Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Kiriman mobil



^^^Sukma: "Halo. Maaf mengganggu waktunya sebentar? ini ada orang yang mengirim mobil dan aku, kan mana ada pesen yang gituan--"^^^


^^^Alfandi: "Sayang ... terima saja, itu mobil dariku, terima saja. Mana sales nya? aku mau bicara!"^^^


Kemudian Sukma memberikan ponselnya salah satu dari mereka. Dan Alfandi pun berbincang dengan orang itu.


Kini, Sukma menjadi bengong. Alfandi ngapain kirim mobil segala? bisa bawa saja nggak. "Ini orang bisa-bisa nya sih, gak bilang-bilang dulu sama aku?" batinnya Sukma.


"Ini Nyonya teleponnya." Ponsel Sukma kembali dengan sambungan telepon yang masih menyala.


Sukma kembali menempelkan benda pipih itu di pipinya.


^^^Sukma: "Halo? kenapa gak bilang-bilang dulu mau beli mobil? lagian buat apa juga? aku gak bisa nyetir juga!"^^^


Sukma sedikit memekik yang tertahan. Protes, kurang setuju dengan mobil yang Alfandi berikan. Bukannya senang atau bahagia? melainkan rasa was-was menghantui dirinya. Sebab Sukma cukup nyadar diri! kalau dirinya hanya istri muda.


^^^Alfandi: "Bisa belajar sayang ... lagian nanti ku kirimkan supir! gampang."^^^


Sambungan telepon pun terputus


Orang itu kembali menyodorkan kertas tadi. Sukma menatap kertas itu sejenak, namun pada akhirnya Sukma menandatangani juga kertas tanda terima tersebut.


Setelah urusannya selesai dan kunci mobil pun sudah diserahkan! akhirnya kedua tamu itu berpamitan, setelah sebelumnya berjabat tangan dengan Sukma, bi Lasmi juga Jihan dan Marwan.


"Sekarang Kakak punya mobil, asik ... kita bisa jalan-jalan jangan mobil baru ini!" ucap Marwan sembari mengelus dan mengusap mobil tersebut, pandangannya begitu berbinar.


"Gimana caranya jalan-jalan pakai mobil? orang Kakak gak bisa nyetir," jawabnya Sukma sambil berdiri di dekat mobil tersebut dan mengusap body mobil yang sudah jadi miliknya itu.


"Ya ... belajar lah, Kak. Apapun harus belajar dulu! baru nanti bisa," timpalnya Marwan sambil buka pintu mobil tersebut dan duduk di joknya, ekspresi yang senang dan mengedarkan pandangannya ke ruang mobil tersebut.


Jihan pun masuk dan duduk di samping Marwan sejenak. "Wah ... enaknya! dalamnya nyaman, joknya juga empuk, ada AC nya semriwing deh."


Sementara Sukma, hanya melihat kedua adiknya dari luar mobil saja. Berdiri bersama bi Lasmi yang terus mengulas senyumnya. bi Lasmi ikut bahagia melihat Sukma mendapatkan hadiah mobil dari Alfandi.


Jihan turun dari mobil menghampiri sang kakak. "Kakak ini aneh, bukannya senang. Bahagia dan berterima kasih? malah protes sama Abang!"


"Bukannya apa-apa, Jihan ... Kakak ini kan harus tahu diri. Posisi Kakak dimana? Kakak cuma istri muda, nanti dikira orang-orang. Kakak cuman porotin hartanya lah, apalah? lagian Kakak dikasih rumah aja dan uang belanja! itu udah cukup. Nggak pengen mobil kok," lirihnya Sukma.


"Ya ... kalau soal itu tunjukkan dong, Kak ... kalau Kakak itu bukan cuman porotin hartanya, tapi Kak Sukma juga istri yang baik dan sayang sama suaminya," timpalnya Jihan.


"Kalau menurut, Bibi sih ... itu memang hak Enon untuk dapatkan semuanya dari, tuan. Karena Non ini istrinya juga! punya hak yang sama dengan istrinya yang lain. Tuhan juga punya tanggung jawab yang sama terhadap istri-istrinya." Bi Lasmi ikutan nimbrung bicara.


Sukma melirik ke arah bi Lasmi. dengan tatapan yang tanpa ekspresi. Hanya menampakan dia menggigit bibir bawahnya saja.


"Jangan bilang ya? kalau Kak Sukma ada niatan kembali sama kekasihnya! aku tahu soal hati, tapi setidaknya Kakak juga bisa memilih mana yang terbaik buat kakak dan untuk kita semua. Kalau kakak nggak mau dicap yang tidak-tidak oleh orang-orang, kakak harus tunjukkan kalau Kakak juga tulus menikah dengan Abang," ujar Jihan dengan panjang lebar.


"Astagfirullah, Jihan ... kok ngomong kayak gitu? mana ada kakak punya niatan kayak gitu? nggak ada! justru Kakak menikah dengan Abang dengan niat yang tulus bukan cuma untuk membalas Budi saja! Kakak ingin menjadi istri yang baik untuk abang." Akunya Sukma sembari menggelengkan kepalanya.


Jihan memeluk Sukma. Merasa kurang enak hati dengan ucapannya barusan. "Maafkan aku, Kak. Bila sudah membuat Kakak tersinggung."


"Nggak, pa-pa. Kok Jihan ..." Sukma membalas pelukan sang adik.


Kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah. Dan baru saja Sukma mau mendudukan bokongnya di sofa, terdengar suara derap langkah yang mendekati pintu utama yang barua saja mereka lewati.


"Assalamualaikum?" rupanya Mimy baru saja pulang, dan dia merasa heran dengan pemandangan yang baru di halaman rumah. "Kenapa di luar ada mobil baru?"


"Wa'alaikumus salam ..." jawab semuanya dengan serempak.


"Itu mobil, Kak Sukma. Kak Mimy!" jawabnya Marwan dengan cepat.


"Ha? itu beneran? punya Suk ... ma? ah yang bener? aku gak percaya deh ..." Mimy menggelengkan kepalanya sambil melihat ke arah Sukma, Jihan dan Marwan.


"Baguslah, kalau nggak percaya? buat apa percaya padaku? yang harus kau percaya itu adalah Allah. Bukan aku," timpalnya Sukma.


"Iih, bukan kayak gitu! beneran nggak sih itu mobil lu?" Mimy menatap lekat ke arah Sukma.


"Beneran lah, Kak Mimy ... itu mobil kak Sukma, dari abang." Kata Jihan meyakinkan.


"Waw ... fantastis. Luar biasa sekali, kau hebat ... selamat ya?" Mimy memeluk Sukma sangat erat, merasa ikut bahagia dengan yang Sukama dapatkan, karena apa yang Sukma dapat? dianya ikut ngerasain juga, misalnya saja dia pun bisa tinggal di rumah yang lumayan bagus seperti sekarang ini.


"Selamat buat apa? biasa aja kali," kata Sukma saya membalas pelukan dari Mimy, sahabatnya itu.


"Aku bisa numpang dong ... kalau mau ke mana-mana?" sambungnya Mimy, lalau dia melepaskan pelukannya pada Sukma. Dia berjalan kembali keluar dan melihat-lihat mobil tersebut.


Sukma hanya tersenyum dan melihat ke arah sahabatnya tersebut yang mendekati mobilnya, lalu perlahan Sukma pun menghampiri Mimy. "Kamu bisa bawa mobil gak? maksud aku nyetir?"


Mimy menoleh ke arah Sukma sembari menggeleng. "Lu ngeledek gue? lu pikir gue gak bisa membawa mobil?"


"Jadi lu bisa nyetir?" tanya kembali Sukma.


Mimy nyengir seraya berkata. "Tidak. Lu bisa bawa?"


"Yey ... gua pikir lu bisa bawa?" Sukma mesem.


"Lu bisa, kan?" selidik Mimy.


"He he he ... mana bisa? orang gue punya aja baru sekarang." Sukma pun menggeleng dan tertawa.


"Yey ... sama aja dong sama gue!terus? lu punya mobil? siapa yang akan bawa?" tanya Mimy kembali.


"Mana gue tahu! orang gue nggak ada rencana punya mobil, siapa juga?" sahutnya Sukma lagi-lagi menggeleng.


"Kalian, kan bisa belajar. Dan kalau sudah bisa? ilmu itu tidak berarti bawa!" ucap Marwan yang berdiri dekat pintu utama.


"He eh he ... tuh adik mu pintar!emang iya, ya kan? ya emang begitu, ilmu itu gak berarti dibawa. Bener-bener tuh benar sekali." Mimy menepukkan kedua tangannya.


Selanjutnya Mimy minta Sukma untuk bukain pintu mobil tersebut, karena dia pengen ngerasain masuk dan duduk di sana.


"Boleh," Sukma pun menekan kunci otomatis sehingga kunci mobil bisa terbuka tanpa disentuh.


"Ada remote kontrol nya ya? wieeh ... hebat." Lalu Mimy masuk dan duduk di kursi depan, tepat di belakang kemudi.


Sukma hanya melihatnya saja dari samping, sembari bibir tersenyum yang tak pernah lekat dari bibirnya.


"Aduh ... gila, gue merasa ini mobil gue sendiri, bok ... kapan gue ya gue punya ini semua ya? punya rumah, punya mobil. Ya Allah ... rasanya gue jadi iri sama lu!" Mimy heboh sendiri sembari berpura-pura menyetir.


Jihan dan Marwan juga Sukma melihat kehebohan Mimy sambil melempar senyuman ....


.


.


...Bersambung!...