
Otaknya Alfandi terus berputar. "Kasihan juga anak-anak itu, anak-anak ku sekolah. Sementara mereka terputus sekolahnya, terbentur dengan biaya, kondisi ataupun keadaan."
Alfandi memutar kemudinya, memasukkan mobil ke dalam garasi yang sudah dibukakan oleh seorang satpam yang bernama Arbani.
"Ibu sudah pulang belum?" tanya Alfandi pada satpam tersebut seraya melirik ke sekitar, yang memang belum ada mobil sang istri yang terparkir di sana.
"Tidak perlu dijawab! saya sudah tahu jawabannya." Kata Alfandi padahal si satpam sudah membuka mulutnya, siap menjawab pertanyaan dari Alfandi.
"Saya baru saja mau jawab, Pak," sahutnya Arbani.
"Tidak usah dijawab! saya sudah tahu kok." Alfandi berjalan memasuki pintu utama disambut oleh pembantunya.
"Anak-anak mana Bi? sudah makan apa belum?" tanya Alfandi bertanya tentang putranya.
"Anak-anak baru saja makan. Dan sekarang berada di kamarnya masing-masing," sahut bibi.
"Oke, baguslah kalau mereka sudah makan!" Alfandi langsung membawa langkahnya menuju ke kamar pribadi, kedua netra matanya memperhatikan sekitar ruang tersebut, yang lumayan besar dan mewah. Tetapi berasa sepi.
Langkah Alfandi sudah melewati beberapa anak tangga, lalu dia berbalik melihat pada Bibi yang masih berdiri di tempat. "Bi, tolong siapkan untuk makan malam saya?"
"Baik, Tuan!" respon bibi sambil mengangguk.
Alfandi kembali mengayunkan langkahnya, untuk menuju kamar dan langsung membuka kemejanya. Masuk kamar mandi untuk bersih-bersih.
Sekitar 15 menit kemudian, Alfandi keluar dari kamar mandinya. Setelah membersihkan dirinya dengan handuk di pinggang dan satu tangan lagi mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Kamar yang terbilang mewah, ranjang empuk, pernak-pernik yang indah, terasa sepi dan tidak ada apa-apanya tanpa kehangatan dan perhatian dari seorang istri.
"Huuh ..." membuang nafasnya melalui mulut lalu menghirup udara dari hidung sebanyak-banyaknya dari sekitaran.
"Berasa menduda," Alfandi senyum kecut.
Setelah rapi dengan setelan malamnya, Alfandi turun menuju ruang makan yang sudah tersedia beberapa menu masakan yang menjadi kesukaannya.
Selesai makan, Alfandi berniat untuk ke kamar putra-putranya, yang pertama dia kunjungi yaitu kamar putra sulung ya itu Firza.
Tok .... Tok .... Tok ....
"Papa boleh masuk?" Alfandi ketuk-ketuk daun pintu kamar Firza.
Hening!
Sementara suasana terasa hening, tidak ada suara yang terdengar dari dalam.
"Masuk, Pah?" pada akhirnya Firza membukakan pintu lalu dia berjalan kembali ke dalam kamarnya.
Alfandi mengikutinya dari belakang, lalu duduk di tempat tidur yang tampak berantakan tidak karuan. "Kamu sedang apa? tidak belajar?" tanya Alfandi. Seraya merangkul bahu putra sulungnya itu.
"Tidak, tidak ada yang harus dipelajari," sahutnya Firza dengan nada datar.
"Gimana sekolahnya tadi? apa ada masalah?" tanya kembali Affandi.
"Tidak, Pah. Baik-baik saja!" jawabnya dingin.
"Baguslah. Jangan membuat ulah lagi ya? Papa capek. Oya besok Papa daftarkan kamu ke sekolah musik, yang rajin dan serius belajarnya ya?" pesan Alfandi sambil menatap putranya.
Firza hanya mengangguk, merespon omongan sang ayah nya itu.
"Em ... gimana? kalau sekarang kita keluar! main ke mall, ke Timezone mau gak?" ajak Alfandi pada Firza.
Sesaat Alfandi terdiam, tidak merespon ajakan dari papanya itu.
"Sama mama?" tanya Firza, pada akhirnya keluar juga suara dari bibirnya.
Firza kembali mengalihkan pandangannya ke lain arah, dengan tatapannya yang begitu kosong.
Lantas Alfandi menarik tangan Firza. "Yu, kita jalan? dan sekarang kita jemput dulu adikmu, Fikri." Alfandi berjalan seraya menuntun sang putra, langkahnya terhenti ketika berada di depan pintu kamar Fikri.
"Fikri sayang? ini papa nak, mau ikut nggak kita jalan-jalan yu? ke mall bermain ke Timezone mau nggak?" pekik Alfandi dari balik pintu.
Beda dari Firza tadi yang lama untuk membuka pintu, Fikri dengan cepat membuka pintu tersebut.
"Beneran, Pah. Mau jalan-jalan sekarang?" tanya Fikri sambil menatap sang ayah yang bersama sang kakak.
"Beneran! yu? sudah, nggak usah ganti baju. Begitu aja!" tanpa menunggu jawaban.
Tangannya Alfandi meraih tangannya Fikri, kini kanan kiri Alfandi didampingi putra-putranya yang tampan, yang memiliki hidung mancung dan berkulit putih.
"BI, saya mau ajak anak-anak ke mall. Jika Nyonya tanya bilang saja seperti itu." Pesan Alfandi pada bibi yang berdiri serta mengangguk.
"Oh, iya. Tuan," sahut bibi.
"Paling juga, mama gak akan nanyain kita? mana perduli mama sama kita." Celetuk si bungsu.
"Nggak sayang, Mama perduli kok ... cuma mama kan sibuk! jadi kurang waktu buat kita, tapi tenang saja! kalian kan ada Papa." timpal Alfandi seraya menghibur putranya itu.
"Memang seperti itu," ketus Firza sambil memasuki mobil papanya.
"Yang mau duduk di depan siapa dong? yang nemenin Papa?" tanya Alfandi sambil membuka pintu mobil yang bagian depan.
"Aku yang duduk di depan nemenin Papa!" Fikri langsung masuk, duduk di samping kemudi.
"Baiklah, putra tampan Papa." brugh! pintu Alfandi tutup, lalu dia mengitari mobil mewahnya.
Lokasi Mall, dari mension hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja. Dan saat ini mobil Alfandi sudah berada di depan sebuah Mall di jantung kota tersebut.
Alfandi langsung membawa putranya masuk ke dalam mall tersebut. Firza dan Fikri berjalan di depan sang ayah. Wajahnya sedikit riang tidak seperti sebelumnya, murung. Seperti tidak ada gairah hidup.
"Kalian boleh memilih permainan apa saja!" ucap Alfandi pada kedua putranya.
"Ayo, Kak kita main main sepuasnya. Kebetulan besok, kan hari Minggu jadi kita tidak perlu sekolah deh." Fikri berlari sambil menarik tangan Firza.
"Oke, kita bermain sepuasnya. Kita jelajahi semua permainan yang ada," sahut sang kakak.
Alfandi merasa bahagia melihat sedikit demi sedikit senyum di wajah kedua putranya kembali, dan itu tugasnya untuk mengembalikan keceriaan mereka berdua. Dia sudah tidak bisa mengharapkan peran istrinya untuk menjadi seorang ibu yang penuh perhatian dan kasih sayang kepada anak dan suaminya.
Alfandi sudah terlalu capek untuk berharap seperti itu, kini tinggal dia yang harus berjuang demi kebahagiaan putra-putarnya tersebut.
Senyum di bibir Alfandi merekah melihat putra-putranya tertawa, mendengar ocehan mereka yang tampak senang dengan permainan yang mereka pilih saat ini.
"Ya Allah ... kembalikan Senyum di bibir mereka seperti dulu?" wajah Alfandi yang mendongak ke langit-langit, berharap sang Tuhan mendengar doa Dan harapannya.
Suasana Mall di malam minggu ini begitu ramai, dengan para pengunjung yang mau membawa putra-putrinya bermain dan sekedar untuk belanja, shopping ataupun cuci mata. Apalagi para remaja muda-mudi yang sedang menikmati malam panjang ini.
Alfandi senyum-senyum sendiri. "Apa bedanya malam minggu dan malam biasa? sama aja tetap aja 24 jam he he he ..." dia tersenyum sendiri sambil menggeleng perhatikan muda-mudi yang berlalu lalang.
"Ooh iya, kenapa tadi aku gak ajak mereka juga ya? Jihan dan Marwan, mereka pasti senang bermain ke tempat ini, tapi ... mana mau mereka? orang baru kenal," gumamnya Alfandi dalam hati mengingat pada anak yatim tersebut ....
.
.
...Bersambung!...