Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Bertemu



Alfandi kelimpungan mencari Fikri yang belum ditemukan juga, sudah putar-putar namun belum ada hasil. Setiap orang yang di hubungi tidak tak satu pun mengetahui atau melihat keberadaan anak itu.


Suasana sudah gelap, sore tergantikan dengan malam. Anak buahnya pun belum juga memberi kabar baik tentang Fikri.


"Permisi? apa pernah melihat anak ini? mungkin sedang berjalan atau di mana gitu, dalam jarak waktu sekitar sore sampai sekarang." Alfandi bertanya pada seorang laki-laki yang sedang nongkrong.


Laki-laki tersebut menghadapi foto seorang anak yang Alfandi tunjukan. "Tidak, Pak. Saya tidak melihatnya, sebentar saya tanyakan sama teman-teman."


Laki-laki itu pun menunjukkan foto pada teman-temannya yang lain dan menanyakan apa pernah melihat anak ini, pada hari ini juga dan mereka terlihat menggeleng.


"Mereka juga tidak melihatnya," sambung pria tersebut.


"Ooh, ya audah. Makasih ya?" kemudian Alfandi melanjutkan kembali perjalanannya dan berapa meter kemudian mobil Alfandi kembali berhenti.


"Permisi? apa pernah melihat anak ini lewat atau gimana?" Alfandi menunjukkan foto Fikri pada seorang bapak-bapak dan seorang ibu-ibu.


"Sepertinya tidak, kami tidak melihatnya," kata si Ibu sambil mengamati foto yang Alfandi ditunjukkan itu.


"Makasih ya, Bu. Pak?" Alfandi kembali melajukan mobilnya dengan hati yang cemas.


"Kamu di mana sih Nak!" Alfandi mengedarkan pandangannya ke sekitaran. "Mana sudah malam juga."


Alfandi berdiri dan bersandar di pintu mobil, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Nafas yang terasa sesak, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku harus cari kemana lagi tuh anak? gak biasanya dia kayak gini."


Sebentar Alfandi menelepon Firza di rumah, hanya untuk memberi kabar kalau dia akan pulang terlambat, karena mencari adiknya Fikri.


^^^Alfandi: "Kamu baik-baik di rumah ya nak? Papa mau cari Fikri dulu sampai ketemu!"^^^


^^^Firza: "Iya pah."^^^


Setelah itu Alfandi kembali masuk ke dalam mobilnya, dan entah harus mencari Fikri kemana lagi sekarang ini? otaknya sudah hampir bleng.


Sebelum melajukan mobilnya Alfandi menghubungi orang-orang yang ikut mencari Fikri, agar segera menghubunginya bila Fikri sudah ditemukan.


"Ck, anak itu kemana sih?" gumamnya Alfandi sambil melajukan mobilnya itu, mobil Alfandi terus merayap dengan netra mata yang terus mengamati jalanan dan pinggir-pinggir jalanan kali saja Fikri berada sedang nongkrong di sana.


Namun sampai mobil Alfandi berhenti di suatu tempat pun tak ada sedikit pun bayang-bayang Fikri yang dia temui, dan entah kenapa Alfandi malah terdampar di depan kontrakannya Sukma. Wajahnya yang kusut tampak lelah duduk bersandar ke belakang jok mobil dengan tatapan kosong, melihat ke arah kontrakan Sukma.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.30 malam Jihan dan Marwan sudah mulai bersiap untuk tidur, agar besok tidak kesiangan ketika mau sekolah.


Sukma sudah berusaha membujuk Fikri untuk memberikan alamatnya dan dia siap sedia untuk mengantarkan anak pulang, tetapi anak itu tidak mau pulang dan tidak mau mengatakan alamatnya sekalipun.


Sukma hanya bisa menghela nafas panjang, karena percuma memaksakan diri untuk bertanya pun, yang ada anak itu malah marah-marah dan merajuk.


"Ya ... sudah, kalau Fikri masih nggak mau pulang, nggak apa-apa. Karena sudah malam, sekarang pergi bobok ya sama kak Marwan?" Sukma berkata lirih pada anak itu.


"Aku nggak mau tidur sama Kak Wawan, takut," ucap Fikri sambil menatap pada Sukma.


"Lho, takut apa sih? kan berdua sama Kak Wawan bobonya," sambung Sukma sembari lagi-lagi menatap heran karena anak itu mengatakan takut.


"Takut ditendang, kan kak Wawan galak," sahutnya Fikri sambil memajukan bibirnya ke depan.


Sukma mesem-mesem. "Galak gimana sih? orang kak Marwan tidur lelap begitu! masa galak?" tutur Sukma sembari menggelengkan kepalanya.


"Kan bisa saja, nanti dia bangun. Terus melihat aku di sampingnya! aku ditendang deh ... aku jatuh terus aku luka-luka, gimana?" anak itu beralasan yang tidak masuk akal.


Sukma mencubit gemas pipi Fikri dengan gemas. "Kamu ini lucu banget sih? ngarang deh, ya sudah, terus sekarang mau tidur di mana?" Sukma bertanya serta lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


"Aku mau sama Tante saja," ucapnya anak itu sambil selalu menatap ke arah Sukma lalu mengusap pipinya yang barusan Sukma jepit gemas.


"Ha ... Fikri mau bobo sama tante? Tante kan sama Kak Jihan bobonya, sempit. Gimana dong?" Sukma melirik ke arah tempat tidurnya yang sudah ditempati oleh Jihan dan anak itu sudah mulai terlelap.


"Nggak apa-apa, Tante sempit juga yang penting muat. Aku nggak mau bobo sendirian, juga nggak mau sama Kak Wawan," anak itu menggelengkan kepalanya sambil mengamati tempat tersebut.


"Emangnya kamu di rumah Fikri bobonya sama siapa?" tanya Sukma sembari membelai rambut anak itu.


"Sendirian, di rumah aku mau sendiri kok, di sini takut," sahut anak itu.


"Terus kenapa sekarang kamu gak mau sendiri? dan tante nggak nyuruh bobo sendiri kok, orang di suruh berdua sama kak Marwan lho ..." ungkap Sukma kembali.


"Nggak mau, Tante. Fikri nggak mau sama Kak Wawan! Fikri maunya bobo sama Tante saja," Fikri malah menarik tangan Sukma untuk tidur bersamanya.


"Iih ... gimana sih? masa gue harus tidur sama anak ini? sama Jihan juga? kan sempit! risih pula, orang baru kenal. Anak siapa sih ini? bikin repot deh!" gumamnya Sukma dalam hati sambil menatap lekat ke arah Fikri.


"Ayo dong, Tante ... aku sudah ngantuk nih!" tangan Fikri terus menarik dan Sukma yang sedikit kebingungan.


"Iya-iya ... ayo kita bobo?" Sukma pun mengikuti langkah anak itu untuk naik ke tempat tidur dan merapikan bantalnya.


Baru saja Sukma mau menempelkan kepala di atas bantal, terdengar suara mobil di depan berhenti tepat di depan rumah kontrakan Sukma. Jelas Sukma langsung mengingat kalau siapa tahu itu mobilnya Alfandi.


"Tapi buat apa malam-malam ke sini?" gumamnya dalam hati dan langsung bangun kembali.


Fikri yang sudah mau pejamkan mata, terbuka lagi. "Tante? ayo bobo? aku sudah ngantuk nih." Pinta anak itu yang sudah terbaring dan Sukma selimuti.


"Bobo duluan ya? Tante mau ke toilet dulu sebentar," alasan Sukma.


"Jangan lama-lama ya, Tante?" pinta Fikri kembali.


Sukma yang memposisikan tidur dirinya di tengah-tengah, antara Jihan dan Fikri memilih untuk turun dari tempat tidur tersebut. "Iya, sebentar kok, sekalian Tante mau lihat dulu ada siapa di luar?"


Kedua kaki Sukma turun dari tempat tidur, dan langsung membawa langkahnya ke depan pintu, lalu mengintip keluar melalui jendela yang tertutup gorden.


Benar saja, di depan ada mobil Alfandi terparkir cantik. Dan di dalam Alfandi tampak lelah sekali.


Pada akhirnya tatapan mereka bertemu, walau dari jauh tetap terasa jelas membuat hati keduanya bergetar bagaikan tersengat aliran listrik.


Bikin hati dag-dig-dug tidak menentu. "Ya Allah ... kenapa setiap bertemu pandang dengannya dada aku selalu berdebar-debar begini? kenapa sih setiap ketemu dia jantung ini bagaikan mau melompat?"


Sukma berdiri dan bersandar di daun pintu. "Mau buka pintu duluan atau aku tinggalkan! atau ... kalau dia mengetuk pintu, gak aku bukain? tapi nggak mungkin juga," akhirnya Sukma kebingungan sendiri.


"Assalamualaikum ..." ucap Alfandi seraya mengetuk pintu dengan sangat pelan, takut mengganggu orang lain di sekitarnya.


Sejenak Sukma biarkan, namun pada akhirnya Sukma membuka juga pintu tersebut seraya menjawab. Wa'alaikumus salam."


"Kau belum tidur?" sapa Alfandi ketika pintu sudah terbuka. Dan melihat Sukma berdiri di sana dengan menggunakan setelan tidur yang panjang bermotif bunga-bunga.


"Baru mau tidur, terus ngapain ke sini malam-malam?" tanya balik Sukma agak dingin.


Alfandi menatap ke arah gadis itu yang bikin hatinya bergetar. "Em ... saya! mmm ..." Alfandi mendadak kikuk nggak tahu harus berkata apa?


"Ini kan sudah malam, nggak baik kau datang malam-malam kayak gini, nggak enak dengan tetangga! waktu itu saja aku jadi bahan gunjingan orang." Sukma berucap lirih sambil menunduk.


"Saya minta maaf dan saya tidak bermaksud seperti itu? Sebenarnya saya ... sedang mencari putra saya yang kabur dan entah kenapa dengan tidak sengaja mobilku malah terdampar di sani!" Alfandi menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Ha? pantas tampak lelah sekali, oh ... apa? mencari pitra mu yang kabur?" Sukma kaget.


"Huus, jangan keras-keras! nanti tetangga dengar? benar putra saya kabur dan saat ini saya mencarinya! sampai saat ini belum ketemu, sampai-sampai saya lupa waktu," ucap Alfandi yang masih berdiri di depan pintu.


Sukma bengong menatap penampilan Alfandi yang lusuh dan tampak tak beraturan.


"Boleh saya masuk? dan tolong buatkan saya teh hangat bisa nggak?" Alfandi nyelonong ke dalam, tanpa Sukma persilakan dahulu.


Sebenarnya Sukma tidak mengijinkan Alfandi untuk masuk, tapi orangnya sudah ada di dalam. Dan akhirnya Sukma pun berbalik melihat ka arah Alfandi yang mendudukkan dirinya di atas tikar.


Sesaat Sukma menatap ke arah pria itu yang tampak lusuh, lelah dan tampak tak ada gairah. Kemudian Sukma ke dapur untuk bikinkan teh hangat seperti yang Alfandi minta.


"Tante lama sekali sih? katanya mau bobo?" suara anak itu menyeruak dari dalam kamar.


Alangkah kagetnya Alfandi ketika mendengar suara putra bungsunya yang berada di tempat yang sama.


Begitupun Fikri, dia betapa terkesiap nya melihat sang ayah berada di sana. "Papa?"


"Fikri, kenapa kau ada di sini, Nak?" Alfandi menghampiri anak itu lalu berjongkok dan memeluknya dengan erat. Hatinya mencelos sedih sekaligus bahagia, putranya ketemu di tempat yang tidak dia sangka-sangka.


"Papa sedang mencari mu, Fikri ... kamu itu kenapa pergi nggak bilang-bilang sama Papa? setidaknya kau bilang sama Papa atau sama bibi di rumah, agar kami tidak cemas mencari mu," ucap Alfandi sambil terus memeluk putranya itu.


Fikri tidak menjawab, melainkan dia mencucurkan air matanya sedih, dia memeluk erat sang ayah tidak menyangka sedikitpun kau akan bertemu di sana yang niatnya mau kabur malah bertemu juga dengan sang ayah.


Sukma yang membawa segelas teh hangat buat Alfandi, tertegun melihat Alfandi dan Fikri sedang berpelukan.


"Apa mereka memang ayah dan anak?" gumamnya Sukma. "Berarti yang dikatakan Mimy bener dong, kalau Fikri itu putranya Alfandi? sempitnya ... dunia ini, aku harus ketemu putranya," batin Sukma sembari menggeleng juga merasa bahagia.


Karena tanpa harus repot-repot mengantarkan atau mencari orang tuanya Fikri, sudah bertemu duluan.


"Jadi kalian saling mengenal?" tanya Sukma sambil berlutut menyimpan gelas teh hangat buat Alfandi.


Alfandi menoleh ke arah Sukma. "Ini putraku, dia yang kabur dati rumah," sahutnya Alfandi, lalu mencium pipi Fikri kanan dan kiri juga keningnya.


Fikri pun mengangguk yang diarahkan pada Sukma membenarkan kalau Alfandi adalah papanya.


"Alhamdulillah ... kalian bertemu juga di sini, tanpa aku harus mencari atau mempertemukan kalian." Sukma mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, bersyukur karena Allah sudah memudahkan ayah dan anak itu ketemu.


"Tapi percaya deh, aku sama sekali nggak menculiknya Pak, aku membawa dia ke sini karena dia gak mau pulang, dan aku takut dia bertemu orang jahat di luar sana, makanya aku ajak saja ke sini." Sukma khawatir kalau orang tua Fikri mengira dia yang bukan bukan.


"Iya, Pah. Tante ini baik kok, dia nggak jahat, dia membawaku ke sini karena nggak mau aku ketemu orang jahat di luaran sana, Pah," Fikri memperkuat penjelasan dari Sukma.


Alfandi tersenyum karena dia percaya dengan omongan keduanya, dia percaya kalau Sukma orang baik. Nggak mungkin dia berniat jahat kepada putranya itu.


Alfandi duduk kembali dan menyesap teh hangat buatan Sukma. Tenggorokannya yang terasa kering, kini lumayan basah dan segar apalagi yang dicari sudah dia temukan.


"Kalian berdua bertemu di mana?" tanya Alfandi pada Sukma dan menarik Fikri agar duduk di dekatnya.


"Tadi ketika aku mau pulang kerja, melihat anak ini di pinggir jalan sedang menangis. Aku mau antar pulang nggak mau, dan Fikri nggak bilang alamatnya. Aku bujuk pun tetap saja sama, nggak mau pulang," jawabnya Sukma.


"Aku nggak mau pulang Pah, aku males di rumah juga, mama nggak ada waktu. Mungkin nggak sayang sama aku," timpal anak itu tampak sedih.


"Sayang ... kalau kamu nggak mau pulang? mau tinggal di mana? kan di sana rumah kamu. Pulang ya sama Papa?" kata lembut Alfandi.


"Aku nggak mau pulang, apalagi sekarang, aku mau nginep di sini sama, Tante." Anak itu menggeleng dan kekeh ingin menginap di tempatnya Sukma.


"Maaf, Pak tadi juga aku sudah bujuk agar dia memberikan alamat dan aku mau mengantarkannya, namun dia tetap nggak mau. Aku bingung harus gimana lagi?" lanjutnya Sukma.


"Makasih ya? sudah menjaga putra saya," Alfandi menatap lekat pada Sukma.


"Sama-sama, aku sama sekali nggak tahu kalau Fikri ini putranya Bapak eh kamu, aku gak tau." Sambungnya Sukma.


"Papa kita nginep di sini ya? ayo lah Pah ... Aku mau nginep di sini sama tante!" Rajuk nya Fikri sambil memegang tangan papanya.


Alfandi menatap ke arah Sukma yang menunduk dalam, dengan bibir yang melengkung membentuk senyuman. Entah kenapa hati Alfandi menjadi berbunga-bunga ....


.


.


...Bersambung!...