lanjut Sukma dengan nada datar.


"Hem ... tidak. Saya akan bercerita pada putra-putri saya lagian Fikri mendukung kita menikah. Kalau soal istri ... dia tidak perduli akan kehadiran saya." Alfandi seraya menghela nafas berat.


Sukma menatap sekilas, lalu mengalihkan kembali pandangannya sambil berjalan keluar kamar tersebut.


"Oya, kita menikah nanti mau mengundang siapa? Oya, wali mu siapa?" tanya Alfandi sambil berjalan santai.


"Ha? gak mau mengundang siapa-siapa, kalau wali tidak ada kecuali Marwan." Jawabnya Sukma pelan.


"Ooh, iya sih kita adakan ijab kobul saja di KUA, yang penting kita halal dan tidak tidak menimbulkan prasangka buruk dari orang. Ya paling ... kita mengadakan acara makan-makan dengan tetangga sekitar sini gimana?" Alfandi menatap lekat ke arah Sukma.


"Em ... gak usah lah, gak usah undang-undang. Nanti juga mereka akan tahu sendiri." Gumamnya Sukma sangat lirih.


"Ok, terserah mau mu saja." Alfandi mengangguk.


"Ha? emangnya siapa yang mau menikah dengan mu?" Sukma jadi terheran-heran.


"Kamu lah, siapa lagi?" sahutnya Alfandi sambil menunjukan senyum bahagianya.


"Siapa bilang?" Sukma menggeleng.


"Mata mu yang bilang, kalau mau menikah dengan ku! benar bukan?" senyum Alfandi semakin mengembang.


Sukma senyum-senyum sendiri. Tanpa harus bicara pun Alfandi tahu kalau dirinya mau menikahi pria tersebut.


Langkah kaki Sukma mengayun meninggalkan Alfandi yang berdiri di tempat sofa yang ada di lantai du tersebut.


"Sayang tunggu dong?" Alfandi menyusul Sukma yang menuruni anak tangga menuju lantai dasar.


Sukma ingin melihat-lihat ruangan lain yang ada di lantai dasar yang belum sempat ia lihat-lihat.


Kini Sukma sedang berada di dapur mau bereskan perabot bawaannya dari kontrakan.


Alfandi berjalan menghampiri Sukma sambil memasukan ponsel ke dalam saku. "Saya pulang dulu ya? mau jemput anak-anak."


"Ooh, iya." Sukma mengangguk dan menatap kepergian Alfandi.


Alfandi membawa langkahnya ke depan pintu utama, namun belum melintasi pintu tersebut langkah Alfandi terhenti dan berbalik arah, kembali mendatangi Sukma.


"Ini, buat belanja keperluan dapur, di depan ada warung dan swalayan juga tidak jauh dari warung tersebut." Alfandi menyimpan sejumlah uang dan sebuah kunci rumah di meja karena Alfandi melihat tangan Sukma sedang sibuk.


Tanpa menunggu jawaban dari Sukma, Alfandi langsung membawa langkahnya kembali untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.


Sukma menatap nanar pada uang dan kunci yang tergeletak di meja. Serasa sudah menjadi istri saja, di serahkan uang belanja dan kunci rumah. Air mata pun tak kuasa jatuh membasahi pipi ....


.


...Bersambung!...


.


Jangan lupa dukungannya bagi siapa yang suka tulisan ini🙏