Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Bayaran satu malam



Sukma tidak mau menuntut apapun dari Alfandi, karena yang sudah dia dapatkan dari suaminya itu. Sudah lebih dari cukup dan dia juga nggak bisa menuntut Alfandi menjadi suami yang gimana-gimana?


Karena bagaimanapun. Alfandi bukan suaminya seorang, tetapi ada wanita lain yang juga memilik, selain dirinya.


"Apa yang ingin kau pinta dariku sayang? katakan saja jangan sungkan-sungkan! karena kamu adalah istriku juga yang haknya sama," ucapan Alfandi sambil memeluk Sukma dan membelai rambutnya.


Di dalam pelukan Alfandi. Kepala Sukma menggeleng seraya berkata. "Aku tidak ingin minta apapun dari mu, untuk kau gimana-gimana. Karena bagi aku apa yang sudah kau berikan itu ... sudah lebih dari cukup! dan aku yakin, tanpa aku pinta pun kau akan menjadi suami yang baik."


"Aku minta maaf sayang? aku mengakui jika aku bukanlah laki-laki sempurna atau suami yang baik! tapi kehadiranmu akan membuat kesempurnaan dalam hidup ku, dan aku akan berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik!" sambungnya Alfandi.


Kemudian mereka berdua berbaring, saling pelukan satu sama lain. Alfandi merasa lebih tenang dan tentram bila berada di sisi sang istri yang ini.


"Hari Sabtu aku akan berangkat ke luar kota, mungkin hari minggunya aku baru pulang. Aku minta tolong, hari sabtu ambilkan report anak-anak." Pintanya Alfandi sambil memberikan kecupan di ujung kepala Sukma.


Sukma yang mendengar ucapan dari Alfandi mendongak sesaat, lalu kembali ke posisinya semula. "Emangnya mama anak-anak gak mau datang?" bukannya gak mau mengambilkan raport anak-anak. Hanya dia merasa was-was jika seandainya dia datang dan ternyata istri Alfandi juga datang! dan dia tidak tahu harus berkata apa pada gurunya.


"Katanya sih nggak mau datang, katanya dia sibuk!" balas Alfandi seraya tangannya terus membelai rambut Sukma.


"Aku sih mau saja, cuman ... aku khawatir pas aku di sana! terus istri mu datang juga untuk mengambil raport anak-anak, dan ... aku harus berkata apa sama gurunya?" lirihnya Sukma.


"Bilang saja kalau kau itu utusan aku, dan gurunya nggak akan banyak bertanya kok! aku yakin kalau Vaula tidak akan datang ke sekolahan anak-anak."


"Ya sudah, kalau begitu ... biar aku aja nggak apa-apa kok, kalau memang dirimu juga nggak bisa?" Sukma menyetujui.


"Iya sayang, aku nggak bisa! aku ada urusan penting di luar kota, urusan kerja sayang! bukan urusan perempuan," ucapnya Alfandi.


"Iih ... siapa juga yang bertanya? mau urusan kerja? mau sama perempuan terserah," lanjut Sukma sambil mengulum senyumnya.


"Beneran nggak pa-pa? kalau aku ... kalau kau tahu urusan perempuan hem? jujur?" sesak Alfandi ingin jawaban dari sang istri.


"Nggak apa-apa, emangnya kenapa?" tanya Sukma dengan tetap di posisi yang sama, menempelkan pipinya di dada lawan bicaranya itu.


Alfandi menghela nafas panjang, lalu berkata. "Ahk ... bohong, bohong banget kalau nggak apa-apa. Pas dalam hatinya jangan .... aku pun di sini nggak habis-habis ha ha ha."


"Nggak akan habis-habis? emangnya makanan?" Sukma semakin mengembangkan senyumnya, karena memang benar juga yang dikatakan oleh Alfandi, ngapain sampai ada urusan perempuan lain segala? orang istrinya ada dua. Masa nggak puas-puas juga?


"Ayo jujur?" pinta Alfandi sembari memberi gelitik kan di pinggang Sukma membuat tubuh Sukma meliuk-liuk geli.


"Iih ... apaan sih? geli tau! hi hi hi ..." Sukma seraya menyingkirkan tangan Alfandi yang menggelitik pinggangnya.


"Makanya Jawab dulu sayang ... bolehkah aku nikah lagi! hem?" selidik Alfandi sambil terus menggelitik dengan senyuman di bibir.


Sukma mendongak dan menempelkan lagunya di dada Alfandi. "Nggak boleh! emangnya kau itu mau yang kayak gimana lagi sih? artis? atau model seperti istrimu itu?"


"Nggak sih, pengen yang lebih memuaskan saja gitu, buat koleksi juga." Balasnya Alfandi sambil terus menunjukkan senyuman di bibirnya.


"Hem ... setahu aku. Yang dikoleksi itu barang, bukan perempuan! Sudah ah males, aku mau tidur!" Sukma membaringkan dirinya di samping Alfandi, meletakkan kepala di bantal pribadinya.


"Iih ... nggak lucu!" ucapnya Sukma sembari menyingkirkan tangan Alfandi dari perutnya.


"Jangan gitu dong sayang, masa aku nggak boleh meluk? aku kan dari jauh-jauh datang ke sini hanya untuk memeluk istriku! masa di anggurin sih," Alfandi merajuk dengan ekspresi wajah yang sedih.


"Siapa juga yang di anggurin? tahu kok jauh-jauh dari sana, ke sini hanya untuk meluk aku!" balas Sukma seraya membalikan badannya menghadap ke arah Alfandi. Dan tangannya menyentuh wajah lawan bicara dia.


Alfandi memegang tangan Sukma yang berada di pipinya, lalu diciumnya berapa kali.


Kemudian Alfandi mencobanya dalam beberapa saat sebelum tidur, tidak terasa waktu pun sudah menunjukkan 00.40 saking asyik mengobrol dan bermanja pada sang istri.


Pada akhirnya keduanya tumbang diserang rasa kantuk yang menghinggapi pasang mata kedua insan tersebut sambil saling berpelukan, tak ada pergerakan yang signifikan selain pelukan.


Waktu terus berputar sehingga membawa Sukma dan Alfandi pada sebuah pagi. Sukma terbangun duluan dia menggeliat nikmat, lantas membuka matanya sebelah aja melihat ke arah Alfandi yang begitu lelap, sesaat dipandanginya wajah pria itu yang memang tampan.


"Kalau dilihat-lihat sih dia itu ... lebih tampan dari mantanku yang dulu, mungkin Allah memang sudah merencanakan hubungan aku dan Reno berakhir begitu saja dan digantikannya dengan pria ini." Gumamnya Sukma dalam hati.


"Al, bangun? sudah subuh nih!" suara Sukma yang begitu parau, seakan berbisik membangunkan Alfandi yang tampak nyenyak dalam tidurnya.


Beberapa saat tidak ada pergerakan dari Alfandi, dia tetap nyenyak bagai bayi-bayi yang sedang tidur tanpa beban.


Perlahan wajah Sukma mendekat, memberanikan diri untuk mengecup pipinya sang suami.


Cuph! kecupan hangat mendarat di pipi Alfandi, dengan refleks Alfandi pun bergerak. Terbangun, memicingkan matanya melihat wajah Sukma yang tidak jauh dari wajahnya.


Alfandi tertegun melihat wajah cantik Sukma dikala baru bangun tidur, auranya terpancar. Apalagi jarak di antara mereka begitu sangat dekat dengan wajahnya, tangan Alfandi pun mengusap pipinya yang terasa lembab. Dikarenakan sehabis dikecup oleh bibir Sukma.


Sekilas netra nya melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 04.30. "Pagi sayang ... terima kasih, atas kecupannya?" ucapnya Alfandi dengan suara khas baru bangun tidur.


Sukma yang begitu anteng memandangi wajah Alfandi dengan cepat menggercapkan matanya. "Sudah Subuh, bangun? nanti anak-anak mencari mu! sebelum pulang apa mau aku buatkan dulu Energen atau minuman hangat?" tawar Sukma sembari menjauhkan dirinya dari Alfandi.


Alfandi berusaha membuka matanya, yang sebenarnya masih sepet bin ngantuk. "Nggak usah sayang! aku mau langsung pulang saja terima kasih ya? sudah menemaniku?" Alfandi mendekat pada Sukma yang bersiap turun, lalu memeluknya dari belakang.


"Kau ini ngomong apa sih? seperti aku ini cuma wanita bayaran saja! bayaran satu malam ataupun per jam? bukankah aku istri mu? yang sudah seharusnya menemanimu! untuk memenuhi kebutuhan mu!" Sukma melirik ke samping dimana wajah Alfandi berada di bahunya.


"Iya sayang? aku bercanda maaf ya?" cuph! kecupan kecil mendarat di pipi Sukma bagian samping.


Buru-buru Alfandi turun, berjalan membawa langkah lebarnya memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pulang ....


.


.


...Bersambung!...