Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Rahasia



"Aku akan urus segera perceraian kita! pakai baju mu? ku harap kau segera merubah hidup mu agar lebih baik, karena jalan yang sudah kau tempuh ini adalah jalan yang salah! seharusnya dulu kau minta cerai saja sama aku. Kalau memang kau mencintai orang lain! jangan seperti ini."


Kata-kata itu membuat Vaula tercengang tertegun dan mematung di tempat.


Kemudian Alfandi mengayunkan langkahnya! melangkah pergi dari sana dan juga mengajak orang-orangnya untuk meninggalkan tempat tersebut.


Dan berapa saat kemudian Vaula menyambar selimut dari tempat tidur untuk menutupi tubuh, lantas dia berlari menyusul pria yang baru saja melepas dia dari ikatan pernikahan.


Yudi terduduk lesu di tempat tidur, masih merasa bingung dengan adanya cctv dan terhubung di televisi yang sampai detik ini masih memutar.


"Fan-Fandi? tunggu?" suara Vaula sambil setengah berlari. Menghentikan langkah Alfandi.


Yang sudah berapa meter meninggalkan kamar yang menjadi saksi keluarnya kata-kata haram yang seharusnya tidak dia ucapkan.


"Aku mohon Fan, aku terima perceraian ini! tapi aku mohon biarlah kita yang tahu dan jadikan semua ini rahasia, dari keluargaku media dan juga anak-anakku! aku mohon?" Vaula menyatukan kedua tangannya di depan dada.


Kedua netra mata Alfandi menatap lekat dan intens ke arah Vaula yang sedang berdiri di hadapannya serta berbalut selimut.


"Sudahlah, jangan bahas ini lagi dan jangan buat dirimu lebih malu lagi dengan keadaan yang seperti itu. Karena soal itu ... lambat laun sekarang ataupun nanti! seluruh dunia akan tahu keburukanmu selama ini."


Alfandi melirik ke arah kedua kawannya dan juga pandangan yang menyisir ke area tempat tersebut yang ada berapa orang memperhatikan mereka.


Vaula pun mengedarkan pandangan ke sekitar tempat yang memang ada berapa bagian orang yang memperhatikan ke arah dirinya, yang mungkin merasa aneh karena dia berbalut selimut dan mereka terlihat saling berbisik.


"Oh iya, satu lagi! saat ini kau tidak pedulikan sama anak-anak, bahkan kau tidak tahu mereka di mana sekarang. Selama ini kau mengabaikannya bukan? jadi jangan salahkan mereka, jika mereka pun suatu saat nanti tidak peduli padamu."


Alfandi berbalik melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan tempat yang membuat hatinya menangis, pedih. Perih, dan juga menjadi saksi kalau biduk rumah tangganya itu berakhir di tempat ini.


Selama ini ia benar-benar dikhianati oleh istri yang sangat dia percaya dan dia cintai sebelumnya.


Vaula dibuat terpaku dengan ucapan Alfandi tentang anak-anak yang memang sudah dia abaikan atau kurang perhatian.


Selama ini dia hanya memanjakan mereka dengan barang-barang branded, mungkin sesuatu yang kurang dibutuhkan oleh kedua putranya tersebut.


"Fikri, Firza. Maafkan mama sayang? jika selama ini mama kurang perhatian pada kalian berdua." Gumamnya Vaula, hatinya mendadak sakit mengingat kedua putranya itu.


Tubuh Vaula mendadak lemes lantas luruh ke lantai. "Putra ku!"


Yudi segera datang dan membantunya untuk berdiri di ajaknya masuk ke dalam kamar.


Alfandi menghela nafas dalam-dalam sebelum menemui Rijal yang sejak tadi menunggu dan pertemuannya pun di cancel sementara waktu.


Hingga akhirnya Alfandi siap untuk melanjutkan pertemuan dan urusan di tempat tersebut pun berakhir selesai dan lancar.


"Kau itu dari mana sih? saya nunggu lama nih!" Rijal menoleh jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Sorry, ada urusan penting!" jawabnya Alfandi dengan ekspresi wajah yang datar.


"Apa nggak lihat? atau nggak dengar ponsel mu berbunyi gitu? berapa puluh kali aku panggil, aku chat! gak diangkat dijawab pun nggak ada," sambungnya Rijal.


"Iya sorry-sorry ... Oke kita pulang sekarang Alfandi beranjak dari duduknya dan meninggalkan tempatnya makan barusan.


Alfandi dan Rijal kembali ke penginapannya untuk mengambil semua barang-barang dia yang tersimpan di sana.


"Saya akan mengurus perceraian ku dengan Vaula." Tiba-tiba Alfandi berkata demikian.


Rijal yang sedang menyetir terkaget-kaget mendengar perkataan dari sahabatnya itu. "Cerai?"


"Iya, aku terpaksa melakukannya! sebab aku gak bisa menerima kenyataan ini." Lanjutnya Alfandi sembari duduk bersandar dan mendongakkan kepalanya.


Rijal hanya menoleh sesaat lalu kembali fokus ke depan kembali.


Suasana sepi tanpa suara penghuni mobil tersebut. Kecuali suara mesin mobil yang halus menjius ... melaju cepat. Bak anak panah terlepas dari busurnya.


Keduanya kini memilih untuk sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


...----------------...


"Ayo dong Mommy ... kita belanja yu?" rengek Fikri sedari tadi ingin belanja makanan.


Mereka semua sedang berada dan berkumpul di ruangan keluarga, seperti biasa! Fikri duduk tidak jauh dari mommy nya, Sukma.


Sementara Firza, duduk terpisah sendiri sambil tiduran dengan mata mengarah ke televisi.


"Sayang ... belanjanya sama bibi aja ya? Mommy malas keluar, sama pak Luky saja ya?" lirihnya Sukma sambil mengusap kepala Fikri yang merenggut.


"Gak mau berdua. Mau ramai-ramai!" Fikri menggeleng.


"Iya, kan ramai-ramai. Sama kak Wawan, kak Jihan juga kak Firza ajak belanja gih!" ucap Sukma kembali.


"Iya, kita jalan sore yu?" timpal Jihan menyambut perkataan sang kakak.


Sukma mengangguk. "Tuh kan ... sambil jalan-jalan kata kak Jihan juga. Tapi jangan jauh-jauh ya?" bujuk Sukma pada Fikri.


"Atu kita jajan nya ke warung yu? banyak jajanan kok di warung depan juga." Ajak Marwan.


"Nggak mau, pengen ke Alfamart. Yo, Mommy ... sama Mommy?" Fikri terus merajuk dan menarik-narik tangan Sukma.


Sukma menggaruk tengkuknya. Dan berkata. "Dengerin Mommy ya? Mommy mau beres-beres kali aja besok papa pulang dan mengajak kita liburan itu?"


Marwan melonjak. "Beneran, Kak? besok jadi?"


Sukma menggeleng. "Entah. Tergantung Abang, kan?"


"Ya ..." Marwan lesu.


"Helleh!" gumamnya Firza yang di tujukan kepada Marwan.


"Em ... nih ponselnya, Fikri saja yang telepon papa!" Sukma memberikan ponsel miliknya.


"Iih ... Mommy!" namun tak ayal Fikri mengambilnya dang langsung menelpon sang ayah.


Tetapi beberapa kali pun tidak di angkat sekalipun. "Nggak aktif, Mommy!"


Sukma menatap datar ke arah anak itu yang masih tampak kesal. "Em ... mungkin ponselnya lagi dicas atau papanya lagi sibuk! nanti saja Mommy telepon lagi ya?"


"Ayo dong belanja nya ih? bosen lagian makanan di kulkas bosen! pengen ke alfa Mommy ... ayo dong bilang sama pak supir!" Fikri lagi-lagi merengek.


Sembari menyimpan rasanya di saku. "Oke. Sekarang Mommy mau ke pak supir, agar mengajak kalian jalan-jalan!"


Jihan, Marwan dan Fikri yang menggandeng tangan Sukma. berjalan ke depan.


"Pak Luky. Tolong antarkan anak-anak ke alfa terdekat ya?" pinta Sukma pada Luky.


"Baik," Luky mengangguk hormat.


"Yo. Jalan?" Jihan dan Marwan duluan masuk.


"Mommy, uangnya mana? aku kan gak bawa uang! dari rumah." Fikri menadahkan tangan pada Sukma.


"Oh, iya. Bentar ya ..." Sukma merogoh sakunya dan memberikan nya pada Jihan, biar dia yang pegang.


"Jangan nakal ya, jangan macam-macam juga. Oya mana kak Firza? ajak dong." Sukma planga-plongo mencari keberadaan anak sambungnya yang satu lagi.


"Aku gak ikut, belikan saja!" suara Firza dari dekat pintu dan berdiri di sana.


"Ogah, kamu gak tahu apa yang kau suka!" pekik Marwan dari dalam mobil.


"Sayang masuk dulu, tunggu kak Firza nya di mobil ya?" Sukma menyuruh Fikri masuk duluan.


Sukma berjalan memasuki teras dimana Firza berada di dekat pintu. "Ikut gih ... temenin adek nya!" dengan tatapan dan tutur yang lembut.


"Nggak mau ahk malas." jawabnya Firza sambil melipatkan tangan di dada.


"Mau belanja gak?" tanya Sukma lagi.


"Ya mau lah, pengen ngemil juga." Lanjut Firza dengan nada ketus.


"Iya makanya ikut? kan biar jelas mau membeli apa!" tidak Sukma sambil berdiri di hadapan anak abg tersebut.


"Iih ... sudah ke bilang gak mau! gak mau ..." Firza dengan. nada ketusnya sambil cemberut.


"Ya sudah, kalau gak mau ikut. Pak Luky? jalan saja ya anak 3 saja yang pergi." Sukma menoleh pada pak Luky.


Firza menghentakkan kakinya, lalu berjalan mendekati mobil sambil ngedumel. "Mommy gimana sih? orang gak mau juga! di paksa-paksa."


"Kalau orang mau, ngapain di paksa soh!" Sukma mesem-mesem mendengar Firza ngedumel.


Namun setelah mau masuk ke dalam mobil, mengurungkan niatnya dan balik lagi menghampiri Sukma. Sambil cengar-cengir.


"He he he ... uang nya? dari rumah kemarin aku gak bawa uang." Firza membuka tangan.


Sukma terdiam karena di saku tinggal uang dua lembar lagi. Di belum ngambil di ATM dan itu pun tinggal sedikit lagi.


"Kan ada di Jihan. Uang nya!" kata Sukma.


"Kalau gak cukup gimana apa harus bon dulu gitu?" Firza kekeh pengen pegang sendiri.


"Ya sudah ... ini uangnya?" Sukma memberikan satu lembar uang warna merah pada Firza.


"Cepek ... gak cukup, Mommy! satu lagi?" Firza menolak uang yang satu lembar.


"Hem ... oke ini ku tambahin!" Sukma memberikan uang yang tinggal seratus lagi.


"Makasih Myh?" ucap Firza setelah mengantongi uangnya sambil pergi ke mobil yang sudah menunggu.


Dan anak-anak menggerutu. Gara-garanya Firza lama sekali alias mau pergi saja susah.


"Ya Allah ... pegang uang gede juga. Tetapi tetap saja cepat habisnya, ya Allah ... apa aku kurang bersyukur ya?" Sukma mendongak ke langit.


"Jangan khawatir, Non ... nanti juga di kirim lagi sama tuan." Bibi tersenyum pada Sukma.


"Tapi takutnya dikira boros, Bi ..." Sukma menoleh dengan perkataan yang lirih.


"Nggak akan seperti itu, Non ... apalagi kedua putranya sama, Non di sini. Tuan gak akan seperti itu." Sambung bi Lasmi lagi.


"Aku takut saja, Bi ... nanti dikira aku membeli yang tidak berfaedah lag!" Sukma membawa langkahnya ke dalam si ikuti oleh bi Lasmi.


"Bibi yang menjadi saksinya, Non!" bi Lasmi siap membela majikan dari suaminya.


Keduanya berada di dapur untuk menyiapkan buat makan malam. Tiba-tiba Sukma teringat sama suaminya yang katanya mau pulang sore ini, tapi gak ada kabar!


Malah di telepon sama Fikri pun tadi gak aktif. Sukma menatap layar ponselnya begitu anteng yang tidak ada panggilan ataupun chat.


"Mikirin apa, Non? kangen sama Tuan ya?" Bi Lasmi mengagetkan Sukma yang sedikit melamun ....


.


...Bersambung!...


Ayo dong mana like komen dan vote nya biar aku lebih semangat nih🙏