Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Di gangguin



"Kak, semoga kakak menjadi istri yang baik dan di cintai oleh om Alfandi juga," Jihan memeluk Sukma sambil menangis.


Sukma membalas pelukan sang adik mengusap punggungnya. Lalu Sukma mengedarkan pandangannya pada Marwan yang dikuntit oleh Fikri, anak itu tidak mau jauh-jauh dari Marwan, sementara Firza tampak melamun sambil duduk di sofa pojokan.


"Doa kan Kakak ya? agar Kakak pun bisa adil dan menyayangi putranya om Firza juga." Suara Sukma pelan.


"Iya, Kak." Jihan mengangguk lalu melepas rangkulannya pada sang kakak.


Sukma pun membawa langkahnya mendekati Firza yang yang tampak melamun di pojokan.


"Firza, sedang apa? kenapa gak makan? ikut makan?" sapa Sukma sembari mendudukkan dirinya di dekat Firza.


Firza hanya menoleh sebentar, tanpa sepatah kata pun yang ia lontarkan. Dia terdiam dan memandang kosong tanpa tujuan.


"Makan ya? aku ambilkan mau?" tawar Sukma sembari mengedarkan pandangannya pada suasana sekitar.


"Tidak," jawabnya singkat.


"Tapi, tadi pagi kau sedikit. Aku ambilkan ya? tuh lihat? Marwan dan Fikri pada makan." Tanpa menunggu jawaban, Sukma beranjak meninggalkan Firza.


Namun tidak lama kemudian, Sukma kembali dengan membawa makanan buat Firza. "Ini, ku ambilkan makan. Katanya kau suka bebek krispi bukan? di makan ya? nanti kau sakit!"


Sorot mata Firza menatap ke arah piring yang berisi nasi dan bebek krispi dan sambalnya. Tanpa mengatakan sesuatu!


Kemudian Sukma menghampiri Alfandi yang baru selesai berbincang dengan pak penghulu yang terlihat pulang.


"Mau ku ambilkan makan?" tanya Sukma pada Alfandi yang sedang menyingsingkan lengan bajunya dan menenteng jas di tangannya tersebut.


"Hem ... boleh, kebetulan lapar nih." Balas Alfandi yang mendudukkan dirinya di kursi.


Sukma segera mengambilkan makan buat Alfandi. Tidak lama sudah kembali membawa piring dan sebotol air minum.


"Ini, sama ayam dan bebek." Sukma menduakan dirinya di dekat Alfandi.


"Aku gak suka bebek. Aku suka nya ayam. Kita makan berdua saja." Kata Alfandi menatap daging bebek yang dia tidak suka.


Sukma menyimpan piring di atas meja. Namun Alfandi malah sibuk dengan ponselnya yang terus berdering.


"Bisa gak, makan dulu?" protes Sukma sambil menatap wajah Alfandi yang begitu serius menatap layar gawainya tersebut.


"Sebentar sayang, ini penting," ucapnya Alfandi seraya terus menetap gawai tersebut dan membalas chat-chat yang dianggapnya penting.


Karena sudah hampir 4 menit Alfandi masih juga belum menyuapkan makanan ke mulutnya, Sukma merasa greget dan menarik piring tersebut. "Aa ... buka mulutmu? susah sekali untuk makan!"


Alfandi menoleh seraya tersenyum, lalu membuka mulutnya lebar-lebar. "Makasih sayang!" gumamnya Alfandi sembari mengunyah.


Sukma hanya mendelik kan matanya dan terus mencocol kan nasi sama daging.


"Baiklah ... ponsel aku simpan nih ..." ucap Alfandi seraya membuka kembali mulutnya, minta disuapin oleh wanita yang baru berapa waktu ini menjadi istrinya itu.


Sukma terus menyuapi Alfandi yang sesekali Alfandi pun menyuapi Sukma, dengan nasi. bebek dan sambal. Sukma tertunduk malu, apalagi di sana masih banyak orang yang memperhatikan mereka dan berikan senyuman, seakan ikut bahagia dengan kebahagiaan dua mempelai tersebut.


Jadinya mereka makan sepiring berdua, Sukma makan bebek Alfandi makan ayamnya di piring yang sama.


"Akh ... Papa di suapi tante! aku nggak, mau dong disuapi." Fikri nimbrung dan langsung membuka mulutnya pada Sukma.


"Yah ... habis! tinggal satu suap lagi buat papa, gimana dong?" lirihnya Sukma sambil menunjukkan piring yang tinggal berisi satu suapan saja dan itupun buat Alfandi, menunjukannya pada Fikri.


"Ngah ... gak mau, mau itu saja. Satu suap kok, barusan Fikri sudah makan sama ka Wawan." Kata Fikri sambil mengunyah suapan dari Sukma yang buat Alfandi tersebut.


"Aduh sayang ... Fikri ... itukan buat, Papa, kalau sudah makan ngapain nimbrung?" Alfandi kesal, sedang enak-enaknya makan di suapi istri baru diganggu oleh Fikri.


"Kan masih lapar," jawabnya Fikri sambil memegang gadgetnya.


"Ambil lagi, masih banyak kan?" suruh Alfandi sambil menunjuk ke arah makanan yang masih ada numpuk tersebut.


"Nggak mau, maunya disuapin sama tante," kepala Fikri menggeleng.


"Aku ambil lagi ya? mau nambah bukan?" tanya Sukma sambil liriknya pada Alfandi.


"Sudah cukup, jadi gak mood ah makanya juga. Malas digangguin sama Fikri, padahal sedang enak-enaknya lho," sahutnya Alfandi seraya menarik senyumnya yang tipis itu.


"Iih ... Papa ... kalau aku nggak manja sama tante dan Papa sama siapa lagi dong? kan Mama nggak mau manjain aku!" ucap anak itu sambil merangkul bahu Alfandi dari belakang.


Anak itu tampak manja sekali dihadapan Alfandi dan Sukma.


"Lah, sudah nggak aneh. Si Fikri anak manja, padahal sudah gede!" timpalnya Marwan yang tidak jauh dari tempatnya, Fikri dan Alfandi juga Sukma berada.


Dari tempat yang agak jauh, sesekali ada sepasang mata yang mengawasi mereka. Yaitu Firza yang terus memperhatikan ke arah papanya dan Sukma juga. Melihat Fikri yang tiba-tiba datang dan ingin dimanjakan, tanpa dia sadar, bibirnya tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman.


"Aku mau ke kamar dulu ya? belum salat zuhur!" ucap Sukma seraya berdiri.


"Iya sayang, boleh balasnya Alfandi yang masih di templokin punggungnya sama Fikri.


Namun setelah sekitar dua langkah, Sukma menghentikan langkahnya. Seolah mengingat sesuatu, lalu berbalik melihat ke arah Alfandi yang di tangannya masih menenteng jas bekas tadi ijab Kabul.


"Sini jasnya? aku bawa ke atas nggak mau dipakai lagi kan?" Sukma langsung mengambilnya dari tangan Alfandi.


"Ooh iya, sayang simpen aja tapi ke kamar kita ya? bukan ke ruangan kerja," ucapnya Alfandi seraya tersenyum.


"Iya," balas Sukma, kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya untuk ke lantai atas yaitu ke kamar pribadinya.


"Mau ke mana, Kak?" tanya Jihan yang baru keluar dari kamarnya tersebut.


"Mau ke atas, belum salat zuhur, kamu sudah salat belum?" Sukma berbalik bertanya kepada sang adiknya, Jihan.


"Sudah. Ini baru selesai," jawabnya Jihan sambil merapikan kerudungnya.


"Sudah makan?" tanya Sukma.


"Sudah tadi. Sebelum salat," jawabnya Jihan kembali.


"Oke, Kakak mau ke kamar dulu ya?" pamit Sukma sambil memeluk Jas miliknya Alfandi yang tercium begitu wangi.


Langkah Sukma semakin cepat menaiki anak tangga agar segera tiba di kamarnya tersebut, alangkah kagetnya dia. Setelah memasuki kamarnya, yang sudah disulap menjadi sebuah kamar pengantin yang begitu indah.


Keadaan yang begitu jauh berbeda dari sebelumnya. Kini di setiap sudut dihiasi dengan banyak bunga yang warna-warni dan ranjang yang sebelumnya tidak ada kelambu pun menjadi ada kelambunya, diikat dengan pita-pita yang cantik. Tempat tidurnya pun bertaburan dengan kelopak-kelopak bunga mawar yang berwarna merah.


Serta dua angsa yang terbuat dari hiasan handuk, lehernya berpita warna ping sangat lucu. Dan tampak sangat cantik, wanginya pengharum ruangan pun sangat berbeda dari sebelumnya sungguh menyenangkan. Bikin nyaman atau bikin betah untuk yang menempatinya.


Mulut Sukma tak henti-hentinya mengembang, seraya berkata. "Masya Allah ... cantik sekali kamarnya, padahal tadi waktu aku tinggalkan tidak seperti ini! siapa yang mendekornya ya?''


Belum selesai kekagetan Sukma masalah kamar, tiba-tiba ada yang memeluk tubuhnya dari belakang, mendekapnya begitu mesra. Membuat Sukma kembali terkesiap, kaget, Sukma berusaha melepaskan dirinya dan menoleh ke samping. Ternyata dia Alfandi. pria yang baru saja mengikrarkan janjinya untuk menjadi seorang suami untuk seorang gadis yang bernama Sukmawati.


Sukma mengangguk pelan, dia seakan tidak mampu menyembunyikan perasaannya saat ini, yang begitu dibuat senam jantung dengan perlakuan sang suami, maklum ini untuk yang pertama kalinya dipeluk oleh seorang laki-laki mesra, serta mencium pipinya dengan lembut.


Saking gugupnya, sehingga dia tak menyadari kalau jas yang masih di tangan pun terjatuh ke lantai.


"Kenapa? kau tampak gugup seperti itu? apa kau melihat hantu?" bisik Alfandi yang tepat di daun telinga Sukma.


"Em ... ti-tidak, eh i-iya. Tidak." Sukma dibuat gelagapan. Apalagi ketika tangan kekar Alfandi mengeratkan rangkulannya di perut Sukma yang rata tersebut, kemudian membalikkannya agar berhadapan.


Sukma tidak kuasa untuk menatap wajah Alfandi yang mengarahkan pandangannya pada sang istri dengan sangat intens. Menjadikan Sukma terus menunduk malu.


"Kau gugup sekali? apa kau gak pernah di sentuh seperti ini?" tanya Alfandi dengan suara pelan dan tangan masih menempel di pinggang Sukma.


Dengan masih menunduk, Sukma menganggukkan kepalanya hingga dua kali. Kalau pegang tangan sih terbilang wajar. Namun kalau untuk lebih dari itu Sukma belum terbiasa.


Membuat Alfandi tersenyum bangga. "Berarti aku yang pertama memeluk mu dong sayang?"


Wajah Sukma memerah. Merasa malu di tatap terus-menerus oleh Alfandi yang begitu dekat jaraknya.


"Em, aku! em ... aku mau salat dulu?" ucap Sukma sambil menyingkirkan tangan Alfandi dari bagian tubuhnya.


Sukma gegas memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudu.


Membuat Alfandi menyunggingkan bibirnya. Mantap punggung sang istri yang hilang di balik pintu. Kemudian Alfandi mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur dan tangannya mengambil kotak perhiasan yang masih terbungkus rapi.


Lalu Alfandi menoleh ke arah pintu yang masih tertutup rapat.


"Ya Allah ... tenang aku, Sukma tenang-tenang?" Sukma terus mengusap dadanya yang terus turun naik, berduaan dengan Alfandi kali ini benar-benar membuat senam jantung.


Tidak lama kemudian, Sukma keluar dan langsung menunaikan kewajibannya. Di kamar itu sudah tidak Alfandi lagi dan entah kemana dia sekarang?


Sekitar pukul 04.00 sore Alfandi masuk ke kamar Sukma dan mendapatkan gadis itu tertidur lelap di tempat tidur yang berhiaskan kelopak bunga mawar yang merah tersebut.


Dan Sukma pun masih mengenakan pakaian pengantin nya yang belum dia ganti.


"Pantas saja ku cari di bawah nggak ada, ternyata tidur?" Alfandi semakin mendekat pada wajah Sukma lalu mengecup keningnya lanjut pipi kanan dan kiri dengan sangat lembut nan mesra.


Biarpun baru menikah dan belum lama juga mengenal gadis tersebut. Namun Alfandi tidak merasa canggung sama sekali pada istrinya ini, seolah sudah terbiasa dan bergaul lama.


Lalu Sukma bergerak kaget mendapati wajah Alfandi yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Tidur siang, gak ngajak-ngajak nih?" gumamnya Alfandi sambil terus mendekati sang istri yang meringsut mau bangun.


"Eh ... semalam a-aku gak bisa tidur. Jadinya ngantuk banget," sahut Sukma dengan suara parau khas bangun tidur.


"Yang jadi pertanyaan nya, kenapa gak ngajak-ngajak? sayang ... aku kan sudah menjadi suaminya lho!" sambung Alfandi yang kini mengungkung tubuh Sukma sehingga kesulitan untuk bangun.


Sukma melirik ke arah jam dinding. "A-aku mau mandi!" Sukma berharap Alfandi menyingkirkan tubuhnya dari hadapan Sukma.


Namun Alfandi begitu betah berada di posisi yang sama, berada di atas Sukma dengan tangan bertumpu untuk menahan beban tubuhnya.


"Cium pipi ku dulu? baru bisa pergi!" pinta Alfandi sambil menatap lekat ke arah Sukma.


Kepala Sukma menggeleng. "Nggak mau, aku mau mandi dulu!"


"Ya sudah. Kita mandi bareng ya?" Alfandi semakin berani dan menaik turunkan alisnya.


Jantung Sukma semakin dibuat lincah dan tidak mau tenang. Khawatir saat itu juga Alfandi berbuat yang macam-macam, rasanya dia belum siap dan was-was kalau Fikri tiba-tiba masuk, kebetulan pintu tampak tidak di kunci.


"Biarkan aku mandi dulu ya? itu pintu tidak terkunci. Takut ada yang masuk! gimana?" suara Sukma sangat pelan sambil menoleh ke arah pintu.


Alfandi pun menoleh ke arah pintu yang memang tadi ketiak dia masuk lupa mengunci. "Baiklah, istri ku. Nanti malam saja ya? aku harap kau mengerti."


Sukma mengangguk pelan sambil menatap pria tersebut, yang katanya sudah haus belaian dan sudah ingin meneguk basahnya air hujan yang lama dia rindukan.


Sukma mengecup singkat pipi Sukma lalu bangun dari posisinya yang mengungkung tubuh gadis mungil itu. Membiarkan nya juga bangun dan pergi dari baringnya menuruni tempat tidur untuk ke kamar mandi untuk mandi.


Alfandi membaringkan tubuhnya di sana dengan tatapan mata ke arah langit-langit dengan bibir yang tertarik membentuk senyuman. Membayang kalau malam ini juga dia akan melepas masa dudanya. Ha ha ha ... bukan duda tapi berbuka puasa yang selama ini ia tahan.


Bibir Alfandi semakin mengembang dan hatinya berbunga-bunga, rasa tidak sabar menunggu waktunya nanti untuk membelah duren yang masih mengkal.


Kedua mata Alfandi terpejam sebab kantuk pun mulai menyerang. Sukma yang baru selesai mandi dan namun sudah berpakaian rapi. Melihat ke arah Alfandi yang terpejam.


Setelah itu. Sukma turun ke lantai bawah dan di sana sudah tampak bersih seperti semula, dan tampak Mimy, Jihan. Marwan dan Fikri sedang berkumpul di ruang tengah depan televisi.


Di dapur, bi Lasmi terlihat sedang beres-beres perabotan dan sisa makan yang masih utuh karena tidak habis tadi.


"Bi. Makanannya masih banyak ya? bawa saja Bi, bagi-bagikan saja. Dan sisakan saja untuk anak-anak buat makan malam, selebihnya bawa saja ya?" Sukma celingukan pada paket makanan yang masih menumpuk.


"Eh ... tidak apa-apa, Non? bibi bawa?" bi Lasmi ragu.


"Tidak Bi, di sini juga kebanyakan. Sisakan saja buat anak-anak sekitar untuk lima orang," tambahnya Sukma.


"Baiklah. Non, makasih ya?" bibi mengangguk hormat.


"Iya, Bi." kemudian Sukma menghampiri ke arah mereka yang sedang berkumpul.


"Firza mana?" tanya Sukma yang yang planga-plongo mencari keberadaan Firza yang tidak nampak di sana.


Mimy menoleh pada Sukma. "Di kamarnya kali."


"Tadi siang makan gak ya dia?" tanya kembali Sukma.


"Kak Firza ... makan ya, Kak Wawan?" tadi siang di sofa itu ya?" Fikri menjawab yang sambil baringan menoleh pada Marwan.


"Iya katanya, makan!" Marwan pun mengiyakan.


"Eeh, kalia sudah pada mandi belum sih?" selidik Sukma kembali.


"Susah dong ..." jawab Marwan dan Jihan.


"Tante? aku juga sudah. Gak tercium apa wangi begini?" Fikri mengalihkan posisi tidurannya ke pangkuan Sukma yang kini sudah resmi menjadi ibu sambungnya tersebut.


Mulainya Sukma pun bengong, melihat anak itu yang tanpa ragu benar-benar bermanja padanya. Namun lama-kelamaan Sukma menggerakkan tangannya membelai rambut anak itu dengan lembut.


Firza yang turun dari kamarnya langsung mendapati pemandangan yang membuat hatinya mencelos, tertegun melihatnya ....


.


...Bersambung!...


Ayo ... mana suaranya yang suka dengan Alfandi dan Sukma nih ?