Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Maksud mu



Vaula melongok mendengar omongan Firza. Ternyata cuek nya dia tetap saja bisa welcome ke Sukma.


Sukma naik ke mobilnya dan melambaikan tangan ke Fikri dan Firza.


"Sayang. Kalian itu anak Mama, bukan anaknya dia. Kenapa kalian lebih memilih dia sih? kalian berdua itu Mama yang melahirkan." Vaula menatap tajam ke arah kedua putranya tersebut.


"Mah, kemana Mama selama ini? Mama ada. Tapi bagai tidak ada buat kami, Mama terlalu sibuk dengan dunia Mama sendiri dan Mam harus tau! kalau aku tahu kelakuan Mama diluar sana!" perkataan Firza menghentak hati Vaula.


Vaula kaget bukan main atas yang di katakan oleh putra sulungnya itu. "Apa maksud mu? apa yang Mama lakukan di luar? jangan sembarangan, Za?"


"Mama boleh tidak mengakui atau mengelak. Tetapi hati kecil Mama gak akan bisa pungkiri. Dan tidak perlu Mama menyalahkan orang lain." Firza beranjak dari tempat tidurnya.


Vaula menoleh pada Firza yang hendak berjalan itu. "Mama bisa jelasin dan gak perlu dengerin papa atau wanita itu yang ingin meracuni pikiran mu agar berontak sama Mama." Suara Vaula sedikit meninggi.


Vaula pikir, kalau Alfandi dan Sukma lah yang mengatakan yang bukan-bukan terhadap Firza.


Firza berbalik dan menatap tajam ke arah sang bunda. "Mamah, salah. Apa yang aku tahu, jelas dari mata kepala ku sendiri. Bukan dari orang lain."


Vaula mengerutkan keningnya. Apa benar Firza pernah pergoki dirinya dengan sang kekasih?


"Ahc, tidak mungkin. Itu tidak mungkin." Lalu Vaula menoleh pada Fikri yang sedari kepergian Sukma terdiam.


Fikri memang tidak mengerti dengan obrolan keduanya. "Kalian bicarakan apa sih?" anak itu menatap tanpa ekspresi.


Vaula menghela nafas panjang, lalu dia berkata. "Yo, kita pulang sayang?"


Fikri menggeleng. "Tidak mau. Mah. Fikri mau di sini saja sama papa dan Mommy. Kalau aku pulang ke sana juga palingan sendiri? mama sibuk dan papa gak pulang ke sana lagi!"


Manik mata Vaula mendelik pada Fikri, namun di berusaha mengontrol emosinya agar tidak marah pada anak ini. "Sayang ... dengar Mama. Mama janji. Tidak akan terlalu sibuk lagi dan akan selalu ada buat kalian berdua. Kita liburan kemana pun yang kalian mau!"


"Nggak mau, Fikri mau sama mommy saja." Fikri tetap menggeleng.


"Fikri mau beli apa? tablet yang lebih bagus? sepeda, atau apa? sepatu yang mahal, bagus?" tawar Vaula untuk membujuk Fikri agar mau ikut bersama nya.


Namun Fikri tetap saja menggeleng. Dia tidak tergoda dengan tawaran dari sang bunda, yang ada pun sekarang jarang dia pakai. Karena dia lebih banyak berkumpul dengan Marwan dan Jihan, begitupun juga Firza.


Sakit. Rasanya ada sebuah batu yang menempuh dinding hatinya. Mendapat penolakan dari putranya tersebut.


"Mama janji, sekarang akan berubah dan banyak waktu buat Fikri dan kakak Za. Mama tidak akan seperti dulu lagi yang super sibuk--"


"Jangan berjanji Mah, dulu juga ketika ada Papa. Mama gak peduli! apalagi sekarang papa nggak ada, yang ada cuma kami berdua!" jawabnya Firza dari balik pintu dengan ada sinis dan tatapan tajam ke arah sang mama.


"Tidak, Mah. Firza nggak mau pulang, apa lagi untuk sekarang ini, dan jangan paksa kami untuk pulang!" jelasnya Firza sambil melihat ke arah lain.


"Firza, Fikri. Kalian itu anak Mama, bukan anak wanita itu! kanapa kalian lebih mendengar omongan dia sih? ini Mama yang mengandung kalian yang melahirkan kalian! bukan wanita itu."


Vaula tidak mengerti kenapa anak-anaknya menjadi seperti ini, dan lebih memilih tinggal di rumah yang termasuk sederhana.


Sementara di sana lebih mewah dan luas dan fasilitas yang memadai, malah mereka tinggalkan.


"Emangnya siapa yang bilang kalau, Mama bukan Mama kami? kami hanya ingin di sini dulu tanpa ikut ke sana, lagian kalau Mama mau dan kangen sama kami? kan bisa datang ke sini atau kita bertemu di luar! nggak perlu kami pulang atau tinggal di sana!" ucapnya Firza sambil menggelengkan kepalanya.


Fikri pun beranjak dari duduknya lalu berlari melewati jalan samping ke sumber suara yang terdengar suara yang ramai di sana, dan memang. Fikri menghampiri Marwan juga Jihan yang sedang bermain di belakang rumah, di kebun dan di kolam.


Pak Sardi dan Bu Puji yang sedari tadi berdiam di dalam, akhirnya muncul juga memperlihatkan dirinya di hadapan Vaula yang tampak kaget.


"Bapak? Ibu? kenapa kalian ada di sini? sejak kapan kalian berada di sini? bukannya kalian di Cianjur?" Vaula terkaget-kaget melihat kedua mertuanya berada di sana, dia pikir berarti mereka pun tahu pernikahan Alfandi dengan wanita itu?


"Iya, Ibu dan bapak ... sedang menginap di sini baru datang kemarin," tutur Bu Puji sambil mendudukkan dirinya di sofa begitupun dengan sang suami.


Vaula terduduk kembali di tempat semula. "Apakah Ibu mengetahui pernikahan Fandi dan wanita itu? dan kenapa Ibu juga bapak menutupinya dari saya? seharusnya kalian bercerita dong? jangan sembunyikan kesalahan putra Ibu dan bapak!" tegasnya Vaula dengan nada kesal.


"Sebenarnya ... kami tidak tahu apa-apa! selama bertahun-tahun kamu tidak pernah ke rumahmu dan tidak tahu cerita yang sebenarnya. Kalau ternyata kau sudah membiarkan putra saya dan cucu-cucu saya tanpa perhatian dan kasih sayang darimu, saya pikir kalian baik-baik saja! tetapi nyatanya tidak." Lirih pak Sardi.


"Kau biarkan putra saya bagaikan duda yang beristri, kesepian dan butuh perhatian! kamu biarkan dia sendiri dan hampir saja dengan uang yang dia miliki jajan di luar sana. Membeli sesuatu yang haram b******* dengan orang yang bukan halalnya. Untung saja putra saya masih bisa mengontrol dirinya dan bertemu dengan orang yang tepat." Tambah Bu puji.


"Saya rasa ... itu cuma alasan saja untuk dia bisa menikah lagi, namanya juga laki-laki kan?" akunya Vaula dengan ringannya.


"Tapi bapak rasa ... itu bukan sekedar alasan tapi memang kebutuhan, cobalah kamu pikirkan dan introspeksi diri! di mana kesalahan kamu? Bapak juga tidak menyalahkan sepenuhnya sama kamu atau membenarkan Fandi, tidak. Semua orang punya kekurangannya masing-masing dan itu pasti!" ujar pak Sardi.


"Itu benar Vaula, bukankah pasangan itu harus saling membutuhkan satu sama lain? perhatian, kasih sayang! belaian. Semuanya harus ada, di dasari cinta ataupun tidak! kalau semuanya itu ada, insya Allah rasa sayang itu kan hadir di hari-hari pasangan itu bersama dan saling mengisi. Apalagi kalian sudah mempunyai anak dua! yang seharusnya hal seperti ini tidak terjadi." Sambung Bu Puji dengan tetap tenang.


"Tapi, seperti bapak dan ibu tahu Fandi itu tidak akan mungkin meninggalkan saya menceraikan saya: kalau tidak ada wanita itu!" Vaula tetap dengan kekehnya menyalahkan kehadiran Sukma di dalam rumah tangga nya tersebut dan menjadi prahara.


"Sudahlah Vaula, tidak perlu lagi kau membalikan fakta. Kami berdua sudah tahu kesalahan kamu dan anggap saja lah itu memang kesilapan dan tidak perlu lagi diumbar! dan sekarang ... ibu harap! kamu dapat mengerti dan memberi ruang kepada anak-anak untuk tinggal di sini bersama papanya!"


Bu Puji tetap dengan suara lirih dan tenang dan begitupun dengan pak Sardi yang berusaha bijak dalam menghadapi masalah ini ....


.


...Bersambung!...