
Sekitar pukul sembilan, barulah mereka menyudahi apa yang sudah mereka lakukan, yaitu hal penting dalam keharmonisan rumahtangganya. Alfandi memeluk tubuh sang istri dengan sangat erat dan menciumi keningnya sebagai terima kasih sudah memberikan bekal yang lumayan cukuplah.
Jari-jarinya mulai membelai lembut rambut Sukma yang panjangnya di bawah bahu tersebut. Dan Sukma sendiri menempelkan pipinya di dada bidang sang suami yang masih terasa lengket dengan keringat dari sisa-sisa bekerja.
"Hem ... katanya cuma 10 menit? coba lihat jam berapa nih?" Sukma dengan sangat lirih pada suaminya itu. Dia baru tahu rayunya pria yang sedang inginkan sesuatu. Bilang sebentar atau minta ini sedikitlah, apalah? bohong itu ... kata sebentar dan sedikit itu hanya kiasan untuk ia mendapatkan.
"Ooh iya, ya? jam berapa ini? pukul 21 malam, habis kamu ngangenin sih! rasanya nggak mau berhenti deh. Kalau saja aku punya tenaga ganda ingin terus-terusan deh ha ha ha ...."
"Iih apaan sih? bisa-bisa gempor lah yang ada, nggak capek apa?" ucapnya Sukma dengan masih menyembunyikan wajahnya dada Alfandi.
"Ya ... aku bilang barusan! kalau punya tenaga ganda sayangku." tambahnya Alfandi sambil mengecup pucuk kepala Sukma.
"Sebenarnya aku malas pulang sayang! apakah aku harus bermalam lagi kali di sini ya?" ungkap Alfandi sambil terus membelai rambut Sukma.
Sukma tidak sedikitpun menjawab ataupun berkomentar, karena dia pun bingung harus berkata apa. Yang jelas-jelas suaminya ini bukan cuma milik dia seorang.
Alfandi mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri, sehingga tubuh mereka polos tersebut benar-benar menyatu dan menempel satu sama lain.
Tangan nakal Alfandi yang kekar itu meremas bokong Sukma dan menimbulkan sensasi yang aneh di rasakan oleh Sukma. Dan sangat mengairahkan bagi Alfandi, membuat dia gegas memposisikan dirinya, mengarahkan si Joni yang sudah berdiri tegak. Bersiap meluncur ke arah depan yang siap untuk menerimanya.
"Sayang, sebentar ya? beneran sekarang sebentar saja!" bisik Alfandi dan tanpa menunggu jawaban, dia langsung meluncurkan roketnya di kedalaman sekian meter.
Hek!
Sukma yang merasa belum siap, hanya bisa menutup mulutnya yang menganga, dan langsung Alfandi singkirkan tangannya itu serta digantikan dengan bibirnya yang membungkam mulut Sukma.
Sekarang Alfandi berusaha lebih cepat dalam melancarkan aksinya. Lebih bersemangat agar lebih cepat selesai, pikirnya.
Benar saja sekitar 15 menit berlalu, Alfandi menyudahi ritual berenangnya. Tubuh keduanya banjir dengan keringat. Alfandi beranjak dari tubuh sang istri, tangannya meraih remote dan menyalakan lampunya sehingga terang.
Pria tersebut mengibaskan selimutnya. Lalu turun dan mengambil pakaiannya yang berceceran, terutama celana sidi nya yang langsung ia kenakan.
Manik mata Sukma Hanya menatap ke arah pria tersebut yang berjalan mendatangi kamar mandi dan hanya mengenakan ****** ***** saja.
Batin Sukma berkata. "Iih, dasar tidak punya malu, hi hi hi ...."
"Kenapa sayang, kau pikir aku pasti tidak punya malu ya?" Alfandi membalikan badannya Setalah berada di ambang pintu.
Sukma terkesiap. Kok Alfandi tahu yang ada dalam hatinya sih. "Em ...."
"Nggak pa-pa sayang, cuma kamu ini yang ada di sini!" Alfandi lalu memasuki kamar mandi tersebut dan membiarkan pintunya terbuka begitu saja.
"Huam ..." Sukma mengusap. Tubuhnya terasa lelah banget sehingga bagaikan habis kerja apa gitu. Capek.
Dan tidak membutuhkan waktu lama untuk ia memejamkan kedua manik matanya, tertidur dengan hanya mengenakan selimut sebagai pembungkus tubuhnya. Dia pun lupa untuk menyiapkan pakaian buat Alfandi.
Beberapa saat kemudian, Alfandi keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya dan tangannya yang satu mengusap kepalanya dengan handuk kecil.
Melihat ke arah Sukma yang tampak tertidur dan tidak ada pakaian untuknya ganti. Bibir Alfandi menyungging serta menggeleng, pikirnya sang istri pasti lupa akibat rasa lelah dan kantuk yang menyerang sang istri mudanya itu.
Saat ini baru saja Alfandi mengenakan pakaiannya dan tampak rapi sekali.
Alfandi naik ke tempat tidur, di tatapnya wajah lelah sang istri yang sedang tidur nyenyak tersebut. Cuph! kecupan jangan mendarat begitu lama dan mesra.
"Maaf sayang, aku harus pergi! aku janji! pasti akan selalu mengunjungi mu di sini." Gumamnya Alfandi sambil mengelus pipi Sukma yang tampak lelap tersebut.
Sesaat kemudian Alfandi menurunkan kakinya menapaki lantai mendekati pintu. Sebelumnya menggantikan lampu dengan cahaya tidur.
Dia terus berjalan menuruni anak tangga, di ruang televisi masih tampak terang dan rupanya ada Mimy yang tengah menonton.
"Belum tidur Mimy? Oya My. Saya mau pulang dulu! tolong kunci pintu?" sapa Alfandi sembari terus berjalan.
Mimy menoleh pada Alfandi yang terus berjalan itu. "Mau balik lagi gak, Pak?"
"Tidak!" sahut Alfandi sambil berdiri di depan pintu. Kemudian dia melanjutkan langkah lebarnya tersebut mendekati mobil.
Sebelum masuk ke dalam mobil, dia memandangi bangunan rumah tersebut terutama ke arah kamar pribadinya itu. Dimana di dalamnya ada seseorang yang akan selalu dia rindukan.
Alfandi memejamkan kedua matanya sembari mengembuskan nafasnya yang terasa berat. Lalu menyalakan mesin mobil lantas melaju dengan sangat cepat, mengingat waktu sudah malam.
...-----...
"Bi, anak-anak mana? belum tidur kan?" tanya Vaula pada bibi yang tumben-tumbenan menanyakan kedua putranya.
"Bibi kurang tau, Nyonya. Mereka sudah tidur atau belum? sebab sehabis makan malam mereka sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing." Jawabnya bibi sambil membungkuk hormat.
"Lihat sana? bilang kalau maunya sudah pulang!" titah Vaula lagi sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Baik, Nyonya. Saya suruh orang untuk memanggilnya." Bibi dengan cepat menyuruh orang untuk memanggil Fikri dan Firza di kamarnya.
Seorang asisten buru-buru ke kamar Fikri dan Firza untuk memberi tahukan kalau mamanya sudah pulang.
"Den Firza ... mamanya sedah pulang dan di panggil tuh?" pekik asisten tersebut di ambang pintu kamar Firza.
Tanpa menunggu jawaban. Kerena belum tentu juga di sahut oleh orang yang berada di dalam kamar. Asisten itu segera mendatangi kamar Fikri.
"Den Fikri? di panggil mamanya tuh?" asisten yang masih muda tersebut sebentar berdiri di ambang pintu kamar tersebut.
"Iya, Mbak." Terdengar suara Fikri menyahut dari dalam kamar.
Membuat asisten itu merasa lega, lalu meninggalkan tempat tersebut.
Saat ini Fikri dan Firza sudah berada di ambang tangga untuk menuruninya. Namun tangan Firza meraih tangan Fikri.
Geph!
Fikri melihat tangan Firza yang menggenggam tangannya tersebut. "Kenapa, Kak? aku gak mungkin jatuh juga kok."
"Ck, bukan begitu!" sahutnya.
"Kenapa?" tanya kembali Fikri terheran-heran sebab tidak biasanya.
"Jangan bilang-bilang sama mama kalau papa menikah lagi!" pinta Firza pada sang adik.
"O-o! Kaka perduli juga ya sama mommy? nggak lah, Kak ... masa aku tega, nanti mommy di marahin nama kalau tahu soal itu." Fikri nyengir pada sang kakak.
"Woi. Aku bukannya perduli sama dia, tapi kita harus menjaga perasaan mama. Dia pasti sakit hati dan kecewa bila tahu papa menikah lagi." Akunya Firza dengan tatapan yang serius pada adiknya itu.
Fikri terdiam mencerna maksud dari sang kakak. "Iya juga sih. Tetapi kan mommy juga pasti kena semprot mama! kasihan juga keduanya, kasihan-kasihan, kasihan."
"Bi, barang-barang itu yang ada dalam koper keluarin?" pinta Vaula bada bibi.
"Mama?" panggil Fikri yang lebih dulu sampai dan memeluk sang bunda singkat.
"Belum bobo ya sayang? Mama bawakan banyak oleh-oleh buat kamu dan kakak." Vaula menunjuk koper yang bibi bukakan.
Tanpa pembicara ataupun apa, Firza mendudukkan dirinya di sofa seberang sang Bunda, dan Vaula pun menoleh pada putra pertamanya tersebut.
"Firza, Mama bawakan banyak oleh-oleh untuk kalian berdua. Ada makanan, dan juga Mama belikan sepatu roda terbaru, harganya mahal lho dari luar Negeri pula. Kau suka?" Vaula menatap pada putra pertamanya tersebut.
Firza hanya menatap dingin ke arah sang Bunda juga barang-barang yang ditunjukkannya.
"Kok, kalian pada bengong sih? Mama belikan sepatu roda untuk kakak dan Fikri juga, terus iPad keluaran terbaru nya juga 1 buat Firza dan Fikri 1, kalian pasti suka deh," ucap Vaula sambil menunjuk barang yang sedang dikeluarkan oleh bibi.
"Ipad aku masih bagus kok, sepatu roda Aku nggak suka! aku lebih suka gitar," ungkapnya Firza dengan nada dingin pada sang bunda.
Vaula menatap datar pada Firza, namun tidak jadi masalah bagi Vaula melihat putranya yang dingin itu ....
.
.
...Bersambung!...