
Pagi-pagi Alfandi sudah rapi dengan pakaian kantor nya. Melihat ke arah sang istri yang sedang bersolek dan masih mengenakan kimono nya duduk depan cermin.
"Anak-anak minta liburan," ucap Alfandi sambil melirik ke arah sang istri.
"Liburan? ya ajak saja maunya ke mana?" balas Vaula sambil menata rambutnya.
"Maunya ke pantai--"
"Pergilah? apa susahnya sih? tinggal beli tiket atau tinggal pergi saja kok repot!" Vaula memotong perkataan dari Alfandi.
"Mereka ingin kita pergi bersama." Lanjut Alfandi menatap lekat ke arah sang istri.
Vaula berjalan menghampiri sang suami, mengalungkan tangan di pundak Alfandi. "Kau kan ada, jadi ajaklah mereka liburan. Aku sibuk, mau ada peragaan dan kerjaan ku menumpuk."
Tangan Alfandi menyentuh pinggang sang istri dengan perasaan heran, kini sikapnya mulai mencair. "Apakah dia mencurigai ku sudah menikah lagi? sehingga dia merubah sikapnya!" batin Alfandi bermonolog sendiri.
Vaula menatap lekat ke arah Alfandi yang memandangi bagian dadanya yang dibiarkan terbuka. Mengekspos salah satunya.
"Mereka ingin kita pergi bersama. Kalau hanya aku saja buat apa saya bicara sama kamu, Mah?" kata Alfandi dengan nada dingin.
Tangan Vaula turun ke dada Alfandi dan mengelusnya. Dia sengaja perlahan merubah sikapnya yang dingin! karena jangan sampai Alfandi curiga dia ada skandal dengan fotografernya, Yudi.
"Tapi aku gak bisa, Pah. Aku sibuk dan kau tau itu!" cuph! mengecup lembut pipi Alfandi.
"Kenapa kau seperti ini lagi setelah aku mempunyai istri lagi? kemana kehangatan mu ketika aku membutuhkannya, Mah?" batin Alfandi sembari menatap mesra pada sang istri.
"Sempatkan lah waktumu untuk anak-anak, aku tidak ada masalah kau terlalu sibuk dan tidak ad waktu buat ku, tapi anak-anak akan sangat membutuhkan perhatian dan kehadiran dirimu?" Sambung Alfandi.
"Tapi, di waktu-waktu dekat ini aku nggak bisa. Aku benar-benar sibuk! nanti saja lah kalau aku benar-benar gak begitu sibuk, aku ajak mereka jalan-jalan." Timpal Vaula sembari lagi-lagi mencium pipi Alfandi.
"Ya sudah, kalau begitu nggak apa-apa! biar anak-anak aku saja yang ajak liburan," Alfandi melepaskan rangkulan sang istri dan dia pun meraih tasnya, keluar dari kamar tersebut.
Vaula menatap kepergian sang suami yang pergi dari kamarnya dengan pandangan dingin. "Ya ... bagus lah, ajak saja mereka pergi? kan mereka anak-anak mu juga, kenapa mesti denganku sih," gumamnya Vaula seraya menaikkan kedua bahunya, lantas membawa langkahnya mendekati lemari.
Alfandi turun dari tangga dan menghampiri kedua putranya. "Pagi semua? Sudah sarapan belum?" tanah Alfandi pada kedua putranya yang sudah duduk manis melingkar di meja makan.
"Pagi!" jawabnya Virza dengan nada dingin.
"Pah, gimana liburannya jadi nggak? kan bentar lagi kita liburan ya Kak?" tanya Fikri pada sang ayah sambil melirik ke arah sang kakak juga.
"Liburannya jadi dong ... masa nggak? Papa pasti mengajak kalian untuk liburan! tapi tidak sama mama ya! karena Mama sibuk," jawabnya Alfandi sembari mendudukkan dirinya dan mengambil piring buat sarapan.
"Tidak apa-apa, Pah. Tapi kita akan mengajak mommy kan?" selidik Fikri menatap lekat ke arah sang ayah.
"Kalian mau liburannya sama mommy dan juga Kak Jihan dan Marwan?" tanya Alfandi menatap ke arah Fikri dan Virzha menunggu jawaban.
"Mau-mau. Aku mau kak Jihan, kak Marwan juga mommy, ikut liburan sama kita!" sambutnya Fikri.
Sementara Firza, dia hanya diam dan menikmati makan paginya disebut dia enggan berkomentar apapun.
"Virza, Papa harap. Kau jangan merokok lagi karena itu nggak baik untuk kesehatan mu nanti. dan ... bergaul lah dengan orang-orang baik, jangan sampai kebawa harus yang hanya akan menjerumuskan mu." Pesan sang ayah dengan lirih dan penuh harap.
Namun Firza tidak menjawab, dia tetap asik menikmati makannya seolah tidak mendengar dengan perkataan dari sang ayah.
"Firza, apa kau mendengar pesan, Papa?" tegas Alfandi pada Virza.
Membuat Virza berhenti mengunyah dan melirik pada sang ayah, lalu dia mengangguk pelan.
"Kakak, kalau orang tua ngomong itu harus di dengerin dan direspon juga. Tidak baik dicuekin, pamali kata pak guru agama juga," celetuk Fikri yang ditunjukkan pada sang kakak.
Terapi kakaknya malah tidak merespon. Pura-pura tidak mendengar apapun.
"Iih, Pah kok Fikri jadi kangen nasi goreng buatan mommy ya?" ungkap Fikri seraya menatap nasi goreng yang berada di piringnya itu.
Alfandi menoleh pada putra bungsunya tersebut, lalu memandangi nasi goreng yang berada di sendok yang hampir masuk ke mulutnya. Dan dia hanya menghela nafas kasar, dia juga menjadi teringat sama istri mudanya itu.
"Bisa nggak sih? nggak ngomongin dia terus? bikin mood selera makan ku turun tau gak?" suara Firza yang ditujukan kepada Fikri.
"Memangnya kenapa, Kak? mommy baik dan sayang sama kita semua, apa salahnya?" protes Fikri yang malah mengerutkan keningnya.
"Mommy-mommy yang kau sebut! mommy lagi mom--" Firza langsung menggantungkan perkataannya ketika dia melihat sang Bunda turun dari tangga, dan menghampiri meja makan.
Alfandi yang mendengar perdebatan itu hanya terdiam dan mencerna maksud dari Firza.
"Kalian sarapan apa? putra-putra Mama ganteng-ganteng deh, apalagi pagi-pagi gini tampak segar dan wangi lagi," sapa Vaula pada kedua putranya sembari mencium pipinya bergantian.
Pemandangan yang indah ini pertama kalinya, dari sekian lama sikapnya dari Vaula yang dingin, acuh dan sok sibuk itu menjadi hangat kembali.
Virza dan Fikri terdiam, hanya suara dan dentingan sendok dan piring saja yang terdengar.
"Kamu sarapan?" selidik Alfandi kepada Vaula.
"Tidak, Mama sarapan di kantor saja, masih belum laper," jawabnya Vaula, lalu mengedarkan pandangan pada kedua putranya kembali.
"Kalian lagi ngobrol apa? kok tiba-tiba diam sih? ayo ngomongin Mama ya? oya! Mama akan ajak kalian berdua jalan-jalan akhir bulan depan, gimana mau nggak? sebab waktu itu Mama tidak terlalu sibuk." Kata Vaula.
Fikri dan Virza hanya merespon dengan anggukan saja dan saling melirik satu sama lain. Dan kaki mereka yang di bawah meja tampak saling senggol.
"Oke, Mama mau berangkat duluan ya? yang rajin belajarnya?" ungkapnya Vaula, kemudian mencium kening keduanya bergantian. Setelah itu dia berpamitan kepada Alfandi.
"Aku pergi dulu ya? jaga anak-anak!" tidak lupa Vaula mencium pipinya Alfandi dengan singkat.
Alfandi dan kedua putranya menatap kepergian Vaula dengan tatapan aneh, heran kenapa sikapnya tiba-tiba berubah?
"Ooh ya sudah, lanjut lagi makannya? jangan di sisakan sayang kan mubazir juga, di luar sana masih banyak orang yang kelaparan, masih ingat kan? kata mommy juga," ucap Alfandi pada kedua putranya tersebut.
Kemudian mereka menghabiskan sarapannya, sebelum berangkat ke sekolah dan Alfandi ke kantornya.
Sesaat kemudian Fikri dan Firza sudah selesai makannya dan masing-masing menyoren tas punggung nya, berjalan keluar, di ikuti oleh Alfandi yang meraih tasnya juga.
"Bi, saya pergi dulu." Alfandi mengalihkan pandangan pada bibi.
Bibi mengangguk lalu membereskan bekas meja makan. Membereskan bekas makan majikannya tersebut.
"Assalamu'alaikum ... Papa, aku pergi dulu ya?" Fikri dan Firza mencium punggung tangan Alfandi.
"Wa'alaikumus salam ... yang rajin ya? sekolahnya yang pintar juga." Alfandi mengusap kepala Fikri.
Fikri dan Firza berangkat sekolah dengan supir, kebetulan Alfandi sedang mau ke lapangan dan jalannya pun berlainan arah.
Di dalam mobil, Firza kembali kepikiran tentang mamanya yang semalam bersama pria lain ke sebuah kamar hotel dan sikapnya yang sedikit berubah perhatian, kan aneh!
"Aku harus bisa mencari tahu siapa pria itu dan kenapa harus masuk kamar segala?" Batinnya Firza sambil melepas pandangannya keluar jendela ....
.
.
...Bersambung!...