
Sukma memasuki kamarnya dan kedua manik matanya mendapati Alfandi tengah sibuk dengan laptopnya di atas tempat tidur. ia langsung mengambil pakaian tidur dan memasuki kamar mandi.
Kini Sukma sudah berada di atas tempat tidur, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Mengesampingkan rambutnya dan bersandar di bahu ranjang tersebut.
Dan Alfandi pun gegas menutup laptop miliknya setelah melihat sang istri sudah berada di sisinya. Lalu kemudian Alfandi masuk ke dalam selimutnya dan memeluk sang istri meraih kepala Sukma agar bersandar di dadanya.
"Sayang, sebentar lagi aku pulang ya? istri aku katanya mau pulang dan anak-anak juga sudah di sana." Alfandi mencium punggung tangan Sukma dengan mesra.
Sukma hanya mengangguk pelan sebagai respon terhadap suaminya tersebut.
"Sebenarnya ... tadi Fikri mau pulang lagi ke sini, tapi aku bilang. Kapan-kapan saja ke sini laginya, lagian ... banyak barang-barang yang dia butuhkan di sana!" Alfandi mengelus kan punggung tangan Sukma ke pipinya laciumi berkali-kali.
"Mereka ikutan belajar apa lagi setelah sekolah?" tanya Sukma sambil menyalakan televisi dari remote yang ia pegang.
"Firza olah raga dan musik. Kalau Fikri ... dia maunya belajar musik gambusan." Jawabnya Alfandi sembari mengecup kening sang istri dengan sangat lembut.
"Ooh ... gitu ya!" Sukma menganggukan kepalanya pelan.
"Besok aku akan telepon kamu untuk datang ke suatu tempat! aku harap kau bisa datang dengan tepat waktu, karena besok hari aku akan sibuk sekali--"
"Kemana?" tanya Sukma penasaran seraya sedikit mendongak melihat ke arah wajah pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Em ... besok juga pasti tahu. Jadi nggak usah tahu sekarang besok saja oke?" jari Alfandi mengangkat dagu Sukma dan di tatapnya sangat lekat.
Sukma hanya membalas tatapan tersebut dengan tatapan sendu. Dan hati yang seperti biasa yang berdebar-debar mewarnai detak jantungnya.
"Kau tidak apa-apa, kan jika berapa hari aku nggak pulang ke sini? tapi mudah-mudahan sih setiap hari juga aku bisa menyempatkan diri untuk pulang ke sini biarpun sebentar.
Sukma menunjukan senyumnya yang manis seraya menggelengkan kepala nya. "Tidak apa-apa, aku nggak pa-pa kok. Santai saja."
"Aku tahu kau belum mencintaiku, tapi aku pastikan dengan lambat laun kau akan selalu mencintaiku. Menyayangiku! seperti aku yang sudah merasakan hal itu padamu," gumamnya Alfandi sembari menatap dalam ke wajah cantiknya Sukma.
Perlahan namun pasti. Detik kemudian Alfandi mendekatkan wajahnya ke wajah Sukma, menghirup wangi parfumnya yang dia sediakan teruntuk istri barunya tersebut.
Tak ayal, Sukma memejamkan kedua manik matanya ketika wajah Alfandi semakin mendekat dan deru nafasnya menyapu kulit dari wajahnya.
Alfandi menyunggingkan bibirnya membentuk sebuah senyuman, di saat melihat kedua manik mata Sukma terpejam seolah menunggu sentuhannya. Alfandi semakin mendekatkan wajahnya untuk menjangkau bibir Sukma yang ranum serta sudah menjadi candu baginya.
Dasarnya pria yang haus akan kasih sayang dan belaian. Alfandi pun meminta bekal sebelum pergi, dia meminta Sukma agar memberikan sesuatu yang akan membuat dia kangen atau merindukannya.
Sukma ingin sekali mengatakan sesuatu kepada Alfandi, bahwa suaminya itu akan pulang ke tempat istri pertamanya.
Masa minta bekal pada dirinya sebelum ke sana? kan di sana bisa minta pada istrinya yang lain. Namun kata-kata yang sudah berjubel di otaknya itu urung dia utarakan. Yang penting ia senantiasa bisa mengambil hati suaminya ini dan itu memang sudah kewajibannya sebagai seorang istri.
Alfandi meraih remote lampu untuk mematikannya. Menjadikan kamar itu hanya diterangi dari layar televisi yang dibiarkan menyala dan suaranya menjadi ramai menghiasi kamar tersebut, yang akan menenggelamkan suara-suara aneh yang mungkin akan memberi kombinasi di sana.
"Boleh ya? sebentar ... saja, gak lama kok paling lama juga 10 menit!" rayunya Alfandi seraya berbisik.
Sukma dengan sorot mata yang sayu dan memang tidak terlalu jelas karena gelap, suasana di kamar itu hanya ada sinar pantulan cahaya dari televisi saja. Bergumam. "Boleh, tapi bentar ya? takut sakit lagi."
Detik kemudian Alfandi mendorong tubuh Sukma dan menindihnya, sensasi beratnya tubuh pria tersebut yang tampak haus dan lapar itu membuat Sukma mele-nguh. Dan terasa begitu sangat menempel kulitnya satu sama lain.
Setalah perkenalan yang cukup menggairahkan dan keduanya sudah memanas, darah yang menggolak di tubuh semakin berdesir hebat. Menuntut untuk segera melanjutkan pada yang lebih signifikan.
Tangan Alfandi langsung membelah durian yang kesekian kalinya di hari ini, setelah tadi siang pun menikmatinya dengan sangat lahap.
Alfandi langsung memanjakan si Joni pada tempatnya yang bikin betah. Berhiaskan lelehan madu yang manisnya tiada tara. Semakin si Joni bermanja semakin enggan untuk keluar dari tempat tersebut apalagi meninggalkannya.
Meskipun yang dirasakan Sukma mulanya sakit tidak ketulungan, bahkan bengkaknya masih terasa sampai detik ini. Namun entah kenapa dia pun menjadi ketagihan dengan aktifitas tersebut sehingga dia pun sudah mulai terbiasa dan menikmatinya.
"Sayang? aku akan merindukan mu!" bisik Alfandi di sela-sela pergulatan yang menguras tenaganya tersebut.
Jari-jarinya Sukma meremas rambut pria itu dengan bergantian pada punggungnya. "Al ..." suara Sukma tertahan.
"Iya, sayang? lepaskan saja tidak usah malu dan ragu. Aku suka mendengarnya.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang seperti mengeluarkan angin, tapi dari arah depan yaitu dari depan area sensitif nya Sukma.
Sejenak Alfandi hentikan aktifitasnya. Sebagai pria yang pengalama tentunya Alfandi sudah tidak merasa aneh.
Lain lagi dengan Sukma yang baru pertama kali mengalaminya. Kalau saja suasana terang, Sukma pasti memperlihatkan wajah yang merah dan sungguh teramat malu. Dengan suara rintihannya di tambah lagi dengan suara barusan. Benar-benar bikin nervous.
"Apa itu sayang?" bisik Alfandi pura-pura gak tahu.
"Nggak tahu!" sahutnya Sukma dengan polosnya karena memang dia tidak tahu apa namanya itu.
"Aduh malu gue?" batinnya Sukma, padahal berharap kalau Alfandi tidak mendengarnya.
Sesaat kemudian Alfandi melanjutkan dengan bibir yang tersenyum lucu. Lalu kembali menyentuh benda ranum miliknya Sukma, menjelajahi hingga ke dalam-dalam nya.
Tangannya Alfandi tak ayal bergerilya di tempat-tempat yang menjadi favoritnya sekarang, mainan baru dari sekian lama tidak bermain-main dengan benda empung dan penambah semangat dalam pertempuran ini.
"Al?" gumamnya Sukma dengan suara yang bergetar.
"Hem? apa sayang ku, bidadari ku?" sahutnya Alfandi nyaris tak terdengar, yang terdengar lebih dominan adalah suara napasnya yang lebih cepat dan memburu.
Namun tidak terdengar lagi suaranya, selain suara-suara lain dan suara televisi.
Boro-boro sepuluh menit, ini sudah satu jam belum selesai-selesai juga. Walau sudah beberapa kali disudahi! terus lagi dan lagi, si Joni seakan tidak ada bosannya untuk menjelajahi Guha yang baru dua hari ini dia datangi.
Di luar sedang hujan gerimis, menambah syahdunya permainan yang sedang tercipta di malam ini. Alfandi sesungguhnya malas untuk pulang, apalagi kalau sudah bermanja-manja begini pada istri mudanya, Ahk ... rasanya cuma ingin berdua saja menghabiskan waktu bersama tanpa terganggu dengan realita yang sesungguhnya gitu ....
.
...Bersambung!...