
Sukma buru-baru turu ke dapur. Dia harus banyak masak, karena akan kedatangan tamu yaitu orang tua nya Alfandi yang katanya ikut ke Jakarta. Ingin bertemu dengan dirinya dan anak-anak.
Tak ayal, rasa cemas menyapa hati. Was-was dengan sikap mereka terhadap dirinya yang termasuk orang baru, Tiba-tiba hadir dalam kehidupan putranya.
Bahkan dia hadir mungkin pada waktu yang kurang tepat. Hadir di saat pria itu beristri.
"Non. Melamun?" sapa Bu Lasmi ketika melihat majikannya berjalan dari tangga sambil melamun.
"Ha. Nggak, Bi. Oya, ikannya sudah di bersihin belum ya? mau Ku masak! kebetulan orang tua tuan katanya mau ikut ke sini," ucap Sukma sambil membuka pintu lemari pendingin.
"Oh, orang tua tuan mau ke sini?" tanya bi Lasmi meyakinkan dirinya.
"Iya, kira-kira masak apa ya, Bi? aku kan gak tau apa yang mereka sukai tau tidak." Sukma tampak kebingungan.
"Em ... masak aja yang ada, Non. nanti kita akan tau, mana yang disukai dan mana yang nggak. sediakan ayam dan telor yang lebih umum di sukai banyak orang." Kata bibi Lasmi.
"Yah ... ayam habis. Telor cuma tinggal 3 biji. Bibi tolong belanja ya? em ... atau aku suruh Jihan saja lah." Sukma pun memanggil Jihan agar ke warung.
"Jihan ... Jihan? tolong Kakak ya?" panggil Sukma pada Jihan yang sedang berada di depan televisi.
"Ada apa Kak?" Jihan langsung menghampiri.
"Tolong ke warung depan ya? beli ayam dan telor. Dan juga bumbunya," Sukma langsung memberikan uang kepada Jihan.
"Ayam berapa kilo dan telor berapa kilo?" tanya Jihan sembari menatap.
“Em ... ayam dua kilo dan telor satu kilo aja ya? jangan lupa bumbu balado dam kuningnya, oke? Sudah sana? keburu sore, mau di masak nih.” Sukma mengibaskan tangan menyuruh Jihan segera berangkat.
“Oke, Kak. Tapi Kak, kan ikan banyak kenapa harus beli ayam segala sih?” selidik Jihan bukannya pergi malah banyak bertanya.
“Aduh ... Jihan ... bertanya nya nanti saja napa? Nanti keburu sore, intinya ... abang mau ajak orang tua nya ke sini. Jadi kita harus masak banyak dong.” Tambahnya Sukma.
“Apa, Mom? papa mau ajak orang ... oh oma dan opa? beneran mereka mau ke sini? hore ... mau ketemu sama oma dan opa,” Fikri bersorak.
Sukma menoleh dan berkata. “Iya, katanya begitu. Apakah sudah lama kalian tidak bertemu?” selidik Sukma sambil mengusap rambut Fikri dengan tatapan lembut pula.
“Iya Mommy, terakhir bertemu lebaran kemarin itu pun sebentar, karena sudah lama sekali oma dan opa gak pernah ke Jakarta sebab opa sering sakit-sakitan.” Ungkap anak itu.
Sukma menyiapkan bumbu buat masak ikan dan memotong sayuran kangkung dan juga buncis.
“Mommy belum pernah ketemu kan sama oma dan opa?” tanya Fikri sambil membantu membersihkan ujung buncis.
“Iya, belum sayang. Baru mau kali ini dan Mommy gak tau masakan apa yang oma dan opa sukai, jadi Mommy bingung nih.” Ucap Sukma sambil melirik ke arah si putra bungsunya itu.
“Nggak tau juga aku, gak pernah perhatiin makan nya opa dan oma. Mungkin kak Firza tahu, tuh orang nya.” Fikri menunjuk pada kakaknya, Firza yang bersama Marwan.
“Kak Za, oma dan opa suka nya makan apa saja?” Fikri langsung bertanya pada sang kakak.
Firza malah bengong dan akhirnya menaikkan bahunya. “Mana ku tahu! Orang dah lama gak ketemu lagian apa aja di makan kali. Asal jangan daun aja,” ucapnya Firza.
“Hem ... kirain mau dapat jawaban yang signifikan, eh ... sama aja ahc, oke. Tak apa, Mommy mau sediakan yang ada saja dan semoga mereka suka,” gumamnya Sukma sambil mulai memasak.
“Iya, Non. Jangan banyak pikiran, kerjakan saja dengan ikhlas soal hasilnya gimana terserah yang penting kita sudah usaha,” lirih bi Lasmi.
“Iya, Bi. Makanya aku mau masak yang ada saja dan semoga mereka suka.” Ungkap Sukma.
“Aamiin ...” ucap bi Lasmi sambil menggoreng ikan yang sudah di bacam dengan garam dan jeruk purut.
Karena tidak ada yang menjawab. Fikri anteng dengan mainannya dan Sukma sibuk dengan masakannya, Firza pun kembali bertanya. “Mom, apa oma dan opa mau ke sini?”
‘Ha? Iya, kata papa oma dan opa mau ikut ke sini dan saya bingung mau nyediain apa kan? Takutnya apa yang di sediakan, oma. Opa gak suka,” jawabnya Sukma sembari menoleh ke arah Firza.
“Gampang, tinggal beli saja, Kak. kok repot sih?” timpalnya Marwan sambil mendudukan dirinya di meja.
“Kalau jelas apa yang disukai nya, kalau gak jelas gimana? is okai, jangan ganggu aku ya? aku mau masak dengan serius.” Jelas nya Sukma sambil melanjutkan berkutat dengan wajan dan sodet juga yang lain nya.
“Wan, bukannya kita mau nyiapin ranting atau arang buat bakar ikan nanti malam? Beli deh arang nya?” Firza menoleh pada Marwan.
“Ayo. Kita cari ranting dulu, nanti tambahnya arang. Gampang kalau arang sih banyak di warung.” Keduanya beranjak dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Beberapa saat kemudian, Jihan datang membawa belanjaan yang Sukma pinta.
Sukma menoleh dan bertanya. “Ada gak semuanya?”
“Ada, semuanya ada!” jawab Jihan sambil menyimpan belanjaannya di meja.
“Ih ... Ka Jihan makan apa tuh?” selidik Fikri ketika melihat Jihan memakan sesuatu.
Ini, Kakak makan kerupuk dari warung, mau?” Jihan menawari fikri yang langsung di sambut mau oleh anak itu.
Sukma lantas membuka belanjaan dan memotong daging. “Jihan tolong telornya di simpan sebagian dan yang sebagain di rebus biar menjadi rendang.” Pinta Sukma kepada Jihan yang langsung di turuti oleh sang adik.
Kini Sukma sedang berada di kamar dan baru saja selesai salat maghrib dan bersiap turun kembali untuk menyelesaikan tugasnya di dapur yang belum di tata di meja.
Di saat Sukma turun dan membawa langkahnya di tangga, terdengar suara mobil Alfandi berhenti di depan rumah. Membuat langkah Sukma menjadi pelan dengan perasaan yang tidak karuan, akan bertemu dengan mertua dan tidak tau apakah mereka akan menerima nya dengan baik? Atau kah sebaliknya.
Firza dan Fikri menyambut kedatangan papanya dan oma, opa. Mereka. Lantas terdengar ramai dengan sambutan anak-anak terhadap oma dan opa nya itu.
“Non, kenapa gak di sambut mertua nya? Yang ini biar bibi yang bereskan. Non sambut saja yang datang.” kata bi Lasmi sembari memegangi tempat ikan.
“Huuh ... jantung ku tiba-tiba berdetak cepat begini, Bi. Dag-dig-dug bertalu-talu.” Sukma nyengir dan menoleh ke arah bi Lasmi.
“Nervous ya, Non? Itu sih biasa, Non. Namanya juga baru pertama ketemu mertua, itu wajar!” tambahnya bi Lasmi sambil mengerjakan tugasnya dengan baik.
“Iya, Bi. Huuh ...” Sukma mengembuskan napas dari bibirnya sebelum menghampiri tamu dan suami nya yang sudah mulai masuk dan tampak Alfandi yang tampak lelah sekali.
“Assalamu’alaikum ...” Sukma langsung meraih tangan Alfandi dan diciumnya.
Alfandi pun mengecup kening sang istri dengan mesra, seraya membalas salam dari sang istri. “Wa’alakumus salam ....”
Pak Luky tampak masuk membawakan koper yang Alfandi bawa yaitu miliknya orang tua Alfandi.
Bu Puji dan Sardi tertegun melihat Alfandi yang di sambut wanita yang lebih muda dan cantik tersebut dengan mesra ....
.
...Bersambung!...
.
Terima kasih