Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Gagal terus



Terdengar suara teriakan yang membuat Alfandi dan Sukma tercengang dan seakan berhenti jantungnya berdegup. Dan menoleh ke arah anak-anak bermain.


Dan anak-anak pada berlarian ke arah mereka karena ada orang baju hantam entah siapa dan entah pula penyebabnya?


"Mommy, Papa? aku takut!" Fikri berlari menyeruak memeluk Sukma.


"Astagfirullah ... ada apa ini? untung kalian tidak kenapa-napa. Kita balik ke penginapan yo?" Sukma memeluk erat Fikri yang ketakutan.


"Yo, kita pulang yo?" ajak Alfandi sambil melihat kearah orang yang berkelahi tersebut yang untungnya langsung datang keamanan ke sana.


Alfandi dan Sukma mengajak anak-anak untuk pulang dan kebetulan bentar lagi Maghrib.


"Nanti setelah makan malam, kita akan jalan-jalan ke tempat lain ya?" ajak Alfandi setelah berada di dalam gedung hotel.


"Hore ... kita jalan-jalan lagi. Pah, sekalian makan malam nya di luar saja ya, Pah ... Mommy?" Fikri melirik ke arah papa dan mommy nya.


"Mommy gimana papa saja!" balas Sukma sambil terus berjalan dan tangannya di gelayuti oleh tangan Fikri.


"Oke, sekarang kalian mandi lalu salat ya? nanti selepas itu kumpul di kamar, Papa." Kata Alfandi sambil berdiri di hadapan semuanya. "Kau juga ikut Pak Luky!"


"Iya, Tuan, haduh ... saya berasa menjadi orang kaya, liburan begini. Ha ha ha ... tidak menyangka saya?" balas Luky sambil tertawa lepas.


"Makanya ikut kami, Pak Luky." Tampak Fikri yang di anggukan oleh Marwan.


Dan pada akhirnya mereka masuk ke kamarnya masing-masing. begitupun Sukma dan Alfandi.


"Sayang. Aku bingung nih?" ucap Alfandi setelah selesai salat.


Sukma menoleh pada sang suami seraya membuka mukena nya. "Bingung kenapa?"


"Bingung, harus bicara apa atau cara menyampaikannya kepada anak-anak. Kalau aku sudah berpisah dengan mamanya," Alfandi menghela nafas panjang dan berat.


Sukma terdiam dan menatap lekat ke arah Alfandi dengan tatapan datar. "Huuh ... tapi lambat laun mereka harus tahu lho!"


"Barang-barang pribadi ku sudah mulai ku pindahkan ke rumah mu, tidak apa kan? aku membawa barang-barang pribadi ku." Tanya Alfandi sambil menarik bahu sang istri ke dalam pelukannya.


"Lho, kok bertanya begitu? itu kan rumah mu, kenapa minta ijin segala sih?" Sukma menatap heran ke arah Alfandi.


"Sayang ... itu rumah mu, tapi aku cuma ambil semua pakaian dan barang-barang kerjaan ku saja! gak lebih kok." Alfandi kembali menarik kepala Sukma ke dalam pelukannya dan dibelai lembut rambutnya.


Alfandi mendongak melihat langit-langit sembari mengembuskan nafasnya yang terasa berat itu.


"Baiknya jangan terlalu dipikirin deh, nanti bila sudah menemukan waktu yang tepat. Barulah jelaskan kepada mereka," ucap Sukma sembari mendongak menatap wajah sang suami.


Alfandi menurunkan wajahnya dan mengecup kening sang istri dengan mesra. "Terima kasih sayang? dan aku membutuhkan dukungan mu."


Sukma mengangguk pelan seraya memejamkan kedua maniknya ketika bibir Alfandi mendarat di keningnya yang terasa lembut dan nyess menusuk ke dalam hati.


Dan ketika Alfandi mau meneruskan kecupannya ke tempat lain, namun apa daya terdengar suara ketukan di pintu dari luar.


“Alah ... gagal lagi gimana jadinya nih kalau gagal terus?” bisik Alfandi pada sang istri yang beranjak dari duduknya.


‘Nanti bila sudah tidur, baru tenang!” balas Sukma sambil mesem-mesem pada Alfandi lalu berjalan mendekati pintu.


Blak ... dan di sana sudah berdiri anak-anak, bersama pak Luky. Mereka mau menagih janji kalau mau sekarang ini makan malam di luar.


“Ayo Mommy? Kita makan malam di luar, Mommy? sambil mencari angin.” Ajak Fikri sambil menghampiri mommy nya.


Sukma menoleh ke belakang dimana Alfandi pun bersiap-siap untuk jalan, terlihat dari gerak-geriknya.


“Iya, kita jalan sekarang! Papa tidak lupa kok. Kalau kita akan makan di luar sambil jalan-jalan


mencari angin.” Suara Alfandi dari dalam kamar sambil memasukan dompetnya ke dalam saku.


“Malas ahk, kalau cuma cari angin, yang ada kita masuk angin dong.” Timpal Marwan sambil nyengir.


“Ahk dasar katro lu, tidak tahu pribahasa. Tahunya makan doang!” tambahnya Fikri sembari berjalan mendahului yang lain.


“Ih ... enak saja bilang ku katro? Lu, kulkas, dingin dan ... apa lagi ya?” Marwan menyusul dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Alfandi berjalan, dengan tangan yang erat menggenggam tangan Sukma, mereka semua berjalan di koridor hotel mendekati lift.


Fikri kadang jalan di depan sambil berceloteh, kadang juga memegang tangan Sukma.


Setelah melewati beberapa lantai, akhirnya mereka sampai di lantai dasar dan terus berjalan keluar gedung tersebut, berjalan-jalan mencari makanan yang sekiranya mereka suka. Fikri yang heboh, segala di tunjuk.


Terkadang Fikri berlarian bersama Marwan dan di susul oleh Firza yang tampak happy itu, dan dia dapat melupakan sang bunda yang dia rasa tidak mengingatnya sama sekali.


Apalagi Fikri, dia sama sekali tidak ingat sama mama nya yang penting dia bersama mommy nya dan yang lainnya juga.


Anak itu terlalu happy bila bersama Sukma, sehingga dia lupa kalau Sukma hanya ibu sambung untuk dirinya dan Firza.


Setelah menemukan tempat yang tepat dan makanannya pun


sesuai selera, mereka pun mengambil tempatnya masing-masing. Duduk manis menunggu pesanan datang.


Tidak lama mereka menunggu, pun disuguhi semua pesanannya. Dan semuanya langsung menyantap dengan lahap hidangan yang ada, menikmati semua menu yang berada di meja.


Selesai makan. Fikri dan Marwan lari-lari yang di awasi oleh pak Luky, dan lama-lama Jihan pun


menyusul Marwan dan akhirnya Firza juga menyusul Jihan yang menuju Marwan dan adiknya, Fikri.


Tinggallah Sukma dan Alfandi yang masih terduduk di tempat sambil menikmati angin laut yang menyisir lembut menyapu kulit.


Alfandi mendekatkan duduknya dengan sang istri yang sedang menikmati minumnya, dengan manik mata melihat ke arah anak-anak yang berlarian. Tidak lama kemudian, Fikri datang meminta uang buat membeli jajanan. Dan Alfandi pun memberikan sejumlah uang kepada Fikri agar jajan bersama yang lainnya juga.


“Please deh, Nak ... jangan mengganggu papa dan mommy nya napa? Masa mommy nya dan papa gak boleh berduaan sih?” keluh Alfandi sembari merangkul kan tangan kanannya ke pinggangnya Sukma yang menyesap air kelapa. Lalu mengarahkan sedotan ke mulut Alfandi agar menyesap juga air tersebut.


Alfandi menyingkirkan anak rambut Sukma yang berada di bahunya dan diciumnya bahu sang istri dengan sangat lembut.


Nyess ... “Apaan sih? Malu ihk, dilihat orang juga.” Sukma menoleh ke sekitaran yang lumayan ramai dengan pengunjung yang menikmati suasana pantai ini.


“Em ... emang kenapa? kita bukannya dah halal untuk melakukan apa pun?” Alfandi malah sengaja kembali menghujani bahu Sukma dengan kecupan kecil.


“Ih ... kenapa sih? malah sengaja banget deh, malu ahk,” gumamnya Sukma sambil mencoba beranjak dari duduknya. Namun, tangan Alfandi menangkap nya dengan cepat dan Sukma duduk kembali di tempat semula.


“Iya sayang iya ... nasib-nasib, niatnya bersenang-senang. Eh ... malah menghindar terus dari


siang,” Alfandi terus merajuk.


“Nanti ada waktunya!” bujuk Sukma sambil mengulum senyumnya dan mengusap rahang sang suami dengan lembut.


“Beneran ya? jangan kabur lagi?” pinta Alfandi sambil mengusap punggung tangan Sukma.


“He’em,” kepala Sukma mengangguk pelan sembari menyesap air minumnya.


“Asyik ... makasih sayang? muuahhh ...” kecupan singkat mendarat di kening Sukma.


Dan Alfandi berdiri menyusul anak-anak, bermain bola di sana, Sukma menarik senyumnya melihat ke arah mereka,


“Ya Allah ... berilah suami jalan untuk menyampaikan perceraian nya pada kedua putra mereka, ya Allah, salah kah aku? yang berada di antara mereka! sehingga pada akhirnya mereka berdua bercerai?” gumamnya sukma pelan sembari mendongak ke langit-langit, ada rasa sedih di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ....


.


...Bersambung!...


.


Harap.membeti dukungannya ya reader ku🙏 jangan lupa subscribe di titik tiga bagian pojok ya?