
"Yang rajin belajarnya ya?" pesan Alfandi ketika kedua putranya bersiap berangkat sekolah yang di antar pak supir.
"Iya, Pah. Siap!" jawabnya Fikri sambil bersalaman pada Alfandi.
Sementara Firza hanya diam saja selain bersalaman dengan sang ayah. Dia yang memang agak dingin namun dalam hati dia sangat perduli pada sekitarnya.
Alfandi langsung memasuki mobilnya setelah mobil yang membawa kedua putra sudah meluncur dari garasi rumah tersebut.
Yang pertama dia datangi adalah kantornya. Dengan pandangan yang fokus ke depan, Alfandi melajukan mobilnya dengan sangat cepat untuk menuju tujuannya.
Selang beberapa puluh menit, mobil tiba di kantor, dan langsung di sambut oleh Rijal dan Arman.
"Gimana, kabar pengantin baru nih?" tanya Rijal.
"Eh ... tahu gak? dia itu lagi bucin dan bucin nya melebihi anak muda," sahut Arman yang mengarahkan pandangan ke Alfandi.
"Oya? masa sih seperti itu?" Rijal mengerutkan keningnya.
"Ahk, biasa saja!" Alfandi menggeleng sambil tersenyum.
"Ha ha ha ... pasti-pasti. Maklum lah, lama kehausan dan kelaparan,'' timpal Rijal sambil menepuk bahu Arman dengan map nya.
"Sudah, jangan buli aku ... hu hu hu, ha ha ha!" Alfandi sambil mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya itu.
Kemudian mereka mulai serius dengan pekerjaannya. Alfandi membuka laptop kerjanya dan menunjukan pada kedua temannya tersebut.
...---...
Sukma sedang beres-beres di lantai atas. Dan mendapat chat dari Alfandi agar dirinya datang ke suatu tempat sekarang juga.
"Ngapain sih? gue di suruh ke sana? dah tau gue masih sakit dan malas jalan." Sukma sedikit menggerutu.
Namun tak ayal dia bersiap-siap untuk pergi. Lalu bergegas turun setelah nyakuin ponsel dan kartu ATM.
"Bi? aku pergi dulu ya?" pekik Sukma sambil mencari keberadaan Bi Lasmi yang sedang berada di belakang bersama orang yang sedang membuat kolam ikan.
"Mau kemana, Non?" tanya bibi yang langsung masuk menghampiri.
"Aku mau pergi dulu ke jln xx--"
"Kalau nanti tuan nanyain? bibi harus jawab apa?" selidik bi Lasmi.
"Lah, kan aku perginya sama dia kok. Aku di suruh dia perginya," sahut Sukma.
"Ooh ... sama tuan," bibi mengangguk.
"Iya, Bi." Jawabnya Sukma.
"Lah. Kenapa gak di jemput saja, Non sama tuan?" selidik bi Lasmi.
Sejenak Sukma terdiam. "Mungkin dia lagi sibuk! masa kerja kan, Bi?"
"Ooh iya. Ya sudah. Hati-hati ya Non?" pesan bi Lasmi sambil mengantar Sukma sampai ke teras.
"Iya, Bi. Takut lama. Titip Jihan dan Marwan ya, Bi?" Sukma menitipkan kedua adik-adiknya nya pada bi Lasmi.
Bi Lasmi pun mengangguk. "Baik, Non." Bi Lasmi pun melambaikan tangan pada Sukma.
Sukma berjalan cepat ke depan di mana angkutan umum suka lewat. "Ke depan, Bang?"
Supir angkutan umum mengangguk. Dan kembali melajukan mobilnya.
Untuk menjangkau tempat tujuan itu memerlukan dua kali naik angkutan umum. Dan sekarang Sukma sudah berada di angkutan umum yang kedua.
Chat dari Alfandi masuk menanyakan keberadaan sudah dimana?
"Aish ... dia pikir aku terbang apa? dengan cepat kilat nyampe?" gumamnya Sukma pelan.
Sukma turun dan tidak lupa membayar jasa angkutan umumnya.
"Ini kan depan universitas xx? itu gedungnya. Mana orangnya?" Sukma celingukan mencari keberadaan Alfandi yang katanya menunggu di sana.
Langkah Sukma terus menghampiri sebuah mobil yang dia yakini adalah mobilnya Alfandi. Namun mobil tersebut kosong.
"Kemana dia sih? mobilnya kosong." Suara Sukma sambil menyisir tempat sekitar yang lumayan ramai. Karena tempat tersebut adalah warung makan.
"Hi. Sayang?" suara Alfandi dari arah belakang Sukma.
Membuat Sukma terkesiap dan langsung menoleh pada Alfandi yang berdiri dan tersenyum.
"Spot jantung gue!" Sukma mengusap dadanya.
"Kok baru datang sih? saya sudah menunggu lama di sini!" ucap Alfandi menatap ke arah Sukma yang sedikit kaget.
"Naik angkot saja dua kali. Wajarlah lama?" sahutnya Sukma.
"Haus, Bu?" tanya Alfandi sambil menatap kantong minuman yang tandas tersebut.
"Haus, habis beres-beres di rumah. Langsung pergi makanya haus," lirihnya Sukma sambil kembali mengedarkan pandangan ke sekitaran.
"Ya sudah ... kita ke sana dulu yu? aku sudah daftar kan kamu di universitas tersebut. Kau kuliah lagi ya?" Alfandi mengajak Sukma berjalan.
Namun Sukma malah berdiri dan menatap ke arah Alfandi, dengan tatapan heran. "Kuliah?"
"Iya, kau harus kuliah lagi. Gapai cita-cita mu itu, mau menjadi perawat bukan?" Alfandi menatap lekat pada Sukma yang tertegun.
"Beneran? aku kuliah lagi?" Sukma ingin meyakinkan diri, tatapanya semakin lekat seolah ingin tahu isi hati nya Alfandi.
Alfandi mengangguk seraya menunjukan senyum seriusnya pada sang istri muda nya itu. "Beneran sayang ... buat apa aku bohong dan mengajak kau ke sini?"
Sukma menutup mulutnya yang menganga. Shock dan setengah tidak percaya kalau dirinya mau kuliah lagi. Dia pikir sebelumnya setelah menikah, ya sudah. Jadi ibu rumah tangga saja, meskipun Alfandi akan jarang pulang.
"Jangan peluk-peluk aku ya? kalau ingin peluk nanti saja kalau di rumah mau paluk atau apa juga boleh." Goda Alfandi sambil tersenyum.
"Cielah ... sapa juga yang mau peluk? ge'er." akunya Sukma.
"Kali saja, saking bahagianya gitu, pengen peluk suaminya yang ganteng ini, ha ha ha ...."
"Iih ... ge'er." Sukma sambil melihat ke arah gedung tersebut.
Lalu kemudian mereka memasuki gedung tersebut untuk bertemu dosen di sana. Selah beberapa waktu berbincang dan Sukma akan mulai kuliah lusa.
Akhirnya perbincangan pun berakhir. "Terima kasih atas waktunya dan mohon bimbingan nya pada Sukma, prof?" Alfandi mengulurkan tangannya pada dosen tersebut.
"Sama-sama, semoga betah dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat nantinya di sini." Dosen pun mengangguk pelan.
Sukma pun bersalaman dengan dosen pembimbingnya nanti.
"Aamiin, permisi prof?" Alfandi dan Sukma mengundur diri.
Keduanya berjalan mendekati tempat yang tadi mereka bertemu.
"Mau makan dulu gak?" tawar Alfandi pada Sukma.
"Em ... malas kalau sendirian. Mendingan di rumah saja!" Sukma pikir Alfandi akan langsung pergi ke tempat kerjanya.
"Sambil menunggu taksi online nya datang, kita makan aja dulu," tangan Alfandi sedikit mendorong punggung Sukma agak masuk ke warung makan tersebut.
"Bu, pecel lele, bebek bakar, ayam bakar dan sayur asam." Pesan Alfandi pada penjaga warung.
Sukma hanya terdiam dan melihat suasana di sana. Pertama-tama yang di sodorkan adalah minumnya. Teh manis hangat.
"Haus?" Sukma langsung menyedot minumnya.
"Kau gak bawa tas?" selidik Alfandi melihat Sukma polos tidak membawa apa-apa.
"Nggak. Nggak punya, lagian buat apa sekarang bawa tas?" jawabnya Sukma.
"Buat bawa dompet, ponsel dan kartu ATM dan kecantikan mungkin," ucap Alfandi sambil menarik piring yang di sodorkan oleh penjaga warung.
"Nggak punya gimana? apa yang harus ku bawa?" Sukma pun menarik piringnya. Lalu keduanya langsung menyantap makannya dengan sangat lahap.
Pas selesai makan, pas taksi datang untuk mengantar Sukma pulang.
"Tuh taksi nya datang!" Alfandi menunjuk taksi yang baru saja datang.
"Sudah Dzuhur. Tadinya aku ingin ke masjid dului," ucap Sukma pada Alfandi sambil melihat ke arah masjid yang tidak jauh dari warung tersebut.
"Ngapain?" tanya Alfandi sambil mesem.
"Oo! mau ikutan tidur sebentar. He he he ..." ucap Sukma sambil tersenyum garing.
"Ha ha ha ... ada-ada saja," Alfandi menggeleng. "Ya sudah kalau mau salat dulu yu?" Alfandi berdiri sambil membayar bekas makannya.
"Mau salat juga?" tanya Sukma sambil berdiri juga.
"Bukan, mau numpang ke toilet doang." Jawab Alfandi sambil berjalan mendekati taksi untuk bilang, kalau penumpangannya mau ke masjid sebentar.
"Aish ... malah bercanda, aku serius juga!" ungkapnya Sukma.
Keduanya masuk ke dalam masjid setelah sebelumnya mengambil air budu masing-masing ....
.
.
...Bersambung!...