Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Season 2



Sudah berapa hari ini semenjak itu sikap Sukma memang sedikit berbeda kepada suaminya, seakan memberi jarak pada suaminya tersebut. Harinya masih terasa sakit dan belum bisa menerima kalau memang itu benar adanya.


Sebenarnya Alfandi pun merasa kelimpungan, dia merasa tidak tahan dengan sikapnya sang istri yang sampai segitunya memberi jarak dan tak ada kemesraan lagi. Tapi kalau dalam hal lain dia tetap perhatian menyiapkan semua kebutuhan Alfandi pagi, sore dan malam. Tidak pernah Sukma lupakan akan kewajibannya.


Hingga pada akhirnya Fikri merasakan kejanggalan atau sikap orang tuanya yang lebih banyak diam-diaman! terutama dengan Sukma, membuat Fikri menjadi kepikiran kemudian dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Papa dan Mommy kenapa sih akhir-akhir ini kok diam-diaman kayak gini, apa kalian bertengkar ya?" tanya Fikri sembari menatap ke arah keduanya silih berganti.


"Papa nggak diam-diaman! papa biasa aja sama mommy." jawabnya Alfandi dengan cepat.


"Jadi Mommy yang marah sama papa? apa yang buat Mommy marah sama papa?" selidik nya Fikri kembali yang ditunjukkan kepada Sukma.


"Em ... em, Mommy nggak marah kok sama papa! cuma lagi males aja banyak bicara," dalihnya Sukma sembari melirik ke arah Alfandi yang juga menyempatkan diri untuk melirik ke arah dirinya.


Fikri yang awalnya duduk di sofa seberang orang tuanya! Kini bergerak maju berapa langkah dan berlutut di hadapan kedua orang tuanya yang duduk agak berjarak.


"Mommy, Papa. Sebenarnya aku sedih melihat kalian berdua yang diam-diaman seperti ini, aku rindu Mommy yang dulu selalu ceria sama Papa, ramah dan perhatian, memang sekarang juga mommy terlihat perhatian sama papa. Tapi tetap saja ada yang beda! Abang nggak mau kalian berdua bertengkar! Aku mau kalian berdua seperti biasanya lagi. Abang takut kalau Mommy dan Papa nanti bercerai. Abang mau tinggal sama siapa? Abang nggak mau tinggal sama mama! maunya sama Mommy!" suara anak itu bergetar dan akhirnya menangis terisak. Kedua tangannya memegang tangan Sukma dan Alfandi.


Sebuah pemandangan yang tidak pernah diduga sebelumnya, tidak pernah terbayang kalau Fikri akan berlutut dan berkata demikian. Fikri yang masih tampak polos itu menangis tersedu dan menyembunyikan wajahnya di antara tangan Sukma dan papanya.


Nyess.


Hati keduanya mencelos sedih, melihat Fikri yang berlutut dan menangis. Yang seakan meminta kalau orang tuanya harus rukun tidak diam-diaman seperti sekarang ini.


Fikri tidak pernah menginginkan kalau rumah tangga papanya akan hancur kembali, lebih-lebih dia sudah sangat menyayangi Sukma sebelumnya, sehingga dia takut kehilangan sosok Sukma dalam hidupnya.


"Abang tidak mau tinggal sama mama sekalipun papa ikut di sana. Abang sangat sayang sama mommy. Kak Firza pun pasti demikian biarpun dia cuek, sikap nggak peduli. Tapi kak Firza juga sangat sayang sama mommy, melebihi rasa sayang kami kepada Mama!" suara Fikri sembari tersedu dan menundukkan kepalanya.


Kata-kata Fikri barusan membuat Sukma dan papanya meremang, merinding mendengar kalimat yang anak itu ucapkan. Dengan tidak kuasa Sukma pun ikut menangis menjatuhkan air mata dan membelai rambut Fikri.


"Kok Abang bilang begitu sih? sesungguhnya Mommy nggak marah sama papa, cuma lagi pusing aja dan pengen lebih banyak diam. Lagian Abang nggak akan mengerti permasalahannya seperti apa tapi Abang nggak usah khawatir! kami nggak akan pisah kok ih ... amit-amit, kami akan terus bersama sampai kapanpun, Abang jangan sedih begitu mau nikah jadi ikutan sedih!" Sukma memegangi kedua bahu Fikri agar dia naik dan duduk bersama mereka.


"Hik-hik-hiks ... tapi Abang takut, karena selama ini Abang nggak pernah melihat Mommy dan papa diam-diaman. Abang nggak mau seperti dulu lagi dan Abang pun tidak mau juga harus tinggal sama mama! apapun yang terjadi Abang akan ikut mommy!" anak itu masih tersedu dan kini merangkul bahu Sukma.


Alfandi mendongakkan wajahnya serta menghirup udara sebanyak-banyaknya! penghela nafas dalam-dalam lalu ia berkata sambil membelai rambutnya Fikri. "Papa heran, dari mana sih Abang punya pikiran seperti itu?"


Fikri menoleh pada sang ayah. "Kan Abang sudah bilang, kalau Abang itu takut dan Abang terlalu sayang sama mommy. Jangankan Abang tapi kak Firza pun sama! sayang banget sama mommy," sembari mengusap kedua pipi nya menghilangkan bekas air mata yang mengalir.


"Ya-ya-ya ... kedua putra Papa pun lebih sayang sama Mommy ketimbang papanya sendiri, nasib-nasib!" Alfandi melipatkan dua tangannya di dada dan berpura-pura jealous.


"Gimana caranya jangan ada wanita lain? kak Jihan wanita, terus si bungsu Syakila juga wanita!" Alfandi mengerutkan keningnya.


"Iih, Papa kok gak ngerti sih ... bukan itu maksud ku!" Fikri sembari menepuk paha papanya.


Sukma pun ikut tersenyum mendengar perbincangannya antara Fikri dan Alfandi.


"Terus maksudnya kayak gimana kan Jihan juga perempuan! masa Papa nggak boleh menyayangi mereka berdua!" Alfandi pura-pura tidak mengerti.


"Papa bukan nggak boleh menyayangi mereka berdua. Tapi maksud aku Papa jangan pernah selingkuh sama wanita lain--"


"Upst. Selingkuh? selingkuh seperti apa? Papa sibuk di luar ... untuk bekerjanya, gak pernah tuh Papa janjian sama perempuan lain. bahkan keluar kota pun Papa ajak Mommy kok," ucap Alfandi sembari melirik pada Sukma. "Berarti kalau nggak boleh selingkuh sama perempuan! sama laki-laki boleh ya? ha ha ha ...."


Jangankan Fikri, Sukma pun matanya melotot dengan sangat sempurna ke arah Alfandi yang malah terkekeh sendiri.


"Papa ini apa-apaan sih malah ngelantur heran Abang! sudah abang mau tidur, ngantuk!" anak itu segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan kedua orang tuanya begitu saja.


Sukma maupun Alfandi menatap langkahnya Fikri yang menaiki anak tangga dengan sangat cepat, kemudian keduanya saling bertukar pandangan.


"Ehem, tuh kan ... tetapi juga kita nggak boleh bertengkar ya boleh diam-diaman. Apalagi sudah berhari-hari istriku banyak diam dan nggak mau aku sentuh sama sekali, apalagi ngasih jatah! hi hi hi ..." Alfandi mengulum senyumnya sembari menyentuh tangan Sukma dan meremasnya dengan lembut.


Sukma hanya tersenyum dan tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun. Hatinya benar-benar dibuat mencelos oleh Fikri.


"Jangan percaya dengan omongan orang, percayalah pada suaminya sendiri. Karena aku tidak mungkin menyia-nyiakan ataupun mengkhianati istri yang sangat aku cintai ini!" kini Alfandi berkata dengan nada serius.


Sukma hanya menggerakkan kedua manik matanya melihat ke arah wajah Alfandi, menatap sorot mata suaminya seakan-akan mencari kejujuran di sana.


"Aku ingin sekali mendatangi Vaula untuk mengatakan hal ini. Apa maksud dia berkata yang tidak-tidak kepada istri ku ini, tapi aku pikirkan lagi dan aku bisa membaca jalan pikiran dia, kalau dia hanya ingin menghancurkan rumah tangga aku bersamamu! dia pasti merasa senang jika tahu kamu termakan omongannya." Ujarnya Alfandi.


Sukma tidak berucap kata, melainkan menggerakan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya. Dia pun merasa rindu kehangatannya berapa hari ini hilang, merasa rindu kemesraan yang berapa hari ini tidak pernah terciptakan!


Alfandi pun memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat, dia juga sangat-sangat merindukan saat-saat seperti ini. Dimana bisa memeluk istrinya dengan mesra dan penuh kasih sayang ....


.


Mohon dukungannya ya agar aku tambah semangat untuk berkarya dan terima kasih banyak sebelumnya. Semoga kabar kalian selalu ada dalam lindungan yang maha kuasa, dimudahkan dan dilancarkan setiap urusannya 🤲 🤲