
Malam ini sebelum merehatkan dalam tidur, keduanya saling bercumbu kasih dan saling meluapkan kasih sayang dalam permainan yang mengasyikan. Dan berlangsung cukup lama.
“Sayang, i love you?” bisik Alfandi dan mengecup pipi dan kening sang istri.
“Miliki aku selamanya dan seutuhnya.” Balas Sukma penuh gairah.
“Tentu sayang, aku akan memliki mu seutuhnya dan selama-lamanya.” Alfandi mengangguk sambil kembali mencumbu sang istri.
Dan setelah puas melakukan pergulatan yang cukup sengit. Akhirnya Alfandi menyudahi aksinya itu dengan rasa lelah yang cukup menyerang tubuh keduanya.
Keesokan hari nya, Alfandi menyempatkan ke luar kota yaitu untuk menemui orang tua nya. Sebenarnya Fikri ingin ikut, namun Alfandi larang. Karna ini bukan lah waktu yang tepat untuk bermain ke sana.
Akhirnya dengan cemberut Fikri pun mengiyakan dan memilih bermain di rumah dangan Marwan dan Firza.
Alfandi pergi sendiri yang tadinya mau mengenalkan Sukma pun dia urung karena bukan waktu yang tepat, sepanjang perjalanan Alfandi begitu fokus menyetir dan melesatkan mobil nya dengan cepat agar segera sampai ke tempat tujuan.
Setelah beberapa jam di perjalanan, akhirnya Alfandi tiba juga di kediaman orang tua nya.
“Assalamu’alaikum? Ibu sehat?” Alfandi mencium tangan sang bunda yang bernama bu Puji.
“Wa’alaikumus salam ... mana anak-anak? kanapa gak kau ajak ka sini? Ibu kangen sam mereka.” Bu Puji celingukan ke arah mobil nya Alfandi yang tidak ada siapa-siapa itu.
“Tidak. Bu sebenarnya si bungsu juga mau ikut, tapi aku larang lain kali saja aku ajak ke sini nya,” ucap Alfandi sambil berjalan di belakang sang bunda sambil memegang kunci mobil.
“Kenapa kau tidak ajak saja mereka? Ibu kangen sama mereka dah lama tidak ketemu mereka!” sambung bu Puji sambil mendudukan dirinya di sofa.
‘Kau sudah datang Fan ... sendiri saja kau ke sini nya?” suara bapak Sardi.
“Iya,Pak. Aku sendiri saja. apa kabar sehat?” balas Alfandi sambil meraih tangan sang ayah lantas diciumnya penuh hormat.
Tidak lama kemudian. Datang bibi membawakan beberapa gelas minuman ke hadapan Alfandi dengan kedua orang tuanya.
Bibi mengangguk hormat seraya berkata. “Silakan di minum,Den?”
“Makasih. Bi, sehat?” balas Alfandi sambil tersenyum.
“Alhamdulillah ... Den.” Balas bibi sambil tersenyum ramah.
“Syukurlah, Bi.” Alfandi mengangguk lalu mengalihkan pandangan nya kepada kedua orang tuanya.
“Apa Vaula datang ke sini? Dan bicara apa saja dia?” selidik Alfandi sambil menatap ke arah ibu dan bapak nya.
Bu Puji dan pak Sardi saling bertukar pandangan, lalu bu Puji berkata. “ Iya kemarin dia datang ke sini nangis-nangis dan bercerita katanya kau menceraikannya tanpa sebab.”
“Bapak tidak mengerti dengan jalan pikiran mu sekarang, Fandi. Kau pernah bersumpah kalau kau tidak akan pernah menceraikan istri mu dalam keadaan apapun, tapi kini kenapa malah begini?” timpal pak Sardi.
“Tapi bagaimana kami akan mengerti dan membela kamu sebagai putra kami bila kami sendiri tidak tahu akar permasalahan nya, dan sebaiknya kau cerita pada kami berdua apa yang jadi masalahnya?” desak sang ibu yang merasa penasaran terhadap masalah apa yang sedang putranya hadapi saat ini.
Alfandi terdiam dan sedikit melamun dengan pertanyaan dari sang bunda tersebut, dia menjadi bingung antara cerita dan diam saja.
“Kata ibu mu benar, sebaiknya kau cerita saja pada kami berdua dan tidak perlu kau tutupi, agar kami faham jika kau salah akan kami koreksi, bila dia yang salah berarti kami tidak akan menyalahkan dirimu.” Ujar pak Sardi kembali.
Bu Puji pun mengangguk ke arah sang putra dengan tatapan penuh harap. “Iya, Fan ... cerita sama ibu.”
Alfandi menghela nafas dalam-dalam sebelum bercerita kepada kedua orang tua nya, tentang masalah dalam keluarganya. “Kalau kalian kekeh ingin tau, boleh lah. Sudah berapa tahun ini Vaula berubah, dalam arti berubah dalam segala hal. Terhadap suami dan juga anak-anak, saya berusaha mengerti dan memahami akan kesibukannya walau dalam hati saya sering marah.” Alfandi menjeda kalimat yang dia ucapkan itu.
Memang sudah beberapa tahun juga orang tua Alfandi tidak pernah berkunjung ke Jakarta disebabkan pak Sardi sering sakit-sakitan.
“Namun lama-lama rasa sabar dalam hal pribadi pun sampai ke penghujungnya, namun perceraian ku dengan Vaula bukan kesabaran ku telah habis? Bukan! tapi karena kesalahan nya itu yang tidak bisa saya maafkan lagi.” Sambung Alfandi yang masih membuat orang tua nya kurang mengerti.
“Ibu jadi semakin bingung dan tidak mengerti dengan yang kau maksudkan, Fan ... coba yang lebih jelas lagi agar ibu dan bapak mengerti dengan mudah?” pinta bu Puji.
Alfandi memejamkan kedua matanya dan menghirup udara yang sebanyak-banyaknya. “Oke, saya baru-baru ini mengetahui kalau Vaula selingkuh dengan seorang fotografer. Dan hubungannya itu itu bertahun-tahun, bukan baru sebulan atau dua bulan!”
“Astagfirullah ... ya Allah ... benarkah itu Fandi? kau jangan mengarang cerita hanya karena kau telah bosan terhadap istri mu itu? Dia seorang wanita dan seorang ibu juga, tidak mungkin mantu ibu seperti itu. Dulu dia begitu baik dan perhatian sama kalian—“
“Itu dulu, Bu. Sebelum beberapa tahun terakhir, itu benar, Bu. Kenyataannya memang seperti itu.” Alfandi memotong perkataan dari sang bunda yang tidak percaya dengan penjelasannya itu.
“Tapi kau tidak membalikan fakta kan Fan?” selidik sang ayah yang masih meragukan putra nya tersebut.
Karena merasa tidak dipercaya oleh kedua orang tua nya. Alfandi terpaksa menceritakan semuanya yang tadinya ingin dia tutupi atau merahasiakannya.
“Pak, Bu. Saya memang menikah lagi. Beberapa bulan lalu, kerena sabar saya sudah berkurang karena sudah tidak mendapat perhatian dari istri dalam segala hal, saya marah. Saya ingin berontak, Bu. Pak, beberapa kali saya ke tempat remang-remang, tapi alhamdulillah saya masih bisa menahan diri dan saya teringat pada seorang gadis yang belum lama juga saya kenal dan dia yatim piatu. Saya menikahinya tanpa setahu Vaula.”
Kedua orang tua Alfandi menggeleng berkali-kali tidak percaya ternyata nasibnya seperti itu.
“Akhirnya mungkin saya terselamatkan dari kejahatan syahwat saya sendiri. Namun saya menikah itu di saksikan oleh kedua putra saya, Firza dan Fikri. Dia tahu dan menyaksikan pernikahan kami dan mereka pun sering
menginap di sana. Bahkan sudah lebih seminggu ini mereka pun bersama saya dan istri muda. Dan belum bertemu dengan mamanya yang waktu kejadian itu seperti biasanya Vaula sedang liburan bersama kekasihnya. Meninggalkan anak-anak yang kemarin harus mengambil raport, sementara saya ada urusan kerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan—“
“Terus siapa yang mengambil raport mereka berdua? Selidik sang bunda.
“Huuh ... saya percayakan kepada istri muda saya dan anak-anak pun ikut sampai sekarang tinggal bersama,” jawabnya Alfandi seraya mengembuskan nafasnya.
Bu Puji wajahnya berubah sedih dan memeluk putranya itu, dia memang tidak tahu dari lama gimana keadaan rumah tangganya karena tidak kesana cukup lama ....
.
...Bersambung!...