
Setelah sekian lama Excel membiarkan Jihan sendirian dia berdiri bak seperti patung. Dan pada akhirnya Dia menoleh ke arah Jihan yang menunjukan wajahnya yang bosan.
"Kamu ngapain berdiri saja? kan itu ada kursi duduklah lah!" Excel menatap heran pada Jihan yang mungkin sedari tadi terus-menerus berdiri begitu saja.
"Bagaimana aku mau duduk? nggak ada yang nawarin satupun!" jawabnya Jihan dengan nada dingin.
"Sorry sayang sorry, mau minum apa? aku ambilkan ya?" Akhirnya Excel menawari Jihan minuman.
Namun Jihan menolak dengan kepala yang menggeleng. Lalu kemudian berkata dengan pelan. "Rasanya aku nggak nyaman di sini, pulang aja yuk? aku berasa sangat asing."
"Sayang gimana sih ... orang kita baru nyampe juga! Yuk kita ke ruangan sana!" Excel langsung menarik tangan Jihan ke ruangan yang bersebelahan dengan ruangan yang barusan.
Di ruangan itu tersedia banyak minuman dalam gelas seperti minuman buah, putih. Hidangan! makanan berat sampai ringan, ada juga kue ulang tahun ya yang berjejer banyak.
Jihan mengedarkan pandangannya ke ruangan tersebut. Banyak muda-mudi yang lalu lalang mengambil minumannya masing-masing sembari menyimpan gelas yang sudah kosong. Ada juga pelayan yang menuangkan minuman ke dalam gelas yang baru.
"Kamu mau makan atau minum apa? pilih saja!" suara Excel yang ditujukan kepada Jihan.
Namun Jihan tetap menggeleng. Bahkan dia bingung harus memilih makanan apa? karena terlalu banyaknya makanan yang tersedia di sana.
Akan tetapi lain dengan Excel, dia langsung mengambil makanan karena perutnya sudah lapar. Dan perutnya sudah tidak bisa dikendalikan meminta makan.
"Ayolah sayang mau makan apa? jangan diam kayak gitu malu! lihat orang-orang yang tampak happy, kamu ini bener-bener kaya orang kampungan aja!" Excel menatap tajam ke arah Jihan sambil menikmati makannya dari piring yang sedang dia pegang.
Kemudian dengan perlahan Jihan pun mengambil piring dan mengambil sepotong kue dan potongan buah-buahan segar.
Hingar-bingar di villa tersebut masih juga menghiasi. Bahkan selesai makan Excel ikut menari, goyang di ruangan yang tadi malah ada DJ nya segala.
Sementara Jihan hanya duduk-duduk dan melihat-lihat, memperhatikan Excel. Semakin lama Jihan semakin merasa tidak nyaman dia pengen pulang. Sehingga dia turun ke tempat di mana Excel sedang berjoget ria, langkahnya terus dan mendatangi Excel yang di beberapa wanita seksi.
Dan anehnya, teman-teman ataupun yang berada di villa tersebut tidak satupun yang dikenal oleh Jihan! jadi entah orang-orang dari mana mereka? sehingga tidak satu orang pun Jihan kenali, jika ada anak-anak kampus berarti Jihan mengenalnya dong ... biar tidak tahu namanya minimal mukanya tahulah. Tapi ini nggak ada sama sekali.
Setelah dekat dengan posisinya Excel, Jihan menepuk pundaknya. Excel tanpa menghentikan goyangannya hanya menggerakkan matanya saja pada Jihan seakan-akan bertanya ada apa?
Berbicara pelan nggak mungkin kedengaran dengan suara musik yang begitu keras, bikin jantung berdebar tak karuan mendengar hentakan musik. Berteriak pun nggak mungkin dan nggak sopan rasanya. Sehingga Jihan menarik tangan Excel keluar dari lokasinya.
Kemudian Excel bertanya setelah sampai di dekat sofa tempat tadi Jihan duduk. "Ada apa sih sayang? kan tadi sudah aku ajak kamu untuk turun, kamu nya nggak mau! sekarang aku yang sedang asyik malah diganggu!"
"Maaf, aku hanya ingin pulang. Aku tidak nyaman di sini, dan ini bukan tempat yang cocok untuk ku!" Rengeknya Jihan yang seakan memohon untuk di antarkan pulang.
"Nggak bisa dong sayang ... aku nggak bisa pulang secepat itu! kan aku udah bilang yang penting sebelum pukul 09.00 malam kamu sudah ku antarkan pulang, dan sekarang kan masih siang!" Balasnya Excel sembari menggerak-gerakan tangannya.
"Tapi aku nggak betah di sini, aku nggak nyaman." Jihan kekeh dengan permintaannya untuk keluar dari villa tersebut.
"Tapi!"
"Lah ... nggak usah tapi-tapi, ayo aku antarkan ke sana! Orang lagi asik joget juga diganggu!" Kalimat yang keluar dari bibir nya Excel, sambil terus menarik tangannya Jihan menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.
Jihan tidak berkata-kata lagi, selain mengikuti langkahnya Excel yang terus menarik tangannya menuju lantai atas.
Yang lantas Excel membawa Jihan ke sebuah kamar yang luas dan bagus interiornya, begitu mewah. Dengan jendela kaca super besar dan menghadap ke pegunungan.
"Ini kamar aku, tempat aku menginap bila datang ke sini. Sekarang kamu istirahat di sana kalau pengen mandi, mandi lah dan bila pengen ganti juga ada pakaian kok." Excel mendudukkan dirinya di sofa sudut jendela besar.
Jihan hanya melongo memandangi suasana kamar yang tampak mewah tersebut, kemudian dengan perlahan berjalan mendekati jendela yang besar melihat pemandangan di luar. Dengan background yang hijau menyejukkan pandangan.
Kalau di dalam kamar ini lumayan, tidak terlalu terdengar ramai, berisik atau apalah namanya dari dari lantai bawah. Suara musik pun hanya sayup-sayup saja terdengar dan timbul tenggelam.
"Gimana, kamu suka di kamar ini, tidak terlalu bising bukan?" Tanyanya Excel yang menatap ke arah Jihan yang tengah berdiri melihat pemandangan keluar.
Jihan menolehkan kepalanya kepada Excel seraya berkata. "Lumayan, di sini nggak terlalu bising. Pemandangannya indah sekali. Kayaknya menyenangkan nih kalau jalan-jalan ke sana!" Jihan menunjuk ke arah luar di mana banyak persawahan, perkebunan dan juga di ujungnya pegunungan.
"Itu gampang, lain kali kita jalan-jalan." Excel pun berdiri di sampingnya Jihan, memandangi pemandangan yang ada.
Tangan Excel pun bergerak merangkul pinggangnya Jihan yang tentu saja langsung di tepisnya. Jihan langsung menjauh dari Excel, dia menjadi takut apalagi di ruangan yang tertutup seperti kamar. Yang tadinya merasa nyaman berada di kamar itu menjadi di hinggapi rasa takut dan was-was, kalau seandainya Excel masih berada di sana.
"Em ... kalau kamu mau berjoget lagi silakan aja, biarkan aku di sini sendiri! tapi ingat nanti pulang jangan terlalu malam," pintanya Jihan kepada Excel.
Excel yang menetap kecewa karena tangannya sudah ditepis oleh Jihan serta tatapannya pun menjadi aneh, tajam dan menakutkan. Membuat bulu kuduknya Jihan merinding seketika.
"Ehem, oke. Aku keluar dulu ya? mau senang-senang sama kawan dan ... kamu di sini istirahat saja! Dan jangan lupa pintunya di kunci saja dari dalam! takutnya ada yang masuk orang yang iseng." Pesannya Excel dengan senyuman yang bikin merinding Jihan.
Jihan pun merasa lega kalau Excel mau keluar dan meninggalkannya! setidaknya ia tidak gelisah dan ketakutan, apalagi dia menyuruh mengunci pintu dari dalam berarti Jihan akan merasa lebih aman berada di kamar tersebut.
Excel pun keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Jihan sendiri dan mewanti-wanti agar Jihan mengunci pintu dari dalam. Dia takut kalau ada orang iseng masuk dan mengganggu Jihan.
Setelah Excel keluar dari kamar itu, Jihan pun buru-buru menutup dan mengunci pintu kamar tersebut. Kemudian Jihan kembali menikmati pemandangan dari balik jendela kaca yang besar. Lalu karena matanya yang tiba-tiba merasa lelah dan mengantuk! merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang super empuk luas dan bersih.
Setelah beberapa saat Jihan terlelap. Begitu nampak kenop pintu bergerak ....
.
Aku harap ... setiap yang membaca karya aku jangan lupa meninggalkan jejaknya ya? seperti like dan komen karena gerakan jempol kalian menjadi penyemangat. Terima kasih