
Kini Alfandi dan Sukma sudah berada di kamar hotel. Mereka berdua berbincang di atas sofa.
Detik kemudian Sukma beranjak mendekati sebuah laci. dan mengambil anting yang kamu temukan. Di bawanya ke hadapan Alfandi. "Ini antingnya yang aku temukan itu."
Netra mata Alfandi tertuju pada barang tersebut. Seraya berpikir apa mungkin punya Vaula?
"Apa mungkin punyanya Vaula malam itu terjatuh?" gumamnya Alfandi dalam hati.
"Ini kan berlian dan mahal harganya, kata office dia gak mau mengakui. Jujur ya orangnya? lantas aku pikir kamu membeli untuk ku dan terjatuh sebelah!" Sukma menatap lekat pada sang suami.
"Nggak, aku tidak membelinya. Oya, apa mungkin punya Vaula yang terjatuh." Alfandi mengambil dan meneliti barang itu.
Degh.
Jantung Sukma seakan berhenti berdetak. Pikirannya langsung pada suami dan mantannya yang berduaan di kamar ini.
"Maksud mu, kalian berduaan di sini? kamu bilang kalian bertemu di restoran." Sukma menatap curiga dan suara yang bergetar, hatinya tiba-tiba terasa sakit dada begitu sesak.
"I-iya, kami ketemu di restoran dan ... waktu itu dia datang untuk membincangkan Fikri, ma-makanya ... dia datang ke sini." Alfandi agak gugup nada bicaranya.
Sukma semakin menatap curiga. "Kenapa harus di kamar hotel? kenapa nggak ngobrol di luar, di ballroom misalnya kan bisa. Kenapa mesti di kamar? kamu tahu! walaupun kalian tidak melakukan apapun, tetap saja akan menimbulkan fitnah. Contohnya aku, setidaknya hatiku merasa curiga!"
"Maaf sayang, bukan maksud aku kayak seperti itu. Aku sudah menolak dan aku bilang sudah capek aku mau istirahat dan lain saja, tapi dia memaksa dan menerobos masuk, karena aku tidak ingin ribut! yang terpaksa kami ngobrol sebentar di dalam." akunya Alfandi mukanya tampak sedikit pucat melihat kemarahan di wajah sang istri.
Walaupun ia tidak melakukan apapun, meski Vaula menggodanya! jadi merasa bersalah dan tidak enak hati jadinya.
"Di sini pasti ada cctv-nya kan? dan itu akan menjadi bukti jika kamu masukkan wanita lain di kamar ini. Meskipun kalian tidak melakukan apa-apa, tetap saja akan menimbulkan kecurigaan!" Sukma menundukkan wajahnya.
Seraya mengedipkan matanya, berusaha menghadang agar air mata tidak terjatuh. Karena dia yakin suaminya tidak akan pernah macam-macam, sekalipun dengan mantan istrinya.
Namun Sukma pun tidak akan memungkiri kalau hatinya terasa sakit, nyeri. Rasa sesak di dadanya bagai tertimpa beban yang begitu berat.
"Demi Tuhan aku tidak melakukan apapun karena hanya mengobrol dan--" Alfandi menggantungkan kalimatnya, dia merasa ragu kalau harus bilang bahwa waktu itu Vaula mau keluar kamar, tapi dia hampir terjatuh dan ia sempat menolongnya.
"Dan apa? kenapa nggak diteruskan, bicara aja yang sejujurnya. Lebih baik jujur sekalipun menyakitkan daripada bohong!" Sukma semakin penasaran dan kecurigaannya semakin besar.
Sejenak Alfandi terdiam dan mata menatap lekat pada wajah sang istri yang menunjukkan wajah curiga dan cemburu. Kemudian Alfandi menceritakan semua dari awal bertemu di restoran tersebut, hingga Vaula datang ke kamar dan membicarakan tentang Fikri.
Tidak ada yang ditutupi semuanya dia ceritakan, karena dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan sang istri apalagi kemarahannya.
"Gitu ceritanya dan nggak ada yang aku tutupi kok!" Alfandi mengakhiri ceritanya.
"Yakin cuma itu aja, dan semua sudah kamu ceritakan ke aku?" Sukma menyelidik dengan mata yang sedikit mendelik.
"Yakin Sayang, aku udah cerita semuanya dan itu yang terjadi nggak ada yang dilebihkan ataupun dikurangin!" Alfandi meyakinkan sang istri.
Sukma mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya menghela nafas dalam-dalam, rasa sesak di dadanya sedikit berkurang, dan dia percaya sama suaminya tersebut yang nggak mungkin macam-macam di belakangnya itu.
"Kamu harus percaya kalau aku tidak macam-macam, jangankan sekarang sudah punya istri kamu! dulu aja waktu hidupku terkatung-katung. Rumah tangga ku menggantung, aku gak pernah macam-macam! sama kamu aja aku nggak berani," Alfandi menyentuh tangan Sukma di elusnya dengan lembut lalu di ciumnya mesra.
"Aku, percaya sama kamu!" Sukma memeluk Alfandi dengan sangat erat.
"Makasih sayang, kamu sudah percaya pada ku." Alfandi semakin mengeratkan pelukannya.
...----------------...
Firza sedang beristirahat di sela-sela belajarnya. Dan melihat Excel dengan gadis seksi sehingga Firza mempunyai niat untuk berjalan mendekati.
"Mau kemana baby?" Puspa langsung beranjak dan menyusul Firza.
"Baby, kapan kita akan shoping?" tanya si cewek pada Excel yang sedang berdiri di sampingnya.
"Lain kali saja baby ... gampang. Lagian tidak usah di tanyain, kalau aku berniat kapan saja bisa!" jawabnya Excel yang Excel.
"Gimana kalau nanti malam kita dinner." Ajaknya si cewek. "Dan aku yang akan traktir!"
"Em ... gimana nanti saja lah. Oya. Aku ada urusan sebentar. Cuph!" Excel mencium pipi cewek nya lalu tugas untuk pergi meninggalkan tempat tersebut dan mendatangi parkiran. Di mana mobilnya terparkir cantik.
"Tapi sayang!" si cewek memekik.
Namun tidak dapat menghentikan langkahnya Excel. Dia terus mengajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Firza yang tadinya mendekat menjadi bengong melihat kepergian Excel yang tergesa-gesa.
"Kamu ini ngapain sih sayang?" suara Puspa yang menyusul Firza melihat ke arah mobilnya Excel.
Kemudian Firza mengalihkan pandangannya ke arah siswa tadi. setelah menghampirinya Firza berkata. "Kamu cowoknya Excel ya?"
"Iya, emangnya kenapa?" si cewek menatap dingin.
Lalu Firza di tarik oleh Puspa agar meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke kelasnya.
Selesai kuliah, seperti biasa Firza pun magang di mie bakso tempat ia mangkal.
"Mie bakso nya satu, Bang? pakai pedas saus sambal, dan jangan lupa ya bang satu lagi biar tambah nikmat--"
"Apa itu?" tanya Firza menatap penasaran.
"Itu, senyumnya. Biar tambah enak. He he he ..." sambungnya costumer sambil tersipu malu.
Firza hanya tersenyum tipis karena memang bawaannya dia seorang yang dingin.
"Ini sudah jadi dan selamat menikmati menjadi pelanggan tetap." Firza mengangguk serta membungkuk.
"Terima kasih ..." kata costumer sambil bersiap menikmati mie bakso nya.
Dari jauh terlihat Jihan sedang berjalan menuju ke kedai tersebut. Sejenak pandangan mata Firza tertuju pada gadis cantik berkerudung merah itu.
"Aku pesan satu ya? jangan lupa jangan pakai sambel, kalau masih ngerjain aku! awas ya aku viral kan biar kedai ini tidak laku lagi!" Jihan memesan sekaligus mengancam yang diancam bukan usahanya tapi orangnya yaitu Firza.
"Heleh ... kau itu mau pesan apa mau mengancam ku? berani-beraninya, viral kan saja kalau kamu mau. Aku juga bisa berbuat seperti itu! aku akan viral kan inilah cewek yang bego ... yang mau aja dibohongin sama cowok fackboy!" ujar Firza kamu yang tajam.
Bugh.
Jihan sedikit mendorong dada bagian kanannya Firza seraya menatap dingin kepada pemuda tersebut. "Maksud kamu apa sih? tiap-tiap bertemu, kamu selalu menjelekkan orang. Ada masalah apa sih lu sama Excel atau aku kayak orang dendam gitu?"
"Gue. Gue nggak ada masalah apa-apa! gue hanya kasian aja sama lu jangan sampai terlena pada rayuan gombal laki-laki semacam Excel. Dia itu fackboy ceweknya di mana-mana. Bahkan lebih cantik dan anggun, seksi. Kamu hanya dijadikan selingan dan kepuasannya saja." Jelasnya Firza.
"Jujur, gue kecewa sama lo, gue pikir lo memang cool orangnya! tapi ternyata mulut mu lemes juga, usil sama orang lain dan nggak suka melihat orang bahagia, gak senang melihat orang lain senang! ternyata orang yang selama ini gua kira pendiam, nyatanya kebalikannya!" Jihan menatap nanar bibirnya pun bergetar menahan tangis.
Firza mengatupkan bibirnya sambil menatap Jihan yang tampak ingin menangis, ekspresi wajahnya tampak marah dan kesal. Bibirnya bergetar, manik matanya berkaca-kaca ....
.
Bersambung.