Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Doa'kan aku



“Siapa yang datang?” Gumamnya Sukma sambil celingukan.


Kemudian Sukma meninggalkan kamarnya sekalian mau


menyiapkan makan malam buat Alfandi.


“Siapa, Bi? suara motor siapa tuh?” tanya Sukma sambil


menghampiri bi Lasmi yang sedang menyiapkan piring di meja makan.


“Nggak tau, Non. Sebentar Bibi lihat dulu,” ucap bi


Lasmi sambil berlalu pergi meninggalkan Sukma di dekat meja makan.


“Permisi? Apa Alfandi nya ada di sini? Kalau dari mobilnya


sih ada di sini!” sapa orang tersebut yang barusan memakai motor.


“Ooh ... tuan, ada di dalam dan sepertinya lagi salat tuh,”


jawabnya bi Lasmi sambil menunjuk ke arah dalam.


“Kebetulan sekali kalau dia masih ada, saya kira sudah


berangkat? ternyata masih di bini muda rupanya. He he he ...” sambung orang


tersebut sambil menjinjing helm yang berwarna hitam.


“Silakan masuk? Nanti juga tuan pasti turun,” bi Lasmi


mendahului tamunya yang dipersilakan duduk di sofa ruang tamu.


Bi Lasmi ngeloyor menghampiri ke arah Sukma. “Non, itu


ada tamu buat tuan.”


‘Siapa, Bi?” tanya Sukma menatap penasaran ke arah bi


Lasmi yang mengambil gelas buat tamunya. Lalu melihat ke arah ruang tamu.


Bi Lasmi menoleh pada sang majikan. “Sepertinya temannya, yang waktu nikahan ada hadir juga, kalau gak salah juga sih? He he he ....”


“Berarti kalau gak salah ... benar ya Bi? Hi hi hi ...” Sukma menunjukan senyuman yang manisnya kepada bi Lasmi.


“Iya dong ... Non, ahk si Non bisa saja!” sambungnya bi


Lasmi kembali, lalu menyuguhkan segelas air minum ke tempat tamu berada.


“Baiklah aku mau panggilkan dulu suami ku,” gumamnya


Sukma sambil langsung berlalu, setengah berlari menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya


dimana Alfandi berada.


Dengan pelan Sukma membuka pintu, apalagi sepertinya


Alfandi tengah membaca doa selepas salat.


Alfandi menoleh ketika melihat ada bayangan Sukma berada


di sana, Sukma pun menoleh ke arah Alfandi yang sedang menoleh ke arah dirinya.


“Itu kata bi Lasmi, di bawah ada tamu yang sedang menunggu


mu.’’ Sukma menunjuk ke arah luar.


“Em ... paling Rijal yang datang, sayang jangan lupa ya


besok?” lagi -lagi Alfandi berpesan soal pengambilan raport besok.


“Iya, insya Allah ... aku ingat kok, jangan khawatir


soal itu deh.” Sukma mengangguk sembari menunjukan giginya yang putih itu.


“Makasih sayang? Bilang saja kau ini suruhan aku!” cuph!


Kecupan mesra mendarat di pipinya Sukma.


Alfandi merangkul pinggang sang istri dan di peluknya


dengan sangat erat seraya berkata. ”Doa kan aku ya? Semoga setiap urusan ku


lancar dan tidak ada halangan apapun.”


Kepala Sukma yang berada di pundak Alfandi mengangguk


seraya berkata. “Jangankan di pinta, gak dipinta pun pasti aku doa kan. Apalagi


di pinta! Aku pasti akan mendoakan untuk kebaikan mu.”


“Terima kasih sayang! Aku akan merindukan mu, oya hari


minggu sore paling aku pulang. Titip anak-anak ya?” cuph! Alfandi mencium


pucuk kepala sang istri penuh kasih sayang.


“Iya, sama-sama.” Sukma menganggukkan kepalanya, dan kini Sukma menyusupkan wajah di dada nya Alfandi, ada rasa berat untuk ditinggalkan oleh sosok suaminya itum Padahal katanya cuma sekitar dua hari saja


perginya.


“Sudah selesai belum datang bulannya hem? sudah kangen nih?” Alfandi setengah berbisik di telinganya Sukma.


Sukma menggeleng pelan, lalu melepaskan diri rangkulan


dari Alfandi. “Tamunya menunggu di bawah, lagian mau makan bukan? nanti keburu


malam.” Lirihnya Sukma sambil merapikan kerah bajunya sang suami.


“Em ... kapan nih selesainya? Dah kangen nih! Lusa aku


pulang harus sudah selesai ya?” rajuk nya Alfandi sambil berjalan mendekati


pintu.


Sukma berdiri sambil tersenyum manis memandangi


punggungnya sang suami yang sudah berdiri di dekat pintu, yang kemudian menoleh ke arah dirinya yang masih berdiri di tempat.


“Lho kok, berdiri di situ sih sayang? Ayo dong ... katanya ada tamu?” Alfandi kembali dan meraih tangan Sukma, di tuntunnya berjalan keluar dari kamar tersebut.


“Waduh-waduh, waduh ... nempel terus ... bikin gue iri


bro,” Rijal berdiri setelah Alfandi dan Sukma datang menghampirinya.


“Ngapain nyusul ke sini? nanti juga ku jemput kau ke


rumah, lagian aku di sini gak akan lama. Makan doang! ya sudah, kita makan duluan lah. Masak banyak kan sayang?” Alfandi melirik ke arah Sukma yang hanya


mem⁰perlihatkan wajah ramahnya saja.


“Em ... masak banyak kok, yu makan dulu?” Sukma berjalan


lebih dulu ke meja makan yang sudah berada kedua adiknya, yaitu Jihan dan Marwan.


Di susul oleh Alfandi dan Rijal, keduanya duduk di meja


saling berhadapan.


“Hem ... wanginya bau ... pastinya masakannya juga enak-enak nih.” Rijal mengamati menu-menu yang berada di meja makan yang dari baunya saja sungguh menggugah selera.


Sukma mengambilkan piring dan bebera menu, buat suaminya terlebih dahulu. “Mau


pake sayur nya gak?” tanya Sukma pada sang suami.


“Pake dong sayang ...” Alfandi seraya mengangguk pelan.


Sukma pun menyodorkan makannya Alfandi yang sudah siap santap itu, baru kemudian ... Sukma mengambil untuk dirinya sendiri.


Disela makannya, Rijal menyapa kepada Jihan dan Marwan


yang sedang menikmati makan malamnya tersebut. ‘’Kalian sudah pembagian raport belum


nih?”


‘’Baru mau pembagian besok, Om.” Jawabnya Marwan di sela


menyuapkan makan nya.


“Ooh ... bukannya sama, bro? putra mu juga pengambilan


raport nya?” Rijal menatap ke arah Alfandi yang tengah asik menikmati makan ayam di tangan.


“Iya sama, besok!’’ jawabnya Alfandi sembari mengangguk


pelan.


“Terus, siapa yang akan mengambilnya? Istri mu?” selidik


Rijal.


‘’Iya tentunya istri ku yang akan mengambilnya.” Sahutnya


Alfandi sambil menyuapkan tangan ke mulutnya.


Sukma menatap ke samping dimana suaminya berada tanpa berucap kata.


“Bagus lah kalau begitu.” Rijal pikir yang Alfandi maksud


adalah Vaula.


Padahal yang Alfandi maksud adalah Sukma, yang akan menggantikan dirinya ke sekolah Firza dan Fikri.


“Tahun kemarin kan kau ya? Yang mengambil raport,” tambah


Rijal kembali.


“Hem ... sekarang juga mungkin harusnya aku juga! sebab


mamanya sibuk, tapi untuk besok kita harus ke luar kota jadi ... aku percayakan pada istri ku yang ini,” ucap Alfandi sembari melirik ke arah sang istri, Sukma.


“Ooh, Neng Sukma yang akan mengambilnya? emang istri mu


besok sibuk juga begitu? padahal gantian lah ... sekarang kau sedang ada urusan di luar, lah dia lah ... yang gantikan!” Rijal menggelengkan kepalanya.


“Sudahlah? ayo makannya? Kita mau berangkat segera, sudah


terlalu malam nih.’’ Alfandi cepat-cepat menghabiskan makannya, lalu meneguk


minumnya sampai tandas.


Sukma dan yang lain, hanya mendengarkan obrolan keduanya


sambil menikmati hidangan di meja.


Setelah makan malamnya selesai, Alfandi berdiri dan berpamitan untuk segera berangkat. “Sayang, aku pergi dulu ya?”


Sukma beranjak dari duduknya, mengantar Alfandi ke teras.


Namun sebelumnya Alfandi pergi, Alfandi berpamitan dulu pada kedua adik iparnya. Jihan dan Marwan.


“Abang pergi dulu ya? Jagain kakaknya ya?” Alfandi


mengusap kepala kedua adik iparnya tersebut.


“Iya, Bang. Hati-hati ya, Bang?” Jihan dan Marwan


mengangguk pelan.


Kemudian, Alfandi berjalan bersama Sukma ke teras. Tangan


Alfandi merangkul pinggang Sukma dengan sangat erat, sementara Rijal masih di


dalam belum selesai makan.


“Kalau saya kembali lusa, kita langsung ke liburan dan


saya harap kau sudah selesai itunya,” ucap Alfandi kekeh soal yang itu.


Suasana hening di malam ini membuat Alfandi merasa berat untuk meninggalkan istrinya, kalau gak penting berasa malas untuk pergi ....


.


.


...Bersambung!...