
Saat ini Sukma sedang berada di area kampus dan baru saja selesai mengikuti pelajaran dari dosen pembimbingnya.
Dia berjalan mendekati mobilnya dan lantas memasuki mobil pribadi yang sekarang sudah bisa bawa sendiri itu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, untuk menjemput anak-anak yang masih ada kegiatan belajar kurikulum. Pertama-tama yang Sukma jemput adalah Fikri dan setelah itu Firza.
"Mom, lapar nih. Jajan dong ..." keluh Fikri yang duduk di sampingnya Sukma.
Sukma melirik sekilas, lalu mengarahkan kembali pandangannya ke depan. Dimana jalanan tampak ramai dengan kendaraan lain.
"Mau beli apa emang? Kaka Za juga mau makan?" tanya Sukma tanpa menoleh lagi.
"Mau, aku mau makan mie ayam yang di depan sana. Rasanya enak banget," sahut Firza sambil menunjuk ke depan.
"Oke," Sukma mengangguk pelan.
"Jangan ngebut, Mom ... nanti nabrak gimana?" cegah Fikri sambil melihat ke depan. Yang di mana banyak nya pengendara dan pejalan kaki di pinggiran.
"Em ... mama nanyain gak? kalian pulang berdua semalam?" selidik Sukma tanpa menoleh.
Fikri melihat ke belakang dimana sang kakak berada.
"Entah. Aku gak angkat teleponnya." Firza menggeleng.
"Za ... denger mommy ya? Fikri juga. Semarah apapun kalian sama mamanya. Dan biarpun salah gimana pun ... dia tetap mama kalian berdua yang mengandung dan melahirkan kalian berdua. Mommy gak mau ya? dikira mamanya gak mendidik kalian," ujar Sukma sambil menepikan mobilnya di pinggir jalan, tepat depan lapak mie ayam.
"Fikri gak marah sama mama? cuma gak mau saja pulang ke sana!" Fikri menggeleng. "Fikri juga sayang kok sama mama."
"Apa kau tidak ingin aku tinggal bersama kalian?" tanya Firza dengan nada dingin.
"Em ... bukan-bukan gitu, Za ... Mommy cuma gak mau di anggap meracuni kalian berdua agar membenci mama mu." Tambah Sukma sembari membuka pintu mobil.
Lalu mereka bertiga berjalan memasuki kedai mie ayam dan langsung memesan untuk bertiga.
"Yang penting ... kita tidak membenci mama. Kami sayang kok sama mama!" ucap Firza sambil menikmati mie ayam kesukaannya.
"Mommy, aku mau minumnya dua gelas?" pinta Fikri sambil menikmati makannya.
"Oke, Kakak juga mau nambah minumnya?" tawar Sukma sambari melirik ke arah Firza.
Firza menggeleng dan terus menikmati makannya itu.
Sukma merasa enek dan mual, sehingga mie ayamnya susah habis. Sehingga Firza bertanya kenapa mie ayamnya gak di habiskan? dan dia ambil alih.
Sukma tersenyum melihat akan itu yang tidak jijik memakan bekas makan dirinya.
Selesai makan. Sukma langsung mengajak kedua anak sambungnya pulang dan tidak lupa membeli mie ayam buat dibawa ke rumah, buat Marwan dan Jihan.
"Hati-hati, Mom? bawa mobilnya! jangan ngebut!" pesan Fikri sambil berjalan mendekati mobil Sukma.
"Non, kayanya kenal? siapa ya? oh iya ... satu kampusnya! sedang apa di sini? boleh gak di temenin?" sapa dia orang pemuda yang katanya satu kampus dengan Sukma.
Sukma tersenyum. "Oh, iya. Ini lagi ... habis makan. Maaf ya saya duluan!" sembari mengangguk hormat.
"Kenapa buru-baru mendingan kita ngobrol-ngobrol dulu gitu, di kampus jutek. Di sini juga jutek! nanti jadi perawan tua lho Neng Sukma." Kata salah satunya sambil mencoba mencolek pipi Sukma yang langsung menggeser tubuhnya.
"Eh, maaf kakak-kakak. Dia itu sudah punya suami, gak ada tuh jadi perawan tua segala? orang punya suami." Timpal Firza sambil berdiri di dekat Sukma dengan tatapan yang tidak suka.
"Iya, ini kan mommy aku." Tambah si bungsu sambil mendongak ke arah kedua pemuda tersebut.
"Oo, ternyata ini bodyguard nya. Siapa kata dia sudah menikah? dari Mane asalnya?" selidik salah satunya lagi.
"Eeh ... kampret. Tidak dengar barusan adik saya bilang mommy nya?" tidak mendengar? dia ini mommy kami. Jangan coba-coba menggoda dia." Firza semakin maju satu langkah dengan tangan di pinggang.
"Iya, nih si om-om ini gak mendengar ya? kalau ini Mommy kami, jadi jangan ganggu dia, om ..." timpal Fikri kembali.
Sukma yang tidak ingin ada keributan apalagi dengan anak-anak, langsung meraih bahu keduanya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
Lalu dia mengitari mobilnya sembari mengangguk pada kedua pemuda tersebut. "Maaf ya, mari? saya duluan!"
"Huuh ... ada-ada saja." gumamnya pelan.
"Hati-hati, cantik. Bawa bodyguard nya pulang, biar gak mengganggu! ha ha ha ...."
Sukma buru-baru menyalakan mobil nya setelah berada di belakang kemudi.
"Kalian pasang dulu sabuk pengamannya ya?" pinta Sukma sembari melirik ke arah belakang.
"Siapa sih mereka? Mommy mau saja digodain dua pria itu!" gerutu Fikri sambil memasang belt.
"Eh ... eh, kurang tahu juga. Mommy, yang jelas mungkin iya satu kampus. Tetapi gak kenal banget kok." Akunya Sukma sambil menjalankan mobilnya.
"Sish ... siapa juga yang mau di godain?" gumamnya dalam hati dengan menghela nafas panjang.
"Jangan suka ngasih hati sama laki-laki. Nanti dia maunya lebih lho!" Firza dengan nada dingin.
"Enggak, kapan Mommy ngasih harapan sama merekah gak banget deh! Ehem, apa mungkin si Kakak juga punya pacar atau cewek yang di suka gitu? ayo ... ngaku sama Mommy?" Sukma menggoda Firza.
Fikri menoleh pada sang kakak yang tampak malu-malu dan mengulum senyumnya.
Apaan sih Mommy. Gak ada, masih kecil dan gak ada pacaran-pacaran. Takut kebablasan seperti--"
"Iya, bener. Jangan ya? belajar saja yang benar! jangan pacaran ya?" Sukma memotong perkataan Firza karena Sukma tahu kalau Firza pasti terkenang sesuatu.
Selang beberapa puluh menit di perjalanan, pada akhirnya tiba di rumah dan di sambut oleh kedua adiknya.
"Ih ... jalan-jalan. Gak ngajak-ngajak lah." Marwan cemberut.
"Iya, nggak ngajak-ngajak lagi." Timpal Jihan menatap ke arah mereka bertiga.
"Jangan cemberut. kami bawakan oleh-oleh nih buat kalian berdua." Firza memberikan kantong kepada Jihan.
"Buat kita?" tanya Jihan sambil mengambil alih kantong tersebut.
"Iya, buat kalian berdua!" Firza meyakinkan Jihan.
"Itu buat kak Jihan dan kak Wawan, di makan ya?" Fikri berjalan menggendong tasnya.
Begitupun dengan Firza yang membawa tas, jaket dan gitarnya dan langsung memasuki rumah tersebut.
"Assalamu'alaikum?" Fikri yang duluan melintasi pintu.
"Wa'alaikumus salam ... eh ... Firza baru pulang ya? Za. pulang di jemput siapa? mobil papa satunya ada di depan." Sapa Bu Puji sambil bersalaman dengan kedua anak itu.
"Sama Mommy." jawabnya Firza sembari menunjuk ke belakang dengan dagunya.
"Kami di jemput sama mommy, Oma ..." sambungnya Fikri sembari mencium tangan opa nya.
"Oh ... sama mommy ya? pantas. Mobil satunya ada." Pak Sardi mengangguk seraya mengusap kepala Fikri.
"Assalamu'alaikum ... Ibu. Bapak," Alfandi mencium tangan keduanya bergantian.
"Wa'alaikumus salam ... baru pulang, Neng?" Bu Puji bertanya demikian, karena biasanya jug Sukma suka pulang cepat.
"Iya, Ibu. jemput anak-anak dulu, terus katanya mau makan mie ayam, jadi mampir dulu kan!" sahutnya Sukma sambil ngeloyor ke dapur mengambil minum.
Lalu Sukma menyuruh kedua anak sambungnya itu untuk mandi terlebih dahulu. Namun di sambut oleh Fikri yang katanya mereka berdua mau berenang terlebih dahulu ....
.
...Bersambung!...