
Selepas salam. Alfandi pun tidak lupa membaca doa, Kemudian membereskan peralatannya dengan kepala menoleh pada Sukma yang bengong di sofa. Melihat ke arah televisi namun televisinya tidak hidup.
"Sayang, kau melihat apa? dan kenapa juga belum ganti baju? apa perlu aku gantikan hem?" Alfandi menautkan alisnya.
"Ha? I-iya." Sukma dengan hati yang terus berdebar tak jelas yang di rasa, dia membawa langkahnya ke dalam kamar mandi.
Setibanya di dalam kamar mandi, Sukma menatapi gaun yang berada di tangannya itu. "Masa gue harus pakai ini sih? yang benar saja! berasa wanita gimana ... gitu?" gumamnya Sukma dalam hati.
Sebelum di kenakan, Sukma terus menatap gaun tersebut. Rasanya ragu untuk memakainya, bukan apa-apa, malu!
"Bukan apa-apa sih cuma ... gue malu!" lalu Sukma menyimpan gaun itu di dekat wastafel sementara dia pengen buang air kecil dulu.
"Eeh ... sejak kapan persabunan ini ada di sini! perasaan aku gak beli ini semua?" Sukma memandangi pembersih kewanitaan dan luluran dll. Yang belum di tata.
"Dia kali ya? yang membawa ke sini? tanpa aku ngeh. Dasar si om Alfandi gak banyak bicara tapi dengan kerja." Sukma menyunggingkan senyumnya.
Saat ini Sukma sudah mengenakan gaun malam penggoda iman pria itu. "Iih, kok aku gak percaya diri sih?" menatap sebagian tubuhnya dari cermin yang ada di kamar mandi tersebut.
Dengan ragu. Sukma mengayunkan langkahnya ke kamar, perlahan dia membuka pintu kamar mandi dan celingukan melihat-lihat apakah ada Alfandi di sana? kalau tidak ada! dia mau lari ke atas tempat tidur dan bersembunyi di bawah selimut, menutupi tubuhnya yang mengenakan gaun menerawang tersebut.
Namun ternyata Alfandi sudah berada di atas tempat tidur sedang duduk bersandar dan menatap ke arah dirinya, sorot matanya begitu tajam memandangi ke arah Sukma serta matanya seolah tidak berkedip. Pada Sukma yang mengenakan gaun tipis tersebut.
Namun sayang, Sukma menggunakan kimononya yang menjadikan pemandangan indah aslinya tertutupi. Membuat hati Alfandi tambah penasaran.
"Sayang? sini dan duduknya dengan ku?" Alfandi menepuk-nepuk kasur sebelah, menyuruh Sukma yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
Dengan perasaan yang sulit di gambarkan. Sukma membawa langkahnya mendekati tempat tidur yang sudah ada Alfandi menunggunya, sekilas ujung mata Sukma mendapati Alfandi yang sudah bertelanjang dada, memperlihatkan dadanya yang bidang dan perutnya yang sixpack.
Tubuh yang sepertinya rajin perawatan itu sudah tidak sabar menunggu Sukma, mendatangi serta menemaninya untuk bersenang-senang di malam pertama ini. Malam yang akan menjadi sebuah waktu yang panjang buat bercinta, melepas sesuatu yang lama terpenjara. Terkurung dalam sepi.
"Akhirnya aku bisa buka puasa juga," batinnya Alfandi.
Buka puas dalam arti, sejak lama dirinya tanpa perhatian dan sentuhan dari seorang lawan jenis, dan kini berhadapan dengan wanita yang diperuntukan untuknya. Menemani dan menyenangkan hati, menghiasi hari-hari nya ke depan.
Sukma perlahan merayap, mendekati tempat tidur. Sementara Alfandi merubah posisi duduknya menjadi duduk di tepi tempat tidur menurunkan kedua kakinya yang menjuntai ke bawah.
Menyambut kedatangan Sukma yang terus menundukkan wajahnya dari pandangan Alfandi yang tidak henti menatap intens ke arah wanita nya itu.
"Kau tampak sangat gugup dan tegang? rileks. Santai, kita akan melewatinya bersama dan bukan hanya malam ini saja. Tetapi juga untuk ke depannya juga." Suara Alfandi yang mulai terdengar aneh. Nafasnya terdengar lebih cepat.
Sukma tetap menunduk dalam, tidak berani menatap wajah suaminya tersebut. Dada yang terus berdebar sudah tidak dapat di gambarkan lagi. Sentuhan tangan Alfandi yang membuka kimono nya pun bikin perasaan Sukma bergetar.
"A-aku, hanya ..." suara Sukma terdengar pelan dan bergetar.
Sukma berusaha menarik napas dengan teratur untuk menenangkan dirinya yang ah sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.
"Tenang, Sukma tenang. Kau jangan terlalu kelihatan nervous di mata suami mu ini. Kamu sudah dewasa juga, bukan gadis kecil yang tidak tahu apa-apa," monolog Sukma dalam hati sambil mengembuskan napas dengan sangat panjang.
"Tarik nafas mu dengan teratur, hirup udara sebanyak-banyaknya, rileks sayang?" pinta Alfandi sambil meraih kedua tangan Sukma yang terasa berkeringat dingin itu.
Tatapan netra Alfandi semakin intens melihat Sukma yang kini tanpa kimono, hanya berbalut kain tipis dan sangat menerawang, panjangnya hanya di atas dengkul saja dengan belahan leher yang sangat rendah sehingga mengekspos belahan dada nya yang masih asri, belum tersentuh siapapun atau bermain apalagi menjamahnya.
"Sayang?" desis Alfandi dengan nafas yang terdengar berat dan berkali-kali tampak berusaha menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan. Rasanya begitu kering dan tanpa tetesan air.
Belum apa-apa, tubuhnya bergetar hebat. Benar-benar merasa gugup dan serba salah. Keringat dingin pun bercucuran dari telapak tangan dan juga pelipisnya.
"Ya ampun ... apa harus malam ini juga jue ngasih semua milik gue?" batin Sukma dan memberanikan diri untuk memandangi wajah Alfandi yang tampak aneh.
Tatapan mereka pun bertemu. Keduanya saling bersitatap dengan sangat lekat juga mendalam. Seakan ingin menjelajahi isi hati yang mengungkapkan segala keinginan.
Bibir Alfandi bergerak. "Bolehkan aku memintanya malam ini juga?" suaranya sangat pelan dan penuh getaran yang diakibatkan rangsangan yang sudah menyebar ke seluruh tubuh.
Darah yang mengalir deras di seluruh tubuhnya bagai menggolak panas, mendidih. Mendorong untuk melakukan sesuatu yang sangat signifikan saat ini juga.
"Bo-boleh. Te-tetapi. Aku-aku sangat--" balas Sukma gelagapan.
"Jangan gugup begitu? santai sayang!" seraya membaca doa dalam hati, Alfandi menarik pinggang Sukma sehingga menempel di tubuh bagian depannya Alfandi.
Tangan Alfandi mengarahkan kedua tangan Sukma supaya melingkar di pundaknya. Bergantian. "Tenangkan dirimu? jangan gugup, nanti kau," tangan Alfandi menempelkan kepala Sukma di dadanya.
Supaya Sukma mendapatkan kenyamanan di sana. Kemudian Sukma menunduk dan menyembunyikan wajahnya di dada Alfandi.
Sejenak keadaan begitu hening dan hanya menyisakan suara napas yang berusaha teratur dari hidung Sukma maupun Alfandi.
Beberapa saat kemudian. Setelah Sukma lebih rileks dan tidak terlalu gugup. Jemari Alfandi mengangkat dagu Sukma supaya mendongak serta pungguk Alfandi membungkuk untuk menjangkau wajah wanitanya itu.
Tangan Alfandi seolah menarik tubuh Sukma agar semakin menempel ke tubuh Alfandi dan di tuntut untuk berjinjit agar sedikit mengimbangi tingginya tubuh Alfandi.
Cuph! kecupan singkat mendarat di bibir Sukma yang dengan refleks memejamkan kedua matanya.
Kini tatapan netra keduanya begitu dalam dan tatapan Alfandi sudah diselimuti dengan kabau hasrat yang menggebu. Serta tatapan sendu dari Sukma membuat Alfandi kian tergoda.
Detik kemudian Alfandi menyatukan kembali bibirnya dengan bibir Sukma, namun kali ini bukanlah kecupan singkat nan mesra, tetapi kecupan yang akan menimbulkan gairah dari pasangannya.
Sukma kembali memejamkan matanya ketika bibir Alfandi menyusuri permukaan dan lembut bibirnya. Lututnya terasa lemas dan bergetar kalau saja tangan kekar Alfandi tidak mengunci tubuhnya.
"Mmmm." Alfandi me-lu-mat mesra benda tipis dan kenyal tersebut.
"Al?" suara Sukma nyaris tak terdengar di sela-sela Alfandi memberi jeda.
Bibir Alfandi tertarik ke samping, mendengar Sukma memanggil namanya dengan panggilan Al. Alfandi kembali menggencarkan kecupannya di kening, pipi lalu mendarat kembali ke bibir yang kini mulai menjadi candu baginya.
Bermesraan dengan istri, ternyata lebih nikmat ketimbang dengan wanita malam yang belum apa-apa sudah dipenuhi rasa kecemasan yang tiada terhingga. Cemas. Was-was, itulah yang Alfandi rasakan ketika berhadapan dengan wanita penggoda di luaran sana. Beda dengan seorang istri, meskipun baru banget, tapi jelas rasanya tenang tidak dihantui oleh rasa ketakutan.
Kecupan demi kecupan mulai melebar menyusuri ke wilayah leher Sukma, Alfandi tidak segan-segan meninggalkan banyak tanda kepemilikannya di sana.
Sukma semakin dibuat tidak berdaya, tubuhnya menjadi panas panas dingin, bergetar bagai orang menggigil! begitupun dengan apa yang dirasakan Alfandi saat ini.
Tanpa permisi, tangan Alfandi bermain di atas pucuk bukit nan indah Sukma. Di r***s penuh gairah.
Kedua manik Sukma terus terpejam, dan hanya sesekali melihat wajah tampan suaminya. Tangannya begitu kuat memeluk pundak Alfandi. Sukma menggigit bibir bawahnya, dia tampak mulai menikmati situasi tersebut walau masih tampak rasa gugup dan cemas dari wajahnya itu.
"Sayang? rileks ya? jangan gugup!" gumamnya Alfandi sangat pelan.
Sukma mengangguk pelan sembari tetap memejamkan kedua netra nya.
Alfandi terus mengembangkan senyumnya ketika melihat lawan mainnya memejamkan maniknya, ia juga terus melancarkan aksinya. Balon yang menggantung indah itu bukan hanya di ***a* saja namun juga Alfandi memasukan ke dalam mulutnya, kemudian menyesapnya dengan kuat.
Membuat sang empu mendesis dan meracau tidak karuan, dia benar-benar baru merasakan ini. Sukma baru mengalami hal-hal yang seperti ini.
Alfandi membaringkan tubuh gadisnya itu di atas tempat tidur yang luas dan masih bertabur dengan kelopak bunga mawar tersebut. Gaunnya pun sudah tak tentu arah, tidak karuan menempelnya di mana? karena ulah Alfandi yang nakal.
"Buka mata mu sayang? jangan terpejam seperti itu. Gimana kalau yang melakukan ini bukan suami mu hem?" Alfandi sedikit bercanda.
"Hem!" Sukma membuka matanya dan memandangi wajah tampan itu, wajah yang bukan hanya miliknya saja itu.
Keduanya saling bersitatap dengan sangat mesra. Punggung jemari Alfandi membelai lembut pipi Sukma yang berwarna kuning Langsat tersebut.
Lalu wajah Alfandi kembali mendekat untuk menikmati bibirnya Sukma yang ranum dan kembali memejamkan kedua manik nya tersebut.
Tubuh Alfandi yang berada dia atas tubuh Sukma menjadikannya lebih mudah menelisik setiap Senti tubuh Sukma yang kini sudah polos dan terhalang oleh tubuh besar dan kekar tersebut.
Tiba-tiba. "Aw ... sakit ...."
Sukma menjerit yang tertahan, ketika tanpa aba-aba! benda asing menyelusup ke dalam Guha miliknya, yang tentunya menerobos jalan yang masih terbilang sempit dan belum terbiasa di datangi sesuatu. Apalagi mahluk astral yang dirasakan tergolong tinggi besar itu.
Manik matanya Sukma yang semula terpejam mendadak melotot dengan sempurna pada Alfandi. Tak ayal tangannya mencengkram punggung Alfandi sehingga meninggalkan luka dari kuku-kuku jari Sukma.
"Al, sakit ... aw ... sakit! sakit, Al. Sakit," desis Sukma sembari menggigit bahu Alfandi akibat menahan rasa sakit dari koyakan milik Alfandi tersebut.
Butiran air mata pun jatuh dari sudut maniknya yang indah itu.
"Tenang sayang? tenang, tahan?nanti juga terbiasa," suara Alfandi pelan, kemudian Alfandi memberi jeda dan menghentikan pergerakannya sementara waktu, agar Sukma lebih tenang dulu. Tidak tega rasanya mendengar jeritan Sukma yang kesakitan.
Cuph!
Cuph!
Dengan lembut, Alfandi mengecup pipi dan kening Sukma. Lantas memberikan kecupan lembut di bibir sang istri, mengusap keringat di kening Sukma dan air mata yang mengalir di sudut matanya dengan sangat lembut.
"Sudah ku bilang jangan gugup, harus tenang, rileks? agar kau lebih merasa nyaman." Suara Alfandi yang seakan menempelkan bibir di pipinya.
Sukma hanya diam dan mengatur nafasnya yang terasa sesak. Mengontrolnya supaya lebih tenang. Mungkin benar yang di katakan Alfandi, kalau dirinya terlalu canggung dan gugup.
"Jangan menangis sayang? aku mencintai mu! aku sangat menginginkan mu?" seraya berbisik lembut di telinganya Sukma.
Membuat darah kembali berdesir hangat, menyelinap ke sela-sela jantung membawa jiwanya melayang tinggi di awan.
Setelah Sukma tampak tenang dan siap untuknya melanjutkan ritualnya yang beberapa saat tertunda, Alfandi mengecup mesra kembali bibir Sukma dengan sangat lembut, m****s*p penuh gairah has**t yang menggelora.
Perlahan Alfandi menggerakkan bagian tubuhnya. Memanjakan mahluk astral yang selama ini haus akan kasih sayang, yang selama ini kekeringan tanpa sentuhan tetesan air surga dunia.
Sukma kembali mendesis. "Sakit." Merasakan perih bagaikan ada yang sobek. Namun kendati demikian, lama kelamaan rasa sakit dan perih itu pun hilang bergantian dengan rasa nikmat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Nanti juga akan terbiasa sayang," bisik Alfandi dengan nafas yang terdengar memburu.
Wajah Alfandi kembali turun menuju titik-titik sensitif Sukma, membuat gadisnya terus menjerit-jerit yang tertahan, tak ayal Sukma pun sering membungkam mulutnya dengan tangan. Khawatir suaranya di dengar orang.
Di sela-sela racauan nikmat, Alfandi sering tersungging senyuman puas dari bibirnya. Puas karena sudah mendapatkan sesuatu yang dia inginkan selama ini, walau istilahnya sudah mengeluarkan uang banyak buat maskawin! namun kalau seperti ini dia benar-benar sangat puas. Keikhlasannya pun tergantikan sudah.
"Sayang! aku sangat bahagia cintaku, kau membuat aku benar menikmati ini. Akh ... teruslah menjadi milik ku?" racauan Alfandi, di sela ritualnya yang sedang berlangsung itu.
Tangan Sukma membelai rambut Alfandi dan memberikan tatapan yang lembut. Setelah memberikan jeda yang agak panjang, Alfandi kembali menggempur lawan mainnya. Sampai-sampai Sukma merasa sangat kelelahan dibuatnya.
Beberapa kali Alfandi tumbang, di atas dada Sukma sehingga sejenak mengakhirinya.
Waktu sudah menunjukan pukul 23.00, dan entah sudah berapa kali juga Alfandi tumbang kelelahan serta menyudahinya. Namun satu jam kemudian memulai kembali, baru saja mata Sukma mau terpejam sudah di garap lagi, Alfandi tidak membiarkan Sukma tidur nyenyak di malam pertama ini.
Entah terlalu perkasa atau atau memang Alfandi terlalu kangen sehingga dia terus-terusan melepas mahluk astral nya Guha Sukma Sukma. Tidak perduli dengan rasa lelah dan peluh yang bercucuran membasahi.
Sekitar pukul 03.00, barulah Alfandi membiarkan Sukma tertidur di dadanya. Dalam pelukannya, Alfandi mengecup kening Sukma berkali-kali sebagai ungkapan terimakasih.
"Terima kasih sayang? sudah menjadi teman main ku, membuat ku puas sehingga kau sangat tampak kelelahan. Hem ... kasihan, Sukma ku!" cuph! kecupan kembali mendarat di kening Sukma serta tangannya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pipi sang istri.
Sekitar pukul 04.30. Sukma terbangun, dengan mata yang terasa sepet banget, daerah inti Sukma terasa sakit dan sedikit bengkak, mungkin karena masih belum terbiasa di datangi oleh mahluk asing, ulat kasur yang minta di manja mulu di sarangnya.
Maklum, duda beristri tersebut lama tak mendapat belaian, jadi pas mendapat belaian. Langsung balas dendam dan Sukma lah yang menjadi korbannya, di gempur semalaman dan terus-terusan. Sehingga baru bisa istirahat menjelang subuh.
Alfandi yang baru saja mengenakan celana boxer nya, melirik ke arah sang istri yang meringsut dan tampak meringis atas perbuatan nya semalam. Sukma pun beberapa kali dibuat menangis.
"Sini? ku gendong, ke kamar mandi nya?" Alfandi merentangkan tangannya untuk membantu Sukma.
Sontak Sukma menoleh seraya berkata. "Nggak-nggak. Aku bisa jalan sendiri." Dia turun dengan memeluk selimut.
Di seprai terlihat jelas beberapa bercak darah mengotori tempat tidur tersebut.
Alfandi yang juga melihat ke arah sana sembari mengulas senyumnya, bagai punya kepuasan tersendiri. Gimana tidak? lama terkurung sepi. Tiba-tiba pas keluar membobol gawang yang masih bersegel, kan berasa benar-benar puas! bagai akulah pemenangnya ....
.
.