Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Jangan mimpi



Sukma senyum simpul, lalu mengambilnya dari tangan Alfandi. "Baiklah, aku terima! asal jangan menagihnya lagi saja."


"Aku akan menagihnya, suatu saat nanti. Namun dengan cara lain tentunya." Alfandi tertawa lebar.


Sukma mengerutkan keningnya. "Apa itu?"


"Lupakan saja, sini jas ku?" Alfandi menunjuk jas yang betah berada di tangan Sukma.


"Oh, iya. Lupa! he he he ..." Sukma memberikan jas tersebut pada Alfandi.


"Makasih? berasa kau istriku saja! he he he ..." Alfandi terkekeh sendiri.


"Apa, Pak?" tanya Sukma menatap tajam pada Alfandi.


"Ooh tidak, sudah ya? sudah malam, besok pagi-pagi saya jemput adik-adikmu, Alfandi langsung memutar kemudinya melajukan mobil dengan cepat. Meninggalkan tempat tersebut.


Setelah Alfandi tidak ada, Sukma bergegas masuk ke dalam kontrakan. Adik-adiknya dan Mimy yang sedang membuka belanjaan pakaian dan keperluan sekolah.


"Waahh ... kamu, kan nggak belanja, Ma. Tapi kamu bawa paper bag?" tanya Mimy terheran-heran.


"Iya, kapan Kakak belinya? aku nggak lihat Kakak pilih-pilih pakaian!" timpal Jihan menatap ke beberapa paper bag yang kakaknya bawa.


"Ooh ... ini! nggak tahu juga, Kakak dikasih sama Pak Alfandi. Karena setahu dia ... Kakak nggak memilih satupun, makanya dia yang pilihkan," jawabnya Sukma.


"Cie-cie-cie ... ada yang perhatiin nih." Celetuk Mimy. "Pepet terus ... jangan sampai kendor."


"Apaan sih My? ngomong gitu ih, nggak enak tahu, kan kamu sendiri tahu dia bilang punya anak istri. Aku nggak mau jadi penggoda!" ucap Sukma sambil mendudukkan dirinya.


"Ya ... jangan jadi penggoda! tapi kalau dia mau nggak apa-apa orang kita gak minta!" belanya Mimy kembali.


"Iya, Kak. Dia baik banget, setidaknya kita harus ada timbal baliknya," Jihan berucap lirih. Anak segede itu sudah mengerti.


"Tuh, kan ... Jihan yang masih bocah juga ngerti, soal timbal balik. Kalau dia mau, nggak apa-apa! orang bukan kita yang merebut kok, bukan kita yang menggoda juga," sambung Mimy menatap ke arah Sukma.


"Ah, sudahlah nggak usah ngomongin itu, sudah beresin semua belanjaannya." Sukma menunjuk barang yang berserakan.


Tidak lama kemudian, perabotan pun datang beserta tempat tidur, lemari pakaian. Dan tempat sepatu.


"Yey ... kita punya tempat tidur baru," Marwan girang.


"Hus ... kamu apa-apaan sih, malam gini? nggak enak sama tetangga," kata Jihan pada sang adik. Marwan.


Mereka pun keluar menyambut barang-barang yang baru saja datang tersebut, dan mereka pun mengakut perabotan dapur ke dalam. Si abang-abang yang mengantarkan barang tersebut, sekalian memasangkan tempat tidurnya dan lemari di dalam kontrakan sukma. Begitupun punya mimy.


"Ma, punya uang nggak? buat ngasih mereka insentif? kasihan lho, mereka sudah nurunin. Masang pula," katanya Mimy pada Sukma.


"Ada, tenang saja tadi pak Alfandi sudah ngasih aku tuk dikasihkan ke mereka!" sahutnya Sukma.


"Iih ... kamu beruntung deh, ketemu pria seperti itu ya?" kenang Mimy


"Kamu juga beruntung, kan kamu juga dapat! aku beli apa kamu juga membelinya," belanya Sukma sambil tersenyum.


"Iya sih, alhamdulillah ya Allah ... sudah memberiku rezeki pada hamba mu ini," Mimy mendongak ke langit-langit, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Sukma tersenyum lalu menghampiri si abang-abang dan supir. "Abang-abang, makasih ya?sudah mengantarkan dan juga memasangkannya?"


"Ya, sama-sama. Neng," balas pak sopir.


"Ini buat beli rokok ya? sekali lagi makasih, makasih banyak?" sambungnya Sukma.


Setelah itu Sukma membawa langkahnya masuk ke dalam rumah, dan mendapati kedua adiknya yang sudah tiduran di atas tempat tidur yang masih baru dan empuk itu.


"Ayo Kak tidur, Kak tidur ngantuk banget, baru kali ini deh aku tidur di tempat se'empuk ini," ucap Jihan pada Sukma.


"Iya kak, aku juga baru kali ini deh tidur di tempat yang seempuk sekarang! semoga ini bukan mimpi ya Kak? timbalnya Marwan dari sebelah.


Sukma tersenyum. "Iya, makanya kalian berdua harus bersyukur dan doakan semoga Om Alfandi rezekinya terus mengalir," ucap Sukma lirih.


"Tentukan kami akan selalu mendoakan Om Alfandi, semoga panjang umur. Sehat dan banyak rezekinya ya Kak." Marwan mengangguk.


"Aku juga, aku akan mendoakan semoga Om alfandu itu menjadi orang tua kita ya? kali menjadi suami Kakak," Jihan asal bicara.


"Huusss ... nggak boleh bilang begitu! sudah punya istri punya anak jangan, mimpi ini kenyataannya." Sukma menggeleng sambil mengibaskan tangan nya di udara.


"Kak Jihan asal nyablak aja nih." Marwan mengangguk.


"Ya ... nggak pa-pa Kak, kalau jodoh kan Siapa yang tahu. Bukankah hanya Allah yang tahu," timpal Jihan.


"Aku juga senang kalau Om itu jadi suami Kakak. soalnya punya sudah baik, ganteng. Pintar, pokoknya wah deh." Sambungnya Marwan.


"Sudah-sudah, sudah malam. Tidur! besok pagi-pagi kalian siap-siap mau masuk sekolahmu bukan?" ucap Sukma menoleh pada kedua adiknya yang terus berceloteh.


"Iya, Kak. Aku mau tidur," jawab keduanya berbarengan.


"Tapi sebentar? sudah pada salat isya belum?" tanya Sukma menatap tajam kedua adiknya.


Jihan langsung turun dari tempat tidurnya. "Aku belum Kak, aku mau salat dulu akh." Sambil masuk di kamar mandi.


"He he he ... aku juga belum! ya sudah, aku mau salat dulu ya Kakak" Marwan pun turun ke kamar mandi bergantian dengan kakaknya Jihan.


"Kalian jangan lupa menjalankan kewajiban kalian sebagai umat muslim, banyak berdoa agar hidup kita diangkat oleh Allah, bukankah kalian tidak mau hidup susah?" kata Sukma pada kedua adiknya yang mau menjalankan salat isya.


"Iya, Kak." Jihan dan marwa mengangguk.


Setelah menyimpan paper bag,di atas lemari Sukma pun masuk kamar mandi mau membersihkan dirinya yang terasa lengket dan gerah.


Malam pun berlalu pergi menyambut sang pagi, terlihat langit begitu cerah menampakan sinar matahari yang bersiap menerangi bumi.


Suhu hangat mulai terasa di kulit juga pada benda-benda lain yang berada di muka bumi ini.


Sukma sudah bersiap untuk berangkat kerja, setelah menyiapkan sarapan buat adik-adiknya. Karena pagi-pagi sekali dia ke warung membeli mie, telor dan beras kebetulan sudah ada perabotan jadi masak sendiri.


"Gimana kalian, tidur nyenyak nggak? pasti enak dong tempat tidur baru ..." tanya mimy yang baru muncul ke tempatnya Sukma.


"Iya dong ... nikmat banget, enak sekali Kak Mimy, beda dengan malam-malam sebelumnya sakit badan," jawabnya Marwan dengan ekspresi lucu di wajahnya.


"Beneran, Kak. Jihan semalam tidur nyenyak ... banget, Kak Mimy gimana kan Kak Mimy juga pakai tempat tidur baru?" Jihan balik bertanya bada Mimy.


"Sama, nyenyak banget. Tempat tidur barunya nyaman banget, maklum mahal," jawab Mimy.


"He'em. Barang mahal." Jihan mengangguk.


"Kalian sudah siap bersekolah?" tanya Mimy, melihat Jihan dan Marwan yang sudah memakai seragam sekolah dengan rapi.


"Sudah dong ... tinggal nunggu om nya," sahutnya Marwan sambil duduk merapikan buku dan dia masukkan ke dalam tas.


Begitupun dengan Jihan, dia menyiapkan sepatu dan menggunakan kaos kaki yang masih tercium wangi barunya.


"Eem ... yang rajin ya sekolahnya?biar pintar!" pesan Mimy pada Jihan dan Marwan.


"Iya, Kak. Memang dari kemarin juga kami ingin masuk sekolah kok," jawabnya Jihan.


"Iya, sekarang kalian bisa masuk sekolah lagi dengan bantuan Om Alfandi jangan di sia-siain ya? kalian harus rajin jangan malas-malasan sekolahnya, harus menjadi orang-orang yang pintar," ucap Sukma sembari mengusap kedua pucuk kepala kedua adiknya bergantian.


"Bener tuh kata Kak Sukma, maka kalian harus rajin biar pintar, jangan malas-malas agar kalian berdua menjadi orang yang sukses, jangan mau hidup susah lagi! cukup satu kali saja," Mimy mengangguk kepada Jihan dan Marwan yang menanggapi ucapan sang kakak dan Mimy.


"Karena Kakak takut kesiangan, jadi Kakak mau berangkat kerja sekarang, kalian tunggu saja om nya datang, nanti pintunya dikunci, kuncinya disimpan di ... dimana ya My?" Sukma menoleh pada Mimy.


"Iya, Jihan kuncinya simpan di situ saja, kali aja kalian pulangnya nggak barengan. Namun usahakan pulangnya barengan saja ya? jangan sendiri-sendiri, Kakak khawatir. Sebab kalian belum hafal jalan," ungkap Sukma kepada kedua adiknya.


Kemudian Jihan dan Marwan bersalaman kepada Sukma dan Mimy yang mau berangkat kerja.


Sementara Jihan dan Marwan menunggu dijemput oleh Alfandi yang menjanjikan untuk memasukan mereka berdua sekolah.


...---...


"Kalian sudah sarapan? Fikri Kakak Firza?" tanya Alfandi kepada kedua putranya yang masih duduk di kursi depan meja makan.


"Sudah Pah." Jawab Firza sambil menyoren tasnya.


"Kamu Fikri, sudah sarapannya sayang?" Alfandi melirik pada putra bungsunya, Fikri.


"Aku juga sudah Pah." Fikri mengangguk.


"Ya, sudah. Kalau gitu ... kita berangkat sekarang aja?" Alfandi sambil menenteng tas kerja dan jasnya di tangan.


"Tuan, belum sarapan?" tanya babi.


Alfandi menoleh. "Saya nanti di kantor saja, apa Nyonya mana?" Alfandi bertanya tentang istrinya yang memang sudah tidak ada di kamar.


"Nyonya ... sudah berangkat tadi pagi sekali," jawabnya bibi sambil menunjuk ke arah garasi yang sudah kosong dari mobil Vaula.


"Sudah sarapan?" tanya kembali Alfandi.


"Belum, dia langsung berangkat!" bibi menggeleng.


Lalu Alfandi mengalihkan pandangan pada kedua putranya Firza dan Fikri. "Apa kalian bertemu sama mama?"


Keduanya menggeleng berbarengan, bersuara pun berbarengan. "Tidak."


"Tuan, Den Firza dan Den Fikri belum bangun tuan, em ...maksud bibi belum turun, ketika nyonya berangkat." BIbi menjelaskan apa yang dia tahu.


"Ooh ... ya sudah, kita berangkat sekolah sekarang? nanti pulangnya dia jemput sama Pak Bani ya? nanti kalau kira-kira ada pelajaran tambahan, pulangnya telat! bilang saja sama pak Bani. Minta di jemput jam berapa, oke?" Alfandi menatap putra sulungnya, Firza.


"Aku mau belajar kurikulum dulu!" jawabnya Firza.


"Iya nanti, bilang saja sama pak Bani, biar dia menjemput lagi," ucap Alfandi sambil berjalan.


"Pah, kapan aku mau dimasukkan sekolah musik gambus? sudah dicarikan belum?" anak itu berjalan di depan dan mendongak pada papanya.


"Papa masih cari, Papa masih mencari yang bagus, kalau sudah dapat, Papa akan langsung mendaftarkan nanti tinggal kamu masuk ya? Papa nggak lupa kok." jawabnya Alfandi sambil mengusap pucuk kepala Fikri.


"Beneran ya Pa?" pinta anak itu pada sang ayah.


"Iya, Papa lagi usahakan." Alfandi bukakan pintu mobil untuk kedua putranya tersebut.


"Ooh iya, kalian bakal nggak? bawa makanan gitu?" tanya Alfandi sebelumnya memasuki mobilnya.


"Aku bawa," jawabnya Fikri. "Uang juga bawa."


"Oke, terus kamu Kakak bawa bekal nggak?" Alfandi mengalihkan tatapannya kepada Firza.


"Malu Pah, bila aku membawa-bawa bekal dari rumah, di kantin juga banyak." Ketusnya Firza.


"Oke! kalau begitu tidak masalah, tapi tolong dijaga jangan sembarangan jajannya," pinta Alfandi.


Kemudian Alfandi duduk di belakang kemudi dan langsung melajukan dengan cepat, agar segera sampai ke sekolahan Fikri, Alfandi tidak lupa dengan janjinya kalau hari ini akan memasukkan Jihan dan Marwan ke sekolahan Firza, kebetulan Jihan dan Firza 1 kelas cuma jurusan saja yang beda.


Sepanjang perjalanan Alfandi pun mengajak kedua putranya mengobrol, saling berbagi cerita dan Alfandi berusaha untuk menjadi seorang ayah dan sekaligus seorang ibu yang dapat menjadi teman buat mereka berdua.


Sedikit demi sedikit papanya harus mampu merubah sikap kedua putranya tersebut dan mengembalikan keceriaan atau senyuman yang pernah hilang dari mereka berdua.


Meskipun dalam hati, Alfandi menyimpan kepedihan tentang sang istri yang lebih mementingkan kesibukannya pribadi ketimbang keluarga. Sejenak Alfandi menghela nafas panjang dan ia lepaskan dengan kasar.


"Gimana sekolahnya kemarin? apakah ada masalah," tanya Alfandi pada putranya yang pertama yaitu Firza.


"Tidak, biasa saja." jawabnya singkat.


"Kalau aku sih Pah, kemarin aku belajar menggambar. Tentang ayah dan ibu mau lihat nggak Papa," jawabnya Fikri juga bertanya pada sang ayah.


"Boleh mana coba? Papa lihat." pintanya Alfandi sambil melirik ke arah kaca spion yang berada di depannya melihat si putra bungsu yang mengeluarkan sebuah kertas gambar.


Lalu Fikri pun memberikan kertas gambarnya, pada sang ayah.


Lantas Alfandi mengambilnya, melihat di sela-sela menyetir.


Sebuah gambar yang menceritakan seorang ayah dan ibu sedang beradu mulut, di tambah dua anak laki-laki yang berjongkok.


"Bagus, tapi maksudnya apa nih Fikri?" tanya Alfandi kepada Fikri.


"Itu, kan jelas Pah, itu orang tuanya sedang bertengkar di hadapan kedua putranya." kata Fikri.


"Iya ... maksud Papa, kenapa Fikri menggambar seperti itu?" tanya Alfandi.


"Memangnya aku harus menggambar apa? kan gitu kenyataannya kalau Mama selalu nggak ada dan adapun paling Papa sama Mama bertengkar, permasalahkan Mama selalu nggak ada di rumah," ujar anak itu dengan nada sedih.


Bikin hati Alfandi mencelos sedih. Dengan pandangan yang lurus ke depan.


"Kenapa sih Pah? mamah itu nggak seperti dulu lagi, makin hari makin sibuk dan nggak ada waktu buat kami berdua?" tanya Fikri pada sang ayah. "Bahkan liburan pun cuma seorang-seorang dia sama temen-temennya nggak mengajak kami berdua ataupun Papa."


"Ya ... karena itu acara mama pribadi. Liburannya acara kerjaan dengan kawan-kawannya, bukan acara keluarga! emangnya Fikri mau liburan ke mana? nanti papa ajak deh." Alfandi mencoba menghibur putra bungsunya.


"Lama kita nggak ke Ancol Pah." Sahutnya Firza singkat.


"Firza mau ke sana? boleh nanti Papa cari waktu, biar bisa mengajak kalian ke sana." Janji Alfandi sambil fokus menyetir.


"Beneran Pah, mau ke Ancol? Fikri ikut Papa ya?" anak itu antusias.


"Iya dong ... ikut, masa Papa tinggalin di rumah! emang mau Papa tinggalin di rumah? sementara Papa dan kak Firza ke sana," timpal sang ayah.


"Ikutlah! kalau aku nggak ikut, sama siapa di rumah? orang mama nggak ada waktu buat kita juga," anak itu memanjangkan bibirnya.


"Makanya, berarti kalian ikut sama Papa." Sambungnya Alfandi kembali.


Setibanya di sekolahan Fikri, mobil Alfandi berhenti, dan mobil tersebut tidak buru-buru pergi sebelum Fikri masuk ke dalam kelasnya.


Tinggallah Firza yang masih membutuhkan waktu 5 menit lagi untuk sampai ke sekolahnya.


"Sekarang giliran pangeran Papa yang pertama untuk masuk sekolah, yang rajin sekolahnya ya? biar pintar. Biar menjadi orang yang sukses dan menjadi orang yang berguna."


"Iya Pah," Firza pun turun memasuki sekolahannya berbaur dengan anak-anak yang lain, teman sebayanya.


Setelah itu, Alfandi langsung melarikan mobilnya menuju ke kontrakan Sukma, untuk menjemput Jihan dan Marwan yang mau dimasukkan sekolah ke sekolahan yang ditempati oleh Firza putranya.


Tidak lama di perjalanan, akhirnya mobil Affandi pun terparkir cantik di depan kontrakan Sukma di sana sudah menunggu Jihan dan Marwan yang langsung menghampiri mobilnya Alfandi ....


.


.


...Bersambung!...