Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Kabur



Sukma menoleh ke arah Firza yang masih mematung dan menatap datar ke arah mommy nya.


Namun detik kemudian. Firza membalikan tubuhnya seraya berkata. "Kabur ...."


Firza berlari entah kemana? mungkin bergabung dengan Marwan dan Fikri yang asyik di belakang memberi pakan ikan.


Bibir Sukma tertarik ke samping membentuk senyuman sembari menggeleng melihat kelakuan anak itu.


"Hem dasar ... kadang bikin jengkel juga tuh anak." Sukma menggeleng sembari membawa langkahnya kembali ke dapur.


"Siapa? Neng?" tanya Bu Puji ketika melihat Sukma kembali.


"Oh, itu. Teman lama!" sahutnya Sukma sambil melihat-lihat tugasnya yang tadi dan sekarang sudah berpindah ke meja.


"Bapak kemana?" tanya Sukma sambil celingukan.


"Paling masih di belakang bersama anak-anak." Bu Puji menunjuk ke arah belakang rumah.


Tidak terasa waktu pun membawa mereka ke sebuah Maghrib dan menjadikan orang-orang yang masih berada di luar pun pada pulang dan masuk ke dalam rumahnya masing-masing.


Setelah salat, Sukma berada di kamar sambil beres-beres. Kamar ini sekarang berasa sepi, tanpa belaian sang suami yang kini lebih sibuk dengan urusannya.


Membuat Sukma merasa kangen pada sosok suaminya itu. Sukma terduduk di tepi tempat tidur dan merasa sedih, sedih karena Alfandi lebih sibuk dan jadi jarang berdua apalagi bercumbu.


"Aku jadi kangen suami ku. Ya Allah ... lancar urusan suami ku, agar dia lebih banyak lagi di rumah bersama istri dan anak-anak." Gumamnya Sukma sembari mendongak ke langit-langit.


Kemudian. Sukma pun turun dan mengajak mertua nya untuk makan malam bersama dan kebetulan pas ketemu, Fikri merengek mau makan sama mommy.


Saat ini mereka sudah berada di meja makan, Mimy pun sudah tampak di sana. Hanya Alfandi saja yang tidak ada dan memang sudah memberi tahu kalau malam ini akan pulang telat.


Dengan tidak membuang waktu, mereka semua menyantap makan malam ya dengan lahap.


"Neng, Ibu sudah lebih seminggu di sini. Tubuh Neng Sukma lebih semakin berisi, entah cuma penglihatan Ibu saja atau memang begitu adanya." Kata Bu Puji di sela makannya.


"Memang, Non Sukma sekarang lebih gemuk." Bi Lasmi membenarkan.


Begitupun dengan Mimy yang mengangguk setuju dan menajamkan pandangannya pada Sukma yang celingukan melihat dirinya sendiri.


"Benar tuh, Bu ... Sukma lebih gemuk dan berisi." Sambung Mimy.


"Iya, Babak juga melihat begitu." Tambahnya pak Sardi.


"Aduh ... kok semua bilang aku gemuk sih? padahal sama aja gini kok gak ada yang berubah." Sukma sambil mengamati tubuhnya.


"Kakak, mungkin senang dan bahagia. Jadinya Kakak lebih gemuk," timpal Jihan lalu meneguk minumnya.


"He'em. Benar itu, Kakak lebih happy jadinya lebih gemuk." Timpalnya Marwan.


Sukma mengangguk pelan sembari mengunyah ayam yang baru saja dia masukan ke dalam mulutnya tersebut.


"Tapi kalau menurut Fikri sih, mommy itu happy sangat. Makanya gemuk kan!" tambahnya Fikri.


"Eh, manja ... sudah ku bilang barusan, begitu? di bahas lagi. Gimana sih?" Marwan dan Jihan menyoraki Fikri, karena apa yang di katakan oleh Fikri sudah di katakan Marwan.


Kemudian obrolan mereka berubah menjadi candu dan tawa. Di lanjut salat isya bersama, kemudian menonton televisi.


Sukma sendiri kini berada di dalam kamar karena ada tugas dari kampus yang harus di kerjakan malam ini juga.


Berjalan mondar mandir di kamar lalu ke balkon sekalian mencari angin dan sembari menunggu sang suami pulang.


"Kok belum pulang sih? masa masih sibuk juga?" Sukma bermonolog sendiri.


Tersu berjalan mondar-mandir sembari melipat tangan di dada. Lalu berdiri menatap langit yang terbentang sejauh mata memandang. Berwarna gelap, bulan pun bersinar hanya separuh serta bintang berkedip beberapa saja.


Drung ....


Drung ....


Drung ....


Suara mobil Alfandi memasuki halaman membuat bibir Sukma tertarik ke samping. Dadanya merasa lega, akhirnya sang suami sudah pulang juga. Namun Sukma tidak segera keluar! melainkan tetap berdiam diri di balkon.


"Sayang? sayang? kau di mana?" panggil nya Alfandi setelah beberapa saat kedatangan mobilnya tersebut.


Alfandi menarik dasinya dari leher sambil celingukan mencari keberadaan sang istri yang dia kira sudah tertidur. Tetapi di tempat nya kosong membuat Alfandi terheran-heran.


"Kemana istri ku?" gumamnya Alfandi sambil duduk di tepi tempat tidur seraya membuka sepatunya di simpan pada tempatnya.


Kemudian Sukma memasuki kamar tersebut. Memperlihatkan dirinya sembari menunjukan sebuah senyuman kepada Alfandi yang menatap yang menatap heran.


Alfandi berdiri dan mendekati sang istri dengan tatapan tajam ke arah Sukma yang tampak tersenyum manis lantas memeluk tubuh sang suami.


"Kok, baru pulang sih? sibuk banget apa?" suara Sukma dari dalam pelukan Alfandi.


Alfandi membalas pelukan sang istri, kalu membelai rambutnya yang bergelombang tersebut. "Iya, sayang. Aku sibuk banget dan maaf ya? kalau beberapa hari ini aku terlalu sibuk sehingga sedikit waktu untuk istri ku ini!"


Sukma mengangguk pelan di bahunya Alfandi. "Aku kangen." Untuk pertama kalinya Sukma mengatakan kangen. Pelukannya semakin erat ke tubuh Alfandi yang juga melakukan hal yang sama.


Bibir Alfandi menunjukan senyumnya dan hatinya berbunga-bunga, baru kali ini dia mendengar. Kalau Sukma bilang kangen dari sekian lama menikah.


"Apa? kau kangen? benaran kangen sama aku?" canda Alfandi. rasa penat dan capek yang dia rasakan sedikit berkurang dengan hangatnya pelukan sang istri.


"Beneran lah, sama siapa lagi kalau bukan sama kamu. Sembarangan banget kalau kau bilang aku kangen sama orang lain!" kata Sukma sembari tetap tidak beranjak dari bahunya sang suami. Malah dia semakin menyusup ke dalam pelukan pria itu.


"Maaf, ya? seminggu ini aku terlalu sibuk sehingga sedikit waktu buat di rumah. Sedikit waktu buat kamu, tidurpun cuma bisa memeluk saja. Tapi ... mungkin paling sehari lagi aku sibuknya. Siapa tahu lusa aku bisa banyak di rumah lagi untuk kamu dan anak-anak." Alfandi terus membelai rambutnya Sukma dengan sangat lembut.


"Beneran ya? lusa gak pulang malam lagi?" Sukma memudarkan pelukannya sambil menatap wajahnya Alfandi.


Alfandi Mengulas senyum nya. Lalu mengecup kening Sukma dengan sangat mesra. "Insya Allah sayang."


Sukma kembali memeluk dan menyembunyikan wajahnya Alfandi yang bertelanjang dada tersebut.


Sukma ingin sekali menumpahkan rasa rindu yang teramat dalam pada sosok suaminya. Pelukannya yang semakin kuat dan begitu menempel satu sama lain, sepertinya nyamuk pun tidak bisa lewat. Saking merapatnya tubuh mereka berdua.


Beberapa saat, mereka begitu menikmati suasana malam sambil pelukan. Namun perlahan Sukma menyadari kalau suaminya mau mandi.


Sukma sedikit mendorong dada nya Alfandi. "Mandi dulu sana? aku akan siapkan pakaiannya." Sukma melangkah mundur dari hadapan Alfandi.


Kemudian tangan Alfandi meraih tangan Sukma sehingga sang empu berbalik sang ....


.


...Bersambung!...