Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Pura-pura baik



Mendengar suara mobil berhenti di depan, tentunya Sukma mengira kalau itu mobilnya Alfandi yang memang katanya mau pulang ke sana.


Namun tidak lama suara Mimy yang muncul dan mengucap salam. "Assalamu'alaikum ... nyonya Al, lagi sibuk ya?"


Sukma dan bi lasmi menolah ke arah Mimy. "Wa'alaikum salam. Kau pulang sama siapa pake mobil bukan?" tanya Sukma.


"Di anterin Beben, tapi--" suara Mimy menggantung.


"Tapi apa My? kata-kata mu bagai gantungan jemuran saja." Sukma tetap fokus dengan masakannya.


"Beben ... sama itu. Reno!" jawab Mimy ragu-ragu.


Dengan refleks, Sukma menoleh dengan rasa kaget. "Kenapa dia kemari lagi? gue sudah bilang kan ... gue sudah bersuami!"


"Emangnya dia mantan kekasih elu ya?" Mimy menatap penasaran.


"Iya, dan kami tidak ada kat putus, dia menghilang begitu saja. Dan kamu pun los komunikasi, terus salah siapa? di saat gue terpuruk seperti yang lu tau. Alfandi datang menjadi dewa penolong gue, apa gue yang salah My?" Sukma menatap nanar pada Mimy.


Melihat Sukma mengobrol dengan Mimy. Bi Lasmi mengambil alih tugas Sukma yang tinggal menunggu mateng itu, dan nasi goreng pun tinggal di tuang ke dalam wadah.


Mimy memeluk bahu Sukma seraya berkata. "Gue minta maaf, Ma ... gue juga tadi bilang. Kalau lu sudah menikah tapi dia tetap tidak percaya. Katanya ... sebelum bertemu dengan suami elu, dia gak bakalan percaya."


"Gua tidak mau tahu ya? sekarang lu suruh dia pulang saja. Sebentar lagi Al mau datang dan paling penting Firza ada di dalam. Gue takut di berpikir yang macam-macam tentang gue, tolong gue My? jangan ada yang ganggu rumah tangga gue." Lirih nya Sukma.


Mimy mengedarkan pandangan ke arah lantai dua, dimana kamar Firza berada. "Oke, gue akan suruh dia pulang."


Mimy langsung pergi keluar, sebelumnya menyimpan tas nya di meja makan. Dia akan menyuruh Reno dan Beben, terutama Reno untuk segera pergi.


Sukma mengusap wajahnya dan sudut matanya yang basah. Sambil menghela nafas dalam-dalam, dia menuangkan sup ke mangkok kecil buat Firza.


"Bi, ajak anak-anak makan duluan? kalau nunggu abangnya takut telat, sekarang saja dah lewat jam 19 nih." Sukma menoleh pada bibi.


"Baik, Non. Bibi juga akan pulang lebih cepat," balas Bi Lasmi.


"Oya, makanya Bibi juga makan dulu? aku mau ke atas dulu bawakan sup buat Firza." Sukma membawakan sup hangat untuk Firza.


"Baik, Non." Bibi mengangguk.


"Jihan, marwan? makan saja duluan ya? jangan menunggu Abang. Takutnya telat datangnya," Sukma hentikan langkahnya ketika di dekat Jihan dan Marwan yang sedang belajar sambil menonton televisi.


"Oh, iya Kak. Itu Kakak mau kemana dan itu buat siapa?" tanya Marwan mengarahkan mangkuk yang berada di tangan sang kakak.


"Oh, ini buat Firza. Tubuhnya sedikit panas!" jawab Sukma sambil menunjuk ke mangkuk yang berisi sup yang asalnya masih mengepul itu.


"Yah ... Cemen, manja! gitu saja sakit!" cibir Marwan.


"Mungkin sudah waknya saja sakit, Wan ..." timpal Jihan pada sang adik.


Sukma Menunjukan gigi putihnya yang berbaris. Lalu mengayunkan langkahnya menaiki anak tangga.


Setibanya di depan kamar Firza, Sukma bergumam. "Semoga saja dia suka."


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Boleh aku masuk?" suara Sukma dengan nada agak tinggi.


"Masuk saja?" suara Firza dari dalam.


Pas Sukma mendorong pintu tersebut. Tampak anak itu masih tiduran berselimut ria. Langkah Sukma terus berjalan mendekati tempat tidur Firza.


"Kau makan dulu ya? aku sudah bikinkan sup untuk mu?" Sukma duduk di tepi tempat tidurnya Firza.


Firza hanya menatap ke arah mangkuk tersebut yang ada di atas pangkuan Sukma, dengan tatapan dingin lalu memunggungi.


Sukma menggerakkan tangan dan menyentuh pelipisnya Firza yang terasa panas. Lalu Firza singkirkan tangan itu dari pelipisnya.


"Firza, kau harus makan? biar cepat sembuh, lagian kalau menunggu papa. Mungkin dia telat datangnya, jadi makan sekarang saja ya? Aku harap kau suka dengan sup nya." Lirihnya Sukma.


"Aku gak mau makan aku nggak lapar," ketusnya Firza.


"Aku gak bawa nasi lho, cuma bawa sup saja. Makan sedikit ... saja, setelah itu kau boleh langsung tidur." Bujuk Sukma.


"Kalau kamu nggak mau makan, nanti sakitnya kepanjangan. Kalau sakitnya lama? kamu gak akan masuk sekolah apalagi liburan, aku dengar-dengar kalian mau liburan bukan? jadi sekarang ... makan? biar satu dua suap saja ya? ayo bangun?"


Sukma terus membujuk anak itu hingga akhirnya dia membuka kembali selimut yang menutupi wajahnya.


Lalu Firza menoleh ke arah Sukma. "Emangnya Papa belum datang?" tanyanya.


Sukma menggeleng seraya tersenyum. "Ayo bangun dulu? makan dulu sup nya? mumpung masih anget lho ... kalau kamu nggak mau? satu atau dua suap aja! ya? ayo bangun?"


Walaupun tampak malas, Firza akhirnya bangun dan duduk bersandar ke bahu tempat tidur. Lantas mengambil mangkuk dari Sukma namun detik kemudian dia simpan kembali di tempat semula. "Panas!" mengibaskan tangannya.


Kemudian Sukma pun menyuapi Firza dengan hati-hati dan meniup nya dulu sebelum sampai ke mulutnya Firza. "Aa ... buka mulutnya?"


Firza menatap lekat ke arah Sukma yang tampak menunjukan ketulusannya, beberapa kali dia menelan saliva nya. Ada rasa sedih di dalam hati, kemudian ia tepis dengan kecurigaan pada Sukma.


"Lah pura-pura baik, agar di sayang sama papa kan?" batinnya Firza, namun tak ayal dia membuka mulutnya juga dan menyambut suapan dari tangan Sukma.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku sama sekali tidak membubuhkan racun untukmu, lagian buat apa aku berbuat jahat padamu? sementara papamu sudah begitu baik padaku dan juga adik-adikku. Jadi ... tidak bersyukur banget kalau aku punya pikiran jahat kepada kalian semua," ucap Sukma sembari menggeleng dan menatap ke arah Firza yang kini sedang mengunyah sup nya.


Firza tidak menjawab ataupun merespon perkataan dari Sukma, dia hanya mencoba menikmati suapan dari tangan Ibu sambungnya tersebut.


Suapan demi suapan, masuk ke dalam mulutnya Firza. Sampai habis juga dan yang tersisa hanya tinggal mangkuk dan sendoknya saja. Lalu Sukma memberikan Firza segelas air minum.


Dari balik pintu kamar Firza yang terbuka sedikit itu. Berdirilah seorang pria dan melihat pemandangan dari tersebut. Dari pertama Sukma membujuk Firza makan hingga akhirnya anak itu mau juga.


Ya, dia adalah Alfandi. Dia sengaja membiarkan mereka lebih dekat, Fikri pun Alfandi larang untuk buru-buru menemui Sukma, dan menyaksikan Firza di suapi oleh Sukma.


Setelah mengantongi ijin dari papanya. Fikri menyeruak masuk dan memanggil. "Mommy ... aku kangen deh?" Fikri langsung memeluk Sukma yang terkesiap.


Sukma barulah membalas pelukan Fikri setelah menyimpan mangkuk dan kelas di atas nakas. "Fikri kapan datang? kok Mommy nggak tahu sih?" seraya melirik ke arah Alfandi yang berdiri di depan pintu dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana.


"Fikri datang dari lho Mommy ... dari Mommy mulai menyuapi kak Firza," jawabnya anak itu dengan polos.


"Oya? kenapa gak dari tadi masuknya? kalian ngintip ya? kalian curang, main ngintip-ngintip segala deh ..." Sukma mengusap rambutnya Fikri dengan lembut.


Fikri melepas pelukannya pada Sukma, lalu mengarahkan wajahnya pada Firza. "Kak Firza yang curang, kalau mau ke sini itu, bilang-bilang? jadinya Papa nyariin kemana-mana! bilang dong ... kalau mau ke sini?" anak itu menunjuk-nunjuknya arah Firza.


"Suka-suka aku lah, mau bilang nggak bilang juga," ketusnya Firza kepada Fikri.


"Kan kasihan papa tau ... dah capek-capek pulang kerja. Harus nyariin Kak Firza ke mana-mana, tahunya eh ... di sini," Sambungnya Fikri kembali.


Sukma yang berdiri dan menyambut Alfandi, di peluknya penuh kehangatan lantas cuph! Alfandi mengecup kening dan pipinya sang istri. Kebetulan anak-anak sedang debat, jadi tidak melihat papa dan Mommy nya bermesraan.


"Makasih ya? sudah perhatian kepada Firza?" gumamnya Alfandi kepada Sukma.


"Firza agak panas tubuhnya, dan aku bingung harus ngasih obat apa?" lirihnya Sukma sambil melirik ke arah Firza.


Lalu Alfandi mendekati Firza menyentuhkan kening dan pelipisnya. "Nggak apa-apa! cuman ... panas biasa saja. Dibawa istirahat pun dia akan sembuh, kenapa kamu nggak bilang-bilang kamu ke sini hem? jadinya Papa kelimpungan mencari kamu."


"Aku minta maaf, Pah." balasnya Firza.


"Lain kali, kalau mau ke sini bilang? atau ke manapun yang sekiranya pulangnya malam, agar Papa tidak khawatir kan?" Alfandi mengusap pucuk kepala Firza.


"Ya, Pah." Firza mengangguk pelan.


"Ya sudah. Istirahat saja!" Alfandi beranjak dari duduknya.


"Mom, Fikri lapar nih? ayo makan, bikinin Fikri nasi goreng dong ..." Fikri menarik-narik tangan Sukma sambil merengek-rengek pengen makan.


"Nasi goreng sudah dibikin kok, lihat saja di meja?" kata Sukma.


"Nggak mau, mau bikinin bibi. Maunya dibikin sama Mommy!" Fikri terus menarik tangan Sukma.


"Iih, itu buatan Mommy lho. Kalau gak percaya tanyain saja sama bibi." Sambungnya Sukma sambil berjalan.


Di ikuti oleh Alfandi sambil menutup pintu kamar Firza. Firza hanya menatap pemandangan yang tidak pernah dia dapat di rumah bersama bundanya.


Di rumah. Fikri tidak pernah berani bermanja lagi pada sang bunda karena yang akan di dapat ketidak pedulian dan menuntut anak-anak nya lebih dewasa dan mandiri. Firza menghela nafas dalam-dalam ....


.


.


...Bersambung!...