Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Prank



“Fikri bangun sayang?


Fikri bangun?” Sukma tampak cemas dan berusaha memompa dadanya anak itu. Takutnya ke minum air.


“Fikri bangun? Jangan bercanda, gak lucu tahu ...” suara Firza sambil menggoyang tangan sang adik.


“Fikri? Fikri? bangun dong ... masa si manja, jatuh segitu saja cemen? cuman jatuh begitu saja juga, kaya orang yang baru berenang saja kau ahk. Cemen banget sih.” Suara Marwan tak kalah khawatirnya.


“Fikri bangun sayang? Jihan, tolong ambilkan air minum. Cepetan?” Sukma menoleh ke arah Jihan yang mematung tidak tahu apa yang harus diperbuat.


Jihan buru-buru berlari, mengambil air minum yang diperintahkan oleh sang kakak.


“Air hangat ya, Jihan?” Pekiknya Sukma.


Disaat orang-orang


tengah merasa panik. Cemas dan khawatir, Firza membuka kedua matanya dan juga membuka mulutnya. “Ha ha ha ... prank ....”


Membuat orang-orang merasa kaget dan tidak percaya kalau ini hanya akal-akalan Fikri yang pura-pura pindang saja untuk mengelabui semuanya. Kalau ini Cuma prank saja.


“Astagfirullah ... Fikri ... bikin kami spot jantung tahu gak? Mommy dah khawatir sayang.” Sukma


langsung memeluk Fikri dengan rasa lega karena karena Fikri ternyata baik-baik saja.


“Tidak lucu! dasar kampret, gak tahu apa? orang jantungan dibuatnya? dia malah enak-enak ketawa, dasar anak kampret lu.” Firza berdiri dan sedikit menghentakkan kakinya.


“Apa kau bilang ... kau


itu cuma bercanda dan mengelabui kami? agar kami panik! dasar anak manja lu, bikin


orang cemas saja. Mau ku lempar ke kolam lagi? aku satukan dengan ikan-ikan


besar itu?” kata Marwan sambil menepuk bahunya Fikri yang berada dalam pelukan Sukma.


“Panik gak? panik


gak? panik dong ... ha ha ha ...” Fikri kembali tertawa lepas, anak itu seolah senang sudah berhasil ngerjain orang-orang yang berada di sana.


“Panik gak? panik


gak? gak lucu tau ... kau pikir ini bisa dibuat candaan apa? ini menyangkut keselamatan.” Firza langsung pergi dari tempat tersebut, dengan handuk di tangan. Membawa hati yang kesal terhadap adiknya itu.


“Kau tidak apa-apa kan sayang?” setelah Sukma melepas rangkulannya. Ditatapnya anak itu dengan sangat lekat.


“Tidak, Mom, aku tidak apa-apa kok, aku baik-baik saja seperti yang kau lihat.” Jawabnya anak


itu sembari menggeleng.


Sukma menoleh pada Jihan yang berdiri terdiam dengan gelas air minum ditangan, dia melongo saja. Ternyata yang di buat cemas itu hanya sebuah prank saja.


“Jihan, sini minumnya?” pinta Sukma kepada Jihan yang langsung memberikan gelas tersebut padanya.


Dan lantas Sukma memberi


Fikri minum dengan air yang masih hangat. “Minum dulu sayang? biar lebih hangat tubuhnya."


Setelah itu, Fikri di ajaknya Sukma untuk masuk dan segera mandi atau bersih-bersih. “Marwan, Jihan? kalian segera mandi dan berganti pakaian ya? agar tidak kedinginan.”


Kedua adiknya pun menurut dan langsung masuk untuk bersih-bersih.


“Mommy tadinya mau


membawa kamu ke dokter, habis Mommy cemas dan khawatir kalau Fikri kenapa-napa,


bisa-bisa Mommy kena marah papa nih,” ujar Sukma sambil menggandeng tangan Fikri.


“Apa ... Mommy sayang


sama aku?” anak itu mendongak.


“Sayang dong ... kalau gak sayang, ngapain Mommy sampai nyebur dan basah-basahan begini coba?”


ucapnya Sukma sembari menunjukan pakaian nya yang basah kuyup.


“Maaf ya Mommy? aku


sudah buat Mommy khawatir?” anak itu menunduk lesu merasa bersalah.


‘Tida kapa-apa! yang


penting ... Fikri tidak kanapa-napa, dan yang sudah Fikri buat cemas itu bukan cuma Mommy saja lho ... tetapi yang lain juga, jadi Fikri mita maaf juga pada yang


lain ya? oke?” sukma memegangi kedua bahu Fikri dengan tatapan lembut, dadanya yang berdebar masih belum bisa normal. Detak jantungnya masih berdetak tidak karuan.


“Oke Mommy, Fikri akan meminta maaf kepada kak Firza, kak Wawan dan kak Jihan juga yang sudah dibikin cemas.” Anak itu mengangguk.


“Baiklah, sekarang kau


Fikri masuk ke kamarnya yang ada Firza di sana. “Kak. Aku meminta maaf ya? karena sudah membuat kalian semua khawatir?”


“Kau pikir itu lucu apa? kau pikir semua perduli ha?” ketusnya Firza yang sudah mandi dan duduk


di atas tempat tidur dengan wajah datarnya.


“Aku kan sudah minta


maaf, Kak? masa gak mau di maafin sih? Bodo ahk.” Fikri langsung ngeloyor ke kamar mandi.


Sukma berdiri dian bersandar di daun pintu kamar. Menghirup udara yang sebanyak-banyaknya,


mengontrol nafas yang sedari tadi terengah-engah, betapa khawatirnya tadi dia. Ketika dihadapan dengan keadaan yang bikin seakan jantung ini berhenti berdetak.


“Hu ... untungnya cuma


akal-akalan dia saja, kalau memang terjadi seperti itu. Aku gak bisa membayangkan nya, ya Allah ...” gumamnya Sukma sambil berjalan mendekati kamar


mandi.


Saat ini Sukma sudah


rapi, baru selesai mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Kemudian buru-buru turun ke dapur dan membuatkan minuman hangat buat mereka semua.


Tangan Sukma dengan cepat membuat lima gelas minuman hangat, lalu dia bawa dalam nampan. Dibawanya


ke kamar Jihan yang akan menjadi pertama kalinya menerima minuman tersebut.


“Jihan ... ini Kakak buatkan minuman hangat buat kamu,” pekiknya Sukma sambil mengetuk daun pintu kamarnya Jihan.


Sesaat kemudian, Jihan pun membuka pintu dan berdiri dengan menunjukan senyumnya. “Wah ... makasih ya


Kak?”


“Iya, diminum ya? jangan lupa lho. Biar tubuhnya lebih hangat, dan Kakak akan mengantarkan ini ke Marwan dan yang lainnya.” Lanjut Sukma berjalan menuju kamarnya Marwan.


Tok ... tok ... tok ....


‘Wan ... buka pintunya? Kakak bawakan minuman hangat nih,’ pekik Sukma sambil berdiri di


depan pintu kamarnya Marwan.


Blak, pintu terbuka dan Marwan berdiri sambil memeluk guling dan sepertinya Marwan sudah bersiap untuk tidur. ”Apa Kak?”


“Ini diminum ya? biar


kau tidak masuk angin,” ucap Sukma sambil menyerahkan segelas air minuman yang


masih mengepul asapnya itu.


“Makasih Kak?” Marwan


pun langsung mengambil nya dari tangan Sukma.


Selanjutnya Sukma menaiki anak tangga untuk ke kamar Firza dan Fikri, mau memberikan minumannya. Setelah itu baru dia akan ke kamar. lanjut beristirahat.


“Fikri? Firza? ini Mommy bawakan minuman nih sesuai tadi yang Mommy janjikan sama Fikri.” Suara Sukma yang begitu lembut namun terdengar jelas di telinga kedua putra sambungnya itu.


Tidak lama kemudian pintu pun terbuka. Yang membukakan pintu adalah Firza. “Ada apa?”


“Fikri nya belum bobo


kan? Ini Mommy buatkan minuman buat kalian berdua, diminum ya? lumayan untuk


menghangatkan badan.” Sukma memberikan dua gelas tersebut kepada Firza.


“Buat aku mana Mom?”


suara Fikri yang muncul dari belakang Firza.


“Ada dong ...setelah


ini kalian istirahat ya? jangan lupa diminum?” Sukma menunjukan senyumnya yang tulus, lalu pergi meninggalkan kamar mereka berdua.


Firza bengong sambil


memegangi gelasnya, sementara Fikri langsung meneguknya sampai habis.


“Kak, minum dong ... Kak Firza kira itu ada racunnya apa? Nggak Kak. Aku aja gak apa-apa tuh,” ungkapnya Fikri sambil menunjukan gelas kosong kepada sang kakak ....


.


.


...Bersambung!...