
Malam ini Sukma sedang berada di depan televisi, bersama kedua adiknya dan kedua anak sambungnya, yaitu Firza dan Fikri.
Selesai makan malam. Mereka berkumpul di ruang tengah sambil menonton. Fikri pun tidak sungkan tiduran di pangkuannya Sukma.
“Mommy-Mommy, aku mau berenang ahk. Temenin yu?” Fikri bangun dan berdiri sambil menarik tangan Sukma.
“Nah ... si manja mulai beraksi, yo sama Kak Wawan? aku juga mau berenang ahk,” Marwan pun beranjak dari duduknya.
“Ayo, tapi temenin. Sama Mommy juga temenin, lihatin gitu. Ayo Mommy? Ayo?” rajuk Fikri sambil menggoyangkan tangan Sukma.
Sukma menatap ke arah anak itu sambil tersenyum. “Oke, ayo Mommy temenin ... siapa yang mau ikut?” Sukma pun akhirnya beranjak dari duduk santainya tersebut.
“Aku juga mau ikut ahk, mau berenang juga. Ih tapi dingin gak ya?” Jihan pun berdiri merasa tergoda untuk ikut berenang.
“Kalau mau panas? mandinya di air panas sana? dijamin panas, Kak ... jangan di kolam renang, apalagi malam'malam,” timpalnya Marwan.
“Kalian boleh mandi,
tapi tidak boleh lama-lama ya? cukup tiga puluh menit saja sebab ini malam, takutnya kalian sakit.” Jelas nya Sukma.
Fikri dan Jihan juga Marwan, mengangguk tanda setuju dengan yang dikatakan oleh Sukma barusan.
Sementara Firza hanya diam mematung melihat televisi, yang lain pergi ke kolam renang pun dia santai aja di sofa depan televisi.
Fikri dan Marwan hanya
menyisakan celana pendek saja dan langsung nyemplung ke kolam renang, Jihan pun mengikuti keduanya, turun tanpa membuka pakaiannya terlebih dahulu.
Sukma hanya duduk di
pinggir kolam, memperhatikan ketiga nya yang tampak asik berenang di kolam tersebut, saling
siram dan saling dorong disertai dengan tertawa riang.
Firza yang berada di depan televisi, sesekali melihat ke arah luar. Dimana yang lain berenang dan terdengar ramai padahal cuma bertiga saja. Namun suaranya seperti lebih dari itu,
saking keluarnya suara dan ekspresinya masing-masing.
“Haduh ... berisik sekali
sih mereka? mereka pikir ini di hutan apa?” gumamnya Firza tampak kesal dengan
suara mereka bertiga. Dia berdiri dengan niat untuk menegur mereka agar tidak terlalu
berisik itu yang mengganggu gendang telinganya itu.
Namun ketika mau
membawa langkahnya ke belakang, ada suara dering handphone berbunyi. Dan Firza
celingukan mencari keberadaan handphone tersebut yang jelas-jelas bukan miliknya
karena dia tidak membawa apapun dari rumah.
“Ponsel siapa sih? bunyi terus?orang nya mana lagi,” setelah menemukan ponsel tersebut yang
tertindih di bawah bantal sofa, Firza mengambilnya dan mengamati barang itu
milik siapa?
“Milik ... ini, my
suami. Pasti ini papa yang telepon!” Firza hanya menatap layar tersebut dan melihat ke arah luar, mau di angkat tetapi merasa ragu.
Dia biarkan namun panggil lagi dan panggil lagi. Pada akhirnya Firza membawanya ke belakang.
“Mommy, ini ponsel mu
bukan? bunyi terus nih?” Firza memberikan ponsel tersebut pada Sukma yang sedang menatap kedatangan dirinya.
Sukma mengambil ponsel miliknya itu yang benar saja berdering, dirinya bengong. Apa gak salah dengan apa yang di dengar barusan? dimana Firza menyebut dirinya dengan sebutan mommy.
Namun tak ayal Sukma
langsung menerima panggilan dari suaminya itu.
^^^Sukma: “Halo? Iya ada apa?"^^^
^^^Alfandi: “Kok gitu, nanyanya sayang? Gak mau kah aku telpon hem?”^^^
^^^Sukma: “He he he ... bukan begitu.”^^^
Sukma berjalan menjauh dari tempat tersebut karena terlalu ribut dengan suara anak-anak yang begitu asyik bermain di kolam renang.
^^^Sukma: “ Ini sedang berada di dekat kolam renang, anak-anak mau merenung dan ingin aku temenin. Jadi aku duduk-duduk di dipinggir kolam.”^^^
^^^Alfandi: “Oh ... Fikri ya? Firza turun gak sayang? Jangan lama-lama, mandinya! malam nih sayang.”^^^
Sukma baru mau
membuka mulut dan bilang kalau Firza tidak turun, namun byurrrrrrr ... Firza nyemplung ke kolam renang, bergabung dengan Jihan, Marwan dan Fikri.
^^^Sukma: “Firza bru saja turun, iya aku sudah bilang kalau mandinya jangan lama-lama.”^^^
Alfandi: “Jadi ingin
^^^pulang nih, melihat mereka akur dan kangen sama mommy nya juga nih. Tetapi sayang banget! gak bisa pulang sekarang! Paling besok sore bisa pulangnya.”^^^
^^^Sukma: “ Ya tidak apa-apa, selesaikan aja dulu urusannya di sana. Nanti kalau sudah rampung pasti pulang juga kan? Di simpan saja dulu kangennya!”^^^
^^^Alfandi: “Nggak kangen kah sama suami mu ini sayang? Aku saja kangen sama istri ku yang ini, kangen banget. Berasa ingin memeluk hangat dan lain-lainnya.”^^^
^^^Sukma: “Em ... itu, aku ....”^^^
Sukma ingin sekali
mengatakan kalau dirinya pun merasa kangen pada sosok pria yang kini sedang
bicara dengannya lewat sambungan telepon tersebut.
Alfandi: ”Kenapa diam
^^^sayang? Yang ku dengar hanya suara anak-anak saja yang ribut, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu pada suamimu ini hem?”^^^
“Ayo ... Mommy pacaran
sama siapa? Ntar aku adukan sama papa ya ... kalau pulang.” Pekiknya Fikri dari tengah-tengah kolam.
Sukma menunjukan
senyumnya pada Fikri yang terlihat samar-samar, karena dalam keadaan malam dan
Sukma berdiri agak jauh dari sinar lampu.
“Ini papa Fikri, sayang.” Sukma membalas pelukan dari Fikri.
Alfandi: “Sayang ... kapan kau akan panggil aku dengan sebutan sayang? Fikri sudah dapat, masa
^^^papanya gak dapat sih?”^^^
^^^Sukma: “Em ...sudah dulu ya? aku harus bujuk mereka untuk naik!"^^^
Sukma pun menyimpan ponselnya setelah sambungan teleponnya terputus. Lalu menoleh pada seda anak-anak yang berada di tengah-tengah kolam.
"Anak-anak, sudah naik ah? terlalu lama nih ... nanti masuk angin." Sukma berjongkok di bibir kolam.
"Sebentar lagi Mommy ... masih betah nih." Fikri malah berenang semakin lincah.
"Papa marah lho ... sama mommy kalau sampai kalian sakit." Pekiknya Sukma kembali.
"Tapi masih asyik nih, Mommy." Kekeh Fikri.
Sementara Marwan dan Jihan sudah berada di pinggir kolam, di susul oleh Firza yang kini sudah di pinggir.
Sukma memberikan handuk pada ketiganya satu persatu. "Ayo, naik ya ... besok bisa di lanjut kembali."
Kedua netra nya Sukma mendapati Fikri sedang naik, namun entah kenapa, mungkin juga Fikri merasa bilang keseimbangan, sehingga gubrak ... guprak, byuarrrrr .....
Fikri terjatuh kembali ke dalam kolam yang kedalamannya lebih-lebih.
"Fikri?" teriak Sukma, dengan refleks Sukma melompat ke arah Fikri yang kepalanya timbul tenggelam.
Saking paniknya, Sukma melompat dan lupa kalau Fikri pun bisa berenang, Sukma buru-buru menangkap tubuh kecilnya Fikri yang langsung ia bawa ke pinggiran.
Di bantu oleh Firza dan Marwan menarik tubuh Fikri dari tangan Sukma.
"Fikri? bangun!" suara Marwan menatap cemas kepada Fikri.
"Fikri? bangun?" kini suara Firza yang memekik kuat, ketika melihat adiknya tergeletak begitu saja dengan menutup mata ....
.
.
...Bersambung!...