Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Ikan di ajak ngomong



Firza menyembunyikan wajahnya di atas lutut yang dibanjiri dengan air mata, biarpun dia anak laki-laki yang harusnya kuat dan tegar. Namun tetap saja dalam keadaan seperti ini dia tidak bisa setegar ataupun sedingin sikap yang biasanya.


Dia benar-benar kecewa dengan keadaan ini, dimana papanya menikah lagi dan mamanya nyata-nyata sungguh, bikin mengiris hati.


"Hik hik hik, kenapa Mama tega berbuat seperti itu? mungkin ini yang membuat mu berubah! tidak lagi sehangat dan perhatian seperti dulu, seolah kasih sayang menyusut terkikis oleh perasaan mu yang tak lagi setia, kini tiada ... tidak tiada lagi Ibu yang dapat kami banggakan!"


Setelah beberapa saat Firza memeluk lutut, dan meratapi nasibnya di sana. Lantas Firza berdiri tegak dan lagi-lagi tangannya mengusap wajah yang basah, lalu dia mengayunkan langkahnya dengan cepat menuju jalan raya. Meninggalkan tempat yang sudah menggambar sesuatu yang buruk di memorinya.


Sebelum naik Bus, netra nya Firza melihat Rosa yang keluar dari mobil sang bunda. Dengan kebetulan Rosa pun melihat ke arah anak itu, sejenak mereka saling bertatapan dengan tatapan datar dan dingin.


Kemudian Firza masuk ke dalam Bus yang berhenti di depannya nya itu.


Rosa terdiam sejenak. "Apa anak itu dari mamanya? kok tiba-tiba ada di are sini sih? kalau are kantor sih wajar. Ini area studio yang seharusnya tidak terjangkau olehnya." Gumamnya Rosa lalu menaikan bahunya masa bodo.


Lanjut Rosa mengayunkan langkahnya, berjalan memasuki gedung tersebut dan mendatangi bos nya yang berada di studio. Selama di dalam lift, pikirannya berkecamuk. Apa yang dilakukan oleh Vaula dan Yudi selama ia tinggalkan.


Akhirnya Rossa tiba juga di depan studio milik Yudi.


"Permisi ..." Rosa mendorong handle pintu dan tampak Vaula sedang berdandan, mempersiapkan dirinya untuk pemotretan.


"Lama amat sih? macet apa?" tanya Vaula seraya melirik ke arah Rosa dengan agak ketus.


"Dari sini aja butuh jalan keluar, dari luar. Harus jalan ke mobil lalu jalan lagi ke kantor balik lagi, wajarlah kalau lama," jawabnya Rosa sebenarnya.


"Lasan! Mana baju saya?" pinta Vaula sambil menyodorkan tangannya meminta baju yang Rosa ambilkan barusan.


"Ini bajunya!" maniknya Rosa tidak sengaja mendapati berapa tanda merah yang masih baru, di bagian leher Vaula yang mungkin belum tersamarkan oleh make up nya.


"Lagian lama juga, bukankah sesuatu yang istimewa bagi kalian untuk bercinta? menyalurkan hasrat kalian yang terlarang itu? sekarang mungkin sekarang kalian tenang-tenang saja! tapi nanti lihatlah pembalasannya, kalian pikir video itu sudah hilang? terhapuskan? tidak, bukti itu masih ada di memoriku," batinnya Rosa sambil melamun.


"Kenapa kau diam seperti itu? sedang mikirin sesuatu?" tanya Vaula menatap curiga.


Rosa menoleh ke arah sumber suara. "Tidak! aku tidak memikirkan apapun."


Sementara Yudi sedang menyibukkan diri dengan kameranya. Dia bersikap seolah tidak ada apa-apa diantara dia dan Vaula, sebelum kedatangan Rosa tadi.


Setelah Vaula mengganti pakaian, Rosa pun bersiap untuk menata rambut Vaula agar cantik mungkin dan sesuai dengan tema.


Asistennya Yudi kini sudah datang dan segera membantu Yudi untuk pemotretan, seperti mengatur lampu dan yang lainnya.


Rosa sedikit bergidik dengan bayangkan gimana kalau seandainya dulu, hubungan dia dengan Yudi sebebas seperti dengan Vaula? mungkin dirinya saat ini merasa tidak berharga lagi.


"Masih untung gaya pacaran ku dengan Yudi tidak seperti sekarang ini Yudi dengan Vaula! dan memang Yudi pun tidak pernah meminta yang aneh sama aku dulu, jadi sampai saat ini kehormatanku masih terjaga," batin Rosa masih bisa bersyukur.


di tempat pemotretan, Vaula kembali berpose seperti keinginan fotografer. Pose begini dan pose begitu, Vaula manut saja bahkan mengekspos belahan dada dan paha sudah menjadi hal yang biasa bagi Vaula.


Sementara Rosa hanya melihat ke arah Vaula dan Yudi yang tengah sibuk dengan pemotretan dengan pose-pose yang indah serta menggoda.


Rosa tidak percaya begitu saja, kalau selama dia tinggalkan. Vaula dan Yudi tidak akan melakukan apapun. Gak mungkin banget, secara di sini cuma berdua dan buktinya ada tanda merah yang tergambar jelas di bagian leher Vaula.


"Eh, tadi si Virzha dari mana ya? kok ada di depan? jadi penasaran!" gumamnya Rosa dalam hati. Mengingat tadi dia melihat putranya Vaula di depan.


...----...


Di dalam Bus, Firza melamun dan kebetulan ke sekolah memang dia gak membawa ponsel. Sehingga tadi waktu menyaksikan kelakuan mamanya pun dia nggak bisa merekamnya atau mengabadikan kejadian tersebut.


Dadanya Firza masih terasa sesak, kesal. Marah! namun tidak kau harus meluapkannya seperti apa dan bagaimana? rasanya ingin sekali dia kabur pergi dari rumah, namun entah mau kemana tujuan? karena percuma kalau cuma buat menjadi gelandangan di jalanan, amit-amit pikirnya.


Dan juga sempat tersirat dalam hatinya untuk pergi ke tempat teman atau tempat tongkrongan, bila perlu minum. Merokok atau bersenang-senang lainnya, untuk melupakan semuanya. Tapi di ruang mata terbayang sosok sang ayah, Alfandi. Dia seolah melambaikan tangan untuk menyuruhnya pulang.


Dan pada akhirnya Firza memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Walau dengan pikiran kacau dan kalut.


Namun entah kenapa tiba-tiba dia ingin turun dari bus tersebut sebelum waktunya, lantas netra matanya melihat Marwan yang berjalan sama ibu-ibu dan juga seorang laki-laki.


"Heh. Mau ke mana kau?" sapa Firza pada Marwan dengan tatapan aneh.


"Iya. Kau sedang apa di sini?" Marwan menatap heran ke arah Firza yang sedang berjalan membawa tas punggung yang biasa digunakan bila sekolah.


"Gue habis main," jawabnya Firza.


"Ooh, aku mau membeli ikan buat ditanam di kolam." Marwan melirik ke arah bibi yang langsung memberi anggukan.


"Gue ikut lah?" kata Firza sambil menghampiri.


"Boleh. Kamu belum pulang ke rumah ya? masih bawa tas sekolah segala?" tanya Marwan sambil melihat intens ke arah Firza yang masih mengenakan seragam dan ditutupi dengan Hoodie saja.


"Belum, kan sudah ku bilang baru pulang main." Ketus Firza.


Kemudian Firza pun ikut dengan Marwan dan juga bibi yang mau membeli ikan mas dan nila untuk ditanam di kolam belakang rumah.


Dan tidak lama kemudian, setelah mendapatkan yang mereka inginkan, mereka pun cepat kembali dengan membawa beberapa kantong yang berisi ikan mas dan nila, dengan ukuran yang lumayan besar.


"Tas kamu kasihkan sama Bi Lasmi, masa kamu hanya membawa tas sendiri, sedangkan Bibi membawa kantong ikan? gantian dong?" kata Marwan sambil menjinjing kantong yang berisi ikan itu.


"Lagian kenapa gak dibawa pakai mobil sih? pakai motor kek? bukannya kayak gini! Paman bawa, lu bawa. Sekalian saja pakai motor, susah amat sih? hidup kok dibikin ribet sih? aneh." Firza malah nyolot.


"Sudah, tidak apa-apa." Lirih nya bi Lasmi.


"Iya, juga ya? Bi, kenapa gak pake kendaraan saja. Pake ojeg gitu?" Marwan melihat ke arah bi Lasmi, kenapa gak kepikiran seperti itu.


"Sudah nanggung, sudah jalan saja!" kata paman sembari berjalan cepat sambil memanggul kantong ikan.


Lantas Marwan pun bergegas menyusui si paman tersebut.


"Ck," Firza berdecak kesal sembari melihat yang lain, yang sudah meninggalkan dirinya. Karena jalan mereka begitu cepat.


Kemudian Firza menyusul bi Lasmi sambil membuka tas punggungnya, dan menukarnya dengan kantong ikan yang dibawa oleh bi Lasmi.


Bi Lasmi menatap ke arah Firza. "Tidak apa-apa, Den. Biar Bibi saja yang bawa, kotor. Den nanti basah."


"Ahk, sini? aku yang bawa!" Firza mengambil mengambil dan membiarkan bibi yang membawa tas nya.


Firza berlari menyusul Marwan dan paman yang sudah tertinggal jauh. "Tunggu dong? kok gue ditinggalin sih?" pekik Firza dengan nafas yang ngos-ngosan.


Setelah sedikit berlarian. Tibalah di kolam yang berada belakang rumah, pas terdengar suara Maghrib. Langsung ikan-ikan dilepaskan di kolam tersebut. Setelah melepaskan semua ikan-ikan tersebut, si paman pergi entah kemana?


"Wah ... akhirnya aku punya ikan juga, kulepas kalian di sini ya? nanti bila aku butuh kalian untuk di goreng. Aku minta keikhlasan kalian ya?" gumamnya Marwan seolah mengajak ikan-ikan tersebut bicara.


Firza mencibirkan bibirnya. "Gila, lu. Ikan di ajak ngomong, ikan itu di ajak berenang! bukan di ajak ngomong? ha ha ha ...."


Marwan menoleh pada Firza. "Ngapain mengajak ikan berenang? mereka memang pandai berenang bukan?"


"Ya, sekalian saja kau berguru pada ikan-ikan itu, lumayan kan gratis. Tidak harus membayar guru berenang, ha ha ha ..." sambungnya Firza.


"Ha, lu yang gila." Marwan berdiri lalu berjalan di pinggir kolam tersebut. Entah terpeleset karena licin, kakinya Marwan yang tidak beralaskan sendal itu.


Gubrak, byurrrrrr ....


Marwan jatuh ke kolam ikan. Dan Firza tertawa lepas sampai terpingkal-pingkal menertawai Marwan yang terjatuh dan basah kuyup sampai kepalnya.


Di saat Firza terpingkal-pingkal, tubuhnya oleng. Firza pun gubrak ... tubuh Firza terguling ke kolam renang.


Byurrrrrr ... air kolam renangnya sampai muncrat ke atas dan ke samping, kepala Firza pun timbul tenggelam sebelum bisa menggapai pinggiran kolam ....


.


.


...Bersambung!...