
"Biar aku yang lihat." Mimy beranjak dari duduknya. Dan ingin melihat keluar siapakah yang bertamu pagi-pagi begini.
Mimy terus berjalan menuju pintu utama, dan langsung membukanya dengan bibir yang mengembang karena dia tau dari jendela kalau di luar ada Beben.
"Wih ... pagi-pagi sudah terdampar di sini? gak mimpi nih?" sambut Mimy sambil menarik handle pintu tersebut.
Namun Mimy merasa heran dengan pria tampan yang bersama Beben saat ini.
"Hi ... kebetulan belum berangkat nih My?" sapa Beben dengan bibir tersenyum merekah.
"Ada apa pagi-pagi sudah terdampar di sini? tidak mimpi kan?" ulang Mimy sembari menatap intens pada Beben dan temannya.
"Nggak lah, masa mimpi sih?" Beben mencubit pipi gadis berambut sebahu itu dengan gemas, lalu melihat ke arah kawannya.
"Dia Mimy, calon cewek gue! dan Mimy. Kenalkan dia Reno sahabat ku!" Beben perkenalkan mereka berdua.
"Oh, Mimy!" Mimy menyambut tangan pria tampan tersebut.
"Reno!" balas Reno dengan ramah lalu matanya celingukan ke dalam rumah.
"Siapa My?" suara Sukma yang menyeruak keluar, namun pas melintasi pintu Sukma terkaget-kaget melihat siapa tamunya tersebut.
Begitupun dengan Reno yang menatap nanar pada Sukma. Dan dia menyeruak memeluk Sukma.
"Ama? kau kemana saja? aku mencari mu!" suara Reno bergetar sambil memeluk Sukma yang tertegun.
Rasanya tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Orang yang dulu dia sayangi menghilang lama tanpa kabar dan tiba-tiba menjelma dihadapannya.
Mimy heran, emang siapa pria tampan itu? secara tiba-tiba tanpa permisi memeluk Sukma.
"Aku mencari mu, Ma. Aku merindukan mu!" Reno menatap leka ke arah Sukma lalu kembali merangkul Sukma dengan erat.
Beben yang yang juga pernah menyimpan rasa pada Sukma terdiam seribu basa melihat Sukma di peluk oleh Reno.
Setalah beberapa saat kemudian. Sukma tersadar dan melepaskan diri dari rangkulan Reno. "Maaf?"
"Sukma, kemana saja kau selama ini? aku mencari mu!" tanya Reno terus mengulang pertanyaannya.
"Aku ada, dan ... seharusnya aku yang ajukan pertanyaan itu? kau menghilang tanpa berita." Sukma menunduk dalam.
Kini mereka duduk di kursi yang berada di teras tersebut.
"Kak, kami mau berangkat!" Jihan dan Marwan meraih tangan Sukma dan menciumnya.
"Iya hati-hati ya?" balas Sukma mengusap lembut kepala mereka berdua. "Oya! sudah ngambil ongkosnya belum?"
"Sudah, Kak. Assalamu'alaikum," ucap Jihan dan Marwan setelah bersalaman dengan semua orang.
"Wa'alaikumus salam ... hati-hati ya?" pesannya Sukma seraya melambaikan tangan kepada kedua adiknya.
"Jadi dia adik-adikmu itu? orang tuamu mana?" tanya Reno sembari melihat kepada Jihan dan Marwan yang meninggalkan tempat tersebut.
"Iya mereka adik-adik gue, dan orang tua--"
"Ma, gue berangkat kerja dulu ya? takut kesiangan gue. Dan kamu Ben, mau ngertiin aku ngga?" Mimy berpamitan pada Sukma lalu melihat ke arah Beben yang tampak termenung.
"Oke, gue yang anterin kamu dulu! nanti gue balik lagi ke sini," ucap Beben melihat ke arah Mimy dan Reno bergantian.
Reno mengangguk pelan yang diarahkan kepada Beben dan Beben langsung beranjak berdiri, bersiap mengantarkan Mimy untuk berangkat kerja.
Mimy masuk ke dalam rumah sebentar, untuk mengambil tasnya dan sesaat kemudian dia kembali. "Oke, Ma. Dan ... siapa? Reno ya, gue pamit ya? Assalamu'alaikum."
Mimi berjalan mendekati motor yang sudah dinyalakan oleh sang empu nya.
Sebelum berangkat, Beben menoleh ke arah Reni dan Sukma. "Gue berangkat ya sebentar? nanti gue balik lagi ke sini!" ucap Beben kembali.
Sementara Reno hanya membalas dengan mengangkat tangan di udara.
"Sebenarnya gue kuliah di luar negeri dan konseling gue rusak kartu gue hilang jadi kontak kamu juga hilang!" akunya Reno setelah kepergian Mimy dan Beben.
Sukma menghela nafas panjang, lalu ia hembuskan secara kasar. Lanjut mengarahkan pandangannya pada Reno.
"Hem, tidak masuk akal, bila niat untuk mencari ku? kenapa nggak nanya-nanya sama teman-teman? bukankah banyak teman-teman yang kita kenal?"
"Beneran, Ama ... gue kehilangan kontak kamu, kontak teman-teman juga. Tentunya nama-nama yang penting yang bisa gue hubungin," ungkap Reno.
"Terima kasih, Bi?" ucapnya Sukma sembari menunjukan senyumnya dan senyuman itu tampak getir ada raut kesedihan wajah nya.
"Sama-sama, Non." Bi Lasmi mengangguk lalu duduk di dekat nya Sukma! dia sengaja duduk di situ? bukan tanpa alasan ataupun tidak ada kerjaan, tetapi dia ingin menjaga Sukma dari fitnah orang-orang sekitar! jangan sampai orang menganggap Sukma adalah istri pak Alfandi tapi berduaan dengan laki-laki lain yang bukan muhrim.
"Makasih ya Bi?" Reno mengangguk ramah.
"Gue sudah kehilangan kontak mu dan teman-teman juga, akunya Reno kembali.
"Hingga bertahun-tahun begitu? emangnya selama itu kamu nggak ada pulang gitu?" selidik Sukma menatap dengan tajam ke arah Reno yang terus menetap dirinya.
Bagi Reno, sosok Sukma yang sekarang itu ... sudah banyak berubah dari mulai bicara penampilan yang lebih rapi dan glowing. Tambah cantik dibandingkan dulu.
"Gue nggak ada pulang, Ama. Tapi sampai saat ini ... gue masih sangat merindukanmu, gue masih mencintaimu!" ucapan Reno tanpa ragu biarpun di situ ada bibi, walaupun memang Bu Lasmi tidak terlalu memperhatikan obrolan mereka.
Sukma hanya menunduk dan menautkan kedua jari jemari tangannya yang terasa dingin, dia sama sekali tidak pernah menyangka. Kalau akan bertemu lagi dengan Reno bahkan dia itu datang ke rumahnya yang sekarang ini.
"Ooh ya, kok tahu dari mana gue tinggal di sini?" tanya Sukma sembari berusaha mengalihkan ungkapan dari perasaan Reno terhadap dirinya.
"Gue tahu ... tentunya dari Beben lah, siapa lagi?" jawabnya Reno.
Sukma terdiam dan berpikir oh ... berarti Mimy yang ngasih tahu Beben, kalau mereka tinggal di sana.
"Kau sudah lama tinggal di sini?" tanya Reno sambil mengitari keadaan rumah tersebut.
"Em ... baru bulan ini belum lama, Oya. Emang kapan Kau kembali! apa kuliah mu sudah selesai?" selidiknya Sukma kepada Reno.
"Eh ... sebenarnya sudah beberapa bulan, dan ... gue baru berapa hari ini bertemu dengan Beben dan tanya-tanya tentang kamu padanya." Jawabnya Reno sambil meneguk minumannya.
"Rumah ini bagus dan bikin nyaman, gue beberapa kali mencari dirimu ke kosan mu yang dulu dan mereka bilang tidak kenal dan mungkin orang-orang yang sana sudah pada ganti kali, bukan yang dulu lagi." Keluh Reno.
"Ooh begitu ya? lalu untuk apa kamu menemui ku?" lirihnya Sukma.
"Jujur gue menyesal sudah ninggalin kamu tanpa kabar berita. Tapi itu bukan maksud gue, karena sampai detik ini pun gue masih sayang sama kamu, Ama. Saya masih cinta sama kamu, saya masih seperti yang dulu," ucap Reno sembari menghembuskan nafas dari hidungnya.
"Hem ... bicara itu emang gampang! tapi pada kenyataannya gimana? tidak semua harapan jadi kenyataan dan tidak semua yang kita katakan itu yang terjadi!" ucap Sukma dengan lirihnya.
"Maksudmu gimana, Ma? percayalah gue masih tetap seperti yang dulu yang mencintai dan menyayangimu dengan tulus!" Reni tetap meyakinkan perasaannya kepada Sukma.
Dan Reno berusaha menggapai tangan Sukma, namun beberapa kali Sukma menepisnya. Karena bagaimanapun Sukma sadar! sekarang dirinya bukan Sukma yang dulu lagi, bukan Sukma kekasih Reno seperti yang beberapa tahun lalu.
Walaupun di antara mereka belum ada kata putus, tapi kondisinya sekarang sudah berbeda! Sukma yang sekarang adalah yang sudah punya panggilan lain. Yaitu Nyonya Alfandi.
"Apakah Beben sudah mengatakan sesuatu tentang aku?" tanya Sukma seraya menatap lekat ke arah Reno.
"Soal apa? soal kuliahmu yang terbengkalai itu? gue bisa bantu kamu untuk masuk lagi kuliah--"
"Bukan! bukan soal itu," ucap Sukma sembari menggeleng.
"Oh iya, soal kedua orang tuamu yang telah tiada ... dia cerita juga. Aku turut berduka! kalau saja waktu itu kita berkomunikasi dengan baik. Aku pasti pulang untuk menemanimu! kau pasti sangat membutuhkan seseorang untuk berbagi kesedihan," selanjutnya Reno.
Lagi-lagi Sukma menggeleng kan kepalanya pelan. "Bukan soal itu juga, soal kuliah ... Alhamdulillah aku sudah masuk lagi dan kedua orang tuaku meninggal, mungkin Allah lebih sayang mereka berdua sehingga memanggilnya dengan cepat." Kenangnya Sukma dengan manik mata yang berkaca-kaca.
"Maaf, Ma. Aku minta maaf. Aku tidak ada disaat kau sedang membutuhkan ku! yang seharusnya aku ada di situ bersamamu disaat-saat kau sedang terpuruk! aku minta maaf? sekali lagi," ucap Reno penuh sesal.
Sukma menangis saat dan menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya yang basah dengan air mata. Sebagai luapan perasaan yang begitu sesak, yang baru sekarang ini setidak bisa terluap kan.
Dulu Reno laki-laki satu-satunya yang Sukma harapkan, menjadi tumpuan segala harapannya di masa depan, waktu itu sungguh Sukma sangat mencintai pemuda tersebut. Namun tiba-tiba orang yang dicintainya itu menghilang tanpa kabar dan berita.
Dan kini tiba-tiba Reno datang di saat dirinya sudah menjadi seorang istri dari sosok pria yang bernama Alfandi, sebagai istri dari pria yang menjadi dewa penolong dikala dirinya terpuruk, di kala dia susah.
"Maaf--" kali masuk motor potong dengan kedatangan seseorang di tempat tersebut ....
.
.
...Bersambung!...
.
Dimohon dukungan nya ya reader ku semua? Semoga kebaikan kalian semua Allah kembalikan dengan yang lebih-lebih ya Aamiin