
"Apa, Mama ingin menikah lagi sama papa. Nggak salah Mah?" Firza menatap tajam pada mamanya.
Vaula pun membalas tatapan Firza. "Emangnya kenapa sayang lagi, seperti waktu kalian masih kecil! Mama juga mengaku salah kok, Mama yang salah dan Mama sudah meminta maaf berulang-ulang dan Mama menyesalinya ...."
Firza menggeleng-gelengkan kepalanya dia tidak menyangka sama sekali, kalau mamanya itu punya niatan kembali pada papanya. Tapi Firza yakin kalau papanya tidak akan pernah bersedia kembali pada mantan istrinya tersebut.
Mengingat pada semua yang sudah terjadi dan apalagi sekarang sudah punya kehidupan sendiri, punya keluarga yang bahagia bersama Sukma.
"Kita sudah sama-sama dewasa, kita mengerti bahwa masa lalu itu tidak ada yang sempurna! begitupun dengan masa depan kita gak tahu, dan setiap orang punya masa lalu yang entah itu baik ataupun buruk, Mama ingin menebus dosa Mama sama Papa. Mama nggak akan minta kok papa untuk menceraikan istrinya, yang penting Papa menikah lagi sama Mama dan Papa bisa mencintai lagi Mama seperti dulu--"
"Dan itu tidak mungkin Mah ... aku yakin seyakin-yakinnya kalau Papa nggak akan pernah bersedia kembali sama Mama! apalagi mengingat sekarang Papa sudah bahagia dengan istrinya yang baru, papa tidak akan tega ninggalin istrinya ataupun menduakannya!" potongnya Firza dengan nada jelas dan yakin.
"Kamu itu sesungguh nya tidak tahu gimana papa yang sebenarnya, papa itu sangat mencintai Mama cuman Mama aja yang bego! kemarin itu Mama yang tergoda sama laki-laki lain dan Mama menyesal, Za ... Makanya Mama ingin kembali sama papa dan menembus semua dosa Mama! Mama rela kok berbagi suami jangan istrinya itu--"
"Tapi istrinya nggak akan mungkin mau Mah, lagian kita semua sayang sama Mommy dan kita nggak akan tega nyakitin Mommy. Mama masih cantik dan mama masih bisa kok dapetin laki-laki lain bukannya papa dan itu kan yang Mama mau? sehingga dulu Mama menyia-nyiakan papa," jelasnya Firza yang menunjukkan rasa kalau dia tidak merestui kalau mama dan papanya bersatu kembali.
"Za. Mama heran! kok anak-anak Mama malah menentang Mama? bukannya sayang sama Mama tapi malah justru lebih sayang sama istri Papa yang baru. Sebenarnya kalian Itu anak siapa sih?" ucapnya Vaula dengan nada yang sedikit tinggi menatap heran pada Firza.
Firza menggerakkan keduanya netra matanya, menatap sang bunda dengan tatapan yang menentang. Dia teringat kembali kenangan masa lalu apa yang pernah dia lihat yang dilakukan oleh mamanya rasanya terbayang jelas di pelupuk mata.
"Firza sama Fikri itu anak Mama, yang mengandung kalian itu. Mama! akan tetapi kenapa kalian itu lebih berat sama istri papa? kan sudah Mama bilang semua orang itu punya masa lalu mau baik ataupun buruk. Mama sudah menyesalinya dan Mama ingin memperbaiki diri sama papa, oke Mama bisa dapetin laki-laki lain. Tapi kenapa Mama mau menikah lagi sama papa? karena ingin keluarga kita utuh, Mama ingin kita berempat bisa bersatu kembali." Tegasnya Vaula sembari menggerak-gerakkan kedua tangannya.
"Tidak mau, Firza tidak setuju kalau Mama ingin menikah lagi sama papa, Mama menikah saja dengan laki-laki lain. Jangan sama papa! sekalipun papa menyetujuinya dan kalian juga menikah lagi, aku dan Fikri memastikan tidak akan pernah mengakui apalagi tinggal sama kalian berdua!" Jelasnya Firza sembari beranjak dari duduknya dan meninggalkan sang bunda.
Bikin Vaula melongo sedemikian rupa, mendengar penjelasan dari putranya tersebut yang jelas menunjukan tidak merestui malah menentang niatnya untuk kembali pada papanya.
"Za, kamu itu anak Mama, Za ... seharusnya kamu! Ck," Vaula akhirnya merasa kesal dan tidak melanjutkan perkataannya lagi karena percuma. Orangnya sudah jauh.
Firza Kembali ke tempat kerjanya dengan perasaan yang tidak karuan, ia benar-benar tidak menyangka dan akan menentang jika papa dan mamanya kembali.
Gimana dengan perasaannya Sukma jika suaminya menikah lagi kepada sang mantan, dan itu memang rasanya tidak mungkin. Firza menjadi kepikiran tapi dia yakin kalau papanya nggak akan mungkin menyakiti mommy nya dengan alasan apapun! apalagi kembali sama mama kandungnya.
"Seharusnya Mama yang ingat masa lalu! di mana dia mengkhianati papa dan kini ingin kembali? oh no ... aku orang yang pertama menentang kembalinya mereka. Dan aku harus bisa mempertahankan rumah tangga papa sama Mommy." Kepala Firza terus menggeleng.
"Lu kenapa tuh kepala menggeleng mulu, mabok nutriSari, lu? ha ha ha ..." sapa teman kerjanya sambil tertawa kecil melihat Firza yang terus menggelengkan kepalanya.
"Jangan ganggu gue! kalau tidak mau air kuah panas ini menyembur ke muka, lu!" kata Firza yang sambil menyendok kuah bakso dengan sinduknya.
"Wauw ... gue takut!" kemudian sama-sama melanjutkan pekerjaannya.
Hari sudah malam dan Fiza baru selesai mandi. Langsung mengenakan pakaian, tidak lupa memakai jaket juga dan ketika mau keluar, ponsel Firza pun berdering rupanya Puspa menelpon.
"Gue. Lagi sibuk lain kali aja lah jalannya!" ucapnya Firza di ujung telepon. Dan langsung menutup kembali teleponnya Ia masukkan ke dalam saku celana benda pipih tersebut.
Tampak Jihan pun keluar yang diikuti oleh Sri yang entah sekedar mengantar ke teras.
"Aku pergi dulu ya Sri, nggak akan lama kok paling satu jam!" Pamitnya Jihan kepada sahabatnya tersebut lalu berjalan mendekati motornya Firza.
Tampak Sri pun melambaikan tangan nya terutama kepada Firza si pria ganteng, dingin tapi sebenarnya baik hati.
"Sebenarnya kita mau makan di mana sih? paling makanan bakso. Lagian jangan lama-lama! nanti kemalaman?" ucap Jihan sembari berdiri di sampingnya Firza.
"Ck, bawel. Naik gak? apa kamu mau jalan kaki, boleh juga sih!" Firza menoleh sambil menatap penampilannya Jihan.
Pada akhirnya Jihan pun naik dan duduk di belakangnya Firza, yang tidak lama kemudian Firza pun melajukan mobilnya dengan sangat cepat menuju ke suatu tempat.
Tidak lama kemudian mereka pun tiba di sebuah restoran kecil dan Firza langsung mengajak Jihan untuk masuk, kebetulan tempatnya pun nyaman dan tidak terlalu ramai.
"Kamu mau traktir aku apa aku yang harus bayar sendiri? tapi sih ....biasanya yang ngajakin yang bayar! masa aku harus bayar sendiri sih?" ucap Jihan sebelum melangkahkan kakinya untuk masuk.
Firza yang baru saja mau melintasi pintu, membalikkan tubuhnya kepada Jihan. "Kamu meragukan ku? buat apa ngajak kau makan di luar? kalau bayar sendiri, jangan mentang-mentang aku nggak punya duit. Seperti si Excel itu yang banyak duit bisa ngasih kamu apapun!"
"Kok kamu malah menyebut-nyebut dia sih. Siapa juga yang bandingkan kamu sama dia? aneh." Pada akhirnya Jihan pun mengikuti langkahnya Firza.
Kini mereka sudah duduk di suatu tempat yang jauh dari pengunjung yang lainnya. Dan mereka pun langsung memesan makanan kesukaan mereka masing-masing, tentunya dengan menu yang tersedia di sana.
"Kamu suka dengan bunga yang tadi?" Tiba-tiba Firza membicarakan bunga yang tadi siang.
"Ha? bunga. Iya aku suka, tapi dari siapa ya jangan-jangan kamu tahu pengirimnya siapa?" Jihan mengerutkan keningnya dan bertanya kepada Firza. Siapa tahu pemuda itu tahu pengirim bunga tersebut.
"Enggak-enggak, gue enggak tahu dari siapa. Kali aja dari cowok kamu kali!" elaknya Firza tampak sedikit gugup.
"Tapi kok kamu tahu tentang bunga itu? nggak mungkin lah kamu gak tahu tentang bunga itu! kalau kamu sendiri nggak tahu juga pengirimnya?" Jihan menjadi menatap curiga kepada Firza, apalagi dengan isi kartu tersebut.
Firza terdiam sembari memandang kosong ke arah lain, sesungguhnya dalam hati yang paling dalam dia sayang sama Jihan! bahkan sayang lebih dari sekedar saudara. Dia merasa perasaan itu sudah tumbuh dari masih baru bertemu
Bertemu, yaitu ketika baru-baru mereka bersatu sebagai keluarga.
Dan rasa itu semakin tumbuh dan tumbuh sampai sekarang! tidak dapat digantikan biarpun Firza beberapa kali pacaran dengan wanita lain termasuk dengan Puspa sekarang! tapi tidak dapat dipungkiri kalau cintanya bertahta kepada Jihan.
Jadi rasanya wajar jika Ada kecemburuan dan tidak rela jika Jihan dekat dengan laki-laki lain, apalagi menderita ataupun kecewa. Itu dia tunjukkan bukan sekedar Jihan adalah adik dari mommy sambungnya saja! tapi karena rasa sayang, rasa cinta yang terpaksa harus dia pendam dalam hati yang paling dalam ....
.
Bersambung.