
"Kok bisa, kekasih kamu berselingkuh dengan bos mu? bukankah kalian juga sering bertemu dan bersama?" Alfandi menatap kembali pada Rosa seolah masih meragukan dengan penjelasan dari Rosa.
"Saya bersumpah, demi Tuhan. Kalau yang saya katakan ini adalah benar, Ibu Vaula selingkuh dengan mantan kekasih saya! saya di ancam sama mereka berdua. Kalau saya sampai menyebarkan apalagi bilang sama anda, ibu akan berhenti membantu saya untuk pengobatan adik saya yang sakit itu, dan ... mencari saya," ujar nya Rosa dengan nada cemas dan sedih.
"Kau tidak perlu bersumpah, apalagi atas nama Tuhan. Saya takut kalau kata-kata itu malah akan kembali padamu juga," ucapnya Affandi dengan lirih.
Rosa yang mulanya menunduk, kembali mendongak melihat ke arah Alfandi yang terdengar masih juga meragukan dirinya.
"Kalau saya hanya mengarang cerita, apa untungnya buat saya? nggak ada untungnya, Pak? oh iya saya minta alamat email Anda? biar saya kirimkan sesuatu langsung ke email anda! agar anda percaya bila sudah melihat bukti tersebut." Rosa meminta Alfandi alamat emailnya.
Alfandi hanya menatap sejenak ke arah Rosa, dia masih mencari kebenaran kalau Rosa ini jujur atau cuma mengada-ngada.
"Dan saya akan ngirim sebuah video yang akan jadi bukti kalau faktanya Vaula memang benar-benar berselingkuh di luar sana!" sambung Rosa terus meyakinkan.
"Sebentar? Alfandi beranjak dari tempat duduknya, berjalan mendekati meja kerjanya untuk mengambil dawai yang tersimpan di sana. Lalu detik kemudian Alfandi duduk di tempat semula dan menyebutkan alamat email miliknya yang harus Rosa butuhkan.
Rosa pun memasukkan alamat email Alfandi di ponselnya, lalu dia mengirimkan video yang tersembunyi di dalam fail ponselnya itu. "Sudah, Pak. Sudah saya kirimkan!" kata Rossa sambil menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
Sementara waktu Alfandi hanya menatap ponselnya itu tanpa membuka apa yang sudah Rosa kirimkan barusan, rasanya ... dia belum siap untuk melihat isi dari video tersebut takut menyakitkan.
"Huuh ..." Alfandi menghela nafas dalam-dalam lalu dia menghembuskan nya dengan kasar! dia tidak bisa membayangkan gimana nasib rumah tangganya? kalau memang benar Vaula selingkuh.
Sedangkan janji yang terucap di bibir Alfandi kepada orang tua. Bahkan tekad yang kuat dalam hatinya, tidak akan pernah ada kata cerai untuk seorang istri yang pernah dinikahi, siapapun itu.
"Oke! biar nanti saya buka email nya, kalau sudah tidak sibuk. Dan saya ucapkan terima kasih atas semua usahamu yang mengatakan itu semua pada saya!" Alfandi lagi-lagi mengembuskan nafasnya dengan kasar.
"Sama-sama, Pak. Saya mohon banget, anda harus percaya sama saya dan saya bersedia kapanpun anda butuhkan untuk mencari informasi tentang ibu. Juga saya mohon anda jangan pernah bilang sama ibu atau siapapun! kalau anda tahu itu dari saya. Karena saya takut akan berakibat fatal yang akan menimpa keluarga saya," ucapnya Rosa penuh permohonan.
"Oke! kalau begitu ... sekali lagi terima kasih? oh iya, jika suatu saat nanti ada apa-apa saya akan hubungi kamu lewat email saja ya? kalau kamu bersedia silakan cari bukti yang lebih banyak dan akurat! tapi jangan sampai bukti-bukti yang kau kumpulkan itu hanya direkayasa saja? Alfandi menatap tajam karena Rosa yang bersiap pulang.
"Tidak, Pak ... saya tidak membuat bukti yang dibuat-buat ataupun rekayasa, itu asli bukan ada nya skenario atau sutradara atau kameramen. Itu benar-benar asli," Rosa terus meyakinkan Alfandi bahwa yang dikatakan nya adalah benar.
"Sekarang, cukup di sini saja obrolan kita ini, dan mungkin lain kali kita bisa melanjutkan obrolan ini?" ucap Alfandi sambil melirik ke arah Rosa yang sudah bersiap-siap.
"Iya, baik. Pak, dengan senang hati, jika anda membutuhkan saya, saya bersedia kapanpun anda hubungi," balasnya Rosa
dengan hati yang merasa lega.
Kemudian, keduanya berdiri dan saling berjabat tangan, kemudian Rosa berlalu meninggalkan tempat tersebut dengan rasa yang sedikit lega. Perasaan itu setidaknya sudah ia luapkan kepada Alfandi sebagai suami dari Vaula, Bos sekaligus selingkuhan mantan kekasihnya tersebut.
Alfandi menghela nafas panjang, seraya mendongak memandang langit-langit. Dadanya terasa sesak, sedih. Perih juga, jika memang itu kenyataannya, dan yang terluka itu bukan cuma dirinya saja, tetapi juga kedua putranya. Firza dah Fikri.
Alfandi melanjutkan langkahnya menuju meja kerja. Sempat dia pengen membuka file tersebut, penasaran dengan yang Rosa kirimkan ke emailnya. Tetap saja dia belum bisa dan penuh keraguan untuk melihatnya.
Yang pada akhirnya, Alfandi menyimpan dawai nya di atas meja. Dan dia berusaha memfokuskan pikirannya! hatinya pada pekerjaan yang sudah menunggu akibat kehadiran Rosa barusan.
Begitupun dengan Alfandi yang menyambut hangat tamunya dengan sebuah senyuman. Dan tamunya itu diajak duduk di sofa agar lebih santai.
"Silakan duduk? saya rasa kalian tidak jadi datang di hari ini--"
"Ooh ... jadi lah! masa nggak? saya tidak mungkin membiarkan Anda menunggu," kata salah seorang pria tersebut, dan yang satunya memberikan map yang berisi foto-foto mobil sedan yang pas buat seorang perempuan.
Alfandi pun langsung menyambut map tersebut, dan melihat-lihat gambar-gambar mobil yang sekiranya dia sukai. Bolak balik ia perhatikan gambar tersebut sambil berbincang dengan kedua orang tersebut.
Kedua netra mata Alfandi terus mengamati gambarnya satu persatu, dan pada akhirnya pilihan Alfandi jatuh pada Honda Civic yang berwarna merah.
"Saya pilih yang ini, harganya berapa? bisa nego?" Alfandi penasaran dengan unit yang jadi incarannya itu.
"Yang itu ... lumayan! harga gres nya ... sekitar 578,9. Dan itu bisa nego khusus buat anda!" Jawabnya.
"Iya, kami jamin yang bersangkutan pasti akan menyukai itu. Dalamnya begitu nyaman dengan bahan jok pilihan. Pokonya ... kami pastikan tidak akan permah menyesal deh!" timpal yang satu lagi.
"Baiklah, saya ambil yang itu saja." Alfandi menunjuk lagi gambar unit yang dia maksudkan.
Kemudian salah seorang dari showroom tersebut, menjelaskan kelebihan-kelebihan mobil Honda Civic tersebut yang dipilihkan Alfandi. Katanya buat seseorang yang sangat berarti di hati tersebut.
"Pembayarannya mau kredit atau dibayar lunas? mau kess atau transfer?" tanya seorang pria lagi yang dari showroom tersebut.
"Kalau kredit? takut nggak ke bayar! dan mau cash saya nggak menyimpan uang tunai sebanyak itu, jadi ... saya transfer saja lah," jelasnya Alfandi sambil mesem.
"Percaya-percaya, kami percaya kepada anda!" ucap salah satunya sambil menyiapkan berkas untuk pembayaran mobil Honda Civic tersebut.
Tolong kirim ke alamat yang tertera di sini?" Alfandi memberikan sebuah alamat agar unit langsung di kirim.ke sana.
Selesai transaksi. Kedua orang tersebutpun undur diri meninggalkan Alfandi yang kini sedang melamun dan sedikit menunjukan senyumnya.
"Semoga kau suka sayang!" Aku tahu kalau aku bilang-bilang terlebih dahulu pasti kau menolak ku," gumamnya Alfandi.
Kepala Alfandi mendongak dan terpejam membayangkan wajah yang selalu menggoda di ruang mata.
Bibir Alfandi terus mengembang sambil meneruskan kembali tugasnya yang terus tertunda ....
.
.
...Bersambung!...