Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Selamat



Alfandi tampak gelisah dan was-was, tidak bisa membayangkan bila kalau kedua putranya itu kenapa-napa tadi dan sampai detik ini. Vaula belum juga menanyakan keberadaan anak-anaknya.


"Sungguh keterlaluan kamu, Vaula. Kau tidak perduli dengan kedua putra mu pulang menggunakan apa?" Alfandi langsung mengambil ponsel dan menelpon Vaula. Tapi beberapa kali pun tidak ada jawaban.


"Al." Sukma mendekati Alfandi yang mondar-mandor dan tampak gelisah itu.


"Sayang, aku tidak habis pikir. Kok bisa-bisanya dia tidak ingat sama anak sendiri. Gimana dengan keselamatan mereka!" Alfandi menggebu-gebu dan merasa kesal.


"Al, sabar? yang penting anak-anak sudah berada di rumah dengan selamat." Sukma memeluk sang suami dari belakang, mencoba untuk menenangkannya.


"Aku tidak bisa membayang, bila anak-anak--"


"Shutttt ... sudah, jangan berpikir buruk ahc. Syukuri saja yang ada! anak-anak selamat." Sukma memotong perkataan dari sang suami dan memposisikan dirinya berdiri di depan Alfandi. "Jangan berpikir yang tidak-tidak ya, hem?"


Alfandi menatap Sukma dengan tatapan lembut. "Makasih sayang! kau selalu menenangkan ku!"


Tangan Alfandi merangkul bahu sang istri lantas di peluknya dengan sangat erat.


"Sudah, jangan kepikiran yang tidak-tidak lagi ya?" suara Sukma dalam pelukan sang suami.


"Iya sayang," sahut Alfandi sambil memeluk erat dengan hati masih terasa was-was dan juga masih kepikiran anak-anak.


Hening!


Sementara waktu suasana begitu hening yang tidak ada suara ataupun pergerakan. Untuk beberapa saat keduanya terhanyut dalam pelukan.


Kemudian Alfandi mulai menggerakkan tubuhnya, melepas rangkulan dan memberi jarak antara mereka berdua. Di tatapnya dengan sangat lekat dan tatapan Alfandi mengarah pada satu titik di bagian wajah sang istri.


Kemudian dengan Alfandi mendekati dan mengecup bibir Sukma lembut. Pipi dan kening tak luput dari kecupan kecil Alfandi yang semakin menuntut.


Lanjut Alfandi membungkuk dan menggendong sang istri ala bridal style. Di bawanya ke tempat tidur yang ukuran luas itu, selanjutnya Alfandi mencumbu sang istri dengan lembut namun penuh dengan hasrat yang membara.


...___...


Vaula yang bertemu dengan Yudi. Sampai-sampai lupa pada kedua putranya yang entah dimana sekarang? dia malah masuk ke dalam sebuah kamar bersama kekasih nya tersebut.


Bukan tidak ingat sama kedua putranya, namun terlalu asik saja dengan kekasihnya tersebut. Sehingga mengesampingkan anak-anak dengan alasan, anak-anak pasti menunggu di mobil dan dia bersama sang kekasih paling lama satu jam saja.


"Aku kangen kamu beb. Banget-banget. Banget, mmmm ..." ucap Vaula dengan tatapan penuh hasrat.


"Apalagi aku sayang, aku sangat rindu dan berat menahan ini. Akhirnya aku sering berendam deh di bathub." Timpal Yudi sambil memeluk Vaula lantas menyeretnya ke tempat tidur.


"Kacian ... pedang mu akan tumpul bila tidak dibuat tajam, kaciannya ... singa ku kelaparan." Gumamnya Vaula sambil melirik dan meremas singa yang sudah tampak bangun dan merasa lapar, mencari mangsa.


"Oh ... kau nakal beb." De-sah Yudi sambil memejamkan kedua matanya.


"Tapi suka bukan? kau suka aku nakal begini bukan beb?" tambah Vaula sambil terus melancarkan aksinya.


"Suka sayang, suka." Yudi membelalakkan netra nya menahan nikmat yang tiada terkira.


"Ayo, beb. Kita lupakan sejenak semua masalah kita dan waktu yang sudah terlewati tanpa kebersamaan itu. Sekarang kita akan bersenang-senang." Vaula menarik pundak pria tersebut.


Dan Yudi pun mendorong bahu Vaula agar berbaring di tempat tidur yang bertilam seprei putih bersih.


Keduanya benar-benar sudah terhanyut dan terbiasa dengan yang mereka lakukan. Tidak perduli salah satu benar, yang mereka pikirkan hanya kenikmatan sesaat dan nikmati saja selagi bisa.


Hingga tengah malam mereka berdua bermain dan Vaula baru sadar kalau Fikri dan Firza menunggunya di mobil.


Putranya tidak berada di sana. Membuat dia menjadi cemas, was-was dan jantungnya berasa mau copot.


"Fikri? Firza ... dimana kalian berdua?" pekiknya Vaula sambil celingukan.


"Mungkin mereka pulang duluan dan ini pukul berapa? pasti sudah pulang beb." Kata Yudi yang bertelanjang dada. Karena kancing kemejanya masih terbuka.


Vaula mendatangi security dan menanyakan apa mereka melihat kedua anak laki-lakinya dengan ciri-ciri yang Vaula sebutkan.


Dan kata pak scurity anak laki-laki dengan ciri-ciri yang Vaula sebutkan itu memang tadi naik taksi dengan terburu-buru karena merasa ada yang mengintai.


Membuat hati Vaula tambah camas. Takut mereka kenapa-napa dan dia harus memastikan apakah mereka ada pulang dengan selamat ke tempat papanya?


"Tenang sayang. Aku yakin anak-anak baik-baik saja." Kata Yudi kembali.


Vaula mengambil ponsel dari tas nya dan melihat ada dua panggilan dari Alfandi yang tidak terjawab.


Kemudian Vaula telepon balik. Namun sia-sia, tidak ada yang angkat. Telepon nomor Fikri dan firza pun sama tidak ada satupun yang terima.


"Sayang ... ini jam berapa? mereka pasti sedang tidur! kau gak perlu cemas begitu, mereka pasti baik-baik saja. Come on santai dan percaya deh." Timpal Yudi sembari merangkul bahu Vaula yang tampak gelisah itu.


Yudi mengajak Vaula kembali ke dalam mall dan menuju kamarnya yang tadi. Karena belum chehk out juga.


Dan melanjutkan bersenang-senang nya di sana.


...___...


Sudah terdengar suara tarhim dari masjid terdekat dan jauh. Alfandi terbangun duluan dan menoleh ke Tah sang istri yang tampak masih lelap tidurnya.


Alfandi memiringkan tubuhnya dan kepalnya bertumpu pada siku tangan yang menyangga kepalanya itu menatapi wajah cantik sang istri yang keluar auranya bertambah cantik.


Tangan Alfandi bergerak dan jarinya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi kening sang istri, lalu di kecupnya dengan lembut nan mesra.


Sukma tetap terpejam dan tanpa bergerak sedikit pun. Lanjut pandangan nya pun turun ke bagian dada sang istri yang perlahan tangan Alfandi menarik dan menurunkan selimutnya. Lantas Tempak lah si kembar yang tampak lebih berisi itu.


Di tatapnya dengan seksama. "Apa iya, istri ku sedang hamil? karena melihat ciri-ciri di bagian dada tampak beda, seperti sedang hamil. Tapi ... dia pakai KB beberapa bulan lalu." Batinnya Alfandi.


Kemudian mengarahkan tangannya dan jemarinya menari-nari di salah satu si kembar itu. Lalu dengan nakalnya dia me***s** serta **r***s. Sehingga sang empu terbangun serta meremas rambut Alfandi dengan gemas.


"Em ... sedang apa sih? sudah mandi belum nih? sudah subuh juga." Gumamnya Sukma dengan suara yang parau dan tanpa membuka manik matanya yang terasa sangat sepet tersebut.


Alfandi mendongak dan memberikan kiss pagi di bibir sang istri.


"Em ... bau. belum sikat gigi. Belum mandi juga." Sukma kembali bersuara sambil mengusap bibirnya yang terasa lembab karena ulah Alfandi.


"Buka dulu matanya sayang?" pinta Alfandi sambil menepuk-nepuk pipi sang istri agar membuka manik matanya yang masih terpejam.


Perlahan Sukma membuka kedua manik matanya dan memicing melihat ke depan, dimana Alfandi tampak siap menerjang lawan dengan sebuah tombak yang siaga mengoyak pertahanan lawan.


"Aa--" sontak Sukma menutup mulutnya dengan lima jarinya, karena hampir saja dia menjerit. Melihat sebuah tombak yang siapa siaga menyerang.


Alfandi malah tersenyum melihat reaksi sang istri yang mata melotot dengan sangat sempurna dan mulut dibungkam sendiri. Namun matanya tidak berpaling dari titik lemah seorang Alfandi bila berhadapan dengan sang istri, sehingga tidak bisa menahan untuk menyerang ....


.


...Bersambung!...