
Dasar Alfandi, dia malah bermain dulu sebentar bersama sang istri. Dan setelah membersihkan diri barulah mereka berdua menghampiri Mimy dan Beben yang kini sudah berada di ruang tengah mengasuh putrinya dan Syakila.
"Aku dengar ... kau tidak punya pekerjaan ya? kenapa marah-marah sekarang?" Alfandi langsung to the point saja setelah dirinya mendudukkan diri di sofa berhadapan dengan mereka.
"Sebenarnya kami malu untuk datang ke sini. Apalagi untuk meminta tolong! karena kalian terlalu baik pada kami berdua tapi istriku terus saja memaksa saya untuk datang kemari--"
"Iya, kalau nggak sekarang mau kapan lagi? kamu mungkin enak nggak punya kerjaan juga nggak pusing dengan urusan anak, rumah. Dapur. Sementara aku? aku seorang istri yang lebih tahu dan menjadi beban kalau harus memikirkan dapur! rumah, keperluan anak juga!" Mimy langsung menyambar perkataan dari suaminya.
"Aku pusingnya. Gini, Ma ... Pak Al. orang tuanya kalau minta duit itu gak ngerti anaknya sedang nganggur. Harus ada aja! sementara kita aja susah ya, orang tidak bekerja." Mimy bicara sambil menangis, tampak sekali kalau dia sedang berada di titik rendah atau menanggung beban berat.
Sukma mendekat pada Mimy dan merangkul bahunya sambil berkata. "Sabar ya My. Insya Allah semua bisa di atasi."
Tangis Mimy pun menjadi pecah dalam pelukan Sukma, dia benar-benar merasa tertekan setelah suaminya dipecat dari kerjaan. Kehidupan orang memang berbeda-beda! tidak semua orang berpendidikan tinggi pun bisa menjamin kesuksesan dengan mudah! begitupun dengan suaminya Mimy.
Sukma pun memeluk Mimy dan mengusap-ngusap punggungnya mencoba menenangkan. Mimy mencoba mengeluarkan semua beban di dada nya, semua unek-unek yang selama ini tersimpan.
"Sabar My ..." Sukma mencoba terus menenangkan sahabatnya tersebut.
Air matanya pun ikut menetes. Menjadi teringat di saat ia ketika susah bahkan Mimy pun terlibat di dalamnya. Membantu kesulitan Sukma yang yang sampai sekarang pun masih ia ingat.
Beben hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa, begitu pun dengan Alfandi yang yang tidak mengerti apa-apa dan hanya bisa menatap kasihan pada Mimy yang berpelukan dengan istrinya.
"Kamu bekerja di bidang kesehatan bukan sebelumnya?" tanya Alfandi yang memulai kembali pembicaraannya.
Beben mengangguk sembari melihat ke arah sang istri yang mulai berhenti menangisnya.
"Kalau begitu. Sebentar ya saya akan menghubungi orang dulu!" Alfandi mengambil ponsel dari saku nya dan menghubungi seseorang. Dia berdiri berbicara di ujung telepon dengan enyah apa yang mereka bicarakan.
Beberapa saat kemudian Alfandi pun duduk kembali di tempat semula. Lalu menatap ke arah Deden dan Mimy yang sedang mengeringkan air matanya dengan tisu.
Kemudian kembali mengarahkan pandangannya kepada Beben sembari berkata. "Mulai besok kau boleh masuk kerja di rumah sakit di jalan xx yang tidak jauh juga dari sini."
Beben maupun Mimy merasa kaget dan senang mendengar perkataan dari Alfandi, dan mereka sempat berpikir kenapa nggak dari dulu datang ke sini untuk minta tolong dikasih pekerjaan. Mungkin nggak harus susah dulu, gak harus menanggung beban yang terasa berat dulu yang khususnya dirasakan oleh Mimy.
"Beneran! serius?" suara Mimy dan Beben berbarengan dengan tatapan yang sangat serius pada Alfandi.
"Tentu, saya sangat serius." Jawabnya Alfandi dengan nada yang sangat serius.
"Alhamdulillah ... makasih ya? makasih banget!" Mimy tidak bisa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, sorot matanya tertuju pada Alfandi dan Sukma sambil menutup mulutnya.
Sukma pun tak kalah bahagianya mendengar Beben di beri pekerjaan oleh sang suami.
Beben juga hanya bisa menjabat tangan dengan Al sebagai ungkapan terima kasihnya yang telah di beri pekerjaan.
"Besok kau langsung masuk saja ya, karena semuanya sudah di atur. Dan kamu tinggal masuk saja." Kata Alfandi pada Beben.
Kemudian mereka menjalankan kewajibannya. Terdengar suara adzan magrib yang berkumandang merdu.
Setelah itu barulah mereka makan malam bersama.
"Aku mau pulang saja, Ma ... sudah malam," ucap Mimy yang merasa tidak enak juga pada sahabatnya itu.
"Nggak, kalian tidak boleh pulang dulu sebelum makan malam! bagus-bagus kalian menginap di sini!" Sukma menggandeng tangannya Mimy di bawanya ke ruang makan.
Sementara yang lain pun ngikutin. lalu mereka duduk menghadapi beberapa menu makanan di maja.
Di sana sudah ada Fikri dan Marwan. Untuk makan bersama.
"Oh iya, aku sudah lama nggak ketemu Jihan dan Firza juga ya. Rasanya kangen juga sama mereka berdua kapan mereka pulang ke sini?" Mimy mengarahkan pandangannya kepada Sukma.
"Ooh, iya aku kangen juga sama mereka berdua rasanya hampir setahun nih nggak ketemu mereka!" tambahnya Mimy.
Kemudian mereka pun segera melahap makan malamnya dengan nikmat. Dibarengi dengan obrolan ringan.
Selesai makan dan ikut beres-beres, Mimy pun berpamitan pada Alfandi dan Sukma.
"Ma, gue ucapin Makasih banyak ya atas semua kebaikan kamu dan suami yang sungguh sangat-sangat berharga bagi aku dan keluarga!" Mimy memegangi kedua tangannya Sukma.
"Sama-sama My ... sekarang kamu jangan banyak pikiran ya suami sudah dapat pekerjaan dan semoga betah di sana," Sukma memeluk Mimy dengan erat sebelum melepasnya untuk pulang.
"Oh ya, aku sudah transfer uang buat beli susunya si kecil. Semoga bermanfaat!" ucapnya Alfandi kepada Beben dan Mimy.
Dan Mimy langsung ngecek ponselnya yang ternyata memang benar ada notif transferan dari rekeningnya Alfandi sebesar 5 juta.
Membuat Mimy sementara waktu mematung serta menatap kepada Sukma yang mengangguk dan Alfandi yang tersenyum tulus.
"Ini sih, bukan buat beli susu tapi buat kebutuhan 1 bulan." Lagi-lagi Mimy memeluk Sukma.
"Semoga bermanfaat ya, My ... setidaknya cukup buat sebulan ke depan, sebelum dapat gaji pertama." Lirihnya Sukma sambil melepas rangkulan sahabatnya tersebut.
"Kebaikan kalian berdua sangat-sangat tidak terhitung untuk kita, dan mungkin takkan pernah bisa dikembalikan ataupun membalasnya!" Mimy menunduk dalam.
"Sudahlah My ... nggak usah dibahas lagi, kita berdua ikhlas kok!" Sukma melirik kepada sang suami yang menggerakkan matanya tanda setuju dengan omongan sang istri.
Lantas Mimy dan Beben pulang mengenakan motornya, motor yang dibelikan oleh Alfandi karena waktu itu motor Beben hilang, raib dicolong orang.
Selepas Beben dan Mimy menghilang dari pandangan! Alfandi pun mengajak Sukma untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Mommy-Mommy ... mau bobo! kantuk." Rengeknya Syakila setelah mommy nya masuk ke dalam ruangan keluarga.
"Syakila ngantuk ya? sebentar ya ... Mommy mau beresin dulu mainannya, yok kita beresin sama-sama!" Sukma sambil mengajak membereskan terlebih dahulu mainannya biar tidak berantakan.
Si gadis kecil yang berapa kali menguap itu pun tak ayal mengambil mainannya, lalu dia masukkan ke dalam kotak wadahnya mainan.
Alfandi sendiri menghampiri Fikri dan Marwan yang tengah belajar.
"Pah, seperti rencana dulu! kalau Fikri sudah selesai sekolah dasar, Fikri ingin nyantri ya sambil sekolah SMP." Fikri mendongak pada sang ayah yang langsung memberi tanggapannya dengan anggukan.
"Emangnya Fitri yakin ... tidak mau sekolah ke luar Negeri seperti kemauan mamah? Papa pribadi akan lebih mendukung kemauan Fikri, selama itu baik!" Alfandi menatap lekat pada putranya.
"Aku yakin, Pah. Aku pengen nyantri aja belajar ngaji dan sekolah. Aku tidak mau sekolah jauh-jauh apalagi mengikuti kemauan mamah, Fikri tidak mau." Anak itu menggeleng.
Alfandi menghela nafas dalam-dalam, dengan tatapan mata yang lekat pada Fikri yang tampak serius untuk belajar agama. "Baiklah kalau begitu, Papa akan siapkan tempatnya agar Fikri bisa mendalami agama dan juga sekolah yang berkualitas!"
Marwan hanya menyimak obrolan mereka berdua. Sementara dirinya sudah disiapkan untuk kuliah di Bandung oleh Alfandi yaitu di UPI jurusan arsitektur.
"Kira-kira ... aku mau di pesantren kan dimana, Pah?" tanya Fikri pada sang ayah.
"Soal itu ... Papa masih akan pikirkan ya. Di mana yang lebih berkualitas dan tentunya sekolah dan pesantrennya tidak ilegal alias resmi." jawabnya Alfandi sembari mengeritkan keningnya.
Kini Alfandi punya PR baru, yaitu mencari pesantren plus ada pendidikan nasionalnya! tentunya yang resmi diakui oleh Negara ....
.
Hi apa kabar reader ku semua, semoga kabar baik ya ... ada dalam lindungan yang maha kuasa dilancarkan setiap urusan juga.