Sugar Daddy & Sukma

Sugar Daddy & Sukma
Perhatian



Selepas salat. Sukma langsung pamit pada Alfandi yang juga mau ke tempat kerjanya.


"Assalamu'alaikum .


"Wa'alaikumus salam, hati-hati ya?" Lalu Alfandi membungkukkan kepalanya pada supir taksi.


"Mas, titip ya? ini buat ongkosnya." Alfandi memberikan uang buat supir taksi.


Supir taksi pun mengangguk dan berterima kasih karena sudah di kasih uang lebih.


Sukma yang bersama taksi online nya meluncur sangat cepat meninggalkan tempat tersebut.


Begitupun dengan Alfandi yang langsung memasuki mobilnya, dan melaju dengan kecepatan tinggi untuk kembali ke lapangan.


Dengan taksi tersebut. Sukma pun bisa lebih cepat sampai ke tujuan dengan selamat. "Makasih ya Mas?"


"Sama-sama," supir mengangguk lalu memutar kemudinya dan melajukan kembali taksinya.


Sukma langsung masuk ke rumah yang disambut oleh kedua adiknya yang sudah berada di rumah.


"Kalian sudah pulang sekolah?" tanya Sukma sambil mencium pucuk kepala adik-adiknya itu.


"Baru datang, Kak." Jawabnya Jihan dan Marwan yang mencium punggung tangan sang kakak.


"Sudah makan?" tanya kembali Sukma sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah.


"Sudah. Baru selesai makan!" kata Marwan.


"Kakak dari mana?" selidik Jihan pada sang kakak.


"Em ... dari mana ya? coba tebak Kakak dari mana?" Sukma malah mengajukan tebak-tebakan.


"Mana ku tahu, Kak? malas ahk harus nebak-nebak capek, otak ku hampir Heng nih dengan pelajaran.


"Dari mana sih, Kak?" selidik Jihan kembali.


"Kakak, habis daftar kuliah!" jawabnya Sukma dengan bahagia.


"Hore ..." Jihan jingkrak dan Marwan pun bertepuk tangan.


Namun detik kemudian Jihan menghentikan jingkrak nya. "Kakak sama siapa ke sana?gimana dengan bayarannya Kak? selidik Jihan.


"Kakak ... sama abang Alfandi dan tentunya ... dia juga yang membiayai Kakak, siapa lagi? kan dia suami kakak!" Jawabnya Sukma dengan sorot mata yang berbinar dan wajah yang menunjukan raut yang bahagia.


"Alhamdulillah ... akhirnya Kakak bisa kuliah juga." Jihan memeluk Sukma dengan erat.


Begitupun dengan Marwan yang ikut pula memeluk keduanya. Turut bahagia dengan, kabar ini.


"Selamat ya, Kak? akhirnya Kakak bisa kuliah lagi." Suara Jihan. penuh haru.


Sudah di duga, kalau Alfandi tidak akan membiarkan Sukma di rumah saja dan membuat kuliahnya terbengkalai. Alfandi pasti akan mendukung Sukma untuk kuliah lagi.


Kemudian Sukma berpamitan untuk ke kamarnya. Namun baru saja beberapa langkah menaiki anak tangga. Bi Lasmi menerima kiriman, Beberapa kotak yang lumayan besar.


"Non, ini ada keriman buat Non!" pekik bi Lasmi sambil mendongak.


Sukma menoleh dan melihat ke arah Bu Lasmi yang menerima paket tersebut. Lalu Sukma menghampiri bi Lasmi.


"Buat siapa, Bi?" tanya Sukma.


"Ini, buat Non katanya." Jawabnya.


"Wah ... senengnya dapat paket ... peket apa tuh?" Marwan penasaran. Begitupun dengan Jihan.


Setelah dibuka peket yang pertama, yaitu isinya tas. Dompet, dan yang satu lagi berisi ipad. Dan di paket satunya yang lebih besar, berisi semua keperluan kuliah lainnya. Seperti buku dan lain-lainnya.


Semuanya keperluan Buat kuliah Sukma yang sengaja Alfandi kirimkan. Ketika sedang membuka itu semua ponsel Sukma berdering untuk menanyakan apakah paketan sudah datang apa belum?


Sukma pun bilang kalau semuanya sudah datang. Dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.


"Dari, om ya?" Jihan menatap sang kakak.


"Itu pasti, siap lagi kalau bukan Abang." Timpalnya Marwan.


Sukma mengangguk pelan sambil menunjukan senyumnya. Kemudian membawa semuanya ke kamar atas. Di bantu oleh Marwan, Jihan dan bi Lasmi.


Jihan membantu Sukma beres-beres, sementara Marwan keluar lagi bersama bi Lasmi.


"Mommy?" suara Fikri yang tiba-tiba di berada di ambang pintu.


Sukma dan Jihan menoleh ke sumber suara dimana Fikri berdiri.


"Fikri? sama siapa? ke sini?" Sukma menghampiri anak itu.


Fikri memeluk Sukma dengan erat. "Fikri ... ke sini sendiri dengan taksi."


Sukma mengusap kepala anak itu dengan lembut. "Emang tidak belajar tambahan?" lirihnya Sukma.


"Tidak. Sedang tidak ada jadwal," jawabnya sambil tetap memeluk pinggang Sukma.


"Beneran? Fikri ke sini sendiri? tidak sama siapa gitu!" tanya Jihan yang mendekati.


"Iya, Kak. Fikri sendiri," sahutnya Fikri meyakinkan.


"Nggak. Gak bakalan nyari, Papa juga belum tahu aku ke sini!" ucapnya Fikri sambil memudarkan rangkulannya.


Lalu Fikri membuka tas nya dari punggung. "Mommy, aku lapar?"


"Lapar? yu ambil makan di bawah? Jihan? tolong di rapikan ya?" Sukma mengalihkan penglihatan pada Jihan. Lalu menuntun tangan Fikri untuk ke bawah yang katanya lapar.


Keduanya berjalan menuruni tangga, tangan Sukma kini yang dipegangi tangan kecil Fikri, seperti menarik tangan mamanya saja.


"Mau makan apa nih? Fikri?" Sukma menarik kursi buat Fikri.


Anak itu melihat ke arah meja. Yang tidak ada kesukaannya. "Mommy, gak ada telornya."


"Em ... telornya mau diapain? ceplok atau dadar?" tanya Sukma.


"Seperti biasa saja didadar, Mommy bilang sama papa. Kalau Fikri ada di sini, pasti papa akan langsung menyusul kalau tau aku di sini!" pinta Fikri sambil meneguk minumnya.


Sebentar Sukma termenung sambil melihat ke arah anak itu. "Ia nanti Mommy bilangin sama papa ya?" pada akhirnya Sukma mengiyakan permintaan Fikri.


"Makasih Mommy?" Fikri memeluk dari samping. Kemudian anak itu kembali ke tempat duduk ya.


Bi Lasmi yang melihat anak itu begitu manja pada Sukma, menunjukan senyum nya. "Den Fikri, emangnya gak akan di cariin sama mommy nya di rumah?"


"Ha? mommy Fikri di sini, bibi. Di sana mama, lagian mama itu super sibuk. Jadi jarang berada di rumah," sahutnya anak itu.


"Ooh iya. Mommy di sini, dan di sana mama ya? ooh ... super sibuk!" bibi melirik ke arah Sukma dan melempar senyuman.


Dan Sukma pun membalas senyuman bi Lasmi. Selesai membuatkan dadar gulung, Sukma langsung chat Alfandi untuk memberi tahu kalau Fikri ada bersamanya.


"Mommy suapi dong? tapi mau pake tangan, gak mau pake sendok?" pinta anak itu sambil menggelengkan kepalanya.


Sukma menoleh. "Iya sebentar ya? Mommy mau cuci tangan dulu!"


Lantas Sukma menyimpan ponsel ke dalam sakunya. Lalu mencuci tangan terlebih dahulu sebelum menyuapi Fikri.


"Mommy cepetan? lapar nih?" rengek Fikri.


Bibi menoleh sembari tersenyum. Dia yang sedang membuatkan makanan untuk cemilan.


"Hem ... tadinya Mommy mau bantuin bibi lho, bikin makanan." Sukma mendudukkan dirinya di dekat Fikri.


"Nggak pa-pa, Non. Ini bisa bibi sendiri." Timpal Bi Lasmi.


Sukma menyuapi Fikri dengan tangannya sendiri tanpa menggunakan sendok ataupun alat apa pun. Dengan sabar dan ikhlas.


"Mommy, sudah diberi tahu belum, papa. Aku ada di sini?" tanya Fikri sambil mengunyah dan mulut penuh.


"Sudah sayang ... sudah Mommy kasih tahu." Jawabnya Sukma sembari tersenyum.


"Apa katanya? Mommy! papa jawab apa?" Fikri penasaran jawaban papanya.


"Em ... kayanya. Iya, nanti papa jemput. Aa buka mulutnya lagi! sedikit lagi nih, mau nambah lagi gak?" Sukma menyuapkan suapan-suapan terakhir.


"Eh ... nambah dikit. Kalo makan dari tangan Mommy itu enak ... banget. Mommy-Mommy? boleh ya? aku bermain sama kak Wawan di belakang lihat yang bikin kolam." Fikri menoleh ke arah pintu belakang. Dimana dari sana terlihat Marwan seliweran Marwan yang sedang membantu pekerja.


"Boleh, tapi ganti bajunya dulu ya? jangan pakai seragam!" Sukma mengijinkan, asal Fikri ganti pakaian dulu.


"Makasih, Mommy?" muuach. Anak itu mencium pipi Sukma tanpa canggung.


Sukma tertegun. Melihat anak itu yang tampak sangat dekat padahal belum lama kenal juga.


Setelah selesai makan, Fikri membaca doa. Lalu gegas berlari menuju kamarnya.


"Bibi merasa terharu ya, Non. anak itu terlihat merasa dekat sekali sama, Non. tanpa merasa canggung atau apa dan manja juga, berasa, Non ini benar-benar mommy nya." Bi Lasmi menunjukan manik matanya yang berkaca-kaca.


Sukma hanya mengangguk, dia pikir wajar juga kalau dirinya perhatian dan memanjakan anak itu, sebagaimana papanya yang begitu baik pada dia dan kedua adiknya.


Sekitar pukul empat sore. Sukma sudah tampak segar, sebab sudah berendam dan luluran dengan peralatan seadanya.


"Kak, aku mau beli jajanan ke warung depan ya?" kata Jihan pada Sukma yang sedang menonton televisi.


"Ooh. Jangan lama-lama ya?" Sukma mengangguk.


Kemudian Sukma beranjak seiring dengan Jihan pergi ke warung. Sukma mau melihat anak-anak apa mereka sudah mandi atau masih di belakang.


"Anak-anak sudah mandi belum, Bi?" tanya Sukma pada bi Lasmi yang sedang memotong sayuran.


"Sepertinya sudah. Di belakang tidak ada soalnya, Non." Kata bibi.


"Ooh, baguslah." Sukma lalu melanjutkan jalannya mendekati kamar Marwan.


"Wan? apa Fikri ada di sana?" pekik Sukma sembari mengetuk pintu kamar Marwan.


Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka dan ....


.


.


...Bersambung!...