
"Saya bangga dengan kalian semua! tingkatkan lagi ya belajarnya? biar lebih meningkat lagi nilainya. Biar kalian menjadi orang yang pinter." Alfandi merasa bangga dan bahagia dengan nilai kedua putra dan adik iparnya.
Terutama Firza yang termasuk nakal. Namun Alhamdulillah nilainya lumayan gak anjlok banget.
Setelah beberapa saat kemudian, Sukma kembali dan mengajak suami dan yang lainnya untuk makan. “Ayo dong ... kita makan? Apa kalian gak mau makan? ya sudah, aku makan sendiri saja!”
Sukma berjalan mendekati meja makan, namun baru beberapa
langkah saja. Tangan Sukma di tangkap oleh Alfandi dan juga berjalan ke meja makan.
“Apa istri ku merajuk?” suara Alfandi sambil menggandeng
pinggang sang istri. Dan juda mengajak anak-anak untuk makan malam bersama.
"Nggak, siapa juga yang merajuk? gak ada!" Sukma mengheleng sembari tersenyum.
"Kangen nih," bisik Alfandi dengan penuh perasaan dan tatapan nan mesra.
Sukma membalas tatapan intu, lalu dia menunduk melihat lantai. Tidak sanggup membalas tatapan dari suaminya itu.
Cuph! Alfandi mencium pucuk kepalanya Sukma, lalu ingin mengecup pipi sang istri. Tetapi Sukma menghindar dengan alasan malu sama anak-anak.
Sukma mengheleng seraya berkata. "Jangan, malu sama anak-anak, sabar kenapa sih?" kata Sukma dengan lembut.
"Oke-oke, aku akan sabar dulu. Sampai nanti waktunya." Balas Alfandi tampak kesal.
"Senyum dong? jangan marah gitu!" Sukma meminta Alfandi untuk tersenyum.
Alfandi pun menunjukan senyum nya yang tampak terpaksa.
"Senyumnya juga tidak tulus, terpaksa ahk." Kata Sukma kembali.
"Bicarakan apa sih? bisik-bisik begitu? sedang pacaran ya?" suara Fikri sambil duduk di kursi meja makan untuk bersiap makan malam.
"Hem ... jagoan Papa ingin tahu saja, anak kecil tidak boleh tahu. Oya. Kita makan malam segera?sudah lapar nih." Alfandi menatap ke arah putra bungsunya.
Jihan, Marwan dan Firza belakangan duduk di kursinya masing-masing.
Kemudian Sukma menyiapkan piring untuk sang suami.
"Wah ... nasi goreng! buat ku nih?" Alfandi antusias melihat nasi goreng yang jadi kesukaannya ada di meja dan melihat ke arah Sukma yang menunjukan senyuman yang termanisnya.
"Aahk ... Fikri-Fikri mau, Mom. Mau!" Fikri ribut menunjuk ke arah nasi goreng.
"Boleh, Mommy bikin banyak kok, karena takutnya kalau bikin sedikit, kalian mau." Sukma pun menawari yang lain dan termasuk Firza yang hanya diam namun menyodorkan piringnya.
Alfandi tersenyum bahagia. Sepertinya putra sulung dan istri muda nya sudah mulai dekat dan terdengar tadi kalau Firza memanggil Sukma dengan sebutan mommy.
Dengan tidak membuang waktu, mereka pun langsung menyantap makan malamnya dengan lahap, namun di balik itu. Alfandi terkadang melamun memikirkan masalah yang sedang dia hadapi.
Sukma yang peka atas suaminya itu yang agak melamun. Menyentuh tangannya, dengan menunjukan senyumnya.
Alfandi menoleh dan berbalik, sekarang tangannya lah yang menggenggam dan meremas jemarinya Sukma dengan lembut.
"Oke, untuk malam ini ... setelah makan. Kalian masuk kamar masing-masing dan paking pakaian masing-masing, karena besok pagi kita akan pergi liburan!" pinta Alfandi dan dengan begitu dia akan memiliki banyak waktu untuk berduaan dengan sang istri.
"Hore ... besok liburan! ye-ye-ye ... aku akan pergi liburan!" Fikri berjingkrak senang, karena besok akan liburan.
Sukma terdiam dan ingin mengatakan sesuatu. Tetapi ... Harus ia urungkan niatnya sampai ada waktu yang tepat.
Anak-anak pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Padahal masih sore, tapi karena besok mau pergi berlibur dan perintah Alfandi seperti itu.
Menjadikan anak-anak harus menuruti perintahnya Alfandi. Bi Lasmi pun segera pulang dan membiarkan sang majikan lebih banyak waktu untuk berduaan.
Kini Alfandi sudah berada di dalam kamar, setelah menunaikan kewajibannya. Dia berbaring setengah bersandar di atas tumpukan bantal menunggunsnag istri yang berada di dalam kamar mandi yang terasa lama sekali.
Sukma yang berada di kamar mandi dan berganti pakaian dengan gaun malam yang baru kali ini ia pakai, dimana gaun itu begitu menerawang dan kurang bahan. Dia sendiri pun merasa risih untuk melihatnya di cermin, terasa geli dan ahk pokonya malu sendiri.
Namun, terpaksa memakainya demi membahagiakan suaminya yang katanya 98% laki-laki suka dengan penampilan wanita yang seksi bila berada di sebelahnya.
"Huuh ..." Sukma mengembuskan nafas nya melalui mulut. "Kalau gak ingin membahagiakan nya! aku malas pakai ini, aslinya. Malu!"
Dia mau keluar dari kamar mandi saja, rasanya sangat ragu-ragu dan malu. Untuk memperlihatkan dirinya ke Alfandi dengan gaun yang tipis dan kurang bahan seperti ini.
Tangan Sukma meraih kimono nya. Lalu berjalan dengan pelan ke dekat pintu, melangkah penuh keraguan tetapi kimono nya ia simpan kembali. Dia keluar dengan hanya menggunakan gaun yang melekat di tubuhnya itu.
Lagi-lagi Sukma menghela nafas panjang dan menggigit bibir bawahnya. Berjalan pelan sambil menunduk dan langkahnya terhenti ketika suara Alfandi yang menggetarkan hati.
"Lama sekali di kamar mandinya sayang? sini? duduk bersama ku? aku sudah menunggu mu satu hari dua puluh dua jam dua puluh menit dan dua detik," ungkap Alfandi sambil menepuk kasur di sampingnya.
Sukma mesem-mesem mendengar ucapan dari sang suaminya. "Apaan sih? cuma beberapa menit juga!"
Langkah Sukma terus terayun mendekati tempat tidur yang ada Alfandi menunggu di sana.
Alfandi menatap ke arah sang istri tanpa berkedip, melihat keindahan yang nyata di depan mata. Dan hanya tertutup kabut tipis namun tidak menutup keindahannya.
Sukma naik dengan lututnya mendekati Alfandi dan tangan Alfandi memberikan pegangan agar Sukma semakin mendekat padanya.
Alfandi tidak berhenti memandangi sang istri yang membuat dia tergoda dan merindukan kehangatan nya beberapa hari ini.
"Aku merindukan mu sayang!" bisik pria yang sudah bertelanjang dada tersebut.
Membuat bulu kuduk nya Sukma meremang dan dada berdebar mendengarnya. Karena dia tahu kalau Alfandi akan meminta haknya malam ini.
"Em ..." bibir Sukma bergetar dan tidak tahu harus berkata apa.
"Kenapa? apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Alfandi dengan lirih.
Sukma menggeleng pelan tanpa mengeluarkan suaranya lagi.
Tatapan Alfandi semakin mengandung arti. Tanpa bicara Alfandi menunjukan kalau dia sangat mendambakan sang istri untuk menemaninya bermain di sagara cinta.
Sukma hanya membalas tatapan mata Alfandi dengan tatapan yang sayu. Lalu menyapu ke seluruh tubuh pria itu yang sudah bertelanjang dada dan sekilas terlihat, kalau di bawah sana ada yang on dan bergerak-gerak. Membuat Sukma bergidik geli serta darah di tubuh ya berdesir hangat berkumpul di banerapa tikik.
Tubuhnya bergetar dan merasakan sesuatu yang aneh, yang sulit Sukma ungkapkan dengan kata-kata.
Tangan Alfandi mengambil remote untuk menggantikan cahaya lampu agar tamaram dan mendapatkan suasna yang lebih syahdu.
Lantas kedua tangan Alfandi membingkai wajahnya Sukma dengan lembut. Tatapannya tertuju pada bagian wajah yang ingin pertama dia sentuh, kemudian ke bagian-bagian lainnya yang tidak ayal akan dia nikmati keindahannya.
Cuph! kecupan kecil mendarat di bagian tengkuk samping yang terbuka dan membuat Sukma mendongak dan melepas suaranya yang indah ....
.
...Bersambung!...
Hanya komen dan dukungan lainnya yang membuat ku semangat untuk berkarya.