
Mimy buru-buru menghampiri pintu. "Siapa Bi? tamu buat siapa?"
"Em ... den Beben dan den Reno." Jawab bibi sambil menoleh pada Sukma.
Begitupun dengan Mimy. Dia menoleh pada Sukma yang bengong.
Buat apa Reno datang lagi setelah semalam pun tidak temui? Sukma mengalihkan pandangan ke lain arah. "Apa keperluan dia? kalau ingin bertemu dengan ku, bilang saja aku gak mau bertemu dia!"
Sukma menghela nafas panjang yang terasa sangat berat. Hatinya terasa sakit dan tidak ingin mengenang kisah lalu. "Bi, tolong bilang sama Reno ... jangan datang lagi, aku bukan Sukma yang dulu lagi, aku sudah bersuami." Pinta Sukma tanpa menoleh lagi.
"Ba-baik, Non." Bu Lasmi mengundur diri, bergegas pergi.
Mimy yang masih berdiri dan bengong di tempat menatap ke arah Sukma yang memunggunginya. Mimy mendekat. "Ma ... apa tidak sebaiknya lu temui dan lu jelaskan?"
Sukma memutar tubuhnya berhadapan dengan Mimy. "Jelaskan apa lagi, apa kurang jelas? dengan yang gue katakan, gua sudah menikah!" Sukma menunjukan cincin pemberian dari Alfandi sebagai maskawin tersebut.
Minya hanya terdiam, menatap ke arah Sukma.
"Seharusnya lu bisa jelaskan juga, karena lu sebagai saksinya. Bilang sama dia jangan ganggu gue. Sudah temui saja sana? siapa tau mereka ingin bertemu lu, My!" pinta Sukma.
Sejenak Mimy melongo. Lalu perlahan menyentuhkan langkahnya menjauhi tempat tersebut.
"Non, Den Reno ingin bertemu dengan Non." Kata bi Lasmi yang kembali.
Sukma menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Maunya apa sih dia?" Sukma membawa langkahnya ke dekat pintu.
"Nggak akh, Bi. aku takut di lihat orang-orang, nanti menjadi fitnah. Aku gak mau menemui dia." Sukma melihat waktu yang sudah siang itu, lalu menyambar tas dan peralatan kuliahnya.
"Non?" panggil Bu Lasmi.
"Bi, aku berangkat dulu ya! soalnya aku ada yang ingin aku beli dulu!" ucap Sukma sambil memasukan ponselnya ke dalam tas. "Oya? anak-anak sudah berangkat sekolah kan, Bi?"
"Neng Jihan sama Marwan, sudah. Non! baiklah hati-hati ya Non?" pesan bibi.
"Iya, Bi!" Sukma menggendong rasanya dan peralatan lainnya ia peluk. Berjalan dengan cepat turun tangga bersama bibi.
Terdengar suara Beben dan Rena di depan bersama Mimy juga. Sukma terus berjalan. "My, gue berangkat dulu ya? kebetulan gue ada perlu dulu." Pamit Sukma. "Yu semua? Assalamu'alaikum?"
Dengan cepat Sukma berjalan menuju jalan dimana sudah ada taksi menunggu. "Akhirnya bebas juga."
Reno bengong dan matanya seakan tidak berkedip sedari Sukma muncul dihadapannya barusan. Ada rasa sesal yang teramat menyiksa batinnya!
"Jalan, Mas?" pinta Sukma tanpa mengatakan kemana? yang penting jauh dulu aja dari situ.
...----...
Setibanya di rumah. Anak-anak langsung berganti baju buat sekolah masing-masing, dan Alfandi sendiri memasuki ruang kerjanya.
Bi Nunung hanya bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya majikan dan kedua putranya itu dari mana sampai menginap segala?
Setelah beberapa saat berkutat dengan kerjaan di meja dengan desain sebuah gedung, lalu Alfandi golong gambar tersebut dengan rapi. Dia mengayunkan langkah nya ke kamar.
Kedua netranya mendapati sang istri sedang berada di depan cermin tampak segar nan cantik. Sesaat Alfandi berdiri hentikan langkahnya.
"Pagi, Fandi? kau sudah rapi!" sapanya sambil mengenakan aksesoris nya.
"Iya, sudah!" jawabnya sembari mengangguk.
"Anak-anak sudah pada bangun?" tanya kembali.
"Sudah." gumamnya Alfandi singkat sembari menatap ke rah sang istri.
"Apa dia tidak tahu kalau kita semalam tidak berada di rumah ini?" batinnya Alfandi. Lalu di mendekati wardrobe untuk menukar jam tangan kesayangannya dengan yang lain lagi.
"Benar-benar!" Alfandi menggelengkan kepalanya.
Semalam waktu Alfandi pergi bersama Fikri, memang Vaula belum pulang. Dan apakah ketika dia pulang tidak menemukan suaminya apa dia gak ngeh. apa gak melihat kedua putranya yang tidak berada di kamarnya masing-masing? ahk ... sungguh membingungkan! rumah tangga macam apa ini.
"Ooh pantas!" gumamnya Alfandi dalam hati. "Pantas saja dia tak curiga. Orang gak tahu! bener-bener ya? kebangetan!"
"Ooh, emang pulang jam berapa? semalam?" selidik Alfandi sambil menggenggam tangan Vaula yang merangkul perutnya.
"Em ... entah, Mama lupa! semalam ada meeting. Biasa, Pah!" lalu Vaula memudarkan pelukannya itu.
Firza dan Fikri yang sedang sarapan, tampak kaku dan salah tingkah apalagi ketika Vaula datang dengan membawa tas kecilnya menghampiri keduanya. Mereka Khawatir mamanya akan bertanya kemana semalam menginap dimana atau bila, bla-bla.
"Gimana tidur kalian, nyenyak?" tanya Vaula sambil duduk dan meneguk minumannya pahitnya.
Firza melirik ke arah Fikri yang juga memandanginya. "Nyenyak!" jawab keduanya berbarengan.
"Oo! kalian berbarengan segala jawabnya, Oya kalian mau liburan kemana akhir semester ini! Mama akan bayarin kemana pun mau kalian." Tawar Vaula kepada kedua putranya.
"Perginya ... sama Mama?" tanya Fikri sembari menatap penasaran dan ingin tau jawabannya. Kalau perginya sama mamanya berarti jadwal dengan mommy nya akan di undur saja. Begitu pikir Fikri.
"Em ... gak bisa sayang! kalau mama sibuk, jadi kalian sama papa saja ya liburannya?" ucap Vaula sambil tersenyum datarnya.
"Hari Sabtu dibagikan rapot, dan harus di ambil sama perang tua." Kata Firza dengan nada dingin.
"Fikri juga dibagikan rapot." Timpal Fikri sambil menyuapkan makan ke mulutnya.
"Hem ... soal itu gampang, ada papa kan biasanya juga, bila papa gak bisa? ada bu nunung atau Supir, gampang itu sih kecil." Vaula mendetingkan jarinya.
Hati Firza dan Fikri mencelos, sudah terbaca kalau mamanya pasti tidak bisa hadir ke sekolahan walau sekedar mengambil hasil semester.
"Jadi Mama gak bisa ambil raport kita Mah?" tanya Firza sembari menatap lekat.
"Tidak sayang ... Mama ada fashion di luar kota. Jadi tidak bisa menemani kalian untuk itu, sorry?"
Sementara Alfandi berdiri di ujung ujung tangga mendengarkan obrolan anak dan bunda.
"Biar papa daja yang mengantar kalian ya? seperti biasanya juga sama papa kan?" sambungnya Vaula tanpa ada rasa bersalah atau kasihan pada kedua putranya.
Kemudian Vaula beranjak dari duduknya. "Oke, mama berangkat dulu ya?" tangannya mengacak rambut Fikri dan Firza bergantian.
Firza mengusap dan merapikan rambutnya sembari menatap kepergian sang mama yang membawa tasnya.
Timbul rasa sakit kembali dengan sikap nya yang cuek dan skandalnya itu. Bikin dada Firza terasa sesak dan buru-buru meneguk minuman nya.
"Gimana? apa mama bisa pergi ke sekolahan?" selidik Alfandi pura-pura gak gak tau apa-apa.
Keduanya menggeleng lesu sambil menunduk dalam. Tampak kesedihan tergurat dari wajahnya masing-masing.
"Ya sudah, gak usah di pikirin. Setiap kali akhir semester, papa selalu datang untuk mengambil nya. Dan sekarang papa benar-benar gak bisa. Jadi Papa akan mengutus seseorang untuk mengambilnya." Bujuk Alfandi.
"Pasti mommy kan, Pah?" Fikri sudah bisa nebak.
Alfandi tersenyum. "Ayo? sarapannya! nanti kesiangan!" jelas Alfandi pada kedua putranya tersebut.
Lalu sesaat kemudian keduanya berdiri setelah menghabiskan makannya. "Kam sekolah dulu ya, Pah ... Assalamu'alaikum!" Fikri meraih tangan sang ayah di ciumnya.
"Kalan ada uang buat bekal gak!" selidik sang ayah sembari merogoh sakunya dan lantas memberikan beberapa lembar uang tersebut pada keduanya.
"Makasih, Pah?" sambut Fikri, sementara Firza tidak banyak bicara. Lalu keduanya pergi keluar dari rumah tersebut. Dan akan di antar sama supir.
Selang beberapa waktu, Alfandi pun sudah berada di kantor dan mulai berkutat dengan kerjaannya. Namun ketika Alfandi tengah fokus dengan kerjaannya! datang lah seorang wanita muda yang lumayan cantik dan modis menghampiri Alfandi dengan ramah ....
.
.
...Bersambung!...