
"Beneran, Kak? tidak apa-apa?" tanya Jihan tampak khawatir.
"Iya, Kakak. Baik-baik saja?" tambah Marwan juga.
Sukma menunjukan senyumnya yang manis itu seraya berkata. "Kakak nggak pa-pa, cuma butuh istirahat saja."
"Baiklah, kalau begitu kami berangkat dulu ya? Assalamu'alaikum!" Jihan mencium tangan Sukma yang di balik selimut tersebut.
Begitupun dengan Marwan dan Fikri, mencium tangan Sukma yang tertutup selimut.
"Wa'alaikumus salam ... yang rajin ya?" Sukma mengangkat tangan nya melambai.
Ketiga anak itu keluar dari dalam kamar tersebut. Manik Sukma dan Alfandi mendapati Firza yang mungkin sedari tadi berdiri di depan pintu, namun tidak masuk. Dan ketika yang lain keluar, dia pun berjalan menjauh.
Alfandi dan Sukma saling bersitatap sejenak. "Oke, aku pergi nganterin anak-anak dulu ya? sekalian aku ada urusan sebentar. Habiskan makannya ya?"
Alfandi pamitan pada sang istri. Tangannya mengusap pipi Sukma, namun yang di kecup bibirnya. "Istirahat saja di kamar?"
kedua manik mata Sukma terpejam ketika bibir nya bersentuhan dengan bibir Alfandi. Kemudian mengangguk pelan. "Hati-hati."
"Jadi pengen berenang lagi!" gumamnya Alfandi sambil menyunggingkan senyumnya.
"Dimana?"
"Di kamar ini!" Alfandi mengembangkan bibirnya membentuk senyuman.
Sukma mengerutkan keningnya. "Di sini? yang benar saja? gak ada kolamnya juga. Bukankah kolam renang ada di belakang?"
"Nggak pa-pa, kan kolamnya kamu?" Alfandi makin ngelantur.
Sukma menggeleng. "Iih ... apaan sih? sudah pergi ... anak-anak nungguin lho."
"Kalau pengen gimana dong? gak bisa di tahan lagi nih?" goda Alfandi sambil tangannya memegang tangan Sukma di kecup punggung nya.
"Al ... anak-anak nungguin?" Sukma mengatakan pandangan ke pintu.
"Iya-iya, bawel! ya sudah, aku pergi dulu!" Alfandi berdiri lalu merapikan pakaiannya tersebut.
Cuph! kecupan mesra mendarat di kening Sukma yang kini menunduk. "Em ... kalau aku mau? boleh ya?"
Sukma mendongak. "Boleh apanya?"
"Berenang, sayang ... masa gak mengerti?" Alfandi masih berdiri di hadapan sang istri.
"Al ... anak-anak." Sukma menunjuk pintu dengan ujung manik matanya.
"Iya sayang, iya ... aku pergi." Alfandi berjalan membawa langkah lebarnya meninggalkan kamar.
Detik kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Al ... apa lagi? anak-anak sudah nungguin juga," ucap Sukma tanpa menoleh.
"Ciee ... Mas Al ... yang pengantin baru," suara Mimy dari balik pintu sambil tersenyum.
"Hi. My, belum berangkat kerja? aku kira kau sudah pergi," sambut Sukma menatap ke arah Mimy.
"Gue baru mau berangkat, emang nyonya kenapa nih? sampai gak turun segala? mentang-pengantin baru manya di manja sama suami," cibir Mimy dengan candaan.
"Nggak kenapa-napa sih, cuma ... bandan gue berasa remuk saja, My." sahutnya Sukma.
"Lu, sakit akibat malam pertama ya? ayo ngaku sama gue? terlalu semangat kali laki lu?" Mimy menunjuk pada Sukma.
Sukma Menunjukan wajah yang tersipu malu. "Sudah ah, kalau mau berangkat hati-hati saja. Tolong bilang sama bibi jemur kan selimut yang sudah gue cuci."
"Cie, cie ... yang sudah jadi nyonya. Tinggal perintah saja," kata Mimy sambil berdiri bersiap pergi. "Tapi bibi sedang ke pasar, Non."
"Ooh, ya udah, gak usah!" ralat Sukma kembali.
"Oke, selamat bulan madu saja ya sahabat ku?" Mimy mencubit kedua pipi Sukma dengan gemasnya.
"Apaan sih, sakit tahu ..." Sukma mengusap pipinya yang terasa panas itu.
Mimy pun pergi untuk bekerja. sementara Sukma menghabiskan makannya yang tadi masih tersisa. Kemudian memaksakan diri untuk menjemur selimut dan seprei di balkon.
Saat ini Sukma sedang berdiri di depan cermin. Menatap ke dirinya dari pantulan cermin tersebut. di lehernya masih tampak tanda-tanda kepemilikan Alfandi dengan banyak.
"Ya ampun ... gini kah pengantin baru? baru gue," lalu Sukma mendekati tempat tidurnya dengan hati-hati naik dan berbaring.
Tidak lama kemudian, rasa kantuk pun menyerang Sukma. Sehingga kedua menik matanya terpejam dan tidak butuh waktu yang lama ... dia pun tertidur dengan sangat lelap.
Sekitar pukul 10.00 wib. Alfandi kembali dengan sebuah paper bag di tangan. Setelah menutup pintunya, Alfandi berjalan mendekati tempat tidur dan mendapati sang istri sedang tertidur lelap. Kemudian Alfandi mengembangkan senyumnya dan terus mendekati ke arah sang istri seraya menyimpan paper bag di atas nakas.
Alfandi naik ke atas tempat tidur berbaring dan berhadapan dengan Sukma, kecupan mesra pun tak ayal mendarat di kening dan pipinya sang istri.
"Sayang aku pulang nih!" suara Alfandi setengah berisik. Punggung tangannya mengelus pipi Sukma dengan lembut.
Tubuh Sukma bergerak, tanpa membuka manik matanya Sukma pun memunggungi tubuh Alfandi.
"Lho, kok aku di kasih punggung sih?" Alfandi mendekat lalu memeluk pinggang sang istri dengan sangat kuat, memberi kecupan pada tengkuknya.
Lama-lama sang empu merasakan sentuhan dari Alfandi yang tak ada henti mengecup bahu dan tengkuknya.
Sontak Sukma melonjak bangun dan jawaban tanganku harapan indahnya. "Anda ngapain di sini?" Sukma menggosok kedua matanya.
Alfandi pun bangun sembari tersenyum. "Sayang ... kamu kenapa sih? kita kan kan sudah menikah!"
Sukma menoleh sambil memegangi bahu dan tengkuknya yang terasa lembab tersebut bekas bibir Alfandi.
"Apa kau lupa sayang hem? kita sudah suami istri dari kemarin." Alfandi merangkul pinggang Sukma dan menempelkan dagu di bahu wanita muda tersebut.
Sukma pun tersadar. "Oh iya!" gumamnya. Mengusap wajahnya yang masih terasa mengantuk.
Dalam beberapa saat, Alfandi masih betah memeluk sang istri seraya sesekali mengecup bahu Sukma.
"Aku mau cuci muka dulu?" membuka pelukan tangan Alfandi.
Alfandi pun dengan pasrah melepaskan sang istri untuk ke kamar mandi.
Sukma buru-buru pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan buang air kecil yang rasanya perih. Kemudian keluar dan mendekati Alfandi yang kini tampak berbaring dengan berbantal kan tangan.
Melihat kedatangan Sukma. Alfandi bangun dan mengambil paper bag yang dia bawa tadi.
"Sayang, sekarang gak mungkin kamu nolak lagi kan? ini ponsel buat kamu dan semuanya sudah ku setting. Tinggal pakai saja, dan ini kartu ATM. Jadi ... aku cukup transfer ke nomor rekening mu saja. Buat keperluan apapun dan ... kamu tinggal ambil ke ATM bila perlu uang tersebut."
"Emangnya warung bisa terima kartu ATM ya?" tanya Sukma sembari bercanda.
"Nggak lah sayang ku?" Alfandi mencubit hidung Sukma gemas.
"Berarti aku harus juga menyimpan uang kes,!" sambungnya sukma.
"Iya sayang ku, kau ambil saja dari ATM buat keperluan-keperluan lainnya."
"Oke makasih ya?" Sukma menunjukan senyumnya.
"Sama-sama sayang," balas Alfandi sambil kembali merangkul sang istri dari arah belakang.
"Jangan bertanya soal harga, pakai saja. Kontak ku dan anak-anak ada di sana. Oya aku pun sudah membelikan Jihan dan Marwan ponsel, cuma sudah disetting buat belajar, bukan buat main." Suara Alfandi tepat dekat telinganya.
"Aku rasa, adik-adik jangan dulu di beri ponsel, nanti mengganggu pelajarannya." Protes Sukma yang kurang setuju dengan pemikiran Affandi yang membelikan kedua adiknya ponsel.
"Sayang ... kan sudah ku bilang, ponselnya sudah disetting untuk belajar bukan untuk main games jadi akan aman! tidak akan mengganggu sekolahnya." timpalnya Alfandi seraya mengecup pipi Sukma.
"Tapi kan, bisa saja mereka bermain games! dengan cara downloadnya?" sambungnya Sukma.
"Nggak bisa. Sayang ... karena handphone nya sudah aku pegang keamanannya, tidak bisa semena-mena. Lagian aku akan merasa tidak adil kalau tidak membelikan mereka! sementara kedua putraku memegang gadget masing-masing. Sementara mereka tidak! di mana tanggung jawabku sebagai suamimu?" akunya Alfandi.
"Ya sudah kalau begitu, kalau sekira-kira aman buat belajar." Sukma pasrah. Makasih ya?"
"Ucapan terima kasih nya boleh dong dengan kecupan?" Alfandi menunjuk pipinya yang sedikit berbulu halus.
Dengan cepat, Sukma pun mencium pipi Alfandi dengan singkat.
"Yang mesra dong ... satu lagi!" Alfandi menunjuk pupi yang satu lagi.
Dan Sukma pun turuti saja. Toh apa salahnya juga.
"Ini belum?" lagi-lagi Alfandi menunjuk bibirnya.
Sesaat Sukma tertegun sembari menatap ke arah wajah Alfandi. "Gue berasa menjual diri semata-mata untuk mendapatkan semuanya. Rumah beserta isinya dan barang-barang mahal juga uang." Batinnya Sukma, lalu menunduk.
Alfandi yang faham kalau istrinya ini masih malu-malu, sehingga dia yang akan turun tangan untuk memenuhi hasratnya.
Tangan Alfandi bergerak mengarah ke dagu Sukma untuk mengangkatnya. Kemudian Alfandi mengecup bibir Sukma dengan sangat lembut.
Lama-lama kecupan itu menuntut lebih. Sehingga tangan Alfandi bergerilya kemana-mana, menjamah yang dia suka. Nafas Alfandi pun terdengar lebih cepat dan memburu.
Jantung Sukma berdegup sangat kencang. Dan tidak bisa menolak kehendak Alfandi, dia pun mulai terhanyut dengan suasana yang tercipta.
Alfandi terus mencumbu istri barunya itu, mumpung ada kesempatan. Besok dia akan masuk kerja dan pulang pun akan ke mension bila anak-anak di sana, kecuali anak-anak juga tinggal di sini.
Tapi gak mungkin juga selamanya mereka di sini, dengan adanya Vaula di rumah. Bagaimana pun dia harus bisa membagi waktu antara istri pertama dan istri muda.
"Sayang," suara Alfandi pelan. Kini tubuhnya berada di atas tubuh Sukma yang entah dari kapan sudah sama-sama polos.
Walau merasa was-was takut sakit lagi. Namun Alfandi terus meyakinkan kalau kali ini Alfandi akan lebih hati-hati dan tidak akan sembarangan membuat tanda kepemilikan, kecuali pada tempat yang sekiranya akan tertutup pakaian nantinya.
"Takut!" gumamnya Sukma penuh rasa cemas.
"Kau jangan gugup, harus santai sayang. Nikmati ritual ini, niscaya tidak akan terasa sakit lagi. Lagian lama-lama akan terbiasa juga! santai sayang santai, kau harus menikmatinya juga. Percuma kalau hanya aku saja yang menikmati nya sayang," bisik Alfandi di telinganya Sukma.
Sukma mengangguk, lalu memejamkan matanya seraya menghela nafas panjang. Menenangkan dirinya sendiri yang kata Alfandi harus juga menikmati ritual tersebut.
Alfandi dengan sabar menunggu sang istri merasa tenang seraya terus mencumbunya. Sebagai awal dari segalanya agar mendapat hasil yang memuaskan dan penetrasi yang baik.
Kemudian Alfandi mulai mengendalikan badannya dan melepas mahluk astral ke tempat favoritnya dan bermain-main di sana.
Hampir dua jam lamanya mereka bermain, keringat pun sudah berapa tak dielakkan lagi bercucuran dari keduanya. Dan mereka semakin lama kian menikmatinya walaupun terkadang Sukma tidak fokus dan merasa apa yang dia dapat dari Alfandi, semuanya harus dibayar mahal dengan dirinya itu.
"Ahk ..." lenguhan panjang dari Alfandi seiring dengan berhentinya ritual yang dia ciptakan, Sudah beberapa kali juga dia mahluk astral melepas cairan sebagai penyerangan terakhir.
tubuh Sukma sudah bermandikan. keringat, membuat rasanya sangat lengket dan kurang nyaman.
Cuph!
Kecupan kecil di kening Sukma menghiasi. "Sayang. Maaf ya? kalau aku tidak bisa setiap har bersama mu?"
Nyes ....
Ada rasa yang aneh, menghiasi perasaan Sukma dan dari sudut matanya ada air bening walau setetes. Begini lah namanya jadi yang kedua? waktu pun hanya di beri sisa.
Namun Sukma tetap mengangguk pelan sambil menempelkan pipi nya di dada Alfandi.
"Tapi aku pasti akan sering mengunjungi mu di sini. Sebab aku akan selalu merindukan mu!" cuph! lagi-lagi Alfandi mencium pucuk kepala Sukma.
Sukma tidak menjawab. Dia hanya diam seribu bahasa. Hanya gerakan kecil saja yang kadang menghiasi heningnya suasana.
"Aku akan merindukan mu, terutama saat-saat kita seperti ini." Alfandi menempelkan dagu di pucuk kepala Sukma yang tetap terdiam.
Sesekali jemari Sukma menari-nari di atas dada bidang Alfandi. Sebagai respon dari Sukma.
"Kalau ada apa-apa telepon saja aku langsung, kontaknya sudah ada di ponsel mu. Jangan marah ya? kalau saya gak pulang ke sini?" pinta Alfandi lirih.
Sukma hanya mengangguk pelan saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Badan mu masih terasa sakit?" tanya Alfandi.
"Masih," pada akhirnya Sukma bersuara juga.
"Tapi yang itu gak perih lagi kan? ketika aku pake barusan? nggak ya? gak bengkak lagi!" selidik Alfandi dan berusaha untuk menyentuhnya.
Tapi Sukma segera menjauhkan tangan Alfandi dari daerah itu. "Sedikit saja."
"Asal jangan banyak-banyak saja sakitnya. Nanti aku harus puasa lagi? gak kasihan apa? he he he ..." Alfandi terkekeh sendiri.
Sukma mendongak. "Nanti istri mau juga melayani mu di sana!"
"Nggak sayang, gak mungkin, kalau mau kenapa gak dari kemarin-kemarin? terima aku kelabakan! sekarang aku sudah mendapatnya dari mu, terima kasih sayang? jangan tolak aku ya? kalau aku lagi menginginkannya."
"Tergantung!" Sukma kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang tersebut.
"Kok, tergantung sih sayang? jangan gitu dong! nanti aku bisa sakit kalau kamu gak mau kasih." nada bicara Alfandi sedikit memohon.
Bibir Sukma hanya tersenyum lucu mendengar perkataan dari Alfandi yang seolah memohon-mohon bagai meminta sesuatu!
Saat ini Alfandi sedang bersiap untuk menjemput anak-anak. Sementara Sukma baru saja selesai membersihkan dirinya, tampak berdiri mengenakan kimono dan mengeringkan rambutnya yang basah.
"Sudah duhur Al." gumamnya Sukma sambil melirik sekilas.
"Iya, sudah. Kenapa?" Alfandi bertanya balik.
"Ck, salat belum? bapak Alfandi?" selidik Sukma seraya menyebut nama nya Alfandi penuh penekanan.
"Sudah sayang, sudah! Hem ... kenapa? mau aku manjakan lagi?" Alfandi mendekat.
"Stop, jangan dekati aku. Aku mau salat dulu! sudah jam berapa nih?" Sukma langsung mendekati peralatan miliknya.
Dan Alfandi menunggui sambil duduk di sofa. Sesekali melihat jarum jam yang, sudah melewati jam makan siang.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, membaut Sukma Alfandi menoleh dan bertanya-tanya siapa dia? yang sepertinya bukan bi Lasmi ....
.
...Bersambung!...