
"Untung enggak berdarah hati-hati dong ... makannya! ikan yang begini kan banyak durinya," ucapnya Sukma sambil melepaskan jari Alfandi.
Alfandi tidak menjawab, sorot matanya terus melihat ke arah Sukma yang kembali melanjutkan makannya.
"Ehem, Om Jangan bengong! nanti kesambet tetangga he he he ..." gumamnya Marwan yang di tunjukan kepada Alfandi.
"Gimana, Om. Enak kan makannya?" tanya Jihan pada Alfandi yang sesekali melihat ke arah Sukma.
"Iya, Alhamdulillah sekali," jawabnya Afandi sambil menghabiskan makanan di piringnya.
"Om, sebenarnya kita mau pindah kemana? tapi nggak mau bikin kak Sukma repot dengan harus membayarnya?" Marwan kata-katanya dengan ada serius, tidak seperti perkataan ABG biasanya.
"Saya mengajak kalian pindah ke sebuah rumah, itu milik saya yang letaknya tidak jauh dari sekolahan kalian berdua! daripada kalian di sini ngontrak, mendingan tinggal di sana daripada kosong jawabnya Alfandi.
"Berarti dekat dong ... sama sekolahan ku?" tanya Jihan mengarahkan tatapannya kepada pria dewasa tersebut.
"Iya, kalau naik angkutan sih satu kali naik, kalau mau jalan juga dekat!" sahutnya Alfandi sembari mengangguk.
"Aku sih setuju, Om. Pindah dari sini, soalnya sekarang di sini menjadi risih--"
"Kenapa?" Alfandi memotongnya perkataan dari Marwan.
"Gimana nggak risih, Om. Hampir setiap malam suka ada pemuda-pemuda yang kurang kerjaan menggoda kak Sukma. Kalau kakak gak keluar? mereka terus bikin rusuh di luar." Jihan dengan cepat mendahului Marwan yang sudah menganga mulutnya untuk bicara.
"Pemuda kurang kerjaan? berandalan maksudnya?" Alfandi terheran-heran, karena perasaan setiap dia ke datang ke sini tak pernah menemukan pemuda-pemuda tersebut.
"Beneran, Om. Biarpun Kakak nggak keluar, mereka selalu bikin rusuh di luar. Gangguin orang-orang tidur, kalau kak Sukma keluar? baru deh mereka sunyi, sepi. Tapi tetap saja mereka menggoda begitu."
"Kadang mereka bau alkohol gitu, Om," timpalnya Jihan menambahkan perkataan dari Marwan.
Alfandi menoleh ke arah Sukma yang sedang mencuci bekas makan, di depan wastatafel. Lalu kembali memandangi kedua adiknya itu dengan lekat.
"Tapi setiap, Om ke sini tidak pernah melihat pemuda-pemuda berkumpul atau nongkrong gitu?" Alfandi merasa heran.
"Sepertinya bukan orang dekat sini deh Om, kaya orang jauh gitu. Lagian kan Om sekarang jarang malam-malam ke sini," tambahnya Marwan.
"Kalau enggak percaya? tungguin aja deh, sebentar lagi pasti mereka datang." Jihan kembali menambahkan perkataan dari Marwan adiknya.
"Iya benar tungguin aja deh." Tambah Marwan sambil membuka buku pelajarannya.
Sukma yang beres-beres bekas makannya. Hanya menyimak obrolan adik-adiknya dengan Alfandi. Sukma memperhatikan pria itu yang juga kadang melihat ke arah dirinya.
Benar saja tidak lama dari obrolan Jihan, Marwan dan Arfandi. Datang segerombolan motor dengan suara yang berebet-berebet tidak jelas yang harus didengarnya, terlalu riuh dan menyakiti telinga yang mendengarnya.
Dan para pemuda yang bermotor tersebut berkumpul di terasnya kontrakan Sukma. Dengan gaya urakan nya masing-masing.
Semua mata memandang ke arah luar melalui jendela yang dibiarkan terbuka. Termasuk dengan netra nya Alfandi yang menatap tajam, hatinya berasa panas mendengar calon istri di godain orang.
"Emangnya, warga di sini gak mengusir mereka apa?" Alfandi heran seraya melirik ke arah Sukma yang baru saja duduk diantara mereka bertiga.
"Sudah, warga di sini sudah sering mengusir mereka, namun mereka malah mengancam gitu! kalau warga mengganggu mereka, mereka tidak akan segan-segan berbuat sesuatu yang tidak diinginkan," jawabnya Sukma dengan pelan.
"Terus, maunya apa? mereka itu," tanya Alfandi kepada Sukma.
"Nggak tahu," Sukma menggeleng kepalanya sambil mengikat rambut di atas, kuncir buntut kuda.
"Menurut kami sih, mereka cuman ingin menggoda Kak Sukma, Om, nah dengarkan?" Marwan sembari memasang telinganya.
"Neng Sukma? sini dong temani abang?" suara pekikan seorang pemuda dari luar.
"Iya nih, Neng Sukma yang cantik dan manis, temani kang Mas ini."
"Temenin kakang! Neng Sukma bahenol, kita ngobrol di sini lihat nih Mas bawakan buah-buahan."
"Saya bawa kue nih buat ayang Sukma," suara pemuda-pemuda yang di luar itu saling bergantian. Bahkan tak ayal mengintip dari jendela.
"Kalau mereka bawa seperti makanan dan buah-buahan apa suka kalian ambil?" tanya Alfandi begitu serius menatap ke arah Sukma.
Jangankan Sukma, Jihan dan Marwan pun menggelengkan kepalanya memberi jawaban tidak.
"Terus yang mereka bawa itu suka dikemanakan?" Alfandi kembali bertanya.
"Kalau nggak mereka bawa kembali, Om. Besoknya suka diambil sama tetangga lain, kalau kami sih termasuk kak Mimy nggak mau mengambilnya," kata Jihan dengan jelas.
"Ooh begitu." Hati Alfandi sedikit lega, dia pikir pemberian dari mereka itu, suka Sukma atau adiknya ambil?
Alfandi beranjak dari duduknya, untuk menghampiri mereka.
"Mau kemana, Om? hati-hati ya? takut!" Marwan bertanya pada Alfandi yang berjalan mendekati pintu.
"Kalian tunggu di sana! biar saya yang urus mereka." Alfandi membuka pintu dan menghirup mereka, entah apa yang mereka obrolkan sehingga pemuda-pemuda tersebut tidak lama tunggang langgang.
Terlihat Alfandi tersenyum melihat kepergian mereka yang ngibrit dengan motornya masing-masing.
Para tetangga yang keluar pun tampak berterima kasih pada Alfandi yang telah mengusir mereka tanpa ada keributan sedikitpun.
Sepersekian detik kemudian, Alfandi kembali masuk lantas berpamitan pada Sukma.
"Nanti kalau mereka kembali lagi, bilang saja sama saya, telepon saya," kata Alfandi pada Sukma.
"Telepon pakai apa, Om. Kan, kak Sukma nggak punya ponsel," ungkap Marwan dengan cepat pada Alfandi.
"Ooh, iya lupa. Ya ... mudah-mudahan aja mereka nggak kembali lagi ya? oke! sekarang saya pulang dulu dan besok pagi-pagi, balik lagi ke sini, kalian semua harus sudah siap ya?" pintanya Alfandi.
"Iya, insya Allah." Sukma pun mengangguk.
Setelah bersalaman dengan Jihan dan Marwan, Alfandi bergegas pergi menghampiri mobilnya.
Sukma menatap punggungnya pria tersebut dari ambang pintu. Dia berdiri di sana sambil menunggu Alfandi menghilang dari pandangannya.
Lalu manik matanya Sukma melihat ke arah kontrakan Mimy, yang tampak kosong dan memang belum juga pulang. "Ck, kemana sih anak itu? kok belum pulang sih? tapi masih sore sih," gumamnya Sukma.
"Kita semua sudah tahu kebaikan si om Alfandi kepada kita, kalau saja dia ingin lebih meresmikan hubungannya dengan Kakak. Kami setuju saja, biar dia lebih jelas dalam berbuat baik kepada kita!" Marwan menatap kepada sang kakak yang baru saja mendudukkan dirinya di tempat semula.
Sukma menatap anak itu, perkataannya bukan seperti anak kecil lagi. Nama seperti orang yang sudah dewasa saja.
"Kami ingin Kak Sukma bahagia dan tidak terlalu banting tulang untuk kami berdua, karena Kakak juga harus mengejar cita-cita juga. Kami yakin kalau Om Alfandi akan mewujudkan keinginan Kakak dengan cara melanjutkan kuliah Kakak." kini Jihan yang berkata sedemikian.
Sukma menghela nafas berat. Lalu merangkul kedua adiknya dan mencium pipinya bergantian, hatinya merasa haru mendengar perkataan mereka berdua.
"Seandainya ... Kakak menikah sama Om Alfandi, nggak pa-pa kan?" tanya Sukma kepada adik-adiknya yang berada dalam rangkulannya itu.
"Kami setuju, Kak. Dan kami percaya Kakak akan kuat menghadapi semuanya, walaupun kami tahu om Alfandi punya anak dan istri, dan menikahinya akan menghadapi resiko!" kata Jihan sambil memegang tangan kakaknya itu.
"Om Alfandi sudah punya istri dan punya anak, tapi beliau begitu baik sama kita bertiga!" sambungnya Marwan.
"Iya kakak tahu itu. Dan Kakak sedang memikirkan gimana baiknya. Kakak juga nggak mungkin tidak tahu balas budi sama Pak Alfandi, ya sudah! sekarang kalian salat isya ... terus tidur, biar besok! kalian tidak kesiangan." Perintah Sukma kepada kedua adiknya itu.
"Iya Kak," jawab keduanya sambil beranjak dari tempat tersebut.
Malam semakin larut kedua adik-adik Sukma sudah tertidur dengan lelap, untuk menyambut pagi dan insya Allah lebih indah dari sebelumnya.
Namun tidak dengan Sukma, sampai tengah malam dia masih terjaga dia masih memikirkan keputusan yang akan dia buat, konsekuensinya yang harus dihadapi nantinya.
"Ya Allah ... kuat kan aku?" gumamnya Sukma sembari mendongak ke langit-langit.
Kalau dia menikah dengan Alfandi predikat istri muda akan melekat, bahkan perebut suami orang pun akan menjadi sebutan pada dirinya.
Dan juga perempuan pengincar harta, mungkin akan terdengar dan akan mengganggu pikiran dan hatinya nanti.
"Ah masa bodoh lah, yang penting niatku semuanya bukan karena itu! aku mau menjadi istrinya sebagai balas budi atas kebaikannya kepadaku dan juga adik-adikku, soal harta yang nantinya akan mengalir?.itu wajar lah, orang gue udah jadi istrinya," Sukma bermonolog sendiri sambil duduk bersandar di bawah tempat tidur.
Lama-kelamaan kantuk pun menyerang membuat Sukma menurunkan tubuhnya, berbaring di sampingnya Jihan. Lalu memejamkan kedua matanya diiringi dengan bibir yang komat-kamit pembaca doa.
Keesokan harinya. Kebetulan hari Sabtu. Dan tanggal merah juga sehingga sekolah pun libur, Sukma, Jihan dan Marwan mengeluarkan semua tas ransel dan dua dus yang berisi magic com, piring. Kompor dan peralatan dapur lainnya.
Kalau lemari, tempat tidur dan rak sepatu masih di dalam. Belum dikluarkn karena berat.
Mimy kaget melihat Sukma dan adik-adiknya sudah berkemas, dia langsung menghampiri Sukma dan kedua adiknya.
"Ma, lu mau ke mana sih? pagi-pagi gini? mau pindahan! pindahan ke mana? di sini nggak sudah enak, Ma ... ngapain lu pindah segala?.sementara lu juga gak kerja?" cecar Mimy menatap ke arah Sukma.
"Gue mau pindah! tapi pindahnya kemana? gue belum tahu, karena pak Alfandi yang mengajak gue! lu ke mana saja sih? dari semalam gue gak ketemu lu?" balasnya Sukma kepada Mimy.
"Gue semalam, jalan sama si Beben, kok cepet gini sih? gue nggak ngerti deh, ngapain lu pindah? kan baru kemarin bayar kontrakan setengah bulan ini bukan? masih ada waktu, lagian lu itu belum dapat kerjaan." Tambah Mimy kebingungan sendiri.
"My ... dengerin gue? gue sangat berterima kasih sama lu, My. Dan gue sebenarnya nggak mau pindah juga dari sini, karena gue nggak tahu harus ke mana? tinggal di mana? jauh dari lu yang sudah gue anggap saudara!" Sukma menjeda perkatannya.
"Terus?" Mimy menatap heran pada Sukma.
"Maksud gue, ini pak Alfandi yang minta untuk kita pindah dari sini, lu nggak kerja kan My? ikut gue ya sekarang?" Sukma memegang tangan Mimy dengan tatapan lekat.
"Iya, gue ikut lu, Ma ... gue penasaran, apa lu akan dibawanya ke istana? singgasana cinta!" Mimy mengangguk sambil mesem.
"My, kayaknya gue mau nikah sama dia, My--"
"Apa? lu mau nikah sama dia? asli? beneran? serius dan Nggak bohong kan?" Mimy begitu antusias mendengar berita itu.
"Shutttt ... nanti kedengaran orang!" Sukma celingukan takut ada yang mendengar.
"Kapan?" tanya Mimy di dibuat penasaran.
"Nggak tahu, gue belum jawab," sahutnya Sukma sembari menunjukan gigi putihnya yang berbaris rapi.
Mimy menepuk jidatnya. "Cielah ... kirain gue sudah pasti, ternyata belum menjawab! ah gak asik akh ...."
"Gue kan harus mikir-mikir dulu, soalnya ... banyak konsekuensinya. Seperti yang kau tahu dia beristri punya anak! gue mau menikahinya karena gue ... itung-itung balas Budi--"
"Tapi yakin gue, lu juga emang suka kan sama pria itu! hayo ... ngaku sama gue?" Mimy menunjuk ke arah Sukma.
"Apaan sih? buat balas budi," elak Sukma seraya tersipu malu.
Sekitar pukul 07.00 Alfandi sudah datang dengan mobil BMW nya.
Marwan begitu terkagum-kagum dengan roda empat milik Alfandi yang selalu berganti-ganti. "Om, mobilnya kok banyak banget sih? tiap ke sini pasti ganti-ganti."
"Nggak juga, lagi pengen ganti saja," akunya Alfandi sambil tersenyum.
"Kalian liburkan sekolah hari ini ya siapanya alfani pada Marwan, lalu berjalan memasuki rumah kontrakan Sukma.
"iya libur, Om. Fikri kenapa nggak diajak?" ungkap Marwan.
"Maunya sih gitu, diajak ... tapi takut dicuekin Marwan ah, ha ha ha ..." Alfandi ketawa lucu sendiri.
"Ih ...nsi Om jahat banget, sama aku! justru merasa senang berasa punya adik gitu," jawabnya Marwan.
"Itu gampang, nanti, Om. Suruh dia datang dianterin sopir," balasnya Alfandi seraya merangkul bahu anak itu.
"Oke, beneran ya Om!" Marwan mengangguk setuju.
"Iya ... tinggal telepon saja nanti. Oh ya, gimana sudah siap semuanya? sebentar lagi mobil akan datang untuk mengangkut tempat tidur dan lemari, kira-kira nggak ada yang ketinggalan?" Alfandi mengedarkan pandangannya pada Sukma.
"Nggak, semuanya sudah diberesin, cuma ... aku belum apa My?" Sukma melirik pada Mimy.
"Mana ku tahu," Mimy malah menggoyangkan bahunya.
"Itu, belum pamitan sama ibu kos, kamu aja ya My, yang bilangnya sama dia, terima kasih karena sudah mau menampung ku Di sini--"
"Enak saja menampung? bayar!nampung itu nggak bayar, ini kan bayar. Iya nanti gue sampaikan pada ibu kos." timpalnya Mimy kepada Sukma.
"Pak Al, emangnya mau ke mana sih? mau dibayang kemana sahabatku ini? sudah-sudah tinggal di sini?" Mimy kini menatap pada Alfandi dan penasaran mau diajak kemana sahabatnya ini?
"Ada rumah saya yang kosong, daripada mereka kontrak? mendingan dia mengisi di sana, lagian dekat juga sama sekolahan anak-anak gak terlalu jauh lah, dibandingkan dati sini." Jawabnya Alfandi.
"Di sana ngantrak juga?" selidik Mimy sambil terus memandangi ke arah Alfandi.
"Ha ha ha ... ya enggak lah My ... nggak bayar, oh ya Mimy. Kalau kamu mau? saya akan siapin kamar untukmu di sana, tawar Alfandi penuh dengan nada serius.
"Ya ampun ...nserius? beneran? nggak bohong kan? nggak tawar warung bukan?" Mimy kaget ditawari Alfandi tuk tinggal di rumahnya juga.
Sukma bengong, melihat Alfandi yang begitu baik. Bukan cuma pada dirinya dan adik-adiknya tetapi juga pada sahabatnya itu Mimy.
"Kalau kamu mau? saya persiapkan kamar buat kamu di sana," Alfandi mengangguk dan meyakinkan Mimy.
"Nggak harus bayar listrik kan? nggak harus juga bayar makan gitu? bayar air mungkin?" sambung Mimy mencecar sambil menggerak-gerakan tangannya.
"Nggak-nggak, saya pungut biaya sedikitpun, My ...."
"Ya ampun ... baik banget Pak, ya Allah ... mimpi apa gue semalam? ditawari tinggal di rumah dengan gratis," gumamnya Mimy.
"Ini kenyataan Mimy ... bukan mimpi," timpalnya Sukma sembari mencubit pipinya Mimy.
"Iya gue tahu, ini bukan mimpi. Makanya gue sakit nih di cubit sama lu,"ketusnya Mimy. "Tapi ngomong-ngomong, rumahnya besar apa kecil?"
"Rumahnya kecil, cukup untuk berdua saja," jawabnya Alfandi sembari tersenyum bercanda.
"Idih ... sama juga bohong," mimy memutar bola matanya dengan jengah.
Mobil untuk mengangkut barang pun sudah datang, supir dan kawannya mengeluarkan tempat tidur dan lemari dari rumah itu. juga tas dan barang lainnya diangkut ke mobil tersebut.
"Kalian semua ikut ke mobil saya?" titah nya Alfandi kepada Sukma dan yang lainnya.
"Sebentar? aku mau pamit dulu sama tetangga yang paling dekat." Pintanya Sukma pada Alfandi dan Alfandi pun langsung mengangguk mengiyakan permintaan dari Sukma ....
.
...Bersambung!...