
Firza nyelonong kembali mau ke kamarnya setelah bicara demikian. Sementara Fikri langsung memainkan iPad barunya dengan wajah sumringah.
"Papa?" pekik Fikri ketika melihat sang ayah muncul dari pintu utama.
"Hai kok belum tidur sih? udah malam nih," Alfandi langsung menghampiri Fikri dan mengacak rambutnya.
"Papa kok baru pulang? aku pikir mau mengi--" Fikri menggantungkan perkataannya ketika melihat meja yang menghentikan langkah dan menetap ke arah Fikri, dan tatapan sang ayah yang penuh arti.
Hampir saja Fikri keceplosan dan bilang menginap di rumah mommy. "Aku kira papa sudah pulang dan berada di kamar?" ralat anak itu dengan pintarnya mengalihkan maksudnya.
"Nggak, Papa baru pulang. Kalian kenapa belum tidur? sudah malam juga? besok sekolah, kesiangan gimana?" Alfandi duduk di dekat putranya.
"Pah, aku ada hadiah untuk mu!" Vaula memberikan sebuah kotak kecil dan panjang yang berisi dasi.
"Ooh, makasih! kapan kau pulang? sepertinya belum mendi? masih lusuh dan --"
"Memang aku belum mandi, tadi aku turun sore. Tapi kerena ada urusan jadi aku baru pulang sekarang." Vaula memotong perkataan dari Alfandi, suaminya.
"Oo!" Alfandi hanya bulatkan bibirnya. Alfandi memegang kotak panjang pemberian dari Vaula, istrinya itu.
"Ini barang-barang banyak banget, buat siapa?" tanya Alfandi ketika melihat barang-barang masih berserakan.
"Aku belikan buat anak-anak, tapi kayaknya mereka nggak suka deh. Terutama Firza, dia malah suka gitar katanya." Jawabnya Vaula sambil beranjak dari duduknya.
"Ooh ... maka dari itu tanya dulu anak-anak, suka apa nggak? sebelum membelinya, kan kalau mereka nggak suka itu mubazir! cuma membuang-buang uang saja." Sambungnya Alfandi.
"Ya, mana ku tahu? ya sudah bereskan aja semuanya? aku capek mau mandi dulu," ucap Vaula mendekati anak tangga.
Alfandi hanya menatap kepergian sang istri, lalu menoleh pada Fikri yang masih duduk di sampingnya.
"Sudah malam Fikri, bobo sana?" titah Alfandi pada putra bungsunya, Fikri. Mengingat waktu yang sudah malam.
Fikri celingukan melihat kanan dan kiri terutama ke arah sang Bunda yang sudah berada di tengah-tengah tangga. "Pah, boleh nggak? besok Fikri mau ke tempat mommy ya? mau nginep di sana?" suaranya Fikri pelan.
"Besok? kan sibuk sekolah Sayang, nanti aja kalau malam minggu atau hari libur!" sahutnya Alfandi.
"Yah ... Papa! orang dekat dari sekolah juga nggak boleh, Gimana kalau jauh? lebih jauh dari sini kali. Boleh ya Pah? boleh ya please?" anak itu menyatukan kedua tangannya di dada.
"Denger ya? kalau nginep! nanti Mama nyari, gimana? mau jawab apa? nggak mungkin kan berbohong, mau menginap di tempat tante Siska?" protes sang ayah.
"Ah Papa pelit, Fikri kan mau ketemu sama Mommy, mau dimanja sama mommy. Masa Papa mulu yang dimanja sama mommy?" anak itu tampak kesal. Kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan barang pemberian dari sang mamanya di sofa, lantas berlari ke kamarnya.
Sayup-sayup bibi mendengar Fikri menyebut-nyebut atau memanggil mommy, wanita yang sudah tidak muda itu mengerutkan keningnya. Siapakah yang dipanggil oleh Fikri mommy tersebut. Tapi dia nggak mau berpikir yang macam-macam, dia fokus dengan pekerjaan yang membereskan barang-barang yang Vaula bawa.
"Ya sudah, Bi. Saya naik dulu ya? sebaiknya kalian juga istirahat cepat, sudah malam. Sebaiknya lanjutkan beres-beresnya besok aja." Alfandi menatap tajam pada para asistennya.
Alfandi berdiri dengan membawa kotak panjang yang berisi dasi, lalu kemudian dia pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Baik, Tuan?" bibi dan asisten lainnya mengangguk hormat kepada Alfandi yang bergegas membawa langkah lebarnya menuju kamar.
Saat ini Alfandi sudah mulai memejamkan mata, rasa lelah membawanya dengan cepat untuk rehat.
Tiba-tiba Alfandi merasakan ada yang bergerak di atas dadanya dan lembab nya benda tipis yang menempel di pipi dan kening.
"Sejak kapan dia mau menyentuh ku?" batin Alfandi, lalu perlahan membuka dan memicingkan sebelah matanya.
Tampak di bawah sinar lampu tidur yang remang, Vaula duduk begitu dekat dengannya yang tengah berbaring. Mengenakan gaun malamnya yang tipis menerawang. Menunjukan senyumnya yang manis.
"Sayang, apa kau tidak ingin memeluk ku? apa kau tidak kangen pada ku?" suaranya Vaula sambil menatap lekat.
Sejenak Alfandi terdiam menatap datar sikap Vaula yang tiba-tiba aneh dari biasanya, biasanya juga sikapnya dingin dan cuek. Capek lah atau apalah, sekarang tampak manis.
"Ya sudah, berbaringlah?" pada akhirnya Alfandi bersuara juga.
Vaula berbaring lantas memeluk tubuh Alfandi dengan sangat erat. Jelas Alfandi bengong. Istrinya berubah sampai 89%, Vaula mendongak.
"Kok gak balas peluk sih?" semakin mengeratkan pelukannya itu. Lalu bibirnya mengecup bibir Alfandi singkat.
Kecupan itu dirasakan Alfandi saat ini begitu hambar. Tidak semanis dulu dan ia merasa hanyalah kamuflase doang.
Perlahan tangan Alfandi membalas pelukan sang istri, lalu kembali memejamkan kedua matanya yang memang terasa lelah.
Vaula menatap wajah suaminya yang sudah terpejam kembali itu. Gara-gara tadi dia tidak tuntas melakukannya dangan Yudi. Di sebabkan rasa was-was dan gak mungkin juga meneruskannya di hadapan Rosa yang jelas-jelas sudah menangkap basah dirinya dan Yudi, membuat Vaula merasakan dampaknya. Yaitu buntut dari hasratnya itu ingin dia lepaskan saat ini.
"Si Rosa tidak akan bisa memberi bukti pada suami ku ini tentang perselingkuhan ku dengan Yudi. karena kalau cuma mendengar omongan saja. Fandi tidak akan percaya begitu saja." Gumamnya dalam hati Vaula sembari menatap ke arah sang suami.
Namun hasilnya nihil. Bisanya biarpun lelah, mata ngantuk itu suka kalah bila macan tak bertaring itu bangun dan meronta ingin keluar dari kandangnya. Tetapi kali ini tidak. Macan tanpa taring tersebut tetap saja begitu tenang dalam kandangnya.
"Hem ... ngantuk, Mah!" gumamnya Alfandi tanpa membuka matanya.
Mendengar perkataan seperti itu. Vaula langsung cemberut dan merubah posisi tidurnya memunggungi Alfandi.
Alfandi yang ngantuk berat tidak perduli. Dengan Vaula, terserah maunya apa?
"Dasar, tidak pandai menggoda apalagi memuaskan istri! monoton. Letoi tidak bergairah. Aku gak mau! dianya minta! pas aku siap? dia dingin! aneh?" batinnya Vaula sambil gebag-gedebuk tak beraturan, sampai akhirnya kedua manik matanya terpejam juga.
Malam berasa begitu cepat Sehingga tidur pun terasa singkat. Menjelang subuh Alfandi sudah terbangun dan membersihkan diri dan sebelum memakai pakaian kerja nya dia menunaikan dulu kewajibannya.
Sejenak melamun sambil tersenyum sendiri. Mengingat Sukma yang ngomel masalah hak dan kewajiban seorang muslim, seorang ayah! hendaknya memberi contoh pada anak-anak.
Kaki Alfandi dengan spontan membawa langkahnya menuju kamar Fikri untuk mengajak sholat bersama. Fikri tidak susah di bangunkan nya, lain dengan Firza yang begitu malas bangun. Namun pada akhirnya bangun juga atas paksaan sang ayah.
Biarpun tidak mengenakan sarung dan peci. Mereka tetap di tuntut untuk mengerjakannya walau dengan celana panjang atau celana pendek di bawah lutut.
Selepas salam dan membaca doa yang kedua putranya Aamiin kan. Alfandi langsung menyalami kedua putranya tersebut.
Firza bertanya pada sang ayah. "Kenapa sih masih pagi buta begini sudah dibangunkan? masih ngantuk nih?"
"Kakak, kata mommy juga salat itu wajib hukumnya bagi umat muslim. Seharusnya kita laksanakan setiap waktunya." Dengan pintarnya Fikri berucap demikian seperti yang dia dengar.
"Kenapa sih apa-apa bilang kata mommy? gak ada kata lain apa?" Firza menoleh pada sang adik dengan nada ketus.
"Emang kenapa, Kak? memang mommy yang bilang begitu kok sama aku, apa pernah Mama bilang seperti itu? tidak. Yang ada mama gak perduli dengan apa yang kita lakukan bukan?" Jawabnya Fikri menatap lekat pada kakaknya tersebut.
Kedua netra Alfandi menoleh pada kedua putranya bergantian. "Seharusnya ... Papa lah yang mendidik kalian dari lama. Mengajak kalian banyak belajar soal agama. Sebab Papa lah yang akan bertanggung jawab atas kalian berdua."
Firza dan Fikri tidak menjawab, Hanya menguap tampak masih mengantuk.
"Ya, sudah ... kalau kalian masih mengantuk. Tidur aja lagi, masih ada waktu sebelum bersiap ke sekolah." Alfandi berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.
Kakak beradik itu pun beranjak ke kamarnya masing-masing.
Alfandi sudah berada di kamarnya dan langsung mengenakan pakaian formal buat bekerja. Namun dari belakang tangan Vaula memeluk Alfandi dengan semerbak wangi sabun mandi dan aroma terapi.
"Papa sayang, semalam kenapa gak mau nih? padahal aku sudah siap banget lho." Cuph! mengecup pundak Alfandi. Vaula mencoba menggoda Alfandi dengan cara berganti pakaian di hadapan pria tersebut.
Netra Alfandi tak terelakan menatap intens ke arah sang istri yang sengaja menurunkan bathrobe nya di depan mata, mengenakan seluruh pakaiannya.
Kemudian Alfandi mengalihkan pandangannya pada jam tangan yang masih tergeletak di laci.
"Iih, najis. Makin dingin saja nih orang, bikin ilpil. Apa balas dendam kali ya? jual mahal gitu! sebab sering aku abaikan!" manik mata Vaula menatap ke arah Alfandi yang tampak cuek padanya.
"Awas ya? kalau minta aku tolak mentah-mentah juga. Aku akan menggoda mu nanti tapi tidak akan pernah aku kasih. Kebiasaan!" Batin Vaula kembali.
Alfandi keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Vaula yang sedang berdandan di depan cermin.
"Benar-benar ya si Fandi. Balas dendam karena selama ini aku cuek kan, ha! emangnya aku akan memohon-mohon apa? gak bakalan, sorry ya? aku punya yang lebih jreng dari kamu Fandi. Emang cuma kamu laki-laki di dunia ini apa?" Vaula bermonolog sendiri di depan kaca rias.
"Lihat saja kau akan tersiksa dengan kelakuan mu sendiri." Gumamnya Alfandi dengan penuh kekesalan.
Kini Alfandi dan kedua putranya sedang menikmati sarapannya dengan lahap. Sementara Alfandi belum turun buat sarapan.
"Pah, boleh ya? nanti Fikri ke rumah mom--"
"Eh ... sudah sarapan ya? putra Mama sudah pada sarapan?" suara Vaula menghentikan kalimat yang Fikri utarakan.
Kemudian Vaula meneguk minumnya. Lalu pamitan untuk pergi duluan. "Mama pergi duluan ya? dah ...."
Alfandi dan kedua putranya hanya terdiam sembari melanjutkan sarapannya ....
.
...Bersambung!...
.
Mana nih dukungan nya? biar aku tambah semangat nih!