
Di kota Balikpapan, Alfandi baru keluar dari ruang kerjanya dia menerima pesan dari Sukma yang katanya dia nggak bisa menyusul karena kalau dia menyusul Fikri merajuk dan ingin ikut.
"Anak itu sudah besar masih aja manja sama Mommy nya, hah ... nggak bisa berduaan deh." gumamnya Alfandi sayang masukkan ponsel ke dalam sakunya.
Alfandi mengayunkan kakinya berjalan dengan langkah lebar menuju mobil rental digunakan sama dia selama berada di kota tersebut.
Dia hendak ke restoran untuk makan malam. Bersama rekan-rekannya yang lain, tatkala sedang berjalan. Dia berpapasan dengan seorang wanita cantik tinggi dan berpakaian elegan juga termasuk formal.
"Fandi." Gumamnya wanita tersebut dengan tatapan yang sudah diartikan ke arah Alfandi.
"Kamu berada di sini?" balasnya Alfandi seraya mengerutkan rekeningnya.
"Iya aku sedang ada urusan di sini, ada masalah bisnis dan juga ada peragaan busana di hotel ini!" jawabnya Vaula.
Rupanya wanita cantik itu adalah Vaula, mantan istrinya Fandy yaitu mamanya dari Fikri dan Firza. kebetulan dia sedang ada urusan juga di kota yang sama.
"Oh, sudah lama?" tanya kembali Affandi sebelum belanja dari tempatnya.
"Baru dua hari ini. Kamu sendiri Sudah lama di sini?" Vaula bertanya balik pada Al.
"Saya sudah beberapa hari di sini." kemudian Alfandi berpamitan untuk melanjutkan langkahnya kemeja yang sudah dipesan untuk makan bersama rekan-rekannya.
Beberapa rekan dan staf Alfandi mengikuti dari belakang dan menyempatkan untuk mengangguk pada Vaula yang membalas dengan senyuman, serta memandangi punggung Affandi. Seorang pria yang bertahun-tahun mendampingi hidupnya. Dan berapa tahun ini mereka terpisah karena kesalahannya sendiri, tergoda dengan pria yang hanya ingin menghancurkan rumah tangga orang.
"Kalau diperhatikan ... semakin tua kamu semakin ganteng! semakin tampan, hah ... seandainya dulu aku tidak tergoda dengan pria lain, mungkin sampai saat ini kita masih bersama." gumamnya Vaula yang kemudian diajak terus berjalan oleh asistennya.
Alfandi duduk bersama rekan dan staf nya. Bersiap untuk menikmati makan malamnya yang sudah tersedia di meja bundar tersebut, sempat terlintas di pikirannya dan teringat pada Vaula yang bertemu barusan.
Kemudian. Alfandi pun mulai menyantap makanya dengan sangat lahap, sambil mengobrol dengan orang-orang yang berada bersamanya.
Selesai makan dan meeting Alfandi pun pulang ke kamar hotelnya dan di sana ketemu lagi dengan Vaula, katanya kamar dia menginap nya pun bersebelahan dengan dirinya.
"Ooh," Alfandi pas masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Paula yang masih berdiri di tempat.
"Beneran ya makin tua kamu semakin tampan dan aku tergoda. lama-lama bisa CLBK nih." Vaula mengulum senyumnya menatap pintu kamar Alfandi yang baru saja di lewati oleh sang mantan.
"sialan ngapain sih ketemu lagi ketemu lagi mana kamarnya bersebelahan lagi, tapi ... tak apa lah emangnya aku pikirin." Alfandi membuka setelannya hendak membersihkan diri.
Lalu kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Namun sebelum masuk melintasi pintu kamar mandi kepalanya menoleh ke arah pintu kamar yang dia yakini sudah terkunci.
Alfandi berdiri di bawah kucuran air shower yang dengan suhu hangat. Pejamkan kedua netranya dia itu ingat pada sang istri yang di rumah, kalau saja dia bisa ke sini ya nggak akan kesepian.
Makanya setelah 15 menit melakukan restorannya di kamar mandi Alfandi langsung menelepon sang istri dengan sambungan video call.
"Kamu baru selesai mandi ya?" tanya Sukma ketika melihat suaminya hanya mengenakan handuk saja.
"Sayang belum tidur?" Alfandi balik bertanya memandangi sang istri yang sedang duduk bersandar di bahu tempat tidur mengenakan piyama polos berwarna coklat muda.
"Aku kangen sama kamu sayang nggak usah aja Sayang bisa ke sini aku nggak akan kesepian!" Alfandi terdengar mengeluh.
"Tadinya aku juga mau ke sana, cuman ... ya seperti yang aku bilang tadi, Fikri malah merajuk kalau dia nggak mau ditinggal dan pengen ikut pergi. Katanya sih nggak mau kalau sampai mamanya dijemput dia gara-gara tinggal di sini sendiri!" ujarnya Sukma tentang Fikri.
"Ya nggak bakalan lah, mamanya jemput! orang dia sedang di luar kota kok!" timpalnya apa nih saya mengeringkan rambutnya dengan anak kecil yang berada di tangan kiri.
"Kok tahu kalau dia sedang di luar kota?" Sukma mengerutkan keningnya, merasa heran kok suaminya tahu kalau sang mantan sedang berada di luar kota.
"Gimana nggak tahu! orang satu hotel kok, katanya ada urusan kerjaan juga makanya dia nggak mungkin menjemput Fikri." Balasnya Alfandi yang kini mengusap dada nya dengan handuk kecil.
"Oh jadi kamu ketemu sama dia!" tiba-tiba Sukma merasa panas, hatinya terbakar api cemburu! padahal sebelumnya nggak pernah merasa cemburu pada Vaula.
"Iya tadi ketemu, sempat ketemu maksud aku!" Alfandi langsung meralat pengakuannya sambil mendudukan dirinya di kursi.
Sukma terdiam dan mengatupkan mulutnya. Sambil menatap ke arah suaminya tersebut. Jadi pengen berada di sana dan memeluknya menjadi takut kehilangan.
"Ayolah sayang ... come on datang ke sini, temani aku?" Alfandi seakan-akan mendesak agar istrinya datang menemui dirinya yang berada di luar kota.
"Ya udah, kamu aja yang bujuk Fikri agar dia tidak ikut!" kata Sukma sambil merebahkan dirinya di atas bantal.
Pandangan Alfandi bergerak pada bagian-bagian yang menonjol dan bikin dia merasa gemas ingin menjamah serta menikmatinya saat ini juga. Alfandi berkali-kali berusaha menelan Saliva nya yang tercekat di tenggorokan, rasanya tidak tahan dengan gejolak rasa.
Melihat gelagat aneh dari suaminya. Menjadikan Sukma semakin menggoda dengan posisi dia yang mengekspos sesuatu yang bikin Alfandi semakin geram.
"Kalau sayang nggak bisa datang sendiri ke sini. Besok biar aku aja yang jemput kamu ke sana dan kita akan kembali ke sini--"
"Kalau kamu bisa pulang! ngapain aku ke sana? sudah aja kamu pulang ke sini barang satu atau dua hari, terus balik lagi ke sana. Jadi aku tak pernah rapat-rapat datang ke sana lho." Sukma menatap heran pada sang suami.
"Yang jelas aku ingin kamu menemani ku di sini, tolonglah ngerti Sayang, aku sangat membutuhkan mu untuk menemaniku!" Alfandi merajuk pada sang istri agar mau menemaninya di sisa keberadaannya di luar kota.
"Baiklah ... nanti ku pikirkan ya?" Sukma tengkurep dan perlihatkan belahannya.
Lagi-lagi Alfandi menelan saliva nya. Berasa tidak tahan dan dengan refleks. Miliknya pun bangun, menegang dan meronta minta sesuatu yang lebih, yang bisa ia lakukan hanya meremas nya sendiri.
"Em, sudah dulu ya! aku ngantuk dan kamu juga cepat istirahat! biar bangunnya tidak kesiangan." Sukma jadi gak tega melihat sang suami yang tampak sangat mendamba dirinya.
Sambungan vc pun berakhir dan Alfandi duduk bersandar dan mendongakkan wajahnya menatap langit-langit. Benar-benar hasratnya secara mendadak membuncah. Alfandi berusaha menetralkan perasaannya yang begitu membara. Mengontrol emosinya yang sulit dikendalikan.
Kemudian ... dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur telungkup agar menekan sesuatu yang sedari tadi terjaga.
Di luar kamar nya Alfandi, berdiri Vaula yang mengenakan gaun malam berbahan satin berwana ping muda. Berjalan mondar-mandir sembari menggigit bibirnya. Di dada nya ada hasrat untuk menemui Alfandi saat ini, namun dia bingung untuk apa dan ngapain ....
Like dan komen nya dong ... agar aku tambah semangat nih.